Home / Urban / Dendam Membara Sang Dewa Perang / 2. Keturunan Naga Bumi Pendragon

Share

2. Keturunan Naga Bumi Pendragon

Author: Evita Maria
last update Last Updated: 2025-10-28 10:36:59

Sekarang terbungkus dalam kantong mayat, Evan mulai merasakan amarah yang lebih panas dari api neraka membakar jiwanya.

*Aku tidak boleh mati. Tidak boleh!*

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Aliran hangat menjalar dari tulang belakangnya, menyebar ke seluruh tubuh yang remuk. Bukan kehangatan biasa, ini seperti lava yang mengalir dalam pembuluh darahnya, seperti petir yang menyambar dari dalam.

Tulang-tulang yang patah berderak. Otot-otot yang robek berkedut. Ada energi yang terbangun di dalam dirinya, energi yang selama ini tertidur, menunggu saat yang tepat untuk bangkit.

Di kegelapan kantong mayat, dalam rasa sakit yang tak terperi, Evan Pendragon bersumpah, *Suatu hari semua orang yang menghancurkan hidupku akan merasakan penderitaan yang sama, tunggu saja!*

Van hitam melaju menembus kegelapan malam, mesin dieselnya menderu pelan menyusuri jalan berliku menuju pegunungan utara Zantris. Sorot lampu depan membelah kabut tipis yang menggantung di lereng terjal.

Mobil itu akhirnya berhenti. Evan yang merasakan setiap belokan, setiap goncangan, menghantam tulang-tulangnya yang patah, akhirnya bisa menghela napas lega. 

"Sudah sampai," suara kasar salah satu pria terdengar dari depan.

Pintu bagasi terbuka dengan bunyi klik logam. Udara dingin pegunungan langsung menusuk kantong kuning, membuat Evan menggigil. Dua pasang tangan kasar mengangkat kantong berisi tubuhnya.

"Berat juga mayat ini," keluh salah satu dari mereka.

"Diam saja! Dokter Reema sudah menunggu."

Evan merasakan tubuhnya diangkat dan dibawa menyusuri lorong yang panjang, terdengar dari suara langkah kaki yang bergema. Suara pintu besi berderit terbuka, kemudian tertutup dengan bunyi keras. Udara berubah lebih hangat, tercium aroma antiseptik yang menyengat.

Kantong kuning diletakkan di atas permukaan dingin dan keras. Suara langkah kaki menjauh, kemudian pintu tertutup lagi. Keheningan menyelimuti ruangan.

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka kembali. Langkah kaki yang lebih ringan mendekat, diikuti bunyi peralatan medis yang bergeser.

"Baiklah, mari kita lihat apa yang kita dapat!" Evan mendengar suara lembut wanita di luar sana.

Resleting kantong terbuka dari atas kepala Evan. Seberkas cahaya terang menyilaukan mata kirinya yang masih berfungsi. Ia berkedip, berusaha menyesuaikan diri dengan pencahayaan.

"Astaga!" suara wanita itu tersentak.

Evan melihat sosok wanita berusia sekitar tiga puluhan berdiri di sampingnya. Wajahnya cantik dengan kacamata tipis bertengger di hidung mancung. Rambut cokelat tertata rapi, dikuncir ke belakang. Jas lab putih yang dikenakannya terlihat bersih tanpa noda.

"Aku Dr. Reema," wanita itu memperkenalkan diri sambil memeriksa denyut nadi Evan dengan alat canggih. "Direktur Pusat Penelitian Veridax-Vexlar Integration Complex. Atau dalam istilah yang lebih sederhana, tempat kami menciptakan dewa perang."

VVIC. Evan pernah mendengar rumor tentang tempat ini. Fasilitas rahasia pemerintah untuk mempersiapkan para tentara dalam peperangan kelak.

"Proyek Veridax mengkhususkan diri pada modifikasi biologis ekstrem. Serum adaptasi, rekayasa genetik, mutasi terkontrol. Sedangkan Proyek Vexlar menangani aspek cybernetic, implan syaraf, eksoskeleton, mata robotik, integrasi AI langsung ke otak manusia."

