MasukBara dan Indira terkejut melihat kedatangan seorang wanita cantik berambut panjang dan bertubuh proposional yang menatap mereka dengan sepasang mata birunya membara.
"Wanita jalang! Beraninya kamu menggoda suamiku!" bentak wanita itu seraya menarik rambut Indira dengan kasar. Sehingga Indira menjauh dari Bara. "Aakkh. Tolong lepaskan saya. Sa-sakit..." Indira meringis kesakitan, ketika merasakan tarikan kuat pada rambutnya yang dicepol itu. Seakan-akan rambutnya akan copot dari kepalanya detik itu juga. Cepol rambut Indira lepas dan membuat rambut panjangnya yang berwarna hitam tergerai. "Berani ya kamu menggoda suami saya, hah?" sentak Bella emosi, tanpa melepaskan tangannya dari rambut Indira. "Nyo-nyonya salah paham. Sa-saya tidak—aaakhh." "Sayang, kamu salah paham." Bara memegang tangan Bella dan berusaha menghentikan istrinya itu. Bella menatapnya tajam. "Salah paham apa? Jelas-jelas kamu pelukan sama dia, Bara! Kamu ada main sama wanita jalang ini, kan?" sungutnya. "Lepaskan dia. Kamu salah paham, Sayang. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan." "Oh, jadi kamu belain dia?" tuduh Bella yang sudah dikuasai emosi. Ia tampak kecewa pada suaminya. Bara menghela napas berat. "Sayang—" Belum sempat Bara menjelaskan segalanya. Bella berteriak marah. "Tega ya kamu! Aku cuma pergi seminggu dan kamu selingkuh sama wanita lain. Bahkan kamu bela selingkuhan kamu di depan istri kamu sendiri? KETERLALUAN!" Setelah marah-marah, Bella melangkah pergi dari sana dengan langkah cepat menuju ke lantai dua. Terdengar suara sepatu heelsnya yang keras di lantai. Indira merasa bersalah melihat majikannya yang salah paham dan marah pada Bara. "Saya akan menjelaskannya pada nyonya Bella, Tuan." Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. "Tidak usah. Biar saya saja. Kamu urus Celine saja. Suruh dia sarapan duluan. Nanti saya menyusul." "Tapi Tuan, nyonya Bella sepertinya—" Tatapan Bara yang menghunus tajam kepadanya, membuat Indira terdiam. Kemudian tanpa kata, Bara melangkah pergi dari sana. Ia menyusul istrinya ke lantai dua. Sementara Indira, setelah merapikan rambutnya yang sempat acak-acakan, ia melangkah pergi ke kamar Celine. Ia melihat gadis kecil itu sudah mengenakan seragam dan rompi SD-nya. Rambutnya sudah rapi, dengan kepang dua. Indira yang menatanya. "Kakak Indi!" Celine tersenyum lebar, kala ia melihat Indira mendekat ke arahnya. Alih-alih memanggil Indira bibik atau mbok, Celine lebih nyaman dengan panggilan kakak. Sebab ia merasa Indira tidak setua pelayan lainnya. "Non ayo keluar, kata tuan Bara, non disuruh sarapan dulu." "Iya Kakak, ayo!" Celine menggandeng tangan Indira, mereka berdua pergi ke ruang makan bersama-sama. Di mana sudah ada Tuti dan pelayan bernama Yuli di sana. Mereka menyapa Celine dengan hangat. "Selamat pagi Non Celine." "Pagi Mbok Tuti, Mbok Yuli." Celine duduk di salah satu kursi di sana. Dengan Indira yang berdiri dibelakangnya. "Oh iya. Om Bara mana, Kak Indi?" Indira menjawab dengan lembut. "Tuan Bara sedang di kamar. Non Celine disuruh sarapan duluan." Celine menganggukkan kepalanya. "Ya udah, Kak Indi makan bareng aku yuk? Duduk, sini!" Tuti dan Yuli melihat ke arah Indira dengan terkejut. Indira juga sama. Tidak menyangka