/ Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 114. Ranjang Mantan Suami

공유

Bab 114. Ranjang Mantan Suami

작가: Davian
last update 최신 업데이트: 2026-01-12 23:19:29

Kedua mata Indira memerah, menajam, diotaknya terekam dan teringat dengan jelas, bagaimana ketiga adiknya meninggal dalam kondisi mengenaskan. Pelakunya adalah Bella, dalangnya adalah Bella, tapi wanita itu malah bebas berkeliaran. Membiarkan bawahannya terkena hukuman.

"Masuk ke sekolah!" ujar Bella pada putrinya yang masih ada disampingnya.

Celsie menganggukkan kepalanya, ia langsung melangkah pergi dari sana. Meskipun ia sempat melihat ke arah Indira, wanita yang menyebut mamanya pembunuh. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita cantik itu?

"Sepertinya kamu mau bicara banyak denganku, Indira?" tanya Bella seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap angkuh Indira. Namun, diam-diam ia merasa iri dengan penampilan Indira yang sekarang berkelas dan wajahnya yang semakin cantik saja.

"Sial. Kenapa sekarang dia sangat cantik? Penampilannya juga berkelas. Tidak seperti dulu, yang kampungan!" kata Bella dalam hatinya, dipenuhi rasa iri dengki.

"Aku ingin bicara sama kamu, t
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Ayu Safitri
aduh aduhhh ada apa disudut restoran ituuu, penasarannnnn
goodnovel comment avatar
Davian
Selamat malam, sudah double up ya. Jangan lupa komen dan gemsnya
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 114. Ranjang Mantan Suami

    Kedua mata Indira memerah, menajam, diotaknya terekam dan teringat dengan jelas, bagaimana ketiga adiknya meninggal dalam kondisi mengenaskan. Pelakunya adalah Bella, dalangnya adalah Bella, tapi wanita itu malah bebas berkeliaran. Membiarkan bawahannya terkena hukuman."Masuk ke sekolah!" ujar Bella pada putrinya yang masih ada disampingnya.Celsie menganggukkan kepalanya, ia langsung melangkah pergi dari sana. Meskipun ia sempat melihat ke arah Indira, wanita yang menyebut mamanya pembunuh. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita cantik itu?"Sepertinya kamu mau bicara banyak denganku, Indira?" tanya Bella seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap angkuh Indira. Namun, diam-diam ia merasa iri dengan penampilan Indira yang sekarang berkelas dan wajahnya yang semakin cantik saja."Sial. Kenapa sekarang dia sangat cantik? Penampilannya juga berkelas. Tidak seperti dulu, yang kampungan!" kata Bella dalam hatinya, dipenuhi rasa iri dengki."Aku ingin bicara sama kamu, t

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 113. Pembunuh Biadab!

    Indira akhirnya tak mampu lagi menahan bendungan di dadanya. Tangisnya pecah begitu Bik Rumi menariknya ke dalam pelukan hangat yang selama ini selalu menjadi tempatnya pulang. Tubuh Indira masih dingin, entah karena hujan atau karena hatinya yang menggigil. Tangannya mencengkeram seragam Bik Rumi, seolah takut kalau wanita paruh baya itu pergi dan meninggalkannya sendirian.“Non… nangis aja. Jangan dipendam,” ucap Bik Rumi lirih, mengelus punggung Indira dengan sabar.Semua yang tertahan akhirnya tumpah. Indira menceritakan kejadian hari ini, tentang Bara, tentang Andrew, tentang rasa malu dan amarah yang bercampur jadi satu. Tentang bagaimana ia merasa kembali diinjak-injak oleh masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur rapat-rapat. Suaranya bergetar, napasnya tersengal, tapi Bik Rumi mendengarkan tanpa menyela.Setelah tangis Indira mereda, Bik Rumi menghela napas panjang. “Non,” panggilnya pelan. “Bibik mau nanya satu hal. Dan Non harus jawab jujur, ya.”Indira mengangguk lemah.“P

