Home / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 115. Jadi Kompor

Share

Bab 115. Jadi Kompor

Author: Davian
last update Last Updated: 2026-01-13 18:36:35

Pandangan Indira membeku di satu titik, keningnya berkerut dan pikirannya bertanya-tanya. Kala ia melihat, di sudut restoran itu, Dewa duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya tergerai rapi melewati bahu, senyum lembut menghiasi wajahnya. Yang membuat dada Indira seperti diremas bukan hanya keberadaan wanita itu, melainkan tangan mereka yang saling menggenggam di atas meja, begitu alami, begitu intim.

Indira tak berkedip. Ada rasa aneh menjalar dari dadanya ke tenggorokan. Bukan sekadar cemburu, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan. Seolah ada bagian dari hatinya yang tiba-tiba ditarik paksa, tanpa peringatan.

Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Bibir Dewa bergerak, wanita itu tersenyum, sesekali mengangguk. Dewa terlihat nyaman. Terlalu nyaman.

Bara mengikuti arah pandang Indira. Awalnya ia hanya melihat sekilas, lalu sorot matanya menajam. Sebuah senyum tipis, sinis, menghiasi wajahnya.

“Belum apa-apa, yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 116. Kemarahan Si Kembar

    Bara dan Dewa saling menatap dengan api yang sama, api ego, api cemburu, dan api kepemilikan. Udara di antara mereka menegang, seolah satu kata saja bisa berubah menjadi ledakan.“Kalau kamu nggak punya niat apa-apa, kenapa kamu masih duduk manis sama wanita yang katanya mantanmu itu?” Bara melangkah mendekat, tubuhnya sedikit condong ke depan. “Di tempat umum pula. Pegangan tangan. Kamu kira Indira ini perempuan bodoh?”Dewa membalas dengan sorot mata tajam. “Jangan ajari aku soal menjaga perasaan Indira. Kamu nggak punya hak, Pak Bara!"“Oh, aku punya,” sahut Bara dingin. “Aku ayah dari anak-anaknya. Aku laki-laki yang paling lama hidup sama dia. Kamu cuma datang belakangan dan sok jadi penyelamat.”Dewa berdecih mendengar semua kata-kata Bara yang terdengar seperti bualan untuknya. Indira memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Suara mereka seperti palu yang memukul-mukul pikirannya tanpa ampun.“Cukup!” suaranya meninggi, membuat dua pria itu terdiam sejenak. Indira mengusap pelipi

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 115. Jadi Kompor

    Pandangan Indira membeku di satu titik, keningnya berkerut dan pikirannya bertanya-tanya. Kala ia melihat, di sudut restoran itu, Dewa duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya tergerai rapi melewati bahu, senyum lembut menghiasi wajahnya. Yang membuat dada Indira seperti diremas bukan hanya keberadaan wanita itu, melainkan tangan mereka yang saling menggenggam di atas meja, begitu alami, begitu intim. Indira tak berkedip. Ada rasa aneh menjalar dari dadanya ke tenggorokan. Bukan sekadar cemburu, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan. Seolah ada bagian dari hatinya yang tiba-tiba ditarik paksa, tanpa peringatan.Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Bibir Dewa bergerak, wanita itu tersenyum, sesekali mengangguk. Dewa terlihat nyaman. Terlalu nyaman.Bara mengikuti arah pandang Indira. Awalnya ia hanya melihat sekilas, lalu sorot matanya menajam. Sebuah senyum tipis, sinis, menghiasi wajahnya.“Belum apa-apa, yan

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 114. Ranjang Mantan Suami

    Kedua mata Indira memerah, menajam, diotaknya terekam dan teringat dengan jelas, bagaimana ketiga adiknya meninggal dalam kondisi mengenaskan. Pelakunya adalah Bella, dalangnya adalah Bella, tapi wanita itu malah bebas berkeliaran. Membiarkan bawahannya terkena hukuman."Masuk ke sekolah!" ujar Bella pada putrinya yang masih ada disampingnya.Celsie menganggukkan kepalanya, ia langsung melangkah pergi dari sana. Meskipun ia sempat melihat ke arah Indira, wanita yang menyebut mamanya pembunuh. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita cantik itu?"Sepertinya kamu mau bicara banyak denganku, Indira?" tanya Bella seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap angkuh Indira. Namun, diam-diam ia merasa iri dengan penampilan Indira yang sekarang berkelas dan wajahnya yang semakin cantik saja."Sial. Kenapa sekarang dia sangat cantik? Penampilannya juga berkelas. Tidak seperti dulu, yang kampungan!" kata Bella dalam hatinya, dipenuhi rasa iri dengki."Aku ingin bicara sama kamu, t

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 113. Pembunuh Biadab!

