Share

Bab 2. Sendiri

Author: Sulistiani
last update publish date: 2026-01-06 17:45:06

"Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren.

"Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.

Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit.

Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie.

Kepala wanita itu terasa sakit memikirkan semuanya, ia tak mengerti mengapa suami dan mertuanya menyalahkan ia atas kematian Dena. Padahal saat itu kasus kematian Dena di tetapkan sebagai kecelakaan tunggal oleh polisi.

"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjelaskan pada mereka jika aku bukan penyebab kematian Dena?" ucap Arnie.

Cukup lama Arnie terdiam seraya mengelus perutnya, perlahan rasa sakit sudah berangsur baik. Ingatannya kembali pada masa-masa awal pernikahan, Daren begitu dingin padanya bahkan tak ingin tidur satu ranjang dengannya, hingga meminta Arnie tidur di sofa.

Arnie yang berpikir Daren menikahi nya karena terpaksa menuruti keinginan terakhir Dena, memaklumi sikap Daren, memaklumi jika lelaki itu belum ada perasaan terhadapnya. Hingga Arnie dengan patuh tidur di sofa, meski badannya terasa pegal-pegal.

"Aku tidak pernah berbagi tempat tidur dengan siapapun selama hidupku, jadi kamu jangan tidur di ranjangku, meski kita sudah suami istri dan sudah satu kamar!" ucap Daren dengan nada dingin.

"Ehm ... Terus aku tidur dimana, Mas? Padahal ranjang nya besar aku juga gak akan–"

Daren memotong ucapan Arnie seraya menatapnya dengan tajam. "Gak akan apa? Aku gak mau dengar apapun. Terserah kamu mau tidur dimana, di sofa atau di lantai sekalipun, asal jangan di ranjangku!"

Arnie menelan saliva, meremas ujung baju, menahan rasa perih di hatinya atas ucapan Daren. Namun, ia tetap tersenyum menyembunyikan luka itu, lalu menarik bantal dan selimut.

"Kalau gitu aku tidur di sofa, Mas."

Hening, tak ada jawaban dari Daren. Lelaki itu sudah sibuk dengan ponsel, sementara Arnie merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mulai menutup nya dengan selimut.

"Sabar, mas Daren pasti belum terbiasa dengan status ini. Dia menikah karena menuruti keinginan terakhir Dena, sekarang belum ada cinta di hatinya, jika aku jadi istri yang baik, aku yakin lama-lama pasti hatinya akan luluh juga," gumam Arnie pelan, bahkan suaranya sampai tak terdengar Daren.

Krieek ....

Suara pintu ruang rawat terbuka, membuat Arnie tersadar dari lamunan panjangnya. Ia segera menghapus air mata dan memejamkan mata, berpura-pura tak sadar kembali karena takut suami atau mertuanya yang datang.

"Assalamualaikum, Arnie. Nak, kamu kenapa sampai masuk rumah sakit?"

Arnie segera membuka matanya, begitu mendengar suara lembut wanita paruh baya yang sangat ia rindukan, yaitu suara ibu kandungnya.

"Ibu, kok ibu tahu aku di rawat?" tanya Arnie kebingungan.

"Dari tadi pagi perasaan ibu gak enak, kepikiran kamu terus. Ibu telpon hp kamu gak aktif, terus ibu telpon rumah suami kamu. Kata asisten rumah tangga kamu di bawa ke rumah sakit karena pingsan," ucap Aminah.

Mata Arnie berkaca-kaca, tangannya yang lemah langsung meraih jemari sang ibu. Tangan yang sudah mulai keriput itu, tangan yang selalu membelai nya dengan penuh kasih sayang. Namun setelah masuk ke rumah mewah keluarga Daren, Arnie tak pernah lagi merasakan belaian lembut dan penuh kasih. Hari-hari indahnya berganti dengan hari penuh tekanan, makian, dan siksaan.

"Apakah ini ikatan batin antara ibu dan anak? Hatiku hancur mengetahui kebenaran tentang tujuan mas Daren menikahiku, tapi ibu yang tak tahu apa-apa ikut merasa tidak enak," gumam Arnie dalam hati.

"Arnie, kenapa bengong? Apa yang kamu pikirkan? Apa yang sebenarnya terjadi sampe kamu masuk rumah sakit?" tanya Supriadi, ayah Arnie.

Arnie menghela nafas, menatap sang ayah sebelum menjawab pertanyaannya, wanita cantik itu tak ingin ayah dan ibunya tahu terlebih dahulu tentang Daren yang menikahinya karena dendam.

"Ehm ... Gak terjadi apa-apa kok, Ayah. Aku pingsan karena kondisiku lemah, dokter bilang aku sedang hamil muda," ucap Arnie sambil tersenyum mengelus perutnya yang masih rata.

"Hamil muda?" tanya Aminah seakan tak percaya.

"Iya, Bu. Sebenarnya aku udah tespek dari Minggu lalu, hasilnya positif. Aku belum yakin, niatnya mau periksa ke rumah sakit baru kabarin ibu kalau sudah jelas. Eh ... Belum sempat periksa malah pingsan," ucap Arnie sambil tersenyum menutupi kesedihan yang ia rasakan.

