MasukDi dalam dadanya, jantung naga mulai menggerogoti jantung manusianya seperti asam yang memakan logam. Setiap serabut otot jantung lama dicabik, diganti dengan serabut baru yang lebih kuat.
Evan merasakan darahnya terbakar. Setiap tetes cairan dalam pembuluh darahnya digantikan dengan darah murni Naga Bumi Pendragon. Cairan emas bercampur merah mengalir deras, membersihkan setiap sel, setiap jaringan, dan setiap organ.
Setiap detak jantung baru mengirimkan gelombang energi murni ke seluruh tubuhnya. Darahnya tidak lagi sekadar pembawa oksigen, kini menjadi konduktor energi yang memungkinkan kultivasi kekuatan pada level yang tak terbayangkan.
Proses itu rasanya seperti berlangsung berjam-jam lamanya. Waktu kehilangan maknanya di tengah siksaan yang melampaui batas fisik dan mental.
Ketika rasa sakit akhirnya mereda, Evan merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuhnya masih hancur, tapi ada energi baru yang mengalir, kuat, murni, tak terbatas.
"Sekarang kau adalah keturunan sejati Naga Bumi Pendragon," Ardhan tersenyum bangga. "Tapi ingatlah, Anakku. Kekuatan ini bukan hanya untuk balas dendam. Kau adalah penegak keadilan. Pembawa cahaya dalam kegelapan."
Evan menatap ayahnya dengan mata berapi-api. "Yang pertama akan kulakukan adalah membalas dendam kepada mereka yang menghancurkan keluarga kita."
"Dendam boleh menjadi api yang membakarmu untuk bangkit. Tapi jangan biarkan api itu mengonsumsimu! Kau memiliki tanggung jawab yang lebih besar."
Sosok Ardhan mulai memudar. "Bangkitlah, Anakku! Tunjukkan pada dunia arti sesungguhnya dari nama Pendragon!"
Evan terjaga dengan mata terbuka lebar. Dadanya berdenyut dengan kekuatan yang luar biasa. Meski tubuhnya masih remuk, dia bisa merasakan energi dahsyat mengalir dalam setiap pembuluh darahnya.
---
Satu tahun kemudian di kompleks pelatihan VVIC.
Evan berdiri di hadapan cermin, menatap refleksi dirinya yang sudah tidak lagi sepenuhnya manusia. Tapi ia merasa lebih hidup dari sebelumnya.
Rahang baja menggantikan tulang rahang yang hancur. Mata robotik dengan iris merah menyala menggantikan bola mata yang hilang. Tangan dan kaki kiri diperkuat dengan rangka titanium yang dilapisi kulit sintetis.
"Subjek 101 menunjukkan adaptasi luar biasa," Dr. Reema berbicara dengan mata menatap monitor pada asisten-asistennya. "Biasanya tubuh menolak implan cybernetic dalam seminggu. Tapi dia... seolah tubuhnya dirancang untuk menerima semua teknologi ini."
Yang tidak mereka ketahui adalah Tulang Naga dalam tubuh Evan yang membuat semua modifikasi berfungsi sempurna. Setiap implan, setiap enhancement, diserap dan diintegrasikan dengan mudah oleh jantung naga yang memompa energi murni ke seluruh sistemnya.
Selama setahun, Evan menjalani latihan yang sangat berat. Lari marathon di medan pegunungan bersalju. Latihan tembak dengan sasaran bergerak dalam kegelapan total. Pertarungan tangan kosong melawan robot tempur.
Kekuatan fisiknya meningkat dua kali lipat setiap bulan. Refleksnya menjadi sepuluh kali lebih cepat dari manusia normal. Mata robotiknya bisa melihat dalam spektrum inframerah, menganalisis kelemahan lawan dalam sepersekian detik.
Yang membuat Dr. Reema takjub adalah tidak ada satupun subjek sebelumnya yang bertahan hidup melewati bulan ketiga. Sembilan puluh tujuh persen mati karena penolakan implan. Sisanya gila karena tidak kuat menahan rasa sakit transformasi.