    Indira akhirnya tak mampu lagi menahan bendungan di dadanya. Tangisnya pecah begitu Bik Rumi menariknya ke dalam pelukan hangat yang selama ini selalu menjadi tempatnya pulang. Tubuh Indira masih dingin, entah karena hujan atau karena hatinya yang menggigil. Tangannya mencengkeram seragam Bik Rumi, seolah takut kalau wanita paruh baya itu pergi dan meninggalkannya sendirian.“Non… nangis aja. Jangan dipendam,” ucap Bik Rumi lirih, mengelus punggung Indira dengan sabar.Semua yang tertahan akhirnya tumpah. Indira menceritakan kejadian hari ini, tentang Bara, tentang Andrew, tentang rasa malu dan amarah yang bercampur jadi satu. Tentang bagaimana ia merasa kembali diinjak-injak oleh masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur rapat-rapat. Suaranya bergetar, napasnya tersengal, tapi Bik Rumi mendengarkan tanpa menyela.Setelah tangis Indira mereda, Bik Rumi menghela napas panjang. “Non,” panggilnya pelan. “Bibik mau nanya satu hal. Dan Non harus jawab jujur, ya.”Indira mengangguk lemah.“P

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 112. Salah Paham

    Indira menutup pintu mobil dengan keras, begitu ia sudah sampai di depan halaman rumahnya. Tanpa melihat ke belakang, tanpa mempedulikan Bara yang memanggil-manggil namanya."Dira.""Indira. Tunggu!"Hujan deras masih mengguyur ibu kota, membasahi dua insan yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut. Indira, tetap berjalan seolah menulikan telinganya. Air matanya jatuh, bersamaan dengan air hujan yang mengalir ke tubuhnya."Indira, aku minta maaf. Aku udah ninggalin kamu gitu aja tadi," ucap Bara yang seketika menghentikan langkah Indira.Wanita itu pun membalikkan badannya, melihat ke arah Bara dengan tajam dan sepasang matanya yang memerah. Bara tersentak kaget melihat Indira seperti itu, ia tahu Indira menangis."Aku minta ma—""Nggak cukup dengan ninggalin aku, kamu juga bongkar aib aku sama orang lain, Pak Bara. Aku tahu, aku dulu rendahan, mau-maunya aku jadi budak nafsu kamu. Tapi, harus ya kamu kasih tahu orang lain tentang aku?"Akhirnya Indira meledak, ia tak bisa menah

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 111. Jalang itu?

    Hujan turun semakin deras, seolah ikut meluapkan amarah yang membakar dada Indira. Air membasahi rambut, wajah, hingga pakaiannya menempel dingin di tubuh. Langkahnya terseok di aspal basah, sepatu haknya nyaris membuatnya terpeleset.“Kurang ajar… benar-benar kurang ajar!” gerutunya sambil menahan isak. "Dia yang bawa aku pergi, tapi dia juga yang marah-marah dan ninggalin aku. Nggak tanggung jawab!"Ia tak pernah membayangkan Bara akan setega itu. Membawanya pergi dari rumah Dewa dengan paksa, menyeretnya dalam konflik yang tak pernah ia minta, lalu meninggalkannya sendirian di jalanan sepi seperti ini. Di tengah hujan. Di tengah malam.Indira merogoh tasnya, tangannya gemetar saat mengeluarkan ponsel. Layar ponsel basah oleh air hujan dan air mata. Ia berniat menelepon Dewa. Setidaknya suara pria itu bisa menenangkan sedikit kekacauan di dadanya. Namun sinyal buruk. Layar hanya menampilkan tulisan mencari jaringan.“Aishh…” desahnya lirih.Ia menoleh ke sekeliling, berharap ada hal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status