LOGINEric mendekat ke brankar di mana Boris berbaring dengan wajah yang penuh kekhawatiran terselubung. Dia butuh Boris untuk rencana menyingkirkan Evan. Tanpa tangan kanannya, serangan terhadap Evan tidak akan sempurna."Bangun, Bodoh!" Eric menepuk pipi Boris dengan kasar. "Jangan mati sekarang! Kita masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan."Tapi Boris tidak merespons. Napasnya semakin lemah, monitor jantung menunjukkan detak yang semakin tidak teratur.Eric mulai panik. Dia melirik ke arah pintu, mempertimbangkan untuk memanggil Sasha kembali meski harus memohon.Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang aneh.Liontin berbentuk mata beruang yang tergantung di leher Boris mulai bercahaya dengan warna biru kehijauan yang menyala terang. Cahaya itu semakin intens, mulai melingkupi seluruh tubuh Boris seperti aurora yang menari."Apa ini?" Eric mundur beberapa langkah dengan mata melotot tidak percaya.Cahaya dari liontin menyebar ke seluruh tubuh Boris, meresap masuk ke kulit melalui
Evan tidak mundur sedikitpun, menatap balik Duke dengan mata yang tidak menunjukkan ketakutan. "Dengan senang hati aku akan menunggu."Duke meludah ke lantai di samping kaki Evan, tanda penghinaan terakhir sebelum berbalik dan berjalan kembali ke mejanya dengan langkah yang menghentak. Anggota Monster Boys yang mengikutinya menatap Evan dengan tatapan pembunuh.Ruang makan perlahan kembali normal, tapi semua orang tahu bahwa sesuatu yang besar akan terjadi besok malam. Bisikan-bisikan mulai menyebar dengan cepat."Evan menolak Duke?""Dia gila atau sudah bosan hidup?""Besok malam akan ada pembantaian."Theo menatap Evan dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. "Evan... kenapa kau menolak? Kau bisa selamat kalau bergabung dengannya!"Evan mengambil sendoknya kembali, melanjutkan makan dengan sangat tenang. "Karena aku tidak datang ke sini untuk menjadi bagian dari sistem yang korup, Theo. Aku datang untuk menghancurkannya."Theo tidak bisa makan lagi. Dia hanya duduk menatap kos
Duke berhenti tepat di depan meja Evan dengan postur yang mendominasi. Tangannya yang besar meletakkan nampan makanan di seberang Evan dengan bunyi yang keras."Boleh aku duduk?" Duke bertanya dengan nada yang terdengar sopan, tapi mata tajamnya memancarkan ancaman terselubung."Silakan," Evan menjawab tanpa mengangkat pandangan dari makanannya.Duke duduk dengan gerakan yang terkontrol, dua anggota Monster Boys berdiri di belakangnya seperti bodyguard yang siap melindungi. Theo merasakan jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya."Evan Wijaya," Duke memulai sambil mengambil sepotong ayam dari nampannya. "Aku datang untuk mengobrol santai. Tidak ada yang perlu ditakutkan.""Aku tidak takut," Evan menatap Duke dengan mata yang tenang.Duke tersenyum mendengar jawaban itu. "Bagus. Aku suka orang yang punya nyali." Dia menggigit ayam dengan bunyi yang keras, mata tidak pernah lepas dari Evan."Kau tahu," Duke melanjutkan sambil mengunyah, "Boris sekarang s
Boris tidak bisa menjawab. Dia jatuh berlutut, kedua tangannya masih mencengkeram perut dengan kuat. Mulutnya terbuka lebar, mencoba menghirup udara yang sepertinya tidak cukup."Lihat baik-baik, Theo!" Evan berkata dengan suara yang sangat tenang di tengah kekacauan yang mulai terjadi. "Ini adalah efek dari teknik Pukulan Bayangan Bulan. Serangan energi naga murni yang menembus kulit tanpa meninggalkan luka luar, tapi merusak organ dalam secara perlahan."Theo menatap Evan dengan campuran kagum dan ngeri. "Kau... kau melakukan itu tadi? Pukulan yang terlihat tak ada tenaganya itu?""Bukan pukulan biasa," Evan menjelaskan sambil terus mengamati Boris. "Energi naga ditransfer melalui getaran frekuensi tinggi yang beresonansi dengan organ dalam. Efeknya tertunda lima menit, memberi kesan kematian alami atau serangan jantung mendadak."Theo merinding mendengar penjelasan itu. "Tapi... bukankah itu terlalu berbahaya? Dia bisa mati!""Dia tidak akan mati," Evan menjawab dengan nada yang ma
Pukulan Boris mengenai kepala Evan dengan keras. Tapi pukulan Evan juga mengenai ulu hati Boris, meski tak sekuat tenaga.Evan jatuh tersungkur ke tanah, tidak bergerak. Boris mendarat dengan kaki goyah, masih berdiri tegak meski wajahnya mulai pucat.Keheningan menyelimuti lapangan selama beberapa detik. Semua mata tertuju pada Evan yang tidak kunjung bangkit."Dia kalah!" teriak salah satu napi memecah keheningan.Para napi bersorak dengan antusias yang meledak. "Boris! Boris! Boris!"Duke dan Miguel tersenyum puas, merasa kemenangan sudah di tangan. Boris berdiri dengan kedua tangan terangkat seperti juara tinju, meski tubuhnya sedikit gemetar karena rasa nyeri mulai menyerang ulu hatinya.Evan perlahan membuka mata, bangkit dengan gerakan yang sangat lambat. Darah mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya. Dia menatap sekeliling dengan ekspresi yang terlihat kalah dan patah semangat.Tanpa berkata apa-apa, Evan mundur dari lingkaran kerumunan dengan langkah yang tertatih-tatih."It
Boris mendekat, berdiri di atas Evan yang masih terbaring sembari memegangi kepalanya. "Kemarin kau bilang akan mengirimku ke neraka. Kau bilang aku harus menjauhimu sebelum ada yang terluka. Di mana ancamanmu sekarang, Bocah?"Evan bangkit perlahan, mengusap darah di sudut bibir. Matanya menatap ketiga orang itu dengan tatapan yang anehnya masih tenang tanpa rasa takut. Membuat siapapun yang melihatnya bertanya-tanya apakah dia seorang napi dengan gangguan jiwa.Permainan sudah dimulai, Evan mengaktifkan Mata Naga sepenuhnya. Saatnya memberikan sedikit pelajaran.Boris yang sudah tak sabar melihat lawannya bersujud minta ampun, segera merangsek maju dan menendang dengan kaki kanan ke arah dada Evan.Evan menghindar, tubuhnya bergeser hanya sedikit tapi cukup untuk membuat tendangan meleset.Miguel, tangan kanan Samson yang melihat celah karena lawan fokus menghindari serangan Boris, memanfaatkannya dengan melayangkan pukulan dari belakang.Tapi Evan sudah memprediksi serangan tersebu