Tapi Evan? Dia menjadi lebih kuat setiap hari, hingga tanpa terasa satu tahun telah berlalu.
Kini saatnya menghadapi misi pertama.
—
Helikopter tak berawak meluncurkan Evan dari ketinggian sepuluh ribu kaki. Parasut hitamnya mengembang dalam keheningan malam, tubuhnya melayang seperti malaikat maut menuju target.
Dalam pandangan mata robotiknya, mansion mewah Lorenzo terpetakan dengan detail sempurna. Tiga puluh lima penjaga bersenjata. Sistem keamanan laser. Menara pengintai di setiap sudut.
Godfather Lorenzo, seorang gembong narkoba yang telah membunuh dua belas polisi dan lima hakim. Sistem hukum tidak bisa menyentuhnya karena kekuasaan dan uangnya yang berlimpah.
Evan mendarat tanpa suara di hutan kecil di luar kompleks mansion. Mata robotiknya mulai memindai perimeter, mencari titik masuk terbaik. Benteng batu setinggi delapan meter mengelilingi kompleks.
Tiba-tiba, ada gerakan di sudut pandangannya yang menarik perhatian. Sosok ramping mengenakan jumpsuit hitam ketat bergerak di antara bayangan pohon raksasa. Sosok yang dipastikan seorang wanita.
Evan menyipitkan mata, fokus pada target baru ini. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari sabuknya, pistol pelontar kait dengan tali. Dengan gerakan terlatih, ia menembakkan kait ke puncak benteng.
Kait menancap sempurna. Wanita itu menggenggam pegangan, lalu meluncur naik dengan kecepatan yang membuat Evan terpana. Gerakan itu begitu luwes dan lincah. Dia berputar di udara ketika mencapai puncak benteng, melayang sejenak seperti penari, lalu mendarat dengan anggun tanpa suara.
Evan terkesan. Dia sendiri sudah merencanakan menggunakan pohon besar di sisi kiri benteng untuk melompat masuk. Tapi sekarang ada orang lain dengan misi yang mungkin sama, atau bertentangan, dengannya.
Tidak ada waktu untuk berpikir lama. Evan berlari menuju pohon mahoni raksasa, melompat dari cabang ke cabang dengan kelincahan di luar nalar. Dari cabang tertinggi, ia melompat, tubuhnya terbang hampir sepuluh meter sebelum mendarat di puncak benteng dengan suara gemerisik kecil.
Di halaman dalam, ia melihat wanita berambut pendek itu sudah berhadapan dengan tiga penjaga. Mereka belum menyadari kehadirannya karena fokus pada ancaman yang lebih jelas.
"Siapa kau?" salah satu penjaga mengacungkan senapan otomatis.
Wanita itu tersenyum dingin. "Malaikat maut!"
Ia bergerak seperti kilat. Satu tendangan memutar menghantam pergelangan tangan penjaga pertama hingga senapannya terpental. Sikunya menghantam ulu hati penjaga kedua. Pisau lipat di tangannya menusuk tepat di antara tulang rusuk penjaga ketiga tanpa ampun.
Tapi ada penjaga keempat yang datang dari belakang dengan senapan sudah teracung ke kepala wanita itu.
Evan bergerak tanpa berpikir. Ia melompat turun, kaki kanannya menendang tengkuk penjaga itu dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan tulang leher. Lawan jatuh dan tewas seketika.
Wanita itu membalikkan badan, mata hijau zamrudnya memandang Evan dengan terkejut.
Tapi alih-alih berterima kasih, ia malah mengeluarkan revolver magnum dan menodongkannya ke dada Evan.
"Siapa namamu?" suaranya dingin seperti es. "Dan kenapa kau menguntitku?"
Evan mengangkat kedua tangannya, tapi postur tubuhnya tetap siaga. "Evan. Dan aku tidak menguntitmu. Aku punya misi di sini, menghancurkan tirani Lorenzo."
"Evan...?" Wanita itu menaikkan alis. "Tidak ada marga?"
