Beranda / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 108. Tidak Akan Menyerah

Share

Bab 108. Tidak Akan Menyerah

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 22:44:04
Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya.

“Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?”

Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Serius, Mas.”

Reina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya!” Ia hampir meloncat kegirangan sebelum memeluk Indira erat. “Aku nggak salah kan bilang ke Kak Dewa, Kak Dira itu cuma nunggu waktu dan keyakinan buat perasaannya."

Dewa tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Kalau begitu…” Ia menarik napas dalam, menatap Indira penuh makna. “Aku akan melamar kamu lagi. Dengan cara yang nggak akan pernah kamu bayangkan.”

Indira terkesiap kecil, pipinya merona. “Mas…”

Reina langsung bersorak pelan. “Fix! Aku siap jadi tim sukses lamaran Kak Dewa!” katanya riang, lalu buru-buru pamit keluar kamar. “Aku ke dapur dulu, pura-pura nggak dengar apa-apa. Kalian r
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 113. Pembunuh Biadab!

    Indira akhirnya tak mampu lagi menahan bendungan di dadanya. Tangisnya pecah begitu Bik Rumi menariknya ke dalam pelukan hangat yang selama ini selalu menjadi tempatnya pulang. Tubuh Indira masih dingin, entah karena hujan atau karena hatinya yang menggigil. Tangannya mencengkeram seragam Bik Rumi, seolah takut kalau wanita paruh baya itu pergi dan meninggalkannya sendirian.“Non… nangis aja. Jangan dipendam,” ucap Bik Rumi lirih, mengelus punggung Indira dengan sabar.Semua yang tertahan akhirnya tumpah. Indira menceritakan kejadian hari ini, tentang Bara, tentang Andrew, tentang rasa malu dan amarah yang bercampur jadi satu. Tentang bagaimana ia merasa kembali diinjak-injak oleh masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur rapat-rapat. Suaranya bergetar, napasnya tersengal, tapi Bik Rumi mendengarkan tanpa menyela.Setelah tangis Indira mereda, Bik Rumi menghela napas panjang. “Non,” panggilnya pelan. “Bibik mau nanya satu hal. Dan Non harus jawab jujur, ya.”Indira mengangguk lemah.“P

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 112. Salah Paham

    Indira menutup pintu mobil dengan keras, begitu ia sudah sampai di depan halaman rumahnya. Tanpa melihat ke belakang, tanpa mempedulikan Bara yang memanggil-manggil namanya."Dira.""Indira. Tunggu!"Hujan deras masih mengguyur ibu kota, membasahi dua insan yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut. Indira, tetap berjalan seolah menulikan telinganya. Air matanya jatuh, bersamaan dengan air hujan yang mengalir ke tubuhnya."Indira, aku minta maaf. Aku udah ninggalin kamu gitu aja tadi," ucap Bara yang seketika menghentikan langkah Indira.Wanita itu pun membalikkan badannya, melihat ke arah Bara dengan tajam dan sepasang matanya yang memerah. Bara tersentak kaget melihat Indira seperti itu, ia tahu Indira menangis."Aku minta ma—""Nggak cukup dengan ninggalin aku, kamu juga bongkar aib aku sama orang lain, Pak Bara. Aku tahu, aku dulu rendahan, mau-maunya aku jadi budak nafsu kamu. Tapi, harus ya kamu kasih tahu orang lain tentang aku?"Akhirnya Indira meledak, ia tak bisa menah

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 111. Jalang itu?

