Beranda / Romansa / Dendam Putri Yang Terbuang / 7. Wanita yang mengagumkan

Share

7. Wanita yang mengagumkan

Penulis: Story_pufia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 08:15:35

Elowyn terkejut mendengar penuturan kakek Zain. Memang ia telah berhasil meyakinkan pria tua itu untuk menerimanya sebagai menantu, tapi bukan berarti ia ingin menguasai separuh kekayaannya. Elowyn jadi merasa tidak enak hati pada Duke.

Walau seperti perempuan pada umumnya Elowyn juga menyukai uang, tetapi tidak dengan cara seinstan ini. Kalau seperti ini, ia jadi merasa seperti sengaja menikahi pria kaya hanya untuk mengincar hartanya.

“Tidak perlu, Kek. Duke sudah memberiku banyak uang, tidak perlu sampai seperti itu,” ucap Elowyn, menolak dengan halus.

Kakek Zain tersenyum sambil mengusap punggung tangan Elowyn. “Kau lucu juga ya ternyata. Tidak apa, ini sebagai jaminan agar Duke serius dengan pernikahan kalian.”

Duke menatap kakeknya tidak suka. “Ck!” Ia berdecak kesal karena sang kakek tidak pernah bersikap seperti itu pada dirinya. Ia pun heran, bagaimana cara Elowyn bisa meluluhkan hati Kakek Zain yang keras sampai seperti ini. Ia juga tidak bisa menyalahkan Elowyn jika kakeknya sengaja menjadikan saham itu sebagai media ancaman untuknya.

“Jadi Kakek masih tidak mempercayaiku?” tanya Duke.

Kakek Zain tersenyum sinis. “Kalau kamu ingin aku mempercayaimu, buktikan ketulusan dan kesungguhanmu. Ingat, aku bisa saja mengganti ahli warisku jika kamu mengecewakanku lagi,” ucap Kakek Zain.

Duke mengepalkan telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih ketika mendengar kata-kata yang Kakek Zain lontarkan. Ingin rasanya ia meluapkan rasa kesalnya yang selalu di pojokan dan di curigai hanya karena sebuah masa lalu yang tidak benar-benar ia lakukan. Sungguh, perebutan kekuasaan di dalam keluarganya benar-benar membuatnya muak pada orang-orang serakah yang rela melakukan segala macam cara untuk merebut sesuatu yang bukan miliknya, termasuk menjebaknya pada sebuah skandal yang membuat kepercayaan Kakek Zain kepadanya menghilang.

Akan tetapi, Duke terlalu menyayangi sang kakek hingga tidak bisa merelakan jerih kakek Zain saat masih muda harus jatuh ke tangan yang tidak tepat. “Terserah Kakek mau percaya padaku atau tidak, yang jelas jangan menekanku lagi karena aku sudah membawa menantu untuk Kakek.”

“Kita pulang.” Duke segera menarik tangan Elowyn pergi dari kamar Kakek Zain.

Kakek Zain tersenyum sinis melihat pintu yang ditutup kasar oleh Duke seraya bergumam, “menarik.”

~••~

Duke bergegas membawa Elowyn menuju mobil. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan sang kakek yang tidak pernah mau mengerti. Begitu sampai di mobil, Duke segera meminta Emilio menginjak gasnya.

“Duke, maafkan aku … tapi sungguh, aku tidak pernah punya niatan untuk minta saham dari Kakakmu, apalagi sebanyak itu.” Elowyn yang merasa tidak enak menundukan kepalanya sambil memilin gaunnya. Ia terlalu takut menatap mata Duke setelah melihat amarah Duke pada kakeknya tadi.

“Sudahlah.” Duke mengangkat dagu Elowyn hingga gadis itu mendongak. “Ini bukan salahmu. Kakek orangnya memang keras, kalau dia sudah membuat keputusan maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Tapi berkatmu aku masih bisa mengamankan posisiku sebagai pewaris utama keluarga, terima kasih ya.”