Mata Evan melebar. Ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.

"Selama sepuluh tahun, kami telah menggunakan puluhan relawan terpidana mati sepertimu untuk menciptakan tentara super. Sayangnya, tingkat kematian masih sangat tinggi. Sembilan puluh tujuh persen subjek tidak bertahan melewati tahap pertama atau kedua."

Dr. Reema membungkuk, kini matanya sejajar dengan Evan. "Tapi lihat dirimu... kau masih hidup setelah penyiksaan yang seharusnya bisa membunuh seekor induk gajah. Itu memberitahu kami sesuatu yang menarik tentang komposisi biologismu."

"Aku akan memberikanmu dua pilihan, Evan Pendragon! Pertama, kami kembalikan dirimu ke Penjara Inferium. Dalam kondisi ini, kau akan mati dalam hitungan jam, jika Eric dan kawan-kawannya tidak menghabisimu lebih dulu."

Evan tahu pilihan itu sama dengan hukuman mati.

"Atau kedua, kau menjadi bagian dari Proyek Dewa Tempur kami. Kemungkinanmu mati juga tinggi, tapi jika berhasil, kau akan terlahir kembali sebagai seseorang yang jauh melampaui manusia biasa."

Dalam kepalanya yang berdenyut sakit, Evan menimbang pilihan. Kematian pasti atau kemungkinan mati. Tapi pilihan kedua memberikan sesuatu yang tidak dimiliki pilihan pertama, harapan untuk bisa membalas dendam.

Dengan usaha luar biasa yang membuatnya hampir pingsan, Evan menganggukkan kepala dengan lemah.

Dr. Reema tersenyum. "Keputusan yang bijak. Selamat datang di neraka barumu, Evan Pendragon!"

---

Ruang Isolasi tengah malam. 

Evan terbaring di tempat tidur logam yang dingin, tubuhnya dihubungkan dengan berbagai selang dan monitor. Serum penenang mengalir dalam pembuluh darahnya, tapi pikirannya tetap bergejolak.

Rasa sakit mulai mereda, digantikan oleh rasa kantuk yang sangat. Pandangannya mengabur, realitas dan mimpi mulai bercampur.

Di tengah kabut kesadarannya, sosok tak asing menampakkan diri di samping tempat tidur.

"Ayah?" bisik Evan dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ardhan Pendragon berdiri di sana, mengenakan jubah putih bercahaya lembut. Wajahnya persis seperti yang Evan ingat, bijaksana, tenang, dan penuh kasih sayang.

"Sudah saatnya, Anakku," suara Ardhan terdengar dalam seperti suara dari kedalaman bumi.

"Apakah Ayah datang untuk menjemputku?"

Ardhan menggeleng. "Belum. Takdirmu masih panjang, Evan. Dan Ayah datang untuk memberikan apa yang menjadi hakmu."

Pria itu mengulurkan tangan, meletakkannya di dada Evan. Kehangatan menyebar dari sentuhan itu, berbeda dengan kehangatan yang pernah Evan rasakan sebelumnya.

"Dalam lima ratus tahun, hanya satu keturunan Pendragon yang akan mewarisi Tulang Naga. Kau yang terpilih, Anakku."

"Tulang... Naga?"

"Itulah sebabnya kau bisa bertahan hidup meski tubuhmu dihancurkan. Tulang Naga adalah pondasi kekuatan sejati leluhur keluarga kita, kemampuan untuk menyerap dan mengolah energi dengan kecepatan yang tidak dimiliki manusia biasa. Kemampuan untuk berkembang dua kali lipat lebih cepat dari siapapun."

Evan merasakan sesuatu bergerak di dalam tulang belakangnya, seperti ular raksasa yang menggeliat.

"Tapi itu belum cukup. Tubuh dan jiwamu harus melalui pembentukan ulang total. Kau akan disiksa, dipecah, dan disusun kembali berkali-kali. Dan untuk menahan semua itu..."

