Share

Bab 9

"Cari, cari tahu! Apa lagi yang Dewa Perang Raka lakukan?!"

Seruan marah bergema di Amerika Utara, di negara-negara Eropa, di daratan es utara yang sangat dingin, di gurun pasir yang luas tak berbatas ....

Di gedung-gedung siaga perang yang dijaga ketat, di pangkalan militer rahasia, di saluran komunikasi militer yang sangat rahasia, di telinga para pejabat tinggi militer, terdengar gema keras!

Itu adalah sebuah keterkejutan, kejutan yang total!!

Raka dan Kuil Dewa Perang menyerang Ibu Kota Solarae, menghancurkan Istana Solarae. Dengan nol korban, dalam waktu dua puluh delapan menit, mereka memberikan pukulan fatal yang mengerikan kepada Negara Solarae!

Kuil Dewa Perang ... atau lebih tepatnya, Raka, pemimpin Kuil Dewa Perang, memiliki kekuatan yang sangat menakutkan!

Sungguh mengejutkan!

Semua negara besar di dunia, termasuk Nagota, semua departemen intelijen bekerja keras menyelidiki segala yang terjadi hari ini!

Apakah pemimpin ambisius dari Negara Solarae telah melakukan sesuatu yang menyinggung Dewa Perang Raka?

Mengapa Kuil Dewa Perang melakukan serangan mendadak?

Raka ... apa sebenarnya yang dia inginkan?!

"Hanya sebuah hal kecil saja, kok."

Saat negara-negara di dunia sedang sibuk menyelidiki gerakan Kuil Dewa Perang, Raka sudah berada dalam perjalanan kembali ke Nagota, mengendarai jet naga merah.

Dia memegang sebuah bunga pink berbentuk mirip bunga teratai salju di tangan kirinya dan berbicara melalui komunikator di tangan kanannya, tersenyum, "Tidak perlu khawatir, Pak Pemimpin Negara. Saya hanya pergi untuk memetik bunga. Tapi, mereka tidak tahu diri. Maunya main panco sama saya."

"Pergelangan tangan mereka jelas tidak sekuat saya, jadi, saya membakar Istana Solarae sebagai pelajaran buat mereka."

"Begitu saja."

Orang di ujung telepon diam.

Pemimpin Nagota, yang mempunyai posisi yang sangat dihormati, mendengarkan suara santai Raka. Dia bisa menebak bahwa bunga yang Raka petik pastilah bunga nasional Negara Solarae, satu-satunya di dunia!

"Raka ...."

Di telepon, Pemimpin Negara Nagota berkata dengan perasaan campur aduk , "Kamu tahu tidak, dengan kekacauan yang dibuat Kuil Dewa Perang, situasi dunia menjadi sangat tegang!"

"Beberapa orang tua gila itu menelepon saya, bertanya apakah saya mengirimkanmu untuk misi rahasia, dan apakah kamu akan menyerang mereka?"

"Mereka semua ketakutan karena kamu!"

Raka tersenyum tipis.

"Orang tua gila yang disebut oleh Pemimpin Nagota tentu saja adalah pemimpin negara-negara musuh. Akan tetapi kali ini mereka salah menebak!

Kuil Dewa Perang tidak punya waktu luang untuk memperhatikan mereka.

Pemimpin Negara Solarae sudah menyerah, Floracaelum sudah di tangan, misi kali ini menurut Raka sudah berhasil sempurna!

"Bilang sama mereka untuk tidak perlu menebak-nebak."

Raka berbicara melalui komunikator, tidak peduli, "Bilang saja sama mereka, selama mereka tidak mengganggu Nagota, Kuil Dewa Perang juga tidak akan mengganggu mereka."

"Jika ada yang berani mengincar Nagota, nasib Istana Solarae hari ini yang akan menimpa mereka!"

"Siapa pun yang melawan Nagota, meski jauh, akan merasakan akibatnya!"

Pemimpin Nagota merasa sangat lega. Dia sangat bersyukur.

Beruntung Nagota memiliki Kuil Dewa Perang yang sangat setia kepada Negara Nagota. Kuil Dewa Perang tidak kenal ampun terhadap musuh, terlebih Raka, pemimpin Kuil Dewa Perang!

Setelah menutup telepon, Raka duduk di kabin pesawat, memainkan bunga pink di tangannya, tatapannya penuh harapan.

Floracaelum!

Dengan Floracaelum di tangannya itu, maka ada harapan untuk menyembuhkan tenggorokan Lucy.

Jika dikombinasikan dengan teknik medis modern, mengatur ulang pembuluh darah dan saraf di tenggorokan Lucy, lalu mengonsumsi getah batang bunga Floracaelum, suara Lucy pasti akan bisa pulih sepenuhnya.

Suaranya, kegembiraannya, senyumannya ....

Aksi hari ini, berharga!

Menghancurkan sebuah negara, demi senyuman sang kekasih!

Jam setengah sepuluh malam, Kompleks Mission Hills sunyi senyap. Bangunan tua yang akan direnovasi tampak lebih dingin di bawah sinar bulan.

Selain Elena, anggota keluarga Randala yang lain masih belum tidur.

Di ruang tamu, Rommy dan Sherly tampak murung. Lucy dengan wajah pucat sesekali menatap patung Buddha kecil di meja makan, matanya penuh kesedihan.

Mereka salah perhitungan!

Hari ini sore, Lucy mengambil uangnya yang telah lama ditabung dan pergi ke toko perhiasan, membeli patung Buddha yang melambangkan panjang umur bersama Rommy.