“Kenapa kau sesantai ini? Padahal Kakek memberiku yang orang asing ini saham sebanyak itu, harusnya kau marah,” tanya Elowyn heran.

Duke tertawa kecil dan untuk pertama kalinya Elowyn melihat wajah tampan itu berekspresi selain datar dan dan dingin. Ternyata jika tertawa seperti ini dia jauh lebih menawan.

“Kau bukan orang asing, Elowyn. Kau sudah menjadi istriku kalau lupa. Dan kenapa aku harus marah? Justru ini menguntungkan bagiku. Bayangkan, istriku punya saham 50% di perusahaan di tambah sahamku sendiri 45%, otomatis aku memiliki saham terbesar daripada yang lainnya. Ya meski semua itu tetap dibawah kendali Kakek, tapi setidaknya aku lebih unggul daripada keluargaku yang lain,”

“Ternyata begitu ya ….” Elowyn tak mengerti masalah saham hanya mengangguk saja.

“Daripada itu, aku penasaran bagaimana kau bisa membujuk Kakek?” tanya Duke sambil menyandarkan tubuhnya.

“Ah iya itu ….” Elowyn menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk.

Flashback on

Beberapa saat yang lalu ketegangan menyelimuti suasana di kamar Kakek Zain, saat hanya ada dua manusia beda usia saling menatap dalam diam.

“Jadi apa yang mau kau bicarakan?” Kakek Zain bertanya dengan nada dingin. Disaat seperti ini, Elowyn menyadari pria tua itu sangat mirip dengan Duke. Tidak hanya wajahnya, bahkan suaranya pun mirip.

Elowyn memasang senyum semanis mungkin, ia beralih duduk di samping Kakek Zain. “Kek, apa Kakek menyayangi Duke?” tanyanya lembut.

“Apa maksudmu? Jelas aku menyayanginya karena dia cucuku,” jawab Kakek Zain ketus.

“Jadi apa Kakek mau melakukan apapun agar Duke bahagia?” tanya Elowyn lagi.

Kakek Zain menghembuskan napasnya panjang. “Apa maksud dari semua pertanyaanmu itu? Meskipun hubunganku dan Duke tidak terlihat baik, tapi apa perlu aku menjelaskan pada orang asing seberapa besar kasih sayangku pada cucuku?”

“Kalau begitu Kakek jangan menghalanginya!” ucap Elowyn berhasil membuat manik mata Kakek Zain melebar.

“Kakek, Duke sangat mencintaiku dan aku pun menyukainya. Duke sampai memohon padaku agar mau menikah dengannya. Jadi tolong restui kami ya?” Elowyn menatap Kakek Zain dengan puppy eyes-nya. Untuk gadis imut bertubuh mungil sepertinya, biasanya ekspresi seperti ini tidak dapat ditolak oleh siapapun. Sahabatnya Elie yang mengatakan hal ini.

Dan benar saja, Kakek Zain tidak ingin berkata kasar pada Elowyn. Ia menghela napas panjang. “Bukannya aku tidak mau merestui kalian, tapi cara kalian menikah tanpa memberitahuku sudah sangat mengecewakan. Apalagi dia menikah dengan sembarang perempuan,” katanya dengan suara yang tidak lagi keras.

Elowyn mengangguk mengerti, ia berdiri dan berjalan mengelilingi kamar Kakek Zain. Melihat-lihat furniture dan karya seni yang terpajang di kamar tersebut. “Apa Kakek menyukai seni?” tanyanya tiba-tiba.

“Iya, aku sangat menyukai seni.” Kakek Zain ikut berdiri sambil berjalan mendekatinya dengan bantuan tongkat.

“Obrolan kita belum selesai bukan?” tanya Kakek Zain.

“Nanti saja kita lanjutkan lagi, Kek. Sejak tadi aku terus tertarik sama lukisan-lukisan yang dipajang di rumah ini. Ternyata di kamar Kakek juga tidak kalah banyak.” Elowyn menjawab dengan santai seolah mereka sudah akrab.

