Home / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 2. Darah di seprai

Share

Bab 2. Darah di seprai

Author: Davian
last update Last Updated: 2025-09-13 10:54:26

Bara terlelap dalam damai setelah percintaan panasnya dengan Indira. Sementara wanita itu, ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Ia berjalan masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang masih memakai pakaian lengkap dengan air yang mengalir.

"Aku sudah kotor, a-aku kotor, ibu ...," lirih Indira seraya menggaruk-garuk tubuhnya dengan frustasi. "Aku kotor ..."

"Aku tidak bisa menjaga diriku. Aku gagal menjaganya."

Tak pernah Indira duga, di hari pertamanya bekerja, ia harus mengalami kejadian mengerikan ini. Akan tetapi, ia tidak bisa terus terpuruk seperti ini. Semuanya sudah terjadi.

Meski tubuhnya sakit, seperti terasa remuk. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan dosa yang sudah ia lakukan. "Aku harus resign dari sini. Aku nggak bisa bekerja di rumah ini lagi. Aku harus pergi," gumam Indira disela-sela isak tangisnya yang terdengar pilu, menggema di kamar mandi itu.

"Indira. Kamu kemana? Saya nyariin kamu dari tadi."

Indira terkejut, manakala ia mendapati Tuti, kepala pelayan yang mengajaknya bekerja di rumah ini ada di kamarnya sekarang. Tepat saat Indira keluar dari kamar mandi.

"Sa-saya habis dari kamar tuan Bara, tadi. Mbok. Te-terus tadi saya ke halaman belakang sebentar," jelas Indira beralibi.

"Oh. Jadi kamu sudah beres-beres kamarnya? Baguslah. Saya kira kamu kemana."

Tuti, wanita paruh baya itu menatap Indira dengan heran. Tatapannya tertuju pada rambut Indira yang basah dan wajah pucat wanita itu. "Eh, kamu habis mandi? Kamu mandi tengah malam seperti ini?"

Indira tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kegugupannya. Tubuhnya tampak gemetaran. "Sa-saya gerah tadi, Mbok. Ja-jadi saya mandi."

Tuti mengerutkan keningnya, usai mendengar penjelasan Indira yang tidak masuk akal. Di cuaca sedingin ini, bahkan hujan deras disertai petir di luar sana, tapi Indira merasa gerah.

"Ya sudah. Kamu tidur saja. Nanti pagi dan seterusnya kamu akan banyak pekerjaan. Kamu harus melayani tuan Bara dan mengurus lantai dua."

Indira hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa melihat ke arah Tuti. Sebab, sedari tadi ia menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala.

Setelah kepergian Tuti, Indira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. "Besok aku harus resign. Aku nggak peduli dengan gajinya. Aku harus pergi. Aku nggak mau di sini."

Ia sudah bertekad untuk pergi dari rumah ini, karena kejadian buruk yang terjadi padanya beberapa jam lalu.

***

Sementara itu, cahaya yang menembus melalui celah-celah jendela kamarnya, membuat Bara terpaksa membuka matanya. Ia merasa fresh setelah kegiatan yang ia lakukan semalam bersama Indira. Wanita yang dipikirnya adalah Bella.

"Aku nggak nyangka, Bella ternyata tidak jadi pergi dan dia melayaniku semalam," ucap Bara sambil senyum-senyum sendiri, mengingat sedikit permainannya dengan Bella yang sangat panas. Bahkan dengan sengaja, Bara menumpahkan semua cairan vanila miliknya agar segera menjadi kehidupan di rahim istrinya. "Semalam Bella sempit sekali," gumamnya dengan senyuman penuh kepuasan terpatri dibibirnya.

Lelaki bertubuh tegap itu beranjak duduk di atas ranjang, dengan perasaan bahagia. Disampingnya sudah tidak ada siapa-siapa. "Pasti semalam Bella datang, karena merasa bersalah padaku. Tapi sekarang dia sudah pergi lagi untuk pekerjaannya itu." Pikir Bara demikian.

Istrinya memang selalu sibuk dengan kegiatan modelingnya. Tidak mengenal, pagi, siang atau malam. Akan tetapi, semalam Bara sudah cukup terpuaskan dengan service istrinya.

Namun, pikiran itu segera lenyap, ketika Bara menyingkap selimut dan melihat ada bercak darah di atas seprai yang didominasi oleh warna biru tersebut.

"Apa ini darah Bella? Apa mungkin semalam ia datang bulan?" Bara bertanya-tanya. Sampai ponselnya berdering disamping nakas. Bara mengambil ponsel tersebut dan membukanya.

My Wife : [Send Picture]

My Wife : [Sayang, maaf ya kemarin sore aku terpaksa pergi. Perjalananku ke Paris ternyata bukan cuma 3 hari tapi seminggu. Jangan marah ya sayang. Nanti setelah pulang, aku janji ...akan penuhi semua yang kamu mau, love you Bara Sayang]

Kening Bara mengerut, kala melihat isi pesan istrinya itu. Pesan tersebut menunjukkan kalau istrinya benar-benar pergi dari kemarin sore dan foto itu juga menunjukkan kalau ia sudah dipesawat tadi malam. Jadi, siapa wanita semalam yang memuaskan dahaganya itu, jika bukan Bella?