kalau Celine akan memintanya duduk dan sarapan bersamanya. Ia hanya pelayan. *** Bella menghentakkan tubuhnya ke atas ranjang dengan kesal. Wajahnya memerah. Ia tidak peduli dengan pakaian yang masih ia kenakan saat ini. Bahkan kopernya masih dibawah. "Sayang." "Apa sayang-sayang? Sana, sayang-sayangan aja sama jalang itu!" jawab Bella ketus, tanpa melihat ke arah Bara. Tangan Bara mengusap lembut kepala Bella. "Kamu salah paham. Tadi Indira mau jatuh dan aku hanya menolongnya. Mana mungkin aku selingkuh dari kamu, apalagi dengan pembantu seperti dia. Dia bukan level kamu, Sayang." Wanita cantik itu membalikkan tubuhnya dan melihat Bara. "Jadi wanita itu namanya Indira? Dia pembantu?" "Iya, dia pembantu baru di rumah ini. Jadi kamu jangan salah paham dan marah-marah. Aku udah jujur." Bella tidak melihat ada kebohongan di mata Bara. Ia pun beranjak duduk dan berhadapan dengan suaminya. "Serius? Kamu gak ada apa-apa sama pembantu itu? Dia lumayan cantik loh, Bar." Iya, pertama melihat Indira tadi, ia merasa Indira cantik, walaupun dia tidak memakai pakaian mahal atau berdandan dan hanya memakai pakaian pelayan. Tiba-tiba saja Bella tersentak kaget, manakala bibirnya dibungkam oleh bibir Bara dengan sebuah kecupan singkat. "Cantikan kamu kemana-mana. Dia cuma pembantu." "Awas ya, kalau kamu berani selingkuh dari aku!" ancam Bella. "Aku yang takut kamu selingkuh, Bella. Kamu selalu menghabiskan banyak waktu di luar. Bahkan di hari libur pun, kamu selalu bekerja dan keluar." Tangan Bella menangkup pipi Bara. Matanya menatap Bara yang tampak kecewa padanya. "Sayang, aku nggak mungkin selingkuh dari lelaki sesempurna kamu. Karena kamu udah punya segalanya yang aku inginkan. Lagian, kalau aku pergi keluar, aku cuma pergi sama Andrew." Mata Bara menggelap, kala istrinya menyebut nama laki-laki lain. "Walaupun Andrew manajer kamu, tapi dia seorang laki-laki." "Astaga, Sayang. Kamu cemburu sama Andrew? Kamu tahu dia udah kayak kakak aku sendiri." Bella meyakinkan suaminya. Bara hanya diam saja, tidak meresponnya. Sampai akhirnya ia berkata. "Ya udah. Kamu kan baru pulang. Lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek." "Kamu nggak mau temenin aku di rumah?" tanya Bella dengan suara mendayu-dayu dan menahan tangan suaminya. "Aku harus kerja, ada meeting di kantor. Kalau kamu butuh teman, ada Celine yang bisa kamu ajak main." Kening Bella berkerut saat suaminya menyebut nama Celine. Seakan tak suka dengan nama itu. "Celine? Ada Celine nginep di sini?" tanya Bella heran. "Iya, dan untuk sementara waktu Celine akan tinggal di rumah ini. Sampai kakakku pulang dari Amerika." Kedua mata biru milik Bella langsung terbelalak usai mendengar penjelasan dari suaminya. "Nggak! Aku nggak setuju, Bar!" Bella langsung menolak kata-kata suaminya dengan tegas. "Setuju nggak setuju, ini sudah keputusan aku, Bella." Bara menjawab Bella dengan dingin, tanpa embel-embel kata sayang yang biasanya selalu ia sematkan untuk sang istri. Bella terperangah, seakan tak percaya dengan reaksi dingin suaminya. Biasanya Bara akan selalu menuruti keinginannya. Akan tetapi, kali ini Bara menentangnya. "Sayang, tapi aku nggak mau Celine tinggal di rumah ini. Dia bisa tinggal sama mama kamu. Kenapa harus