“Hm, baiklah. Sepertinya kau juga menyukai seni, ya?”

“Benar!” jawab Elowyn cepat. “Aku sering datang ke galeri hanya untuk melihat lukisan-lukisan yang baru datang. Oh, apa ini False Start karya Jasper John?” Elowyn menunjuk sebuah lukisan abstrak yang terlihat seperti puzzle dengan berbagai paduan warna. Lukisan milik seorang seniman ternama.

“Kau tahu juga rupanya. Iya benar, aku susah payah mendapatkan ini dulu sampai bisa memanjangnya di kamarku,” ucap Kakek Zain yang mulai masuk perangkap ‘penaklukan mertua’ Elowyn.

“Dan ini ….” Kali ini Elowyn menunjuk sebuah lukisan bergambar wajah manusia dengan ekspresi sendu dan tema dark.

“Yang ini aku dapatkan satu tahun yang lalu di pelelangan. Lukisannya bagus, sapuan kuasnya juga halus dan yang paling memikat adalah maknanya, makna lukisan ini seperti menggambarkan seseorang yang sedang terpuruk,” jelas Kakek Zain. “Tapi sayangnya tidak ada yang tahu siapa pelukisnya.”

Elowyn menyeringai, lalu menurunkan lukisan tersebut. Awalnya Kakek Zain terkejut dengan apa yang dia lakukan hingga hampir marah. Namun, Elowyn justru tersenyum saat menunjukan sebuah tanda nama di antara sapuan warna.

“Ini kan?” Kakek Zain langsung memakai kacamatanya untuk meneliti tulisan yang sangat kecil itu. “EA? Apa ini inisial pelukisnya?” tanyanya menatap Elowyn.

Elowyn mengangguk. “Elowyn Art. Aku yang membuat ini,” ucapnya sambil tersenyum.

Jawaban Elowyn sangat membuat Kakek Zain terkejut. Ini membeli lukisan tersebut karena menyukai maknanya, tapi ia tak pernah tahu siapa yang membuatnya. Tanpa diduga, pelukis yang ia kagumi itu kini berdiri di hadapannya sebagai menantunya.

“Kau serius?” tanya Kakek Zain masih tak percaya.

“Iya, Kek. Makna dari lukisan ini adalah keterpurukan seseorang yang terkurung dalam dunia yang gelap. Seseorang yang berusaha keluar dari kegelapan hanya dengan seutas tali tipis tapi usahanya sia-sia. Intinya warna dark dan wajah sendu itu menggambarkan keputusasaan seseorang.”

Elowyn mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto sertifikat lukisan tersebut. Ia juga menghubungi pihak pelelangan guna meyakinkan Kakek Zain.

“Aku masih punya satu lagi, lain kali akan kubawakan sebagai hadiah buat Kakek,” kata Elowyn.

Kakek Zain tersenyum, ia mengusap kepala Elowyn. “Kalau begitu kau lulus ujian jadi menantuku.”

Flashback off.

Hal itu juga tidak dapat dipercaya oleh Duke yang mendengar cerita Elowyn. Namun, melihat betapa luluhnya sang kakek tadi, tidak ada alasannya untuknya meragukan Elowyn. Apalagi mengingat gadis yang dinikahinya ini bukan sembarangan gadis. Diam-diam Duke mengagumi bakat Elowyn, meski tidak menunjukkannya langsung.

“Wah, ternyata Nona punya bakat melukis juga? Luar biasa.” Itu suara Emilio yang sedang menyetir. Sama seperti Duke, ia juga kagum pada Elowyn.

“Tidak kok. Sebenarnya itu hanya hobi dan aku tidak berniat melelang lukisan itu. Itu karena Ibuku yang membawanya ke pelanggan tanpa kuketahui,” ujar Elowyn tersenyum miris mengingat dirinya yang dulu selalu dimanfaatkan oleh keluarganya sendiri.

