Share

Tipu Muslihat

last update Последнее обновление: 2025-03-27 22:58:52

"Gendis?

" Mana Lastri, kenapa dia belum tiba di rumah?"

Ya, tidak biasanya hari itu Lastri sang adik yang belum juga kunjung tiba di rumah , membuat hati dan perasaan ibu mereka begitu gelisah.

"Entahlah bu, benar aku sudah menunggunya sedari tadi, tapi dia belum tiba juga. Benar seperti apa yang ibu katakan, tidak biasanya Lastri telat pulang sampai petang seperti ini, kemana dia?"

Gendis menjawab kekhawatiran ibunya.

Gendis, dia yang baru saja tiba menyelesaikan pekerjaannya itu tidak melihat kehadiran adiknya yang seharusnya sudah ada di rumah dan bergantung bertugas menyuapi ibunya makan.

"Ah, mungkin dia pergi sejenak ke tempat temannya bu, bukankah dia sebentar lagi akan menyelesaikan tingkatan kelasnya, sudah barang tentu banyak tugas yang harus anak itu selesaikan. "

Demi menghilangkan rasa khawatir akan keadaan adiknya, Gendis mencoba untuk menghilangkan semua perasaan buruk dalam hatinya.

"Tapi, tak biasanya dia melakukan hal ini. Pasti dia akan meminta izin pada kita jika terlambat pulang Gendis, "

"Lagi pula, tidak bisanya adikmu melakukan hal itu. "

Benar, memang tidak pernah sang adik melakukan hal ini, ini baru pertama kalinya. Hal ini membuat Gendis dan ibunya bertanya-tanya kemanakah keberadaan adik satu-satunya yang amat sangat disayanginya.

Keadaan sejenak hening, Gendis dan ibunya yang terpaku di sana sejenak memikirkan kemana keberanian gadis remaja itu.

"Jam berapa sekarang?"

Tanya ibu Gendis pada anak gadisnya yang penurut itu.

"Sebentar ya buuuu... "

Gendis meletakkan piring kecil itu yang sebelumnya tengah menyuapi ibunya. Hal ini sudah biasa dia lakukan sesaat setelah pulang kerja, biasanya dia bergantian melakukan tugas itu bersama adiknya, Lastri.

"Jam empat bu, sekarang sudah jam empat. Kemana anak itu?"

Jawab Lastri yang kembali kemudian memberitahu akan hal ini pada ibunya.

"Huffff.... "

Sang ibu menarik napas panjang, sepertinya dia merasakan ada yang sedang tidak baik-baik saja pada putrinya itu.

"Sudahlah bu, mungkin sebentar lagi Lastri akan tiba. Atau dia memang tengah ada urusan lain tentang tugas sekolahnya, tidak sempat berpamitan atau barangkali lupa. "

Lagi-lagi Gendis bicara dengan lembut. Dia tidak ingin ibunya banyak memikirkan hal-hal buruk yang akan berdampak pada kesehatan ibunya yang begitu sangat dia sayangi.

Seolah belum selesai dengan apa yang mereka pikirkan, terdengar ketukan pintu di luar sana dengan keras, sehingga mengagetkan Gendis dan Ibunya

"Tok, tok, tokkkkk....

"Mbok, mbok Warsih, Gendis....?"

Suara itu benar-benar jelas terdengar. Seperti begitu panik.

"Bu, siapa ituuuu?

"Kenapa orang itu memanggil kita berulang-ulang?"

Tanya Gendis pada ibunya yang saat itu begitu panik.

" Coba kau lihat, barangkali memang ada sesuatu yang begitu penting. "

Ibu Gendis yang tidak dapat melakukan apapun hanya dapat mengatakan hal ini, sekelebat wajah yang begitu gelisah tertanda di wajah Gendis dan Ibunya.

"Sebentar, aku akan melihatnya. "

Gendis begitu terburu-buru.