"Sial!"

Guna menghilangkan pikiran yang berkecamuk di kepalanya, Bara segera melangkah pergi dari ranjangnya dan membasuh tubuhnya dibawah guyuran air. Kepalanya masih terasa panas, memikirkan siapa yang bermain dengannya semalam?

"Siapa wanita kurang ajar yang sudah berani masuk ke dalam kamarku dan Bella? Beraninya dia menggodaku!"

Tangan Bara terkepal dan memukul tembok kamar mandi dengan tangan kosongnya itu. Sialnya, ia tidak tahu wajah wanita semalam yang masih sempit itu. "Bagaimana jika Bella tahu kalau aku bermain dengan wanita lain?"

Walaupun hubungannya dan Bella tidak berjalan mulus akhir-akhir ini, tapi ia sangat mencintai Bella. Ia tak pernah berpaling dari wanita itu sekalipun, meski minuman keras menjadi temannya saat gundah. Namun, semalam, ia sepertinya sudah melakukan kesalahan besar.

Usai mandi dan membereskan seprai bekas percintaannya semalam, ke atas keranjang cucian. Bara mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Setelan jas berwarna hitam dan kemeja rapi. Ia pun bergegas berjalan menuruni tangga, menuju ke ruang makan. Di mana para pelayannya sudah menyiapkan sarapan pagi di sana.

"Kenapa kamu mau keluar dari sini, Indira? Kamu belum dua puluh empat jam bekerja di sini dan juga ...kamu bahkan belum berkenalan dengan tuan Bara!"

Suara keras kepala pelayan di rumahnya, membuat Bara menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir yang ia pijaki. Ia melihat Tuti sedang bersama seorang wanita yang membawa tas besar ditangannya.

"Kamu butuh uang kan? Kamu yang minta pekerjaan sama saya, Indira. Terus kenapa sekarang kamu malah seperti ini?" Tuti terdengar marah, suaranya keras dan membentak.

"Maafkan saya Mbok. Sa-saya harus pergi. Sa-saya tidak bisa bekerja di sini lagi. Sa-saya ..."

"Ada apa ini, kenapa pagi-pagi sudah ribut?"

Suara bariton rendah milik lelaki itu, sontak saja membuat Indira gemetaran. Buru-buru wanita itu menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang.

Tuti menundukkan kepalanya, seraya memberi hormat pada tuannya itu. "Selamat pagi, Tuan."

"Dia siapa, Mbok?" Bara tidak menjawab sapaan Tuti, tapi malah bertanya siapa wanita yang ada di depan Tuti.

Tatapan Bara tertuju pada Indira yang menundukkan kepalanya, sambil memainkan kuku-kuku tangannya sendiri.

"Dia pembantu baru di rumah ini, Tuan. Menggantikan mbok Yeni."

Bara mendekat ke arah Indira dan ia mencium sesuatu dari wanita itu. "Wangi ini? Ini kan wangi yang ..." kata Bara dalam hatinya.

Lelaki itu terkejut, matanya tercekat saat mencium aroma tubuh Indira. "Angkat kepala kamu!"

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Secepatnya

    Senyum Indira memudar, kala ia melihat wanita yang membukakan pintu rumah Dewa untuknya. Kedua matanya melebar melihat wanita itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum. Menatap wanita cantik itu dengan lekat."Oh my god! Kak Dira! Ini beneran kakak?"Wanita cantik itu memeluk Indira, layaknya seorang adik memeluk kakaknya. Ia terlihat senang melihat Indira."I miss you so much Kak," kata wanita itu dengan senyuman di bibirnya."Kakak juga kangen sama kamu Rei. Udah lama ya kita nggak ketemu? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu udah ada di Indonesia, hem? Apa kamu menetap di sini sekarang?" tanya Indira lembut. Ia juga merasakan kerinduan yang sama pada Reina, adik dari Dewa.Ia dan Reina juga cukup dekat, selama dua tahun, Reina dan Indira pernah hidup satu rumah. Reina yang membantunya mengurus si kembar, sebelum Reina pergi ke New York untuk menggapai cita-citanya menjadi chef terkenal.Reina sudah seperti adik sendiri."Iya Kak. Aku udah sebulan lalu di sini dan aku akan m

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 106. Masa Lalu

    Pintu terbuka perlahan.Seorang wanita melangkah masuk. Wajahnya lebih kurus dari yang Dewa ingat, tapi matanya, mata itu masih sama. Menatapnya dengan tatapan yang sendu dan penuh perasaan.“Dewa,” ucap Safira pelan.Dewa menatapnya lama, dadanya sesak. Tak bisa dipungkiri kalau jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok bernama Safira itu. Wanita cantik berkulit putih dengan tinggi semampai, bak model papan atas. “Kenapa sekarang?” tanyanya lirih. “Setelah semua yang terjadi. Ada apa kamu menemui saya?" tanya Dewa dingin.Safira menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mengepal disamping tubuh mencengkram sisi dress berwarna merah yang dikenakannya. Memperlihatkan kegugupannya."Kalau kamu diam saja, silahkan pergi—"Belum sempat Dewa melanjutkan ucapannya, wanita itu sudah lebih dulu memeluknya dan membuat Dewa tersentak kaget. "Kamu apa-apaan? Kamu—"Saat Dewa akan melepaskan pelukan Safira, wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Safira!" bentak Dewa."Maafin aku D