Ardhan mengangkat tangannya. Di telapaknya, sebuah jantung berdenyut dengan cahaya merah darah. Bukan jantung manusia, ini jauh lebih besar, dengan urat-urat emas yang berkilauan di permukaannya.

"Jantung Naga Bumi Pendragon. Ini akan memberikan kekuatan sirkulasi darah seratus kali lipat dari jantung manusia. Kemampuan kultivasi energi yang tak terbatas. Dan yang terpenting, ketahanan untuk melewati transformasi yang akan kau hadapi."

Evan terpesona menatap jantung yang masih berdenyut itu. Setiap detakannya mengirimkan gelombang kekuatan yang bisa ia rasakan meski hanya melihatnya.

"Ini akan sakit. Lebih sakit dari apapun yang pernah kau alami."

"Lakukan! Aku sudah tidak takut sakit lagi."

Ardhan meletakkan jantung naga di atas dada Evan. Seketika, rasa sakit yang tak terbayangkan meledak di seluruh tubuhnya.

Dadanya serasa dibelah dengan kapak raksasa. Jantung naga meleleh menembus kulit, tulang rusuk, menuju jantung manusianya yang masih berdenyut lemah.

"AAAAHHHHH!" Evan menjerit dengan suara yang tidak pernah keluar dari tenggorokannya sebelumnya. Air mata mengalir deras, tubuhnya berkonvulsi hebat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   61. Rencana Jahat

    Patrick sempat mundur, terkejut dengan ledakan emosi atasannya."Pak Eric," Patrick berkata hati-hati, "saya tahu Bapak menyukai Bu Anna. Tapi situasi ini...""Diam!" Eric memotong dengan nada berbisa. "Aku tidak butuh simpatimu."Keheningan mencekam selama beberapa detik. Eric berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti singa yang terkurung. Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit.Evan Wijaya. Nama itu sudah menjadi duri dalam dagingnya sejak pria itu menginjakkan kaki di Penjara Inferium. Pertama, ia mengalahkan Boris dengan satu serangan. Kedua, dia berani mengancam Eric secara langsung. Dan sekarang, berani merebut wanita yang selama ini Eric inginkan."Aku harus menyingkirkannya," Eric bergumam dengan mata menerawang. "Harus. Bagaimanapun caranya."Patrick berdehem pelan. "Pak Eric, kalau boleh saya memberi usul..."Eric menoleh dengan pandangan tajam. "Apa?""Selama ada Bu Anna dan Ivan di penjara Inferium ini, kita tidak akan pernah

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   60. Bukan Monster

    Anna menghela napas. Ia bangkit, mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Blus yang robek tidak bisa dipakai lagi. Ia terpaksa mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di bahunya."Aku akan mengirimkan baju ganti untukmu," Anna berkata sambil merapikan rambutnya. "Dan... terima kasih.""Untuk apa?""Untuk tidak memanfaatkan situasi tadi," Anna menatap Evan dengan pandangan baru. "Kau bisa saja menyakitiku. Tapi kau tidak melakukannya."Evan berdiri, tubuh atletisnya menjulang di atas Anna. "Aku bukan monster, Anna. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."Anna mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti."Evan," ia berkata tanpa menoleh. "Berhati-hatilah. Ada banyak orang di penjara ini yang menginginkan kematianmu.""Aku tahu.""Dan aku tidak akan selalu bisa melindungimu."Evan tersenyum di balik punggung Anna. "Siapa bilang aku butuh perlindungan?"Anna membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup dengan bu

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   59. Malam Panas

    Evan terdiam sesaat. Alisnya terangkat sedikit."Hukuman macam apa itu?" Evan bertanya dengan nada geli.Wajah Anna memerah. Rasa malu bercampur nafsu membuat matanya memanas."Kau bilang akan melakukan apa yang kumau," Anna berbisik, suaranya lebih mirip desahan. "Ini yang kumau."Tangannya yang masih bisa bergerak sedikit, meraih tangan Evan. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di dadanya yang membusung, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Kau bisa merasakannya?" Anna menatap mata Evan tanpa berkedip. "Sejak pertama kali kau berani melawanku di ruang kerjaku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau membuatku gila."Evan merasakan detak jantung Anna yang cepat di bawah telapak tangannya. Kehangatan tubuh wanita itu menjalar melalui kain blus tipis yang memisahkan mereka."Kau yakin tidak akan menyesal?" Evan bertanya dengan suara rendah, "bercinta dengan seorang napi?""Tidak," Anna tersenyum menantang. "bagaimana denganmu?"Tangan Evan bergerak, jari-jarinya mencengker