“Tapi aku bersyukur berkat lukisan itu Kakek jadi mau menerimaku. Benarkan, Duke?” ucap Elowyn menatap ke arah Duke.

“Ekhem.” Duke berdehem lalu memalingkan wajahnya. “Ya syukurlah bakatmu itu ada gunanya,” katanya kembali datar.

Elowyn berdecih sinis. Cepat sekali ekspresi pria itu berubah dingin. Tidak bisakah dia memujinya sedikit.

“Em, omong-omong Duke. Meskipun kita sudah menikah, bolehkah aku tetap bekerja?”

Pertanyaan Elowyn membuat Duke kembali menatap ke arahnya. “Kau mau bekerja?”

Elowyn mengangguk. “Aku bisa kerja sebagai sekretarismu di kantor, kata Emilio kalian belum dapat sekretaris baru, kan?”

“Kenapa mau bekerja? Bukankah aku sudah mengatakan akan menjadikanmu bebanku,” tanya Duke.

“Aku tidak mau menjadi beban. Cukup kau membantuku menemukan keluargaku saja,” balas Elowyn.

“Kau sudah mendapatkan saham dari Kakek, bahkan lebih besar dariku. Untuk apa kau bekerja lagi? Kalau butuh uang, kau tinggal bilang padaku.” Duke mengeluarkan dompetnya lalu mengambil sebuah kartu berwarna hitam. “Ambillah, kartu ini tidak ada batasnya, sekarang ini milikmu.”

Elowyn menolak dengan cepat. Bukan ini yang dia inginkan. Sudah cukup ia merasa tidak enak karena Kakek Zain memberinya saham sebesar itu. “Tidak usah. Aku tidak perlu itu. Aku cuma mau bekerja saja. Karena jika nanti kita bercerai, bukankah aku harus tetap melanjutkan hidup mandiri? Setidaknya aku jadi punya pengalaman kalau mau melamar ke perusahaan lain nantinya,” ujar Elowyn.

“Baiklah kalau itu maumu, besok kau bisa mulai bekerja sebagai sekretarisku. Tapi apa kau bisa? Sebenarnya yang aku cari adalah sekretaris yang sudah berpengalaman agar tidak merepotkan.”

“Bisa. Aku ini cepat belajar. Jadi kalau ada yang mau mengajariku, aku akan akan berusaha mengerti secepatnya,” jawab Elowyn sangat yakin.

Duke nampak berpikir sejenak. Dengan kecerdasan yang dimiliki Elowyn, sepertinya bukan tidak mungkin gadis itu bisa mempelajarinya secepatnya. Ditambah lagi jika sekretarisnya adalah orang yang dekat dengannya, ia bisa lebih percaya. “Oke. Tapi tetap saja ambil ini. Aku tidak mau orang-orang menganggapku pelit karena tidak menafkahimu.” Duke memberikan kartu itu secara paksa.

Meski terpaksa, akhirnya Elowyn menerimanya. “Akan kugunakan jika terdesak,” katanya kemudian menyimpan kartu tersebut.

“Emilio yang akan mengajarimu mulai besok. Dan sepertinya Kakek tidak mau hubungan kita terpublish sebelum perayaan. Jadi aku akan memperlakukanmu seperti pegawai pada umumnya,” ucap Duke memperingati.

“Baik. Bukan masalah asal aku bisa bekerja,” balas Elowyn sangat bersemangat.

Diam-diam Duke melirik wajah Elowyn yang berseri-seri. Pipi chubby dengan bibir merahnya yang mungil itu mengingatnya pada malam penuh gairah yang pernah terjadi. Duke tersenyum tipis, sangat tipis sampai hampir tak terlihat.

“Tuan, ada apa dengan matamu?” celetuk Emilio yang diam-diam melihatnya dari kaca di depannya.

