Beranda / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 91 — Pagi yang Tidak Sama Lagi

Share

BAB 91 — Pagi yang Tidak Sama Lagi

Penulis: Mommy Sea
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 10:37:47

Mata Nayla terbuka pelan.

Ia butuh beberapa detik untuk sadar ini pagi. Cahaya matahari sudah masuk lewat celah gorden. Ia refleks menoleh ke sisi kirinya.

Kosong.

Sprei itu dingin.

Nayla mengerjap. “Raf?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia bangun setengah duduk. Rambutnya berantakan, napasnya masih berat. Biasanya Rafael masih ada. Bahkan kalaupun sudah mandi, minimal ada suara di dapur. TV nyala. Atau bunyi langkah.

Sekarang?

Sunyi.

Bukan sunyi yang nyaman. Tapi sunyi yang aneh.

Dia turun dari tempat tidur. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia berjalan pelan menuju ruang tengah.

“Raf…” panggilnya lagi, sedikit lebih keras.

Masih tidak ada suara.

Sampai matanya jatuh pada meja.

Ada sesuatu di sana.

Amplop putih. Rapi. Di atasnya ada kunci cadangan. Dan selembar cek yang sengaja tidak disembunyikan.

Dunia seperti berhenti sepersekian detik.

Nayla mematung.

Tangannya refleks menutupi mulut. Tapi tak ada suara yang keluar. Jantungnya berdetak… tapi tubuhnya t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 100 — Nama yang Tidak Kutulis

    “Bu Nayla… formulirnya bisa saya ambil sekarang?” Suara itu lembut. Netral. Seolah keputusan di tanganku bukan sesuatu yang bisa mengubah hidup siapa pun. Aku menatap kertas di depanku lama sekali. Pulpen masih kugenggam. Ujungnya sudah menekan kertas, tapi belum bergerak. “Sebentar,” ucapku akhirnya. “Aku… mau pastikan dulu.” Petugas itu mengangguk sopan. “Baik, Bu. Saya tunggu di luar.” Pintu menutup pelan. Dan dunia kembali sunyi. Aku menunduk, menatap dua nama yang tercetak rapi. Ravindra Aditya Santoso. Revania Aditya Santoso. Nama yang kupilih dengan penuh doa. Nama yang kuberi tanpa izin. Nama yang diam-diam mengikat mereka pada seseorang… yang belum tahu apa-apa. “Kalau Mama tulis nama ayah kalian di sini…” suaraku gemetar. “Apakah itu adil?” Ravindra bergerak kecil dalam tidurnya. Revania mendengus pelan, lalu kembali tenang. Tidak ada jawaban. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kalau Mama tidak menulis apa-apa…” bisikku lagi. “Ap

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 99 -Nama yang Penuh Doa

    Malam itu, di dua kota yang berbeda, dua bayi baru saja belajar menangis. Dan di dua hati yang berbeda… ada rasa yang sama: takut kehilangan. *** “Apa Ibu sudah siap ?” suara bidan lembut sekali. Aku mengangguk pelan. Badanku masih lemah. Luka masih berdenyut. Tapi begitu bayi laki-lakiku diletakkan di dadaku, rasa sakit itu seperti mengecil. “Tarik napas pelan ya, Bu. Biarkan dia merasakan ibunya.” Aku menatap wajah mungil itu. Matanya masih tertutup. Hidungnya kecil. Tangannya mencari-cari, sampai akhirnya jemarinya menggenggam ujung jariku. “Kenapa… rasanya seperti mimpi?” suaraku bergetar. “Karena memang begitu rasanya jadi ibu untuk pertama kali,” jawab bidan sambil tersenyum. “Kalau nanti adiknya bangun, gantian ya. Bayi perempuan biasanya lebih sensitif.” Aku tertawa kecil. “Mereka berdua… baik-baik saja, kan Bu?” “Sehat. Yang lelaki kuat, refleksnya bagus. Yang perempuan sedikit lebih kecil, tapi aman. Kita pantau saja.” Aku mengelus rambut halus di kepalan

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 98 — Rumah Kecil untuk Kami Bertiga