Rencananya, patung itu akan diberikan kepada Pak Irwan besok sebagai hadiah ulang tahunnya.

Namun, baru saja!

Pak Irwan menelepon, memarahi Rommy habis-habisan. Irwan bahkan melarangnya dan Sherly menghadiri pesta ulang tahun ke-70nya. Irwan juga memutuskan hubungan sepenuhnya dengan anak bungsunya itu!

Dengan geram, Irwan juga mengungkapkan perbuatan Raka.

Membuat keributan besar di arena pertarungan anjing, memukuli Randy, menyerang Panji ... Raka sangat menyinggung keluarga Batara!

"Raka ... ternyata bikin masalah sebesar ini!"

Rommy semakin marah saat memikirkannya, menepuk meja keras-keras, giginya gemeretak!

Sejak diusir dari keluarga Randala, dia selalu berharap agar sang ayah mencabut keputusannya dan memperbolehkan mereka kembali ke keluarga besar.

Ulang tahun ke-70 ini adalah kesempatan terbaik bagi Rommy!

Namun, dengan kepulangan Raka yang telah pensiun dari militer dan membuat kekacauan besar, kesempatan itu pun sirna.

Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke keluarga Randala lagi!

"Lucy." Sherly menatap Lucy yang duduk di depannya dengan wajah tegang.

"Kakek bilang, kamu sama Elena dan Raka datang ke pesta ulang tahunnya, menjelaskan semuanya secara langsung, dan minta maaf sama Randy dan Panji."

"Kamu nggak usah ngapa-ngapain di sana. Masalah ini ulah Raka. Kalau kakek menyalahkan, atau kalau keluarga Batara ingin balas dendam, biarkan dia yang menanggung sendiri!"

Wajah Lucy semakin pucat, dia menggigit bibirnya dengan kuat, mengangkat tangan lambat-lambat dan mulai menggunakan bahasa isyarat.

"Pa, Ma, aku dan Raka ...."

Tok, tok, tok!

Gerakan bahasa isyarat Lucy baru saja dimulai. Tiba-tiba pintu ruang tamu diketuk orang dari luar.

"Kamu?" Rommy bangkit dan membuka pintu. Saat melihat Raka berdiri di depan pintu, dia langsung marah besar!

Bocah sialan ini!

Sekembalinya dari militer, bukannya mengerjakan hal-hal yang benar, malah menimbulkan masalah besar bagi keluarga!

Siang hari bukannya istirahat lalu cari kerja, malah menghilang begitu saja!

Lucy dan Elena menunggunya pulang untuk makan malam. Mereka menunggu sampai lewat jam 8 malam, si Raka ini malah baru pulang sekarang!

Apakah dia masih memikirkan keluarga ini? Apa dia peduli pada Lucy dan anaknya dan mertuanya?

Menikahkan putri mereka dengan orang seperti ini, lebih baik menikahkan dengan seekor anjing saja. Setidaknya anjing tahu menjaga rumah!

"Pa, Ma."

Raka masuk ke ruang tamu. Dia melihat patung Buddha kecil di meja makan.

Oh, ternyata begitu!

Mereka pasti sedang membicarakan pesta ulang tahun Pak Irwan besok. Bahkan hadiahnya pun juga sudah dibeli!

"Besok, kamu, Lucy, dan Elena, harus ikut di pesta ulang tahun kakek Lucy," kata Rommy sembari menatap tajam ke mata Raka. Kepalan tangan Rommy mengencang lalu melonggar, melonggar lalu mengencang.

Akhirnya, Rommy menoleh ke Lucy yang wajahnya pucat pasi, menggigit gigi dengan keras, "Nanti, bawa patung Buddha kecil ini. Minta maaf sama kakek, semoga dia bisa kasih kamu kesempatan!"

"Kalau keluarga Batara …."

"Tanggung sendiri akibatnya!" Setelah berkata demikian, dia langsung menarik Sherly dan kembali ke kamar dengan marah!

"Lucy." Raka melihat ayah mertua dan ibu mertuanya pergi, lalu berpaling kepada Lucy.

Raka mengeluarkan Floracaelum dari sakunya dan tersenyum, "Siang tadi aku pergi ke Negara Solarae, ini adalah ...."

Lucy menutup telinganya erat-erat, tak tahan menahan air mata.

Dalam hati Lucy berkata, “Berbohong, dia lagi-lagi berbohong! Raka, kamu tidak sukses, aku terima! Saat itu, karena kecelakaan, orang tuamu meninggal, terpaksa masuk keluarga Randala, menjadi suamiku, aku terima, aku terima semua!

Tapi meski kamu sudah dinas di militer selama lima tahun, mengapa tidak bisa lebih tenang, lebih dewasa?

Mengeluarkan uang untuk menyewa konvoi mobil, melamar aku, memberi kejutan, aku sangat terharu, sangat berterima kasih. Tapi itu semua hanya ilusi! Kenyataannya, kamu telah menyinggung keluarga Batara, menyinggung kakek. Oke, aku bisa bersamamu menanggungnya!

Tapi kamu juga harus menunjukkan keberanian, tanggung jawab seorang pria. Kamu harus berani menghadapi semuanya, tidak boleh menghindar! Pergi ke Negara Solarae katamu? Kenapa nggak sekalian bilang pergi ke luar angkasa saja? Sampai kapan kamu akan menipuku?!"

Raka terdiam sejenak, lalu perlahan menyimpan Floracaelum itu lagi. Ada sebuah kilatan dingin di matanya!

Pak Irwan dan keluarga Batara?

Tunggu saja besok!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status