    Hujan turun semakin deras, seolah ikut meluapkan amarah yang membakar dada Indira. Air membasahi rambut, wajah, hingga pakaiannya menempel dingin di tubuh. Langkahnya terseok di aspal basah, sepatu haknya nyaris membuatnya terpeleset.“Kurang ajar… benar-benar kurang ajar!” gerutunya sambil menahan isak. "Dia yang bawa aku pergi, tapi dia juga yang marah-marah dan ninggalin aku. Nggak tanggung jawab!"Ia tak pernah membayangkan Bara akan setega itu. Membawanya pergi dari rumah Dewa dengan paksa, menyeretnya dalam konflik yang tak pernah ia minta, lalu meninggalkannya sendirian di jalanan sepi seperti ini. Di tengah hujan. Di tengah malam.Indira merogoh tasnya, tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel. Layar ponsel basah oleh air hujan dan air mata. Ia berniat menelepon Dewa. Setidaknya suara pria itu bisa menenangkan sedikit kekacauan di dadanya. Namun sinyal buruk. Layar hanya menampilkan tulisan mencari jaringan.“Aishh…” desahnya lirih.Ia menoleh ke sekeliling, berharap ada hal

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 110. Kemarahan Bara

    Bara dan Dewa saling menatap tajam. Udara di antara mereka seolah menegang, penuh tekanan yang siap meledak kapan saja. Rahang Dewa mengeras, napasnya sedikit memburu, sementara Bara tampak seperti singa yang wilayahnya diganggu, penuh amarah dan posesif tanpa kendali. Seolah Indira adalah miliknya. “Apa katamu?” suara Dewa rendah, namun sarat peringatan. “Jangan pernah bilang Indira milik siapa pun.”Bara tertawa pendek, sinis. “Kamu pikir dengan sedikit perhatian dan drama sakit-sakitan, kamu bisa merebutnya dari saya? Dia mencintai saya!" katanya dengan percaya diri yang tinggi.Indira tercekat mendengar betapa percaya dirinya Bara. Dewa maju satu langkah. “Saya nggak merebut siapa pun dan Indira bukan barang. Dia yang memilih saya!" “Cukup!” Indira akhirnya berteriak. Suaranya bergetar, namun keras. Tangannya terangkat, seolah menjadi pembatas di antara dua pria itu. “Aku capek. Aku benar-benar capek dengan ini semua! Terutama kamu

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 109. Memaksa!

    "Om mau jemput Mama? Kenapa Om?" tanya Nala dengan wajah polosnya yang menggemaskan itu.Bara terdiam sejenak, sebelum ia menjawab. "Em, pengen aja. Sekalian Om ada urusan sama Mama kalian.""Tapi pasti Mama lagi sama Papih. Mending gak usah dijemput, Om. Mama pasti baik-baik aja, nanti juga pulang," celetuk Nathan dengan santainya. Seolah-olah Indira memang aman bersama dengan 'papihnya' itu.Entah kenapa Bara tak senang mendengarnya. Anak sulungnya ini, dari tadi terdengar memuji-muji Dewa dihadapannya. Papih yang sangat disayanginya."Kamu sesuka itu sama Dewa?" tanya Bara dengan tatapan datarnya."Suka. Papih baik sama Mama, sama aku dan Nala. Sama semua orang. Waktu kami sakit, Papih jagain kami," jawab Nathan jelas dengan santai. Tanpa memikirkan kalau ada hati yang membara, terbakar oleh rasa cemburu saat mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Bara."Mulai sekarang, Om juga akan jaga kalian. Lebih baik dari si Dewa itu," cetus Bara yang tak mau kalah.Nathan hanya tersenyum tipis

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Tidak Akan Menyerah

    Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya. “Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?” Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Serius, Mas.” Reina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya!” Ia hampir meloncat kegirangan sebelum memeluk Indira erat. “Aku nggak salah kan bilang ke Kak Dewa, Kak Dira itu cuma nunggu waktu dan keyakinan buat perasaannya." Dewa tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Kalau begitu…” Ia menarik napas dalam, menatap Indira penuh makna. “Aku akan melamar kamu lagi. Dengan cara yang nggak akan pernah kamu bayangkan.” Indira terkesiap kecil, pipinya merona. “Mas…” Reina langsung bersorak pelan. “Fix! Aku siap jadi tim sukses lamaran Kak Dewa!” katanya riang, lalu buru-buru pamit keluar kamar. “Aku ke dapur dulu, pura-pura nggak dengar apa-apa. Kalian r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status