Mag-log inRuangan VIP itu tampak nyaman, tenang, dan yang pasti hanya ada mereka bertiga di dalamnya. Mama Gina duduk di seberang, sibuk bertanya ini-itu pada Ghea dengan senyum hangat karena sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya yang cantik itu. Ghea mencoba menjawab sopan meski kadang matanya melirik ke arah Juna yang duduk di sampingnya, yang sedari awal selalu menggodanya.
Saat makanan datang, mereka mulai menyantap hidangan. Tiba-tiba—cling!—sendok Juna terjatuh ke bawah meja. Ghea sempat menoleh, namun alih-alih mengambil sendok, Juna malah menyelipkan tangannya ke arah betis Ghea. “Mas!” bisik Ghea kaget saat merasakan sentuhan Juna, tubuhnya langsung menegang seketika. Sedangkan Juna, pria itu pura-pura sibuk di bawah meja, tapi jari-jarinya sempat mencubit pelan betis Ghea, membuat gadis itu meringis dan hampir menjatuhkan garpunya. “Jangan berisik,” bisik Juna, matanya menatap nakal ke arah Ghea sebelum kembali duduk tegak, seolah barusan tak terjadi apa-apa. Beberapa menit kemudian, Mama Gina izin ke toilet. Begitu pintu VIP room menutup, suasana langsung berubah. Juna bersandar santai, menoleh pada Ghea dengan tatapan penuh arti. “Sekarang kita bisa ngomong serius, Ghe…” ucapnya tenang, tapi tekanannya terasa. “Hutang kamu belum lunas.” Mata Ghea membesar. “Mas, aku… aku nggak punya uang sekarang. Sumpah.” Suaranya terbata, tangan gemetar memegang gelas. Senyum Juna melebar. Ia mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke Ghea. “Kalau gitu, cicil pakai cara lain aja dulu.” “Cara lain?” Ghea refleks menegakkan badan, jantungnya berdetak keras. “Cium aku.” “Kamu gila ya?! Aku nggak—” protes Ghea langsung terhenti oleh tatapan tajam Juna. Aura dominannya membuat Ghea kehilangan kata-kata. Setelah tarik-ulur batin, wajahnya memerah, ia akhirnya mendekat sedikit, menempelkan bibirnya pelan ke bibir Juna. Cukup sebentar. Namun saat ia hendak menjauh, Juna menahan tengkuknya. “Sekali lagi.” Deg. Dengan terpaksa, Ghea menuruti. Tapi kali ini Juna tidak membiarkan ia kabur. Bibir pria itu menekan lebih dalam, mendominasi. Ciumannya penuh kendali, membuat Ghea terdorong ke sandaran sofa. Napas Ghea tersengal, tangannya mengepal di atas meja, sementara Juna terus menguasai momen liar itu. Suasana di ruangan VIP itu mendadak panas—padahal di luar, orang-orang hanya tahu mereka sedang “makan keluarga”. Permainan mereka makin dalam. Ghea sudah hampir kehabisan napas ketika Juna menariknya makin dekat, mendorong tubuh semok itu ke arah sofa panjang di sisi ruangan VIP. Gadis itu terseret pelan, rebah di bawah kendali Juna. “Mas… jangan gini…” bisik Ghea dengan suara tercekat. Tapi tangannya gemetar, tidak cukup kuat untuk mendorong Juna pergi. Juna menatapnya dari jarak dekat, napasnya hangat menerpa wajