Share

Bab 17. Sakit

Penulis: Sulistiani
last update Tanggal publikasi: 2026-03-02 04:04:00

"Mas Daren, kamu kenapa?" tanya Arnie.

Wanita itu sangat terkejut saat melihat Daren duduk di depan pintu kamar mandi, matanya tertutup, dan terlihat sangat lemah. Ia berjalan cepat untuk menghampiri suaminya, setelah menyentuh tangan Daren ia semakin terkejut karena suhu tubuh Daren begitu panas.

"Kamu demam, Mas?" tanya Arnie.

Daren membuka matanya perlahan saat mendengar suara Arnie, ia menatap istrinya dengan tatapan tajam. Namun, saat hendak bicara, ia merasa mual hingga dengan sisa tenaga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Eni Nuningsih
udah nonton iklan sampe 8 kali blm juga ke buka bab 18....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 106. Selesai

    "Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 105. Gila

    "Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 104. Sah

    "Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 103. Hampir Saja

    "Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 102. Pencarian

    Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 101. Jebakan

    "Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 64. Keraguan

    "Teman aku? Siapa?" tanya Arnie penasaran."Lihat aja ke dalam!" jawab Arga.Arnie membuka pintu ruang rawat, lalu masuk kedalam. Ia begitu terkejut, napasnya tercekat, tak percaya dengan apa yang ia lihat.Di atas ranjang rumah sakit, terbaring seorang pria dengan wajah pucat, bibir kering, dan tu

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 63. Penyelamatan

    Tubuh Wira terlipat paksa di dalam sebuah karung goni. Napasnya tersengal, dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Setiap inci tubuhnya nyeri. Tulang rusuknya berdenyut, kepalanya pusing, dan darah masih hangat mengalir dari sudut bibirnya.Pukulan itu terlalu banyak."Ugh… ngh…" Wira meronta, b

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 62. Semangat Baru

    Tubuh Arnie sudah pulih sepenuhnya, bekas luka di hati memang belum benar-benar hilang, tetapi kini ia bisa bernapas tanpa rasa sesak.Arnie berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Wajahnya tampak lebih segar, mata itu kembali menyimpan tekad yang dulu sempat padam."Aku harus mu

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 61. Masa Lalu

    Daren dibawa tergesa ke IGD. Tubuh lelaki itu lemas, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis. Dokter dan perawat bergerak cepat, memasang infus, memeriksa tekanan darah, lalu saling bertukar pandang dengan raut serius."Pasien mengalami iritasi lambung berat. Konsumsi alkoholnya berlebiha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status