di sini? Kan kamu tahu, kalau aku nggak suka ada orang asing tinggal di rumah ini." Wanita cantik itu tetap memprotes suaminya. Ia begitu percaya diri kalau Bara akan menuruti permintaannya. "Celine bukan orang asing. Dia keponakanku, Bella. Dan dia akan tetap tinggal di sini. Mau kamu setuju atau tidak!" ujar Bara tegas, seraya melangkah pergi dari sana meninggalkan istrinya. "BARA!" Bersambung...Bara menarik pinggang Indira, hingga tubuh mereka merapat. "Aku udah nahan ini 3 bulan loh. Karena aku takut kamu dan debay kenapa-napa. Kalau aku sampai—"Indira memotong ucapan suaminya, seakan tahu kemana arah pembicaraan ini. "Ya udah. Jangan ditahan lagi. Dokter bilang udah aman kan?"Sebelumnya dokter mengatakan kalau kandungan Indira yang masih muda itu rawan keguguran. Jadi, Bara memutuskan berpuasa dulu. Akan tetapi, sekarang dokter sudah bilang aman."Tapi aku takut kamu dan anak kita—""Aku tahu kamu nggak nahan. Aku udah gak papa kok, Mas. Kita pakai gaya yang aman ya?" ucap Indira lembut.Setelah diizinkan, Bara langsung memeluk Indira perlahan dan melumat bibir istrinya yang candu itu. Beberapa saat kemudian, entah kapan. Pakaian Bara kini sudah terlepas sepenuhnya. Sedangkan Indira masih memakai lingerienya, walau sudah acak-acakan. Bara melarang Indira melepaskannya, takut Indira kedinginan."Sa-sayang ...""Kalau aku terlalu keras, bilang ya? Jangan ditahan," ucap Bar
Seminggu setelah bangun dari koma, Bara baru bisa keluar dari rumah sakit. Selama itu, Gia dan Rudi yang mengurus semua pekerjaannya.Indira setia menemani Bara di rumah sakit. Namun, terkadang Bik Rumi dan Radit juga ikut menjaga Bara. Mereka khawatir pada kesehatan Indira dan bayinya.Sekarang suasana rumah Bara kembali hangat. Bara juga bisa menyesuaikan waktunya antara pekerjaan dan keluarga. Sesibuk apapun, ia akan selalu mengabari Indira dan menanyakan kabarnya. Handphone hampir tak lepas dari genggamannya. Bahkan sekarang modenya berubah dari silent menjadi dering.Lelaki ini telah belajar dari kesalahan bahwa komunikasi itu penting. Apalagi untuk orang yang kita cintai.Lantas , bagaimana dengan Bella? Wanita itu kembali masuk jeruji besi, setelah ia terbukti ingin menabrak Indira dan membuat Bara kecelakaan. Ia juga masih penghuni penjara karena kesalahannya yang dulu. Kali ini hukumannya tak main-main. Berlipat dari sebelumnya. Dari hukuman seumur hidup, jadi hukuman mati.P
Nala ikut meletakkan tangannya. "Papa cepet sembuh, ya Pa. Nala janji mau nurut papa."Indira yang melihat itu kembali menangis. Reina memeluknya dari samping. "Dia pasti bangun, Ra. Percaya sama Bara.""Mereka butuh papa mereka," isak Indira. "Aku juga butuh suamiku."Tiga hari berlalu, Bara belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Setiap hari Indira datang ke rumah sakit. Ia membacakan cerita untuk Bara, menyanyikan lagu-lagu favorit mereka saat pacaran dulu, dan terus meminta maaf.Suatu sore, dr. Andika memanggil keluarga Bara. "Kondisi Bapak Bara masih stabil. Tekanan di otaknya sudah mulai berkurang. Tapi kami belum bisa memastikan kapan beliau akan sadar. Prosesnya memang butuh waktu.""Tapi dia akan sadar, kan, Dok?" tanya Indira penuh harap."Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, Bu. Doa dan dukungan dari keluarga sangat membantu. Terus ajak beliau bicara, walau mungkin beliau tidak merespon. Pendengaran adalah indra terakhir yang hilang saat seseorang koma."Ind