Gendis yang hari itu baru saja kembali dari pekerjaan menjadi buruh cuci, mencuci beberapa pakaian milik tetangga belum bisa beristirahat dengan tenang, dia yang saat itu tengah menyuapi ibunya benar dibuat terkejut, dengan suara yang berasal dari orang yang tak biasa datang ke rumahnya.

"Yaaa, sebentar. "

Teriak kecil Gendis yang sembari melangkah begitu terburu-buru.

"Akang..kenapa???"

Gendis menemukan seorang pria paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu rumah mereka dalam keadaan panik.

Ya, Gendis kenal akan wajah itu, waja salah seorang  penduduk yang memang tidak asing dia lihat. Laki-laki itu  begitu gelisah dan mondar-mandir di hadapannya.

" Maaf Gendis?

"Mana mbokkkkk....?"

Ujar laki-laki itu yang masih tertahan mengucapkan sebuah pesan yang ingin dia sampai-sampai begitu penting.

"Ibu di dalam  kang, kenapa kang?

" Kenapa akang begitu panik?"

Tanya Gendis saat itu penasaran.

"Kangggg... Ada apa?  Jangan membuatku panik. Kenapa ?

" Apa yang terjadi dan kenapa akang datang ke sini dalam keadaan begitu panik!"

Gendis yang tidak ingin bertele-tele bicara pada laki-laki paruh baya yang saat itu tiba dengan motor bututnya.

Keadaan di luar sana memang begitu sepi, orang-orang masih sibuk bekerja di ladang mereka, hanya sebagian warga yang sesekali lewat di depan rumah Gendis.

"Ini gawat!!! ini gawaaaaat.. "

 Gendis begitu penasaran.

Laki-laki paruh baya itu benar-benar tak mampu untuk meneruskan kalimatnya.

Kabar ini memang harus laki-laki itu sampaikan pada keluarga kecil ini.

"A-adikmu,"

"adikmu Gendissss....???"

Ucapnya yang begitu terbata-bata saat itu.

Apa yang Gendis dengar mulai memunculkan rasa gelisah dari ucapan laki-laki itu.

"Lastriiii?

"Adikku, ada apa kang?  Ada apa dengan adikku?".

Mbok Warsih yang begitu saja mendengar percakapan anak gadisnya pun merasa ada yang tidak beres.

"Kangggg, ada apa dengan anakku Lastri kangggg...???

Ibu Gendis yang ikut panik berteriak dari dalam sana, dia seolah benar-benar merasakan ada sesuatu yang buruk terjadi pada anak gadisnya Lastri.

" A-adikmu, adikmu Lastri Gendis! Dia tertimpa musibah! dia mengalami kecelakaan sesaat sebelum hendak pulang. "

Betapa paniknya Gendis dan ibunya. Apalagi mbok Warsih yang berada di dalam sana, setelah mendengar apa yang dikatakan orang lain tentang putrinya,  tubuhnya gemetar dan tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Ti-tidaaaak, ini tidak mungkin kangggg. "

Gendis yang seolah tidak percaya dengan apa yang telah disampaikan mencoba untuk meyakinkan apa yang orang lain sampaikan itu padanya.

" Saat ini Lastri Adikmu benar dalam keadaan berbahaya. Sekujur tubuhnya mengalami luka akibat ditabrak kendaraan. "

"Dia sekarang berada di rumah sakit. Aku datang ke sini untuk menjemput dan memberikan kabar duka ini Gendis. "

Laki-laki itu sebenarnya tengah berbohong pada Gendis dan ibunya, begitu pandai memainkan sandiwara, tentu saja ini semua sudah direncanakan dengan matang oleh mereka atas perintah  sang juragan Kastro.

"Lastri, laaaaastri..??

Keadaan langsung panik, Gendis yang mendengar ibunya berteriak lirih di dalam sana segera berlari menenangkan ibunya.

" Buuuuu, ibuuuuuu.... "

Gendis memeluk ibunya yang saat ini terbaring dalam keadaan tidak berdaya.

