MasukKegelapan kembali menyelimuti Pengadilan Pedang Darah.Long Tian berdiri sendirian.Ingatan tentang Bai Jian telah berakhir, tetapi kalimat terakhirnya masih menggema di dalam pikirannya.“Aku memilih menjadi pengkhianat... agar Long Tian tetap hidup.”Long Tian menatap tempat di mana bayangan Bai Jian menghilang.Selama bertahun-tahun ia mengira Bai Jian telah meninggalkannya.Ternyata orang itu justru mati demi melindunginya.Namun ada satu hal yang mengganggunya.Perempuan yang disebut Bai Jian sebagai Su Yan.Bai Jian telah menitipkan pesan.Jik
Cahaya putih memenuhi seluruh medan perang.Sosok yang menyebut dirinya utusan dari Alam Dewa Sejati berdiri di hadapan Bai Jian tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.Tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh medan perang seolah kehilangan warna.Bai Jian masih menggenggam pedangnya.Tubuhnya telah terluka parah, tetapi punggungnya tetap tegak.“Keselamatan sekte,” kata sang utusan dengan tenang, “ada di tanganmu.”Bai Jian menatapnya.“Jelaskan.”“Serahkan jejak Long Tian.”Sang utusan mengangkat satu tangan.Sebuah cahaya muncul di udara.
Gerbang pertama tertutup di belakang Long Tian.Suara langkahnya menggema di lorong baru yang jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Tidak ada cahaya di sepanjang dinding. Hanya garis merah tipis yang bergerak mengikuti langkahnya, seolah-olah Pengadilan Pedang Darah sedang membaca setiap jejak yang ia tinggalkan.Jimat suara Qin Rou masih berada di dekat dadanya.Long Tian menyentuhnya sebentar.Ia tidak mengaktifkannya.Suara Qin Rou telah membantunya keluar dari lapisan pertama. Namun setelah melewati ujian itu, Long Tian menyadari bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada suara orang lain.Jika ingin mengetahui kebenaran tentang Bai Jian, ia harus melihatnya sendiri.Di ujung lorong, sebuah cahaya putih munc
Ruangan itu kembali sunyi.Bayangan Su Yan telah menghilang.Namun kata-katanya masih tertinggal di dalam pikiran Long Tian.“Niat baik tidak selalu menghapus akibat buruk.”Long Tian berdiri tanpa bergerak.Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus membantah atau menerima.Pengadilan Pedang Darah telah memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini ia yakini.Ia memang pernah menjadi korban.Bai Jian mungkin dijebak.Su Yan mungkin menyimpan rahasia.Para Dewa Agung mungkin telah memainkan peran yang jauh lebih besar dalam kehan
Su Yan berdiri di hadapan Long Tian.Tidak ada pedang di tangannya.Tidak ada aura pembunuh.Ia hanya mengenakan jubah putih yang sederhana, sama seperti sosok yang tersimpan dalam ingatan Long Tian dari masa lalu.Namun justru kesederhanaan itu membuat Long Tian semakin waspada.Ia telah melihat terlalu banyak hal di Pengadilan Pedang Darah.Korban yang menuntut jawaban.Perang yang selama ini hanya ia ingat dari sudut pandangnya sendiri.Dan sekarang...Su Yan.Perempuan yang namanya selalu terhubung dengan luka terdalam dalam kehidupannya.“Su Yan.”Long Tian menyebut namanya perlahan.Perempuan itu menatapnya.Tatapannya tidak menunjukkan kebencian.Tidak pula kasih sayang.Hanya ketenangan yang aneh.“Aku dipanggil sebagai saksi,” katanya.Suara itu sama.Terlalu sama.Long Tian tidak segera menjawab.“Kalau begitu katakan.”Su Yan berjalan perlahan mendekati kursi saksi.Setiap langkahnya meninggalkan riak cahaya putih di lantai hitam.“Apa yang ingin kau dengar?”“Kebenaran.”S
Pertanyaan itu terus bergema.“Long Tian... jawab kami.”Long Tian berdiri di tengah lautan bayangan.Tidak ada satu pun pedang yang diarahkan kepadanya.Tidak ada serangan.Namun tekanan yang ia rasakan jauh lebih berat daripada tekanan dari ribuan pendekar.Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh.Ia sedang berhadapan dengan akibat dari dirinya sendiri.Sebuah bayangan bergerak.Pengadilan Pedang Darah kembali memperlihatkan masa lalu.Long Tian melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya.
Cahaya emas redup yang menyelimuti tubuh Long Tian sepanjang malam perlahan menyusut, mengalir kembali melalui pori-pori kulitnya saat fajar menyingsing. Ketika ia membuka mata, sepasang pupil matanya berkilat sesaat dengan warna emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat yang tenang.‘Napas Nag
Long Tian menyibak tirai kain usang yang sudah tipis dan berlubang. Bau obat-obatan murah yang sudah basi bercampur aroma lembap kayu lapuk langsung menyergap indranya. Di atas ranjang kayu yang berderit ringkih, seorang wanita paruh baya terbaring dengan napas yang terdengar pendek dan berat.Itu
Pemuda yang berdiri di ambang pintu itu bernama Long Hu. Ia adalah sepupu jauh Long Tian yang selalu jumawa hanya karena telah mencapai tingkat ketiga ranah Penguatan Tubuh. Di lingkungan keluarga cabang yang terpencil ini, kekuatan itu sudah cukup bagi Long Hu untuk merasa seperti raja kecil. Bagi
Puncak Langit Abadi kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Langit yang seharusnya biru cerah tertutup oleh awan hitam pekat yang berputar layaknya pusaran neraka. Sambaran petir ungu terus menghantam bumi, mencerminkan gejolak energi Qi yang tidak stabil dari sang penguasa y







