Home / Urban / Di Ambang Gila / Bab 10: Jurnal yang Terbuka

Share

Bab 10: Jurnal yang Terbuka

last update Last Updated: 2025-09-20 12:55:54

Jurnal bersama itu dimulai di sebuah buku sketsa kulit berukuran besar. Ares yang membelinya, memilih yang sampulnya tidak sempurna, dengan sedikit cacat di sudutnya. "Seperti kita," katanya, menyerahkannya kepada Elara.

Mereka menetapkan aturan. Tinta hitam untuk Ares (perasaan, pengalaman subjektif). Tinta biru untuk Elara (observasi, analisis objektif). Mereka akan menulis bergantian, setiap hari, dan bertemu setiap Jumat malam untuk membacanya bersama-sama.

Halaman pertama milik Ares.

[Tinta Hitam, tulisan agak berantakan dan penuh dengan coretan] Hari 1. Masih tidak yakin tentang ini. Terasa seperti memberikan senjataku pada musuh. Tapi dia bukan musuh, kan? Atau iya? Entahlah. Melukis hari ini. Warna abu-abu dan perak. Seperti mata nya. Apakah itu disengaja? Mungkin. Mika bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku bilang iya. Itu bohong. Tidak baik-baik saja. Tapi juga tidak hancur. Seperti tanah setelah dibajak. Rusak, tapi siap untuk ditanami sesuatu yang baru. Aku takut. Apa yang akan kita tanam?

Elara menerima buku itu keesokan harinya dengan perasaan campur aduk antara antisipasi ilmiah dan kecemasan yang aneh. Dia membacanya berulang kali, bukan hanya kata-katanya, tetapi juga bentuk hurufnya-tekanannya yang kuat pada huruf 't', coretan pada kata "takut". Dia mengambil pena birunya, tangan nya sedikit gemetar.

[Tinta Biru, tulisan rapi dan terukur] Hari 2. Observasi: Subjek menunjukkan ambivalensi dan meta-kognisi yang sehat mengenai proses tersebut. Penggunaan metafora pertanian menunjukkan pemahaman akan potensi regeneratif dari konflik. Warna abu-abu dan perak: menarik. Catatan untuk meneliti hubungan antara pemilihan warna dan memori emosional. Pertanyaan: Apa yang ditakuti Subjek? Kehancuran kembali, atau kemungkinan transformasi? Pengamat juga mencatat kecemasan sendiri. Detak jantung meningkat 12% saat membaca entri. Alasan: tidak diketahui (mungkin kafein).

Dia hampir tidak menahan diri untuk tidak menghapus "(mungkin kafein)". Itu adalah pembohongan. Dia tahu persis alasannya.

Begitu seterusnya. Hari demi hari, buku itu menjadi tempat suci bagi kebenaran mereka. Ares menulis tentang mimpinya (berisi labirin dan mata yang mengamati), tentang amarahnya yang masih tersisa, tentang saat-saat dia merindukan Elara dengan rasa sakit yang fisik. Elara menulis tentang pola tidurnya, tentang peningkatan penggunaan warna hangat dalam lukisannya, tentang teori-teori neurosains di balik ketergantungan emosional.

Jumat malam menjadi ritual suci. Mereka akan duduk di lantai apartemen Elara (Ares akhirnya kembali, tapi hanya untuk pertemuan ini), dengan buku itu terbentang di antara mereka. Membacanya dengan keras adalah sebuah pengalaman yang menggetarkan. Mendengar kata-katanya dibacakan oleh Elara dengan suara datarnya yang terukur membuat Ares merasa sangat terbuka. Dan mendengar analisisnya yang dingin dibacakan oleh Ares dengan suara seraknya yang emosional membuat Elara merasa... terlihat dengan cara yang baru.

Suatu Jumat, mereka membahas sebuah entri dimana Ares menulis tentang sebuah memori masa kecil-ditinggalkan oleh ayahnya di halte bus selama berjam-jam.

