Compartir

Bab 3. Orang Tua Tahu

Autor: Sulistiani
last update Última actualización: 2026-01-06 17:45:58

"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie.

"Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.

Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu.

"Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.

Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?"

"Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, hanya kamu yang kami punya saat ini. Kami tidak ingin kamu di sakiti terus menerus, lebih baik kembali ke rumah kami. Walaupun tidak mewah seperti rumah suamimu, tapi kami bisa memberikan kasih sayang," ucap Aminah.

Dada Arnie terasa sesak mendengar ucapan sang ibu, Arnie memiliki seorang kakak laki-laki, tetapi hilang saat masih kecil. Sejak saat itu ibu dan ayahnya selalu menjaga dan menyayangi Arnie layaknya sebuah permata yang sangat berharga. Namun, setelah masuk ke keluarga Daren, Arnie malah di perlakukan seperti sampah yang tak berharga.

"Sadar lah, Nak. Sebesar apapun usahamu, Daren tidak pernah mencintai kamu, sudah cukup kamu bersabar menghadapinya. Sudah waktunya kamu lepas darinya, kamu berhak bahagia!" ucap Aminah.

"Ibu, Ayah. Aku tahu tidak ada yang menyayangiku lebih dari Ibu dan Ayah. Aku juga tahu mas Daren tidak akan pernah mencintaiku, tetapi untuk saat ini aku tidak bisa meninggalkan rumah mas Daren. Ada hal yang harus aku selesaikan," ucap Arnie dengan mantap.

"Hal apa? Kamu mau mengurus cerai dulu dengan Daren, baru pulang ke rumah kami?" tanya Aminah.

Arnie terdiam, ia mengelus perutnya yang masih rata. Tadi pagi mungkin cintanya terhadap Daren masih besar, ia bahkan berharap dengan kehadiran buah hati diantara mereka bisa membuat Daren luluh dan mencintainya. Namun, setelah ia pingsan dan mengetahui fakta jika Daren menikahinya hanya untuk balas dendam, perasaan Arnie hancur berantakan.

"Memang sudah tak ada yang bisa ku harapkan lagi dari pernikahan ini, mas Daren tak akan pernah mencintaiku. Namun, kalaupun aku harus bercerai dan berpisah, aku harus membersihkan namaku terlebih dahulu dari tuduhan tidak berdasar itu!" gumam Arnie dalam hati.

"Arnie, kamu bengong lagi. Sejak menikah dengan Daren, kamu kehilangan senyum dan keceriaan mu. Cerai itu halal meski di benci Allah, tapi seorang istri diperbolehkan mengajukan cerai jika suaminya dzolim!" ucap Supriadi.

Arnie menghela nafas, lalu tersenyum seraya menatap kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu. Aku paham, percayalah apa yang Aku lakukan sekarang demi kebaikan masa depanku," ucap Arnie menyakinkan kedua orang tuanya.

Aminah dan Supriadi hanya bisa menghela nafas, jika sudah seperti ini mereka tak bisa memaksa Arnie. Putri mereka bukan lagi anak kecil yang bisa di gendong, lalu di kurung di dalam rumah.

Mereka tahu sebesar apa rasa suka dan cinta Arnie terhadap Daren, sejak Arnie duduk di bangku SMA hingga saat ini, terhitung sudah 9 tahun Arnie mencintai Daren, tak mudah bagi kedua orang tuanya untuk membuat Arnie melupakan perasaanya terhadap Daren.

Waktu terus berlalu. Siang berganti sore, sore berganti malam, dan malam berganti pagi. Aminah dan Supriadi menemani Arnie, tapi suami dan mertuanya sama sekali tak datang hanya untuk sekedar melihat keadaan Arnie.

Dokter datang dan memeriksa keadaan Arnie, mengatakan jika kondisi Arnie sudah lebih baik dan diizinkan untuk pulang.

"Ibu sudah boleh pulang, tapi harus tetap banyak istirahat. Jangan melakukan aktivitas yang melelahkan untuk menjaga kandungan agar tetap stabil," ucap dokter.

Arnie menganggukan kepala, dalam pikirannya langsung terbayang pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Bahkan tugasnya lebih banyak dari pada tugas asisten rumah tangga, selama ini Arnie melakukan semua itu dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdiannya pada suami dan mertua. Namun, sekarang setelah tahu mereka melakukan semua itu untuk balas dendam, Arnie bertekad tidak akan melakukan semua itu lagi.

"Administrasi sudah ayah bayar! Kamu yakin mau pulang ke rumah Daren, tidak ke rumah ayah dan ibu?" tanya Supriadi.

"Iya, Ayah. Walau bagaimanapun aku masih istri mas Daren, jadi aku harus pulang ke rumah itu terlebih dahulu," ucap Arnie.