“Diamlah kau!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Elmzzzzykim
Tuan banyak gengsi ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dendam Putri Yang Terbuang    52. Skandal

    “Sial! Kenapa ini semua terjadi? Siapa yang sudah menayangkan semua itu,” gerutu Liona emosi, sembari menuruti panggung dengan menutupi wajahnya dari serbuan kamera. Baru saja gadis cantik nan manis itu menikmati hasil kerja kerasnya, dan merasa berada di atas awan karena projek pertamanya sukses besar. Karena kesuksesan itu, banyak tawaran iklan yang berdatangan serta projek-projek lainnya. Baru saja ia memegang trofi pertamanya dengan bangga. Namun, pijakkannya langsung dipatahkan hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Orang-orang yang tadinya menatap kagum dan iri padanya, seketika tatapan mereka berubah menjadi hina. Bisik-bisikan para penonton dan tuntunan pertanyaan dari wartawan, menyerbu bagai sekumpulan lebah yang mengincar targetnya. “Liona, apa benar tentang tayangan tadi?” “Apa kau mengetahui tayangan itu sebelumnya? Atau itu memang sengaja untuk menaikan pamor saja?” “Liona, benarkan yang di foto dan video itu adalah kamu?” “Liona, tolong jelaskan yang s

  • Dendam Putri Yang Terbuang    51. Penghargaan dan kehancuran

    Api membakar ujung rokok seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamarnya, sembari menatap hamparan lampu di taman rumahnya. Pikirannya semewarut saat ini. Ia menegak alkohol dalam gelas yang sengaja disiapkan untuk menemani batang nikotin agar semakin sempurna. Teringat ucapan seorang detektif berapa saat yang lalu.Dua jam sebelumnya.“Jadi, itu yang membuat penyelidikan ini memakan waktu begitu lama,” jawab detektif itu jujur. “Data adopsi yang saya temukan seperti dipalsukan. Nama, tanggal lahir, bahkan asal usulnya juga diganti.”“Kenapa ada orang melakukan sejauh itu?” Viona bergetar.Detektif itu menarik napas pelan, seolah sedang menimbang kata-katanya. “Kemungkinan putri kalian tidak mengingat jati dirinya sendiri, alias hilang ingatan. Karena anak berusia lima tahun, paling tidak dia bisa mengingat namanya sendiri dan orang tuanya. Tapi kalau tidak, berarti ada gangguan dengan ingatannya.”“Itu artinya data dari rumah sakit sebelum dibawa ke panti asuhan disembunyikan?”

  • Dendam Putri Yang Terbuang    50. Red carpet

    Lampu kamera menyala di setiap sudut sepanjang jalan. Karpet merah membentang panjang di depan gedung megah Star Group. Malam ini, adalah acara red carpet yang ditunggu-tunggu oleh para bintang. Kilatan flash kamera tak berhenti menjepret para tokoh utama yang melewati karpet tersebut. Sementara di belakang panggung berdiri seorang wanita cantik dengan gaun putih sederhana tapi terlihat anggun. Wanita itu memegang segelas jus anggur. Sudut bibirnya terangkat sedikit mengintip dari celah pintu, menyaksikan hasil kerja kerasnya selama ini terbayar hari ini. “Elowyn, kau mengintip siapa?” Gadis itu menoleh, melihat temannya yang tak mempesona berjalan ke arahnya sambil membawa kamera yang mengandung di lehernya. “Kau kenapa kesini? Harusnya membatu artismu bersiap-siap, sana,” ujar Elowyn setengah meledek. Gadis yang menghampirinya menghela napas panjang. Ia merebut minuman di tangan Elowyn. “Malas, ah. Setelah hari ini, aku mau resign saja,” jawab Elie. “Kau ini! Bukankah