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   58. Hasrat Kepala Penjara

    Evan duduk bersila di tengah lantai dingin ruang isolasi. Matanya terpejam. Napasnya teratur, dalam dan lambat. Energi naga mengalir di setiap pembuluh darahnya, berputar seperti arus sungai emas yang menenangkan.Dalam kegelapan meditasinya, ia merasakan denyut jantung naganya semakin kuat. Inti energi di pusat dantiannya bersinar terang, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap tarikan napas membawa energi murni masuk. Setiap hembusan membuang racun emosional yang mengendap.Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki di koridor. Langkah yang tegas tapi ringan. Hak sepatu wanita berdetak di lantai beton. Evan tidak membuka mata, tapi bibirnya membentuk senyum tipis.Pintu besi berderit terbuka.Aroma parfum mawar bercampur kayu cendana menyeruak masuk. Aroma yang sudah ia kenali sejak hari pertama di penjara ini.Anna Tanzil berdiri di ambang pintu dengan cambuk kulit di tangan kanannya. Cahaya koridor menerangi siluet tubuhnya dari belakang."Evan Wijaya,

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   57. Mencari Kebenaran Tentang Evan

    Ivan menarik kotak itu dengan tangan gemetar. Debu beterbangan ketika dia meletakkannya di meja baca di tengah ruangan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dengan gerakan perlahan, ia membuka tutup kotak.Mata Ivan langsung berkaca-kaca.Di atas tumpukan dokumen tergeletak sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan mata yang jernih dan senyum polos. Evan Pendragon, kakaknya."Kakak..." Ivan mengambil foto itu dengan tangan bergetar. "Apakah benar kau sudah mati? Atau masih hidup dan berada di penjara ini?"Air mata mulai mengalir di pipinya. Iaa mengusap permukaan foto dengan jempol, seolah bisa merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama hilang.Di bawah foto, Ivan menemukan novel Harry Potter edisi lama dengan sampul yang sudah lusuh. Dia ingat betul novel ini. Ini adalah buku favorit kakaknya yang selalu dibaca ulang berkali-kali.Di halaman dalam sampul, tertulis dengan tulisan tangan kakaknya: Untuk Evan Pendragon, hadiah ulang tahun ke-16. Dari Papa dan M

  • Dendam Membara Sang Dewa Perang   Bab 56. Pencarian Kakak Yang Hilang

    Ruang isolasi berukuran 2x3 meter tanpa jendela. Hanya ada kasur tipis di sudut, toilet kotor, dan bola lampu 25 watt yang menyala redup. Dindingnya kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam."Masuk!" Eric mendorong Evan ke dalam.Sesampainya di dalam, Eric menutup pintu tapi tidak mengunci. Dia mendekat ke Evan dengan mata menyala jahat."Akhirnya kita bisa berbicara empat mata," Eric mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijadikan bukti. "Sudah lama aku ingin menghabisimu."Evan duduk di kasur tipis dengan tenang. "Silakan coba!""Pak Eric," Patrick yang berdiri di pintu berbisik. "Kalau Tuan Ivan mencari...""Dia tidak akan tahu apa-apa," Eric menjawab sambil menggenggam pisau erat-erat. "Kita akan bilang Evan bunuh diri karena depresi.""Tapi CCTV basement tidak berfungsi," Sam menambahkan. "Kalau ada investigasi..."Eric terdiam, menimbang risiko. Membunuh Evan sekarang memang menggoda, tapi terlalu berisiko dengan kehadiran Ivan yang bisa menyelid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status