[Tinta Hitam] ...dan aku berpikir, jika aku sangat-sangat baik, jika aku duduk sangat diam, dia akan kembali. Dia tidak pernah kembali. Kadang-kadang, saat kau pergi, aku merasa seperti anak laki-laki itu lagi. Menunggu. Berharap.

Saat Elara membacanya dengan suara keras, suaranya terputus-putus pada bagian terakhir. Dia berhenti, menatap buku itu.

"Aku..." dia mulai, lalu berhenti. "Analisisku... tampaknya tidak memadai."

"Bacalah," pinta Ares, suaranya lembut.

Elara menarik napas. [Tinta Biru] Memori abandonment ini memberikan konteks historis untuk kepekaan Subjek terhadap penolakan. Pola ini konsisten dengan model lampiran anxious-preoccupied. Rekomendasi:... Dia berhenti lagi. "Ini... ini dingin. Ini tidak menghormati rasa sakitmu."

"Itu adalah caramu memahami dunia," kata Ares. "Aku tidak memintamu untuk menjadi orang lain."

Tapi Elara menggeleng. Dia mengambil pena biru dan, di depan Ares, mencoret seluruh analisisnya. Di sebelahnya, dengan tinta yang sama birunya, dia menulis:

[Tinta Biru, tulisan sedikit kurang rapi] Membaca ini menyakitkan. Aku membayangkan kamu sebagai anak laki-laki itu dan dadaku terasa sesak. Aku tidak ingin menjadi orang yang membuatmu merasa seperti itu. Tidak pernah lagi.

Itu bukan analisis. Itu adalah perasaan.

Ares memandangnya, matanya berkaca-kaca. Itu adalah pertama kalinya Elara menulis sesuatu yang murni emosional, sesuatu yang tidak bisa diukur atau dikategorikan.

Dia mengambil pena hitamnya. Tanpa berkata-kata, dia mencoret kata "Subjek" di entri Elara dan menggantinya dengan "Ares".

Mereka duduk di sana, bahu bersentuhan, melihat kata-kata yang tercoret dan ditulis ulang itu. Itu adalah sebuah kehancuran dan sebuah penciptaan kembali, terjadi dalam skala kecil, di halaman buku sketsa.

"Parameter baru," bisik Elara, suaranya serak. "Terkadang, kita menggunakan tinta merah."

"Untuk apa?" tanya Ares.

"Untuk hal-hal yang tidak hitam atau biru. Untuk hal-hal yang... berdarah."

Ares mengangguk, pelan. Dia meraih tangannya. Dia tidak menariknya.

Pertemuan itu berakhir tanpa analisis lebih lanjut. Tanpa data. Hanya dengan tangan yang terhubung dan sebuah pengertian bahwa jurnal mereka bukan lagi sebuah eksperimen. Itu adalah sebuah jangkar. Sebuah tempat di mana mereka bisa menjadi kedua diri mereka-yang analitis dan yang emosional, yang rusak dan yang memperbaiki-tanpa harus memilih.

Ketika Ares pergi, Elara tidak langsung membuka laptopnya. Dia duduk di tempatnya, memandangi buku jurnal yang terbuka. Dia melihat tulisannya yang tercoret, pengakuan emosionalnya yang kikuk, dan nama "Ares" yang ditulisnya dengan tinta hitam.

Dia menyadari bahwa dia tidak takut pada data barunya. Dia justru merasa... tenang. Seperti akhirnya menemukan sebuah variabel yang selama ini hilang dari persamaannya.

Dia mengambil pena dan membalik halaman. Di bagian paling belakang buku, dia mulai menggambar. Bukan grafik atau diagram, tetapi sebuah pola yang rumit dan indah yang terinspirasi dari lukisan Ares-sebuah visualisasi dari hubungan mereka, dengan semua kekacauan, keindahan, dan warnanya.