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 112. Salah Paham

    Indira menutup pintu mobil dengan keras, begitu ia sudah sampai di depan halaman rumahnya. Tanpa melihat ke belakang, tanpa mempedulikan Bara yang memanggil-manggil namanya."Dira.""Indira. Tunggu!"Hujan deras masih mengguyur ibu kota, membasahi dua insan yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut. Indira, tetap berjalan seolah menulikan telinganya. Air matanya jatuh, bersamaan dengan air hujan yang mengalir ke tubuhnya."Indira, aku minta maaf. Aku udah ninggalin kamu gitu aja tadi," ucap Bara yang seketika menghentikan langkah Indira.Wanita itu pun membalikkan badannya, melihat ke arah Bara dengan tajam dan sepasang matanya yang memerah. Bara tersentak kaget melihat Indira seperti itu, ia tahu Indira menangis."Aku minta ma—""Nggak cukup dengan ninggalin aku, kamu juga bongkar aib aku sama orang lain, Pak Bara. Aku tahu, aku dulu rendahan, mau-maunya aku jadi budak nafsu kamu. Tapi, harus ya kamu kasih tahu orang lain tentang aku?"Akhirnya Indira meledak, ia tak bisa menah

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 111. Jalang itu?

    Hujan turun semakin deras, seolah ikut meluapkan amarah yang membakar dada Indira. Air membasahi rambut, wajah, hingga pakaiannya menempel dingin di tubuh. Langkahnya terseok di aspal basah, sepatu haknya nyaris membuatnya terpeleset.“Kurang ajar… benar-benar kurang ajar!” gerutunya sambil menahan isak. "Dia yang bawa aku pergi, tapi dia juga yang marah-marah dan ninggalin aku. Nggak tanggung jawab!"Ia tak pernah membayangkan Bara akan setega itu. Membawanya pergi dari rumah Dewa dengan paksa, menyeretnya dalam konflik yang tak pernah ia minta, lalu meninggalkannya sendirian di jalanan sepi seperti ini. Di tengah hujan. Di tengah malam.Indira merogoh tasnya, tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel. Layar ponsel basah oleh air hujan dan air mata. Ia berniat menelepon Dewa. Setidaknya suara pria itu bisa menenangkan sedikit kekacauan di dadanya. Namun sinyal buruk. Layar hanya menampilkan tulisan mencari jaringan.“Aishh…” desahnya lirih.Ia menoleh ke sekeliling, berharap ada hal

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 110. Kemarahan Bara

    Bara dan Dewa saling menatap tajam. Udara di antara mereka seolah menegang, penuh tekanan yang siap meledak kapan saja. Rahang Dewa mengeras, napasnya sedikit memburu, sementara Bara tampak seperti singa yang wilayahnya diganggu, penuh amarah dan posesif tanpa kendali. Seolah Indira adalah miliknya. “Apa katamu?” suara Dewa rendah, namun sarat peringatan. “Jangan pernah bilang Indira milik siapa pun.”Bara tertawa pendek, sinis. “Kamu pikir dengan sedikit perhatian dan drama sakit-sakitan, kamu bisa merebutnya dari saya? Dia mencintai saya!" katanya dengan percaya diri yang tinggi.Indira tercekat mendengar betapa percaya dirinya Bara. Dewa maju satu langkah. “Saya nggak merebut siapa pun dan Indira bukan barang. Dia yang memilih saya!" “Cukup!” Indira akhirnya berteriak. Suaranya bergetar, namun keras. Tangannya terangkat, seolah menjadi pembatas di antara dua pria itu. “Aku capek. Aku benar-benar capek dengan ini semua! Terutama kamu

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 109. Memaksa!

    "Om mau jemput Mama? Kenapa Om?" tanya Nala dengan wajah polosnya yang menggemaskan itu.Bara terdiam sejenak, sebelum ia menjawab. "Em, pengen aja. Sekalian Om ada urusan sama Mama kalian.""Tapi pasti Mama lagi sama Papih. Mending gak usah dijemput, Om. Mama pasti baik-baik aja, nanti juga pulang," celetuk Nathan dengan santainya. Seolah-olah Indira memang aman bersama dengan 'papihnya' itu.Entah kenapa Bara tak senang mendengarnya. Anak sulungnya ini, dari tadi terdengar memuji-muji Dewa dihadapannya. Papih yang sangat disayanginya."Kamu sesuka itu sama Dewa?" tanya Bara dengan tatapan datarnya."Suka. Papih baik sama Mama, sama aku dan Nala. Sama semua orang. Waktu kami sakit, Papih jagain kami," jawab Nathan jelas dengan santai. Tanpa memikirkan kalau ada hati yang membara, terbakar oleh rasa cemburu saat mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Bara."Mulai sekarang, Om juga akan jaga kalian. Lebih baik dari si Dewa itu," cetus Bara yang tak mau kalah.Nathan hanya tersenyum tipis

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status