    Delapan bulan. Tidak terasa, garis waktu yang dulu terasa seperti jurang panjang akhirnya hampir mencapai ujungnya. Perutku kini bulat penuh, seperti bulan yang sedang pasang. Setiap pagi, aku bangun dengan napas sedikit lebih berat, tapi ada kehidupan di dalam diriku yang menendang pelan, seolah ingin bilang: Aku ada, Bu. Aku kuat. Kamu juga harus kuat. Kadang aku memegang perutku lama sekali. Hanya diam. Mendengarkan. Merasakan. “Anak-anak Mama baik-baik saja di dalam, ya?” bisikku setiap malam. Ya. Anak-anak. Karena ada dua jantung kecil di sana, yang sejak awal mengajarkan aku arti bertahan. Keputusan itu datang pelan-pelan, bukan tiba-tiba. Mungkin sebenarnya sudah lama tersimpan di kepalaku, hanya menunggu keberanian untuk dilahirkan. Aku butuh rumah. Bukan apartemen sementara. Bukan kontrakan dengan tembok yang berganti warna setiap tahun. Aku butuh tempat yang… tetap. Tempat yang bisa disebut pulang, bukan sekadar persinggahan. Akhirnya aku menemukan sebuah rumah minim

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 97 — Mengulang Cara Mencintaimu

    “Larissa…” Suara Rafael terdengar pelan di ruang makan yang dipenuhi aroma roti panggang. Pagi itu matahari menyelinap lewat jendela besar apartemen, jatuh lembut di rambut Larissa yang tergerai ke bahu. Larissa menoleh. Senyumnya tipis, tapi hangat. “Ya?” “Aku… masakin sarapan,” ucap Rafael, agak canggung. “Cuma omelet. Jangan berharap banyak.” Larissa terkekeh kecil. “Harusnya aku yang masak. Kamu kan yang kerja.” “Boleh nggak hari ini pengecualian?” balas Rafael. “Aku cuma mau… ada di sini.” Larissa menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya—campuran ragu dan haru—lalu ia mengangguk. “Baik. Tapi kalau keasinan, jangan marah kalau aku komplen.” Rafael ikut tersenyum. “Silakan. Aku siap menerima evaluasi semua departemen.” Mereka duduk berhadapan. setelah sekian lama, meja tidak terasa seperti penghubung yang dingin, melainkan tempat yang sedang belajar kembali bernafas. Larissa menyuap perlahan. “Ini… nggak keasinan,” katanya pelan. “Bagus,” Rafael menghela napas lega. “So

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 96 — Jejak yang Tertinggal

    Apartemen itu terasa berbeda sejak pertama kali Rafael melangkahkan kaki ke dalamnya sore itu. Sunyi. Kosong. Seperti ruangan yang sudah lama berhenti bercerita. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk dan menutupnya pelan. “Lampunya padam…” gumamnya. Jari-jarinya menyentuh tombol, dan cahaya pucat menyebar ke seluruh ruang. Sofa masih sama. Meja masih sama. Tirai masih sama. Tapi… “Ada yang hilang.” Suara itu keluar begitu saja. Arman yang ikut masuk beberapa langkah di belakangnya menarik napas pendek. “Raf… kalau kamu masih belum siap—” “Aku cuma mau lihat,” potong Rafael lirih. Ia berjalan pelan. Setiap langkah rasanya seperti menginjak ingatan. Piring di dapur tetap tersusun rapi. Sisa-sisa keberadaan Nayla — yang selama ini ia abaikan — kini terasa menyentak. Rafael membuka kulkas. Kosong. Lemari dapur. Kosong. Ia menelan ludah. “Dia bener-bener pergi…” Arman menatap sekeliling. “Sejak kapan apartemen ini kosong?” “Enggak tahu.”

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 95 —Sama-Sama Kontrol Rutin

    Pagi itu, matahari belum tinggi. Langit Jogja masih berwarna lembut seperti kain pastel yang belum dicuci. Di dalam kamar kos kecilnya, Nayla duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender yang ia tempel di dinding. Di tanggal hari ini, ada lingkaran kecil berwarna biru. Kontrol pertama. Tangannya refleks menyentuh perutnya. “Pagi… kalian,” bisiknya pelan. “Hari ini kita ketemu dokter, ya.” Ia tersenyum kecil. Ada degup halus yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan hanya di rahimnya. Tapi juga di dadanya. Teleponnya berbunyi. Pesan dari Salsa. Salsa: Jadi beneran kontrol hari ini? Nayla: Iya. Salsa: Mau ditemenin nggak? Nayla: Nggak usah ya. Aku bisa sendiri 😊 Salsa: Oke. Tapi kalau selesai cerita ke aku 😤 Nayla terkekeh kecil. Lalu bersiap. Ruang tunggu rumah sakit itu sederhana. Tidak terlalu besar, tapi bersih dan wangi antiseptik. Beberapa ibu hamil duduk sambil mengelus perut. Ada yang ditemani suami. Ada yang ditemani orang tua. Dan ada Nayla.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status