"Untuk sekarang, tidak."
Mata hijau itu memindai wajah Evan dengan teliti, seolah mencari sesuatu. "Kau bukan tentara biasa."
"Kau juga bukan."
Senyum tipis muncul di wajah wanita itu. Ia menurunkan senjatanya perlahan. "Menarik."
"Sekarang giliranku bertanya," Evan melangkah lebih dekat. "Siapa namamu?"
Wanita itu sudah bergerak menjauhinya dengan langkah yang anggun dan penuh percaya diri. "Namaku Elara Phoenix," suaranya terdengar dari kejauhan ketika sosoknya sudah hampir hilang di bayangan mansion.
Evan berdiri di sana sejenak, menatap tempat wanita misterius itu menghilang. Ada sesuatu tentang Elara Phoenix yang membuatnya penasaran.
Tapi misi harus dilanjutkan.
Di ruang makan staf, suasana masih hangat setelah acara penyambutan Ivan selesai. Para sipir dan pegawai masih mengobrol ringan sambil menikmati kopi dan dessert. Eric duduk di ujung meja, berkali-kali melirik jam tangan sembari menyeringai tipis.*Pukul 13.15. Pertarungan pasti sudah dimulai,* pikirnya puas. *Dalam beberapa menit lagi, Evan Wijaya akan menjadi mayat.*"Letnan Ivan," Anna yang duduk di sebelah Ivan kembali berbasa basi, "bagaimana kesan pertama Anda tentang Penjara Inferium?""Luar biasa," Ivan mengangguk,menyeka mulutnya dengan serbet. "Organisasi dan fasilitasnya sangat baik. Tapi…," ia melirik ke arah jendela yang menghadap ke blok narapidana, "aku ingin melihat bagaimana kondisi di setiap blok saat ini."Eric yang sedang minum kopi hampir tersedak. "Melihat kondisi blok? Untuk apa, Letnan?""Sebagai wakil kepala penjara, aku perlu memahami situasi operasional secara langsung," Ivan menjawab tegas. "Terutama ruang kontrol dan sistem pengawasan."Anna mengangguk set
Samson sempat mundur selangkah, merasakan aura aneh yang terpancar dari mata Evan. Ada sesuatu di balik ketenangan pria itu yang membuatnya merinding, seperti menatap mata predator yang sedang menilai mangsa."Mulutmu sungguh berani bicara!" Samson mendengus, berusaha menutupi rasa gentar yang tiba-tiba muncul. "Sudah bersalah tapi masih bisa sombong!"“Kuberi kau waktu untuk berlutut minta ampun!” bentak The Duke dengan nada mengancam, “Siapa tahu aku kasihan dan mengampuni nyawamu.”"Bagaimana kalau kau yang berlutut dan memohon padaku supaya tetap hidup dengan lengan yang utuh?" Evan tersenyum dingin, suaranya setenang permukaan danau sebelum badai.Sorot mata Evan berubah, iris hitamnya berkilat seperti bilah pedang yang dipanaskan dalam api. Samson merasakan dingin menusuk tulang belakangnya, seolah sedang menatap mata malaikat maut.Tapi rasa gentar itu cepat tergantikan oleh amarah ketika Samson melihat empat anak buahnya berdiri siaga di sekitar meja. ‘Tidak mungkin satu orang
*Thomas Walker, dibuang sebagai bayi di depan Panti Asuhan Kasih Bunda. Kepala panti, Michael, dikenal sadis dan sering menyiksa anak-anak asuhan. Tom tidak pernah mendapat kasih sayang, hanya pukulan dan umpatan.**Usia 8 tahun, Tom memiliki sahabat dekat bernama Ricky. Ketika Ricky berusaha melindungi Tom dari siksaan Michael, kepala panti itu menyiksa Ricky hingga tewas. Mayat Ricky dikuburkan di belakang asrama tanpa laporan pada pihak berwajib. Semuanya dilakukan di depan mata Tom yang menyebabkan trauma psikis dan mental.**Usia 15 tahun, Tom membunuh dan memutilasi Michael yang hampir memperkosa salah satu anak perempuan di panti. Selama tujuh tahun berikutnya, Tom membunuh sebelas orang lagi dengan metode yang sangat sadis. Media menjulukinya "Penjagal dari Arcana."**Lolos dari hukuman mati dan dihukum penjara seumur hidup karena dianggap mengalami gangguan jiwa berat.*Evan menutup file itu dengan perasaan yang kompleks. Tom bukan sekadar psikopat biasa, dia adalah produk da