"Lastri buuu, Lastri..??

Gendis berujar lirih dan menatap ibunya denban wajah sedih, terisak-isak dia menahan tangisnya. Begitu sangat mencintai ibu dan adik Satu-satunya itu.

" Buuu, ibu harus tunggu di sini!

"A-Aku akan kembali. "

Janji Gendis saat itu pada ibunya yang menangis sejadi-jadinya.

Gendis  segera terburu-buru mengikuti ajajak laki-laki itu,dia tak tahu bahaya akan segera mengikutinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Buah Bibir

    “Ini gilaaa! Bagaimana aku terus memikirkan perempuan cantik yang bernama Gledis itu hingga terus menerus, sampai tak bisa hilang dari pikirankuuu...??”“Dia benar-benar cantik dan sungguh luar biasa seksi...”Ya, saat itu sang juragan terus saja memikirkan perempuan asing yang baru saja datang di kampung mereka, sampai pikiran dari sang juragan terus berkecamuk dalam kepalanya.“Aaaa, kau benar-benar cantik Gleddddis.....”Ungkap sang juragan saat malam itu, ketika di rumahnya terbaring di kursi sofa dan mengkahayal tentang wajah seksi dan juga menarik sang Gledis.Kedatangan Gledis di desa terpencil itu benar-benar telah membuat geger satu kampung. Ya, dimana penamplian seorang gadis asing yang begitu cantik dan seksi bak model, benar-benar sudah mengalihkan perhatian banyak orang, termasuk sang juragan dan mata para laki-laki yang memang takjub pada seorang perempuan bernama Gledis.“Dia benar-benar cantik dan sungguh aduhay lohhhh....”“Aku benar-benar mengagumi sosok cantik

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Sosok Asing

    “Kenalkan, namaku Gledis....”Sosok perempuan cantik itu kini berdiri dengan sikap anggun dan seksi. Ya, tentu saja dengan tekad baja dan keinginan balas dendamnya, kini Gledis yang berganti nama menjadi Gledis itu sudah sampai tepat di kampung tempat tinggalnya, dengan penyamaran dan rencana yang telah dia susun bersama Tom.“Oh, jadi ini desa tempat aku akan melakukan penelitian, indah memang aku tidak salah pilih..”Ya, Gledis berpura-pura berprofesi sebagai seorang mahasiswi tingkat akhir itu benar-benar memantapkan perannya saat itu dibantu oleh Tom.“Silahkan duduk Nona.....???”Jawab sang juragan yang memang mencoba menyebut nama itu yang memang agak asing di telinganya.“Gle-glediss....”Ujar sang juragan melanjutkan kata-kata dan kalimatnya yang sebelumnya sempat terbata-bata itu.“Baik, terimah kasih juragaaaannn...???”Sebut sang Gledis yang memang saat itu benar-benar tak mampu untuk mengucapkan nama itu, dia memang pura-pura dengan ketidak tahuannya, semua demi penyamaran

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Rahasia

    “Orang-orang tak akan tahu dan mengenali siapa kau sebenarnya....”“Percayalah....”Tom,saat itu berbisik pada Gendis yang sudah berganti nama itu, Gledis yang memang sekarang lebih modis dan seksi, ditambah dengan balutan pakaian seksinya yang saat itu lengkap dengan wajah glowing, memakai sebuah kaca mata bak seorang mahasiswi cantik.“Benarkahhhh???“Terimah kasih, tentu saja misi ini akan dimulai....”Mata Gledis berbinar-binar, di balik wajahnya yang begitu teramat seksi itu, hiasan merah pada bibirnya benar-benar menggambarkan sosok baru itu yang benar-benar hampir sempurna dengan penyamarannya, tiada lagi nama Gendis sekarang, wujud baru sosok berganti nama Gledis itu benar-benar tak bisa dan sulit untuk dikenali, perempuan yang berasal dari kampung nan jauh di sana sebelumnya, tempat dia akan menjalankan misi balas dendamnya.“Aku hanya ingin membuktikan pada orang-orang kejam dan biadab itu! Jika, suatu saat akan kembali datang seseorang perempuan malang yang mereka campakkan