"Ya sudah, kalau gitu ayah antar kamu pulang," ucap Supriadi.

"Terima kasih, Ayah."

Supriadi mengangguk, Arnie pun dibayar pulang oleh kedua orang tuanya menggunakan mobil tua, satu-satunya harta berharga dan penuh kenangan yang mereka punya.

Setelah tiba di depan rumah mewah milik Daren, Supriadi menghentikan mobilnya, tapi tak berniat untuk keluar.

"Ayah hanya bisa mengantarkan sampai sini," ucap Supriadi.

Kedua orang tua Arnie tak ingin menginjakkan kaki di rumah mewah itu, setiap kali mereka datang untuk menjenguk Arnie, tidak pernah di hargai bahkan dipandang seperti pengemis oleh penghuni rumah.

"Terima kasih Ayah, Ibu. Kalau gitu Arnie masuk dulu ya!" wanita cantik itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu turun dari mobil dengan langkah lemah.

Aminah membuka kaca mobil, menatap sang putri yang berjalan tertatih menuju pintu rumah suaminya. Hatinya tak rela melepas anaknya masuk ke rumah itu, tapi ia juga tidak bisa memaksa Arnie untuk pulang dengannya.

Langkah Arnie akhirnya tiba di depan pintu rumah mewah yang sudah 2 tahun itu ia tempati, begitu membuka pintu ia menatap sang mertua yang sedang bercengkrama dengan cucu kesayangan dan kakak iparnya di ruang tamu.

Arnie berjalan perlahan, hingga Murni dan Maya menyadari kepulangannya.

"Pulang juga akhirnya, Kamu! Enak ya seharian santai-santai di rumah sakit!" ucap Murni dengan nada ketus.

"Arnie, bagaimana keadaan bayi dalam kandungan kamu?" tanya Maya dengan nada lembut yang terdengar di buat-buat.

Belum sempat Arnie menjawab pertanyaan kakak iparnya itu, sang mertua sudah mengatakan hal yang sangat menyakitkan. "Maya, ngapain sih kamu pake nanya seperti itu! Jangan terlalu baik sama dia, nanti ngelunjak!"

"Aku gak bermaksud gitu, Mah. Aku tanya seperti itu hanya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Arnie, walau bagaimanapun itu anak Daren, cucu mama juga," ucap Maya sambil tersenyum dengan wajah penuh kepura-puraan.

"Mama gak akan akui anak yang lahir dari rahimnya sebagai cucu mama! Lagipula bayi itu belum tentu anak Daren, siapa tahu anak haram dari lelaki lain!" ucap Murni dengan ketus.

Tangan Arnie terkepal, matanya memerah menatap sang mertua, kata-kata itu meluncur begitu saja sangat menyakiti perasaannya. "Mama boleh hina aku sesuka hati Mama, tapi anak dalam kandungan ku ini tidak berdosa. Dia bukan anak haram, aku tak pernah melakukan hubungan selain dengan mas Daren, anak ini anak mas Daren!"

Murni langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam Arnie, ia tak menyangka menantunya itu berani berbicara dengan nada tinggi padanya.

"Oh sekarang kamu berani menjawab ucapanku ya! Kamu pikir kamu punya hak untuk berbicara seperti itu padaku!" ucap Murni lalu berjalan kearah Arnie dengan amarah, ia melayangkan tangannya hendak menampar Arnie. Namun, tiba-tiba hal yang diluar perkiraan terjadi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 7. Langkah Awal

    Arnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu."Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie.Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diperlakukan tidak baik, ia tetap sabar. Namun, kini setelah tahu suami dan mertua nya menyimpan kebencian yang tak berdasar padanya, Arnie ingin memberi sedikit balasan pada perlakuan buruk mereka."Nasi goreng pedas, biar aja mereka kepedesan atau mulas pagi-pagi karena makan masakanku!" gumam Arnie.Arnie mulai memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu serta toping untuk nasi goreng. Setelah itu ia mulai memasak, aroma lezat dari masakan Arnie mulai menyebar hingga menusuk indera penciuman orang-orang yang sudah lapar di rumah itu. Arnie selesai memasak, tetapi sebelum nasi goreng itu dihidangkan di meja makan, ia memisahkan 2 piring untuk ia dan mbok Inah sarapan. Sebab setiap hari Arnie

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 6. Dipeluk Erat

    Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.Krieek ....Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa."Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengoceh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie."Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 5. Mencari Bukti

    "Arnie!" Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri."Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi."Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar."Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren."Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya."Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bis

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 4. Tak Lagi Patuh

    "Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun.Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya."Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni."Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie."Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya.Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 3. Orang Tua Tahu

    "Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu."Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?" "Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, h

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 2. Sendiri

    "Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit.Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya."Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie.Kepala wanita itu terasa sakit m

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status