Satu jam kemudian, Sari menyerahkan berkas tebal kepada Eric dengan tangan gemetar. Eric merebut berkas itu dan membacanya dengan tergesa-gesa.*Nama: Ivan Pendragon. Usia: 27 tahun. Lulusan Akademi Kepolisian terbaik tahun ini. Orang tua: Ardhan Pendragon (almarhum), Lily Pendragon (almarhumah). Kakak kandung: Evan Pendragon (almarhum).*Eric menutup berkas dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar hebat hingga berkas data diri Wakil Kepala Penjara baru hampir terjatuh dari genggamannya.*Bukan kebetulan,* pikirnya panik. *Ini bukan kebetulan sama sekali. Ivan ada di sini dengan tujuan tertentu. Dia pasti tahu apa yang terjadi pada kakaknya tiga belas tahun lalu.*Eric memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Ia harus berhati-hati dengan pemuda itu atau semua kejahatannya di masa lalu akan terbongkar dan dirinya akan berakhir di kamar gas."Pak Eric?" suara Sari membuatnya tersentak. "Anda tidak apa-apa?""Tidak apa-apa," Eric berdiri dengan kaku. "Kembali ke tugasmu!"---Ruang Mak
Sony yang telah mengikuti Boris sejak dari toilet kini berdiri di sudut aula, menatap punggung Evan yang menjauh dengan campuran kagum dan takut.Dia bukan manusia, Sony berpikir sambil menelan ludah. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan.Dan di suatu tempat di lantai atas, Boris duduk meringkuk di sudut selnya, masih gemetar dengan mata kosong menatap dinding.Eric dan Duke Samson mendatangi sel Boris. Eric bertanya dengan hati-hati, “Evan yang melakukan ini padamu?”Boris tak menjawab, hanya gemetar setiap nama itu disebut.“Keparat Evan!” Samson menggebrak jeruji penjara dengan gusar, “Hari ini akan menjadi hari kematiannya!”Eric mengangguk, “Benar, kau harus menghabisinya sebelum dia menguasai Blok E!”“Ja-jangan!” Boris tiba-tiba bersuara tapi suaranya sangat kecil sehingga Samson dan Eric tak mendengar dengan jelas.“Jangan takut, Boris!” hibur Samson, “Aku akan membalaskan dendammu!”Boris menggeleng, “Jangan….!”Tapi Samson dan Eric tak mendengar, mereka segera menin
Eric yang sedang memeriksa barisan ketiga juga menyadari kehadiran Boris. "Boris! Hei, Boris!" dia berteriak sambil melangkah mendekat. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?"Tapi Boris melewati Eric begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Seperti sipir kepala itu tidak ada, seperti suaranya hanya angin yang lewat.Eric berdiri membeku dengan wajah yang tidak percaya. Tidak pernah dalam lima belas tahun karirnya ada napi yang berani mengabaikan pertanyaannya secara langsung.Theo yang melihat Boris mendekatinya dengan tatapan kosong itu merasakan ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat, kaki-kakinya terasa lemah hingga hampir tidak bisa menopang berat badannya sendiri.*Dia datang untuk membunuhku,* pikir Theo panik. *Dia masih mau menyelesaikan apa yang dimulainya kemarin.*Napas Theo menjadi pendek dan cepat. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia ingin lari, tapi kaki tidak mau bergerak. Trauma dari penyiksaan kemarin membuat tubuhnya membeku.Seluruh







