LOGIN"Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren.
"Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni. Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit. Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie. Kepala wanita itu terasa sakit memikirkan semuanya, ia tak mengerti mengapa suami dan mertuanya menyalahkan ia atas kematian Dena. Padahal saat itu kasus kematian Dena di tetapkan sebagai kecelakaan tunggal oleh polisi. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjelaskan pada mereka jika aku bukan penyebab kematian Dena?" ucap Arnie. Cukup lama Arnie terdiam seraya mengelus perutnya, perlahan rasa sakit sudah berangsur baik. Ingatannya kembali pada masa-masa awal pernikahan, Daren begitu dingin padanya bahkan tak ingin tidur satu ranjang dengannya, hingga meminta Arnie tidur di sofa. Arnie yang berpikir Daren menikahi nya karena terpaksa menuruti keinginan terakhir Dena, memaklumi sikap Daren, memaklumi jika lelaki itu belum ada perasaan terhadapnya. Hingga Arnie dengan patuh tidur di sofa, meski badannya terasa pegal-pegal. "Aku tidak pernah berbagi tempat tidur dengan siapapun selama hidupku, jadi kamu jangan tidur di ranjangku, meski kita sudah suami istri dan sudah satu kamar!" ucap Daren dengan nada dingin. "Ehm ... Terus aku tidur dimana, Mas? Padahal ranjang nya besar aku juga gak akan–" Daren memotong ucapan Arnie seraya menatapnya dengan tajam. "Gak akan apa? Aku gak mau dengar apapun. Terserah kamu mau tidur dimana, di sofa atau di lantai sekalipun, asal jangan di ranjangku!" Arnie menelan saliva, meremas ujung baju, menahan rasa perih di hatinya atas ucapan Daren. Namun, ia tetap tersenyum menyembunyikan luka itu, lalu menarik bantal dan selimut. "Kalau gitu aku tidur di sofa, Mas." Hening, tak ada jawaban dari Daren. Lelaki itu sudah sibuk dengan ponsel, sementara Arnie merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mulai menutup nya dengan selimut. "Sabar, mas Daren pasti belum terbiasa dengan status ini. Dia menikah karena menuruti keinginan terakhir Dena, sekarang belum ada cinta di hatinya, jika aku jadi istri yang baik, aku yakin lama-lama pasti hatinya akan luluh juga," gumam Arnie pelan, bahkan suaranya sampai tak terdengar Daren. Krieek .... Suara pintu ruang rawat terbuka, membuat Arnie tersadar dari lamunan panjangnya. Ia segera menghapus air mata dan memejamkan mata, berpura-pura tak sadar kembali karena takut suami atau mertuanya yang datang. "Assalamualaikum, Arnie. Nak, kamu kenapa sampai masuk rumah sakit?" Arnie segera membuka matanya, begitu mendengar suara lembut wanita paruh baya yang sangat ia rindukan, yaitu suara ibu kandungnya. "Ibu, kok ibu tahu aku di rawat?" tanya Arnie kebingungan. "Dari tadi pagi perasaan ibu gak enak, kepikiran kamu terus. Ibu telpon hp kamu gak aktif, terus ibu telpon rumah suami kamu. Kata asisten rumah tangga kamu di bawa ke rumah sakit karena pingsan," ucap Aminah. Mata Arnie berkaca-kaca, tangannya yang lemah langsung meraih jemari sang ibu. Tangan yang sudah mulai keriput itu, tangan yang selalu membelai nya dengan penuh kasih sayang. Namun setelah masuk ke rumah mewah keluarga Daren, Arnie tak pernah lagi merasakan belaian lembut dan penuh kasih. Hari-hari indahnya berganti dengan hari penuh tekanan, makian, dan siksaan. "Apakah ini ikatan batin antara ibu dan anak? Hatiku hancur mengetahui kebenaran tentang tujuan mas Daren menikahiku, tapi ibu yang tak tahu apa-apa ikut merasa tidak enak," gumam Arnie dalam hati. "Arnie, kenapa bengong? Apa yang kamu pikirkan? Apa yang sebenarnya terjadi sampe kamu masuk rumah sakit?" tanya Supriadi, ayah Arnie. Arnie menghela nafas, menatap sang ayah sebelum menjawab pertanyaannya, wanita cantik itu tak ingin ayah dan ibunya tahu terlebih dahulu tentang Daren yang menikahinya karena dendam. "Ehm ... Gak terjadi apa-apa kok, Ayah. Aku pingsan karena kondisiku lemah, dokter bilang aku sedang hamil muda," ucap Arnie sambil tersenyum mengelus perutnya yang masih rata. "Hamil muda?" tanya Aminah seakan tak percaya. "Iya, Bu. Sebenarnya aku udah tespek dari Minggu lalu, hasilnya positif. Aku belum yakin, niatnya mau periksa ke rumah sakit baru kabarin ibu kalau sudah jelas. Eh ... Belum sempat periksa malah pingsan," ucap Arnie sambil tersenyum menutupi kesedihan yang ia rasakan. "Alhamdulillah ya Allah, sebentar lagi aku punya cucu," ucap Aminah. Mata wanita paruh baya itu berbinar, begitu bahagia menatap sang anak, lalu beralih menatap sang suami. Supriadi pun tersenyum, sebagai seorang ayah ia pun juga