"Alhamdulillah ya Allah, sebentar lagi aku punya cucu," ucap Aminah.

Mata wanita paruh baya itu berbinar, begitu bahagia menatap sang anak, lalu beralih menatap sang suami. Supriadi pun tersenyum, sebagai seorang ayah ia pun juga senang mendengar kabar putrinya sedang berbadan dua.

"Apa suami mu tahu kamu hamil, pingsan, dan di bawa ke rumah sakit?" tanya Supriadi.

Arnie menganggukan kepalanya, mendengar pertanyaan itu raut wajahnya langsung berubah muram. Namun, ia cepat-cepat menyembunyikan ekspresi itu, menggantinya dengan ekpresi tenang.

"Jadi Daren sudah tahu kamu di rumah sakit, tapi kenapa dia membiarkan kamu sendirian?" tanya Supriadi sedikit kesal.

"Mas Daren lagi sibuk, Yah. Ada meeting dengan klien penting," jawab Arnie membela Daren.

"Dia selalu mementingkan perkejaan nya, tapi tidak pernah mementingkan kamu sebagai istrinya. Bahkan sekarang kamu sedang mengandung anaknya, dia tetap seperti itu!" ucap Supriadi kesal.

Sejak awal pernikahan Arnie dan Daren, lelaki paruh baya itu kurang menyukai Daren. Ia melihat cara Daren berbicara dan memandang Arnie, sebagai seorang lelaki ia tahu jika Daren sama sekali tak mencintai Arnie. Bahkan ia sempat meminta Arnie untuk tidak menikah dengan Daren, tetapi karena Arnie menyukai Daren sejak lama, membujuk Supriadi dengan berbagai cara, akhirnya ia pun memberi restu dan mewalikan putri nya menikah dengan Daren.

Arnie mengigit bibirnya, tak bisa menjawab ucapan sang ayah. Sebab apa yang di katakan ayahnya benar. Daren selalu mementingkan pekerjaan, tak pernah menganggap istrinya penting.

"Kamu sedang hamil muda, pingsan, lalu dibiarkan sendirian di sini. Suamimu tak ada, mertuamu juga tak ada. Bagimana kalau terjadi sesuatu yang parah padamu? Kalau kami gak kesini, kamu akan sendirian sampai kapan?!" ucap Supriadi seraya mengepalkan tangannya kesal.

"Ayah, sudahlah! Yang penting sekarang aku baik-baik aja, aku cuma butuh istirahat," ucap Arnie seraya menggenggam tangan sang ayah mencoba menenangkan.

"Kamu selalu membela mereka meskipun mereka tak pernah baik padamu, selama ini aku diam. Sekarang kamu sedang mengandung cucuku, aku tak ingin terjadi hal yang berbahaya padamu atau calon cucuku. Jadi setelah keluar dari rumah sakit, kamu pulang ke rumah kami, jangan ke rumah suamimu!" ucap Supriadi.

Arnie terkejut mendengar ucapan sang ayah, ia tahu apa yang dikatakan ayahnya demi kebaikan. Namun, ia tidak bisa meninggalkan rumah Daren sebab ia ingin mencari bukti jika ia tidak bersalah dan tidak terlibat dalam kasus kematian Dena.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 106. Selesai

    "Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 105. Gila

    "Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 104. Sah

    "Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 103. Hampir Saja

    "Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 102. Pencarian

    Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 101. Jebakan

    "Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 96. Pengantin Baru

    Arga meraih ponselnya, ternyata pesan masuk dari Arnie. Ia pun membacanya sambil tersenyum.(Gimana malam pertama, sukses? Berapa kali gol semalam?) Arga tersenyum dan menggelengkan kepala, mengingat apa yang ia lakukan dengan Natasya tadi malam. Lelaki tampan itu tidak menyangka pengalaman pertam

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 95. Kakak Terpenting

    "Sabar ya, Kak. Aku harus membicarakan ini dengan kak Arga dulu," ucap Arnie.Akhirnya Frans pun mengangguk, Arnie dan kedua orang tuanya turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Sementara Frans kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya."Arnie, gimana perasaan kamu sam Frans?" tany

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 90. Fitting Gaun 2

    Daren melihat foto yang dikirim pesaing bisnis nya, bukan marah ia malah merasa sedih."Gaun pengantin," gumam Daren.Ia tidak cemburu, karena sudah tahu Wira pasti ditugaskan oleh Arga untuk menemani Arnie. Namun, melihat Arnie berdiri bersebelahan dengan manikin yang mengenakan gaun pengantin can

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 78. Keluarga Frans

    "Tante, keluarga saya tidak–"Belum sempat Frans menjelaskan lebih banyak, Aminah sudah memotong ucapan pria tampan itu."Nak, Frans. Tante tadi masak banyak, ini ada sedikit buat kamu makan. Tadi Tante juga kasih Wira, tapi kalau kamu gak suka kamu kasih asisten rumah tangga di rumah kamu aja," uc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status