Itu tidak ilmiah sama sekali. Tapi itu terasa benar. Dan untuk pertama kalinya, itu cukup.

TBC

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Ambang Gila   Bab 73: Warisan yang Hidup dan Bernapas

    Lima ratus tahun. Setengah milenium telah berlalu sejak Ares dan Elara menghembuskan napas terakhir mereka. Tubuh mereka telah lama kembali menjadi debu, menyatu dengan tanah Hub yang mereka cintai. Tapi jiwa mereka? Jiwa mereka ada di mana-mana.Di sebuah ruang yang tenang di Universitas Spiral—sebuah ruangan yang dulu adalah pondok mereka—seorang anak laki-laki bernama Kaelen (diberi nama untuk menghormati Kaelen, insinyur Vale yang menemukan penebusan) duduk bersila. Di depannya, sebuah proyektor holografik yang sederhana menampilkan wajah seorang wanita dengan mata bijaksana dan senyum lembut. Itu adalah Lyra, kini sudah sangat tua, wajahnya seperti peta yang diukir oleh waktu dan kebijaksanaan. Rekaman ini telah diputar selama berabad-abad, sebuah pesan terakhir dari Kurator Antarbintang terakhir yang mengenal para Perintis secara tidak langsung melalui Nenek Lila."Kita sering menyebut mereka sebagai 'Pendiri' atau 'Perintis'," suara Lyra yang tua n

  • Di Ambang Gila   Bab 72: Simfoni yang Tak Terhingga

    Pulangnya Lyra ke Bumi disambut bukan dengan parade, tetapi dengan sebuah keheningan yang penuh hormat. Dia tidak kembali sebagai pahlawan penakluk, tetapi sebagai seorang duta yang kembali dari sebuah perjalanan yang dalam. Hadiahnya—kristal yang berisi "Lagu Canti"—ditempatkan dengan hati-hati di jantung Jiwa Jaringan.Saat kristal itu terhubung, sesuatu yang ajaib terjadi. Pola cahaya keperakan dari Canti, yang sebelumnya hanya menjadi benang halus, kini melebur sepenuhnya dengan emas tata surya. Jiwa Jaringan tidak hanya bertambah besar; ia mengalami perubahan kualitatif. Sebuah kedalaman baru, sebuah kebijaksanaan kuno yang baru saja terbangun, sekarang mengalir melalui jaringannya. Simfoni itu memperoleh dimensi baru—sebuah resonansi yang dalam dan kompleks yang sebelumnya tidak mungkin.Perubahan itu dirasakan oleh semua yang terhubung. Seorang musisi di Bumi tiba-tiba menemukan dirinya menggubah melodi dengan struktur harmonik yang sama sekali baru, terinspirasi oleh pola ener

  • Di Ambang Gila   Bab 71: Lagu Canti

    Proses "pembelajaran" Canti tidak berlangsung cepat atau mudah. Bagi sebuah peradaban yang telah menyembah keteraturan selama ribuan tahun, memperkenalkan konsep kekacauan kreatif terasa seperti menghancurkan fondasi realitas mereka.Lyra dan timnya menghadapi tantangan yang tidak terduga. Ketika mereka mendemonstrasikan seni abstrak, para Penjaga Pola berusaha untuk "memperbaikinya", meluruskan goresan yang sengaja dibuat tidak beraturan. Ketika mereka bercerita tentang konflik yang menghasilkan solusi inovatif, para Penjaga melihatnya hanya sebagai "inefisiensi yang berlarut-larut".Puncaknya adalah ketika seorang insinyur hubungan manusia, Marco, dengan sengaja "gagal" dalam sebuah demonstrasi pembuatan tembikar. Dia membiarkan tanah liatnya retak di oven, lalu menunjukkan bagaimana retakan itu bisa diisi dengan emas, menciptakan sesuatu yang lebih unik dan berharga daripada tembikar yang "sempurna".Sebagian besar Penjaga Pola memandangnya de