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Misi Besar

    “Apa rencana yang akan aku lakukan.....?”Pikir Gladis yang saat itu benar-benar masih bingung dengan rencana utamanya yang seketika ingin kembali ke kampung halaman, demi menemukan pembunuh ibunya dan menemukan kembali adiknya, perrlahan dapat menghancurkan orang-orang atas semua apa yang telah dia alami selama ini.“Akan ku persiapkan semuanya dengan matang,”“Aku akan menghancurkan mereka semuaaaaa....!”“Perlahan tapi paaaasti.....!!”Gledis berujar. Tatapan matanya begitu geram, dia kembali mengingat akan masa lalunya yang begitu kelam. Menemukan segala cara, agar perlahan apa yang dia hadapi dapat dia atasi dengan baik, tanpa orang-orang mengetahui identitas dirinya. Dia begitu yakin, orang-orang bahkan tak akan mengenali dirinya yang dulu, dengan identitas barunya ini. Siapapun tak akan mengenaliku, aku yakin akan hal itu..!!”“Lastrii??? Bagaimana kabarmu, adikkuuuu....?”Sejenak dia memikirkan bahkan merenungi tentang nasib adiknya yang sekarang tak tahu bagaimana kabar be

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Identitas Baru Dan Penyamaran

    “Aku ingin kau tetap merahasiakan hal ini dari siapapun!”Ya, Gendis hanya berasal dari kampung kecil itu kini menjelma menjadi sosok baru dalam hidupnya, kini berganti nama menjadi Monic, seorang perempuan kota bak model dengan daya tarik baru.“Aku akan kembali dan sudah lama aku ingin merencakanan balas dendam!”Ya, Gendis yang kini menyamar sebagai Monic itu bahkan lebih bersikap dewasa dan mengikuti perkembangan zaman. Jiwa dan dendamnya yang tak pernah padam, dalam sekejap merubah watak dan karakternya. Dia lebih agresif dan seksi itu telah berubah dari sosok gadis desa yang lugu dan sebelumnya tak tahu apa-apa, sekarang menjadi lebih moderen dari sebelumnya, semua itu berkat Tom.“Ya, tentu saja Gendis, eh... maaf, maksudkuuuuu Monic.....”Tom yang belum terbiasa memanggil nama itu bahkan mengulang kembali menyebut nama yang kini disandang sang perempuan yang berasal dari kampung itu, dengan kesepakatan dan rahasia bersama dan hanya mereka berdua yang mengetahui semuanya.“A

  • Dendam Dan Pengkhianatan   Ratu Penggoda

    Seorang perempuan cantik muncul di tengah rapat dan tengah duduk di sana, dia begitu cantik dan seksi sekali, menemani Tom yang sedang mengumpulkan beberapa rekan kerja anak buahnya. Tempat dimana laki-laki gagah dan tampan itu memimpin para rekan bawahannya, sebuah perusahaan asing bidang ekspor dan impor yang bergerak di bidangnya.“Terimakasih atas kehadiran kalian kembali di ruangan ini,”“Oh yaaaa, aku juga tidak lupa untuk berterima kasih pada kalian semua. Kalian sudah membantu semua tugas yang sudah aku percayakan pada kalian, hingga akhirnya aku bisa kembali aktif memimpin kaliandi sini hingga saat ini.”Tom tersenyum dan bicara pada beberapa orang rekan anak buahnya yang dia kumpulkan dalam sebuah meja bundar.Tom, memang sudah lama tak kembali berbicara sejak beberapa lamanya dan menyerahkan semua itu pada orang-orang kepercayaannya, sebelum dia kembali siap mulai hari ini untuk memulai kembali semua keadaan untuk menjadi normal sedia kala.“Aku bangga, kalian bisa memega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status