เข้าสู่ระบบ***“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon ketika melihat Savana terdiam sembari menatap selembar foto yang telah kembali pada bingkainya itu.Savana melirik sekilas pada Leon. “Kalau benar kakek Hans berkaitan dengan meninggalnya kakekku, entah apa yang akan David lakukan,” ucapnya lirih.“Aku takut dia nekat membalaskan dendamnya pada kakek Hans.”Leon mendekat, lalu mendekap. “Tenanglah, aku akan membicarakan masalah ini dengan David. Aku janji semua masa lalu kakek kita akan terungkap!” ujarnya.“Tapi bagaimana dengan makam kakekmu? Aku takut nenek tirimu itu akan bertindak begitu sadar kau mulai melawan,”“Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku tahu apa yang wanita mata duitan itu inginkan. Dia tidak akan bertindak selama the blue agency masih berada di tanganku.”“Benarkah?”Leon mengangguk. “Sekarang mari kita lupakan dulu masalah itu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu,” ucapnya terdengar tulus di telinga Savana.Savana terkekeh. Dia menyimpan kembali bingkai foto ke atas meja nakas
***Leon menarik napasnya berat. Setelah menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin beberapa menit yang lalu, kekecewaannya akibat kebohongan yang Savana dan David lakukan sedikit mereda. Setidanya kini dia bisa berpikir lebih bijaksana.“Kakek yang memberikannya padaku.” Ucapnya menjawab pertanyaan Savana. Selembar foto yang terus digenggam kakeknya ketika menemui ajal, kini sudah berada di tangan Savana. Leon ingin menguji Savana, apakah benar gadis remaja di foto itu adalah dirinya, dan lelaki berusia sekitar Lima belas tahun itu adalah David?“Kau mengenalnya?”Leon memang telah mendengar beberapa kalimat yang membingungkan dari David dan Savana beberapa saat yang lalu, namun dia masih membutuhkan kepastian. Benarkah dua orang yang ada pada foto tersebut adalah Savana dan David?“Ini … ” Savana ragu mengakui. Dia kebingungan harus bersikap seperti apa. Dia juga masih bertanya-tanya apakah Leon dan kakek Smith juga merencanakan hal jahat kepadanya dan David? Apakah semua yang terj
***“Lepaskan dia!” Suara itu tidak membentak, justru terkesan dingin dan tegas. Membuat siapa pun yang mendengarnya merasa terintimidasi.Langkah David yang seharusnya bergerak lebih cepat justru melambat. Bahkan pria itu berhenti hanya sekedar untuk memastikan pendengarannya tak salah.David berbalik. “Leon?” beonya dengan rahang yang mengeras.Sementara itu, Savana merasa lidahnya terasa kelu. Entah bagaimana dia harus menjelaskan situasi ini. Mungkinkah Leon telah mendengar semua yang dia dan David bicarakan?“Lepaskan Savana!” Tanpa peduli pada ekspresi David yang terkejut melihatnya, Leon kembali mengulangi ucapannya.David menyeringai tipis. Mungkin sudah saatnya Leon tahu kebenaran yang dia dan Savana sembunyikan agar pria itu tak semena memberinya perintah. “Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?” Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan penolakan.Terlihat jelas Leon tak suka pada jawaban David. Tangannya mengepal erat, siap melayang pada David andai Savana tak sedang berada di b
***“Kak, terima kasih,” ucap Savana kepada David setelah keduanya berada di dalam mobil yang David kendarai.David menoleh singkat. “Karena membelamu dari si brengsek itu?” tanyanya.“Iya.”Tck!David berdecak. “Seharusnya kau bisa lebih tegas kepadanya. Tendang tulang keringnya jika perlu!” ujarnya.“Kakak serius?” tanya Savana tidak percaya.“Kenapa tidak?”Kemudian mereka terkekeh bersama. Rasanya sudah cukup lama keduanya tak merasakan perasaan semacam ini. David lebih sering bersikap dingin, sedangkan Savana lebih suka menghindarinya.“Aku senang kita bisa tertawa bersama,” ucap Savana jujur dari hatinya.David tak tahu harus menanggapi ucapan Savana dengan cara seperti apa. Pada akhirnya dia memilih diam. Keadaan menjadi canggung dalam sekejab.Savana melirik sekilas, namun bibirnya kelu untuk melanjutkan obrolan.“Kak, aku mengantuk. Tolong bangunkan aku setelah kita tiba di tempat tujuan.” Dan, Savana pun memilih untuk memejakan matanya.David menghela napas dengan berat begi
***Bukan ini yang David inginkan meski tujuannya memang menahan Savana agar tetap berada di rumah lama. Memaksa sang adik menikahi pria seperti Kael, tentu bukan keinginannya. Dia hanya ingin Savana jauh dari Leon agar tidak terjerumus terlalu dalam.“Maaf, Kakek Hans, aku tidak setuju adikku menikahi cucumu.”Savana menoleh pada kakaknya. Tak menyangka David akan membelanya.“Apa maksudmu, David?” Kael terdengar tidak suka dengan penolakan David.David tersenyum sinis. Memandang Kael dengan tatapan hina. “Kau yakin sanggup menikahi adikku, Kael? Jujur, kau tak pantas.” Katanya.Terang saja kata-kata itu membuat David murka. “Memangnya apa kurangku hingga kau menghinaku seperti itu, David?” tanyanya kesal.“Serius kau tak menyadari kekuranganmu?”“Sialan! Aku terlalu sabar padamu.” Kael hampir saja melayangkan gelas di depannya andai Hans tak kembali menegurnya.“Tak bisakah kau tenang, Kael?”“Tapi Kek …”“Itulah kenapa David menganggapmu tak pantas untuk adiknya.” Potong Hans denga
David melirik Savan lewat ekor matanya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanyanya.Savana mengangguk kecil. Tak berminat sebab pikirannya sedang berada di tempat lain.“Savana fokus!” tegur David. “Kakek Hans bukan orang sembaranga. Kita berdua tahu betapa liciknya dia.” Ujarnya.Savana melirik malas. “Lalu kenapa kakak masih percaya pada ucapannya?” tanyanya merujuk pada keyakinan Hans tentang siapa pembunuh kakek mereka.Sejujurnya Savana mulai goyah. Dia menolak kenyataan tentang surat terakhir di atas meja kakeknya beberapa tahun yang lalu.“Itu hal yang berbeda!”“Apanya? Bisa saja kakek Hans memanipulasi semuanya, Kak.”David menatap sang adik dengan tajam. “Kau benar-benar telah terpengaruh oleh keturunan Smith itu.” kesalnya.Mata Savana memicing sebal. “Tunggu hasil penyelidikkanku, Kak. Aku yakin ada yang keliru,” ucapnya.Seringai tipis muncul di antara sudut bibir David. Ada yang tidak Savana ketahui tentang pertemuan ini. Mereka tak hanya datang berkunjung, t