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 105. Video Call

    Mayang terdiam lama setelah pengakuan itu meluncur dari bibir Bara. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira semua yang Bara lakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada anak-anak. Tapi cinta? Itu di luar perhitungannya.“Bara…” lirih Mayang, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?”Bara mengangguk tanpa ragu. “Yakin, Ma. Dari dulu mungkin aku sudah peduli, cuma tertutup ego dan kesalahpahaman. Sekarang aku nggak mau lari lagi.”Mayang memalingkan wajah ke jendela mobil. Lampu jalanan malam berkelebat cepat, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu, melawan Bara sekarang hanya akan membuat putranya semakin menjauh. Dalam hati, ia memaki Indira habis-habisan. Wanita itu, bagaimanapun caranya, tidak boleh menjadi istri Bara.Tenang, Mayang. Kamu masih punya banyak cara, batinnya dingin.***Di tempat lain, malam terasa lebih sunyi bagi Indira. Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia akhirnya merebah

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 104. Jatuh Cinta

    Indira berdiri tegak di ambang pintu, sorot matanya dingin. Tangannya refleks merangkul bahu Nala dan Nathan yang berdiri di belakangnya, seolah menjadi perisai.“Mau apa kalian ke sini?” ulang Indira, nadanya datar tapi tegas.Bara menelan ludah. Ia tahu, kedatangannya bersama Mayang bukan hal yang mudah diterima. “Aku… aku mau ketemu kamu, Indira. Dan anak-anak,” jawabnya jujur. “Mama juga… ingin ikut.”Mayang akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Pandangannya tak bisa lepas dari wajah Nathan, wajah kecil itu seperti potongan masa lalu yang hidup. Hidung, alis, bahkan sorot mata anak itu, terlalu mirip dengan Bara saat kecil. Dadanya berdesir aneh.“Assalamu’alaikum,” sapa Mayang akhirnya, suaranya dibuat selembut mungkin. “Indira…”Indira hanya mengangguk singkat. Tidak ada balasan hangat. Tidak ada senyum. Tatapannya jelas mengatakan satu hal: ia tidak menyambut Mayang dengan tulus.“Silakan masuk,” ucap Indira akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Anak-anak, masuk dulu.”Nala d

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 103. Cucu yang masih hidup

    "Kamu bilang apa barusan?" Mayang menatap Bara dengan intens. Ditengah keterkejutannya mendengar ucapan putranya barusan."Anak-anak kami, masih hidup. Cucu-cucu Mama."Bara memperjelas ucapannya, hingga membuat Mayang terdiam. Ia menutup mulutnya sendiri, seolah tak percaya."Bagaimana mungkin masih hidup? Bukankah dokter itu sudah mengaborsinya? Di pernyataan itu ...dia sudah menandatanganinya juga," gumam Mayang pelan. Ia tidak percaya.Pasalnya, enam tahun lalu, ia sudah memastikan dokter itu mengaborsi kandungan Indira."Mama bilang apa barusan?"Mayang tersentak kaget. "Mama nggak bilang apa-apa kok. Mama cuma kaget. Ta-tapi, a-apa kamu yakin mereka anak-anakmu?" ucap Mayang membalikkan topik pembicaraan. Ia lega karena Bara tak mendengar ucapannya barusan."Mama tidak akan bertanya seperti ini, kalau Mama melihat mereka secara langsung," ucap Bara yang membuat Mayang berpikir.Tangannya gemetar, bibirnya juga. Ia berusaha menahan perasaan gugup ini. "Mama mau lihat mereka, Bara

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 102. Permintaan Maaf

    Butuh waktu sekitar 15 menit, hingga Bara akhirnya sampai di supermarket tersebut, karena jaraknya lumayan dari kantornya. Bara turun dari mobilnya yang sudah rapi berada di parkiran. Ia tidak pergi bersama Rudi, melainkan pergi sendiri. Ia mencari-cari keberadaan Indira di dalam sana. Hingga matanya menangkap Indira yang duduk di atas kursi panjang, bersama dengan ibunya dan petugas keamanan. "Apa yang terjadi?" gumam Bara bingung dan sedikit terkejut, lantaran mamanya juga ada di sini. Lantas, Bara pun mendekati Indira dan mamanya yang terlihat tidak baik-baik saja. Terutama Indira yang pakaian dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya kusut. Bara tersenyum melihat ke arah Indira. "Ada apa ini? Dira, kamu—" Perkataan Bara terpotong kala Mayang berbicara kepadanya. "Bara? Kamu kenapa bisa ada di sini?" Indira berdiri dari tempat duduknya dan menatap Bara dengan dingin. "Pak Bara, tolong urus Ibu anda. Sebelum saya menuntutnya atas tindakan ketidak nyamanan ini." Nada bicara wani

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status