LOGINLiburan panjang Natal telah berakhir, dan fajar pagi di hari Senin mulai menyingsing.Bagi kaum pekerja kantoran ini adalah hari paling terkutuk layaknya neraka, namun bagi pengangguran... bukan, orang yang tengah menikmati masa cuti sepertiku, hari ini hanyalah hari biasa yang begitu damai.Seluruh anggota keluarga sudah berangkat kerja atau sekolah, menyisakan Nyonya Choi, diriku, serta si manusia gua pertapa kamar, Chul-soo, di rumah kos."Cuacanya cerah sekali."Aku duduk bersantai di atas bale-bale pekarangan sembari mengelap layar jam tangan pintar Leviathan.Kemarin para teknisi pemeliharaan markas pasti bekerja sangat keras membanting tulang demi mencopot ornamen tanduk rusa dan membersihkan sisa cat merah yang kupakai untuk cosplay rusa kutub Rudolph.[Bos. Tapi hidungku ini beneran sudah bersih kan? Rasanya masih kelihatan agak merah deh.]"Itu cuma perasaanmu saja. Efek sisa mabuk alkohol kemarin belum hilang tuh."[Mana ada robot bisa minum alkohol coba!]Tepat di saat kam
Pukul 13.30 siang. Restoran di Nampo-dong.Sebuah restoran Italia dengan pemandangan luar biasa indah, terletak persis di luar garis batas zona terkendali militer.Kami menempati meja di samping jendela kaca besar yang memperlihatkan panorama megah Jembatan Pelabuhan Busan secara utuh.Di hadapanku tersaji sepiring besar bistik T-bone panggang serta pasta saus krim yang mengepulkan aroma gurih.Kendati sewaktu di Hawaii tempo hari aku sempat mengeluh muak dan bosan pada hidangan bistik steik, saat menyantapnya tepat di hadapan Mi-hye Noona, potongan daging tebal itu meluncur mulus masuk ke dalam kerongkonganku tanpa secuil pun keluhan."Enak rasanya?""Iya. Tapi Noona, tumben sekali hari ini berdandan totalitas begini? Beneran mau pergi ke suatu acara ya?""Ini kan hari Natal. Lagipula ini kali pertama kita berdua menghabiskan waktu berduaan saja kan."Noona menopang dagunya dengan tangan sembari menatapku dengan sorot mata yang teramat teduh dan memikat.Jika Haru-ssi tadi pagi mengh
(25 Desember, Hari Natal, Minggu) Pukul 08.00 Pagi"Eungh..."Pagi hari di hari Minggu. Terlebih lagi, ini adalah hari Natal itu sendiri.Mengingat kemarin malam baru saja menuntaskan aksi sukarela di rumah sakit anak dan langsung tumbang kelelahan, rencanaku hari ini adalah tidak bergeser satu senti pun dari dalam selimut tebal sampai waktu makan siang tiba. Tirai peredam cahaya sudah ditutup rapat, dan seluruh alarm di ponsel pintar sudah dimatikan total. Rencana bangun siang yang teramat sempurna.Rasa lelah dari ekspedisi penaklukan di Laut Tiongkok Selatan tempo hari masih bersarang di tiap sudut serat ototku. Mau menyandang gelar Tingkat Z atau apa pun itu, keluar dari selimut adalah hal yang berbahaya.Namun rencana ambisiusku yang matang itu seketika hancur berkeping-keping akibat suara ketukan pintu kamar yang terdengar berhati-hati, namun teramat sangat gigih dan tanpa jeda.Tok, tok. Tok, tok."Oppa... sudah bangun?"Itu adalah suara Haru-ssi. Nada bicaranya terdengar satu
Ini bukanlah hawa dingin beku mematikan yang digunakan untuk membekukan musuh hingga binasa.Melainkan kendali presisi tingkat tinggi yang teramat lembut dan indah, yang secara anggun membekukan partikel uap air di atmosfer."Perhatikan baik-baik. Inilah trik sulap seorang Tingkat Z."[Keahlian: Pembangkit Salju (Snow Maker)]Pwaaa-aaang-!Leviathan merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke angkasa.Partikel hawa dingin berwarna biru ditembakkan membubung naik layaknya tembakan berkas sinar laser raksasa.Menyebar meluas di langit angkasa yang semula bersih tanpa segumpal awan pun, hawa dingin tersebut seketika mengembunkan uap air di udara dalam kecepatan yang luar biasa kilat.Hwaaa-aaa-Warna langit angkasa seketika berubah memutih.Dan kemudian."Lho...?"Sesuatu yang dingin menyentuh dan mendarat lembut di pipi Ji-eun.Itu adalah sebutir butiran kepingan salju putih.Terlebih lagi, butiran salju lebat yang berukuran sangat besar dan begitu menawan."Salju!! Saljunya turun!!"
[24 Desember, Malam Natal]Hembusan angin musim dingin di Busan terasa begitu menusuk tulang.Jalanan kota memang tampak riuh dan semarak oleh alunan melodi lagu-lagu Natal, namun di salah satu sudut raut wajah orang-orang, sisa-sisa kecemasan masih tampak tersirat samar.Terutama bagi anak-anak yang sepuluh tahun silam kehilangan orang tua mereka akibat Bencana Erosi Laut Raya, atau anak-anak yang terpaksa terbaring di ranjang rumah sakit akibat derita penyakit keracunan mana, hari Natal hanyalah sebuah hari biasa yang dingin dan sarat akan kesepian belaka."Letnan Muda Ha. Aku meminta tolong kepadamu."Hanggar pangkalan Pasukan Khusus Ark.Komandan pangkalan melangkah mendekat ke arahku dengan sikap ragu-ragu dan canggung. Di tangannya tergenggam sebongkah bungkusan kain berwarna merah pekat."Ada panggilan kontak dari Rumah Sakit Anak Busan. Katanya anak-anak di sana... perlahan mulai kehilangan senyuman mereka. Jika sosok pahlawan Tingkat Z sudi berkunjung menyambangi mereka sekal
## Bab 66Jika Hina yang merupakan seorang Pemburu Tingkat S berniat sungguh-sungguh, berandalan rendahan semacam ini sanggup ia lumat hanya dengan sejentik ujung jarinya.Namun ia sama sekali tidak bisa melakukan hal itu.Begitu ia mengerahkan kekuatannya, identitas aslinya akan terbongkar, dan jika hal itu terjadi, kedamaian hari ini yang ia nikmati bersama sang kakak sebagai siswi SMA biasa akan hancur berantakan.Hina mengepalkan kedua tinjunya erat-erat sembari gemetaran hebat menahan amarah."Oho? Lihat sorot matanya yang melotot itu? Woy, bocah ini seorang pemburu ya?""Sorot mata bocah kecil ini masih galak rupanya. Sepertinya harus diberi sedikit pelajaran sopan santun nih."Pria itu mengulurkan tangannya hendak mencengkeram pundak Hina.Haru buru-buru melangkah maju menghadang."Hentikan perbuatan kalian! Kami akan segera pergi dari sini!"Haru merapikan barang-barang belanjaan lalu bersiap bangkit berdiri.Tepat pada saat itu, salah satu pria menyenggol kencang cangkir minu