  • Dendam Putri Yang Terbuang    49. Pesan mendalam Tuan Zain

    “Bagaimana kabar Kakek?” tanya Elowyn. Saat ini ia berada di rumah rawat Tuan Zain. Tentu saja sebelum pergi ke tempat ini, ia sempat adu mulut dulu dengan Duke yang memintanya untuk istirahat lagi. Padahal menurut di empu tubuh, ia sudah baik-baik saja dan bahkan kembali fit seperti sebelumnya. Suasana ruang rawat Tuan Zain sangat tenang. Pria tua itu sudah tidak memakai bantuan alat pernapasan lagi, bahkan dia terlihat bersemangat seperti bukan berusia 75 tahun. “Aku sudah baik-baik saja. Apalagi kamu menjengukku. Tubuhku langsung pulih seperti dulu,” jawab pria itu, berpose menunjukan otot tangannya. Elowyn tersenyum sendu. Segera ia memeluk tubuh ringkih tersebut. “Kakek jangan sakit lagi, ya. Aku sangat khawatir tahu saat dengar Kakek drop.” Tuan Zain terkekeh pelan seraya menepuk-nepuk punggung cucu menantunya. “Kakek ini sudah tua, jadi wajar saja jika Drop. Maaf ya.” “Wajar apanya?” sahut Elowyn ngegas. “Dokter bilang jantung Kakek sempat berhenti.” “Itu karena Kakek

  • Dendam Putri Yang Terbuang    48. Wanita bodoh

    “Kakek sudah sadar. Sekarang sedang dalam masa pemulihan,” jawab Duke, membuat Elowyn tersenyum lega. “Aku … aku mau menemui Kakek. Duke, aku mau menemui Kakek. Tolong bawa aku ke Kakek,” ucap Elowyn dengan mata berkaca-kaca.“Tidak bisa sekarang, Elowyn. Kau juga baru bangun. Jadi istirahat saja dulu,” ujar pria itu dengan lembut.“Tapi aku ingin bertemu Kakek. Aku sampai disini karena ingin bertemu Kakek. Duke, tolong ….” Elowyn tak pernah mendapatkan kasih sayang keluarga selain dari neneknya. Setelah sang nenek meninggal, hidupnya terasa sepi dan penuh kelam. Namun, sejak Duke membawanya masuk ke dalam hidupnya dan bertemu Tuan Zain, perasaan yang dulu pernah hilang kembali lagi. Bagi Elowyn, Tuan Zain bukan sekedar Kakek mertua saja, melainkan keluarga terdekatnya yang sesungguhnya. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak bisa menempati ruang seperti itu di hatinya. “Duke, aku hanya ingin bertemu Kakek,” mohon Elowyn, menarik ujung baju Duke.“Tidak Elowyn.” “Tuan benar, Nyonya. Sek

  • Dendam Putri Yang Terbuang    47. Terseret lebih dalam

    “Mommy, Mommy! Aku mau naik kuda itu!” rengek seorang anak perempuan kecil sambil menunjuk seekor kuda putih di dalam kandang.“Tidak boleh, Sayang. Kamu masih terlalu kecil,” jawab sang mommy lembut, berjongkok agar sejajar dengan tinggi putrinya.Bibir mungil anak itu mengerucut. Pipi chubby-nya mengembang lucu, lalu kakinya menghentak ke tanah karena kesal. “Aku mau naik. Ada Kakak sama Daddy. Mereka pasti mau menemani aku.”“Tidak, Sayang. Berkuda itu terlalu bahaya untuk anak usia lima tahun,” ucap sang mommy sabar.“Ada apa, Mom?”Seorang pria dewasa menghampiri mereka, ditemani seorang anak laki-laki remaja yang berlari mengejar langkahnya. “Dia ingin naik kuda, tapi kan masih terlalu kecil,” jelas sang mommy. “Aku melarangnya, tapi malah jadi ngambek seperti ini.” Pria itu tertawa kecil, lalu mengangkat putrinya tinggi-tinggi. “Anak Daddy mau naik kuda, ya?”Si kecil langsung mengangguk cepat dengan mata bulatnya yang berbinar.“Baiklah,” ujar sang Daddy akhirnya. “Daddy tem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status