LOGINDi kantor Indira, meeting besar tengah berlangsung. Eddy duduk berseberangan dengan Pak Hardi. Indira ikut duduk sebagai perwakilan divisi desain. Sepanjang presentasi, Eddy beberapa kali mencuri pandang ke arah Indira. Wanita itu tampak fokus, serius, dan profesional. Semakin sulit didapat, semakin menantang baginya.Setelah meeting selesai dan kerja sama disepakati secara prinsip, Pak Hardi tersenyum puas.“Terima kasih, Pak Eddy. Semoga kerja sama ini berjalan lancar.”“Tentu, Pak,” jawab Eddy. Lalu, dengan sengaja ia menoleh pada Indira. “Saya harap ke depan kita bisa sering diskusi, Bu Indira.”Indira hanya tersenyum formal, menahan jengkel di hatinya. “Sesuai kebutuhan pekerjaan saja, Pak.”Saat semua orang keluar dari ruang rapat, Eddy sengaja memperlambat langkah hingga hanya tersisa ia dan Indira di lorong.“Kenapa sih kamu dingin banget sama saya?” tanyanya lebih serius kali ini.Indira berhenti. Menatap Eddy lurus-lurus. “Karena saya tidak nyaman dengan sikap Bapak.”Eddy
"Wah Nya ...padahal Indira mau saya jadikan mantu anak saya si Joko. Eh ...udah ditandain sama Nyonya. Ya saya kalah deh, Nya." Mbok Tuti terkekeh dan Mayang juga tertawa melihat mbok Tuti terkekeh."Jangan macam-macam ya Mbok. Indira udah saya booking untuk menjadi istri Bara dan ibu dari cucu-cucu saya. Gak bisa diganggu gugat itu. Sudah mutlak!" katanya telak sambil tersenyum lembut.Mbok Tuti menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu saya ngalah deh, Nya.""Harus dong, Mbok.""Alhamdulillah sekarang Nyonya sudah bisa menerima Indira sebagai calon menantu Nyonya.Indira itu wanita yang baik, Nya. Terlepas dari statusnya dulu," tutur Tuti yang bahagia karena Mayang sekarang sudah bisa menerima Indira.Dulu Mayang selalu menghina, merendahkan bahkan berbuat jahat pada Indira. Tapi sekarang kebaikan Indira berbuah manis."Itu semua karena saya sadar ... kalau status dan kekayaan, tidak menjamin seseorang tulus dan baik. Sedangkan Indira ... Saya yakin dia wanita yang baik. Saya baru sadar s
Mendengar kalimat Hendri, Safira seperti tersambar petir di siang bolong. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, antara marah dan takut."Kamu gila, Hendri! Aku sekarang istri orang! Lagi hamil pula! Kamu nggak punya perasaan apa?!" desis Safira, berusaha sekeras mungkin menjaga volume suaranya agar tak terdengar siapapun.Terutama Sherry dan Reina yang setahunya sedang tidur. Tawa Hendri kembali terdengar, panjang dan menyebalkan. "Perasaan? Sayang, dulu saat kamu meninggalkan aku demi Dewa, apa kamu pakai perasaan? Kamu tinggalin aku dan anak kita, Sherry, demi mengejar pria lain. Sekarang jangan sok suci di hadapanku."Safira menggigit bibirnya. Setiap kata Hendri adalah tusukan pisau tepat di ulu hatinya. Kenangan masa lalu yang pahit itu kembali terkuak. Ya, ia memang pergi meninggalkan Hendri karena tak tahan dengan sikap kasar mantan suaminya itu. Tapi ia membawa Sherry serta. Ia tidak meninggalkan anaknya."Tapi sekarang aku bawa
Malam di rumah Safira dan Dewa terasa lebih dingin dari biasanya. Udara tidak bersahabat, atau mungkin hanya perasaan Dewa saja yang membeku sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.Vas bunga itu meleset. Pecahan kaca berserakan di dekat kaki Dewa, berkilauan terkena lampu ruang tamu. Safira berdiri di hadapannya dengan dada naik turun, matanya memerah, tangannya masih gemetar. Suasana menjadi panas mendadak. Bukan dingin lagi."Ngaku! Kamu selingkuh sama dia itu, kan?! Indira!" suara Safira melengking, memecah keheningan malam.Dewa menghela napas panjang. Lelah. Bukan hanya lelah fisik karena semalam suntuk menemani ibunya di rumah sakit, tapi lelah hati. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja, lalu duduk di sofa tanpa menggubris amukan istrinya."Aku ngomong sama kamu, Dewa!"Dewa membuka dasi yang masih melingkar di lehernya. "Safira, aku capek. Jangan bikin ribut.""Jangan bikin ribut?!" Safira tertawa miris. "Suamiku ketahuan ngobrol mesra sama mantan tunangannya di r
Nathan duduk di samping, diam. Ia menatap Bara yang ikut duduk di lantai kamar."Pa... Nathan bukan anak haram, kan?" tanyanya lagi. Kali ini nadanya lebih lirih.Bara menarik napas dalam. Ia mendekat, duduk di depan Nathan, lalu menatap mata bocah itu dengan serius. "Denger ya, Nak. Kamu itu anak Papa. Papa sayang banget sama kamu. Kamu dan Nala itu anak Papa dan Mama. Titik."Nathan mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Luka itu sudah terlanjur menggores.***Malam semakin larut. Indira akhirnya bisa menidurkan kedua anaknya setelah membacakan dua dongeng dan menyanyikan satu lagu. Bara menunggu di ruang tamu, duduk diam dengan segelas air putih yang sudah habis sejak setengah jam lalu."Udah tidur?" tanyanya saat Indira turun."Udah," jawab Indira lemas. Ia duduk di sofa, memejamkan mata. "Makasih, Mas. Udah bantuin tadi.""Bukan Masalah. Nathan Nala kan anakku juga.""Kalau gitu aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabarin aku," kata Bara kemudian pamit. Ha
Tubuh Nathan menegang. Bocah kecil itu menatap Bira dengan sorot mata yang tidak biasa, bukan sekadar marah, tapi ada luka yang menganga di sana. Nala merapat ke samping kakak kembarnya, tangannya meraih lengan Nathan dengan erat."Ka-kakak... aku takut..." bisik Nala, matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kata itu. "Suster Bira jadi jahat."Bira tersentak. Ia sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya. Tapi ego dan kekesalannya sudah terlanjur memuncak. Selama ini ia merasa direndahkan, dianggap hanya sebagai pembantu, sementara Indira, wanita yang menurutnya hanya 'bekas istri orang kaya raya', hidup dengan segala kemewahan dan perhatian dari Bara."Kalian pikir kalian siapa? Sok tahu, sok mandiri. Suster ini capek ngurusin kalian dari pagi, tapi kalian gak pernah dengerin omongan suster!" Bira membentak, melampiaskan kekesalannya pada dua anak kecil di depannya.Nathan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. "Kami bukan