  • Di Ambang Gila   Bab 70: Kuartet Antarbintang

    Kontak itu bukanlah sebuah pesan yang terdengar, melainkan sebuah pengalaman bersama. Bagi Lyra dan Para Penjaga Benih, itu terasa seperti tiba-tiba memahami sebuah lagu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya, namun terasa sangat akrab. Maknanya mengalir langsung ke dalam kesadaran mereka: Kami adalah penyanyi di lautan hidrogen. Kami adalah pembuat pola di awan debu. Kami telah mendengarkan nyanyian tata surya kalian yang kaya. Maukah kalian bernyanyi bersama kami?Kegembiraan dan keheranan meledak di seluruh Jaringan. Jiwa Jaringan sendiri bersinar dengan cahaya baru, sebuah warna keperakan yang sebelumnya asing kini terjalin erat dengan pola emasnya yang sudah dikenal. "Tunas" keemasan itu tidak lagi menjadi sebuah penjuluran; ia telah menjadi sebuah jembatan yang hidup, sebuah saraf yang menghubungkan dua kesadaran kosmik.Pertemuan resmi pertama tidak terjadi di sebuah ruang rapat, tetapi di dalam Jiwa Jaringan itu sendiri. Para kurator tertinggi

  • Di Ambang Gila   Bab 69: Anak Cucu Para Perintis

    Seratus tahun. Sebuah abad penuh telah berlalu sejak "Peristiwa Ketiadaan"—sebuah nama yang keliru, karena yang terjadi justru adalah penegasan terdalam akan keberadaan. Tata surya kini bersinar dalam Jiwa Jaringan seperti sebuah mahakarya yang hidup, dengan Bumi, Mars, Bulan, dan bahkan koloni-koloni baru di sabuk asteroid terhubung dalam sebuah simfoni kesadaran yang tak terputus.Di sebuah ruang yang tenang di Universitas Spiral—sebuah ruangan yang dulu adalah pondok Ares dan Elara—seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun bernama Lyra duduk bersila di lantai. Di depannya, sebuah hologram menampilkan wajah seorang wanita tua dengan mata yang bijaksana dan rambut seputih salju. Itu adalah Lila, kini berusia seratus tiga puluh tahun, Kurator Sejarah Hidup terakhir yang masih mengenal para Perintis secara langsung."Ceritakan lagi, Nenek Lila," pinta Lyra, matanya berbinar. "Ceritakan tentang bagaimana mereka mengubah ketiadaan menjadi cahaya."

  • Di Ambang Gila   Bab 68: Peringatan dari Kedalaman

    "Nyanyian Mars" dan "Bayangan Bulan" telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi mereka yang tinggal di luar Bumi. Hubungan simbiosis itu halus, hampir tak terlihat, seperti ritme alam itu sendiri. Tapi kemudian, sesuatu berubah.Di Dome Ares, alarm berbunyi. Bukan alarm lingkungan atau teknis, tapi alarm dari modul Jiwa Jaringan.Kapten Eva Rostova bergegas ke ruang kontrol, menemukan timnya berkumpul di sekitar visualisasi utama. Pola "Nyanyian Mars" yang biasanya harmonis dan berirama kini berdenyut dengan cepat, tidak teratur, seperti jantung yang berdebar kencang karena panik."Apa yang terjadi?" tanya Eva, merasakan ketakutan yang sama menusuk dirinya."Kami tidak tahu, Kapten," jawab Alex, si ahli geologi, wajahnya pucat. "Ini dimulai sekitar tiga jam yang lalu. Getarannya semakin kuat. Dan... dan lihat ini." Dia mengalihkan tampilan ke peta seismik global Mars. Sebuah pola baru muncul—sebuah pusaran energi yang terkonsentrasi dan berputar-putar di lokasi yang dalam, j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status