senang mendengar kabar putrinya sedang berbadan dua. "Apa suami mu tahu kamu hamil, pingsan, dan di bawa ke rumah sakit?" tanya Supriadi. Arnie menganggukan kepalanya, mendengar pertanyaan itu raut wajahnya langsung berubah muram. Namun, ia cepat-cepat menyembunyikan ekspresi itu, menggantinya dengan ekpresi tenang. "Jadi Daren sudah tahu kamu di rumah sakit, tapi kenapa dia membiarkan kamu sendirian?" tanya Supriadi sedikit kesal. "Mas Daren lagi sibuk, Yah. Ada meeting dengan klien penting," jawab Arnie membela Daren. "Dia selalu mementingkan perkejaan nya, tapi tidak pernah mementingkan kamu sebagai istrinya. Bahkan sekarang kamu sedang mengandung anaknya, dia tetap seperti itu!" ucap Supriadi kesal. Sejak awal pernikahan Arnie dan Daren, lelaki paruh baya itu kurang menyukai Daren. Ia melihat cara Daren berbicara dan memandang Arnie, sebagai seorang lelaki ia tahu jika Daren sama sekali tak mencintai Arnie. Bahkan ia sempat meminta Arnie untuk tidak menikah dengan Daren, tetapi karena Arnie menyukai Daren sejak lama, membujuk Supriadi dengan berbagai cara, akhirnya ia pun memberi restu dan mewalikan putri nya menikah dengan Daren. Arnie mengigit bibirnya, tak bisa menjawab ucapan sang ayah. Sebab apa yang di katakan ayahnya benar. Daren selalu mementingkan pekerjaan, tak pernah menganggap istrinya penting. "Kamu sedang hamil muda, pingsan, lalu dibiarkan sendirian di sini. Suamimu tak ada, mertuamu juga tak ada. Bagimana kalau terjadi sesuatu yang parah padamu? Kalau kami gak kesini, kamu akan sendirian sampai kapan?!" ucap Supriadi seraya mengepalkan tangannya kesal. "Ayah, sudahlah! Yang penting sekarang aku baik-baik aja, aku cuma butuh istirahat," ucap Arnie seraya menggenggam tangan sang ayah mencoba menenangkan. "Kamu selalu membela mereka meskipun mereka tak pernah baik padamu, selama ini aku diam. Sekarang kamu sedang mengandung cucuku, aku tak ingin terjadi hal yang berbahaya padamu atau calon cucuku. Jadi setelah keluar dari rumah sakit, kamu pulang ke rumah kami, jangan ke rumah suamimu!" ucap Supriadi. Arnie terkejut mendengar ucapan sang ayah, ia tahu apa yang dikatakan ayahnya demi kebaikan. Namun, ia tidak bisa meninggalkan rumah Daren sebab ia ingin mencari bukti jika ia tidak bersalah dan tidak terlibat dalam kasus kematian Dena.Arnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu."Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie.Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diperlakukan tidak baik, ia tetap sabar. Namun, kini setelah tahu suami dan mertua nya menyimpan kebencian yang tak berdasar padanya, Arnie ingin memberi sedikit balasan pada perlakuan buruk mereka."Nasi goreng pedas, biar aja mereka kepedesan atau mulas pagi-pagi karena makan masakanku!" gumam Arnie.Arnie mulai memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu serta toping untuk nasi goreng. Setelah itu ia mulai memasak, aroma lezat dari masakan Arnie mulai menyebar hingga menusuk indera penciuman orang-orang yang sudah lapar di rumah itu. Arnie selesai memasak, tetapi sebelum nasi goreng itu dihidangkan di meja makan, ia memisahkan 2 piring untuk ia dan mbok Inah sarapan. Sebab setiap hari Arnie
Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.Krieek ....Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa."Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengoceh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie."Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak
"Arnie!" Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri."Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi."Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar."Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren."Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya."Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bis
"Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun.Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya."Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni."Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie."Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya.Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie
"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu."Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?" "Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, h
"Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit.Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya."Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie.Kepala wanita itu terasa sakit m