Suara sirine ambulans memecah kebisingan jalan raya. Indira masih memeluk tubuh Bara yang tak bergerak, air matanya tak henti membasahi wajah suaminya yang pucat pasi. Darah masih merembes dari kepala Bara, membasahi pakaian putih Indira hingga merah menyala seperti bunga lily yang kini tercecer di aspal."Saya mohon, selamatkan suami saya!" teriak Indira pada tim medis yang tiba dengan tergesa.Para paramedis dengan sigap membaringkan Bara di tandu. Indira ikut naik ke dalam ambulans, tangannya terus menggenggam tangan Bara yang mulai terasa dingin."Mas Bara, kamu jangan ninggalin aku. Jangan..." bisiknya di sela isak tangis. "Aku udah gak marah sama kamu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu denger? Aku masih sayang kamu, Mas."Di dalam ambulans yang melaju kencang, seorang perawat mencoba menstabilkan kondisi Bara. "Bu, mohon tenang. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."Indira mengangguk, tapi air matanya tak kunjung berhenti. Ia mengingat semua kebersamaan mereka. Saat Bar
Setelah usaha dan upaya yang dilakukan Bara untuk kembali membujuk istri dan anak-anaknya, belum juga membuahkan hasil. Ia bahkan sudah menyisihkan banyak waktu untuk berada di rumah. Meskipun waktu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bara sadar, ia salah karena baru menyadari betapa pentingnya waktu bersama keluarga. Terutama bersama istri yang sedang hamil. Sikapnya pada Indira memang melukai wanita itu dan sekarang ia masih mencoba memperbaikinya."Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bara saat melihat istrinya beranjak dari atas ranjang. "Kamar mandi.""Aku antar ya.""Nggak usah Mas.""Nanti kalau kamu kepeleset gimana? Aku antar ya Sayang'?" kata lelaki itu lembut. Ia kembali lembut seperti sebelumnya."Apaan sih? Aku juga biasa sendiri kok kalau gak ada kamu. Gak usah lebay!" Indira menepis tangan Bara yang hendak membantunya. Ia pun kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi , tanpa mempedulikan Bara yang menatapnya sendu."Kapan kamu mau maafin aku, sayang. I miss you ..." lir
Di meja makan, suasana terasa kaku. Indira duduk di samping Nathan dan Nala, sementara Bara duduk di seberang mereka. Seperti biasa, Indira menyuapi Nathan dan Nala bergantian. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Tapi Bara tahu, di balik itu semua, ada jarak yang begitu lebar antara dirinya dan istrinya."Mmm... enak banget, Ma. Sayur beningnya seger!" puji Nala dengan mulut penuh."Makanya dimakan pelan-pelan, Sayang. Nanti kesedak," ujar Indira lembut sambil menyeka sudut bibir Nala."Bu, Nathan habiskan?"Indira mengangguk. "Iya, Nak. Habiskan biar cepet gede.""Aku sih mau berotot badannya kayak Papa!" seru Nathan polos.Indira tersenyum. "Iya, nanti kamu bisa gede kayak Papa."Dari seberang, Bara hanya bisa menatap. Matanya tak lepas dari Indira yang begitu lembut di depan anak-anaknya. Ia rupa-rupa. Rindu saat Indira masih bisa tersenyum padanya seperti itu. Rindu saat Indira masih mau bercanda dengannya. Rindu saat tangan mungil itu masih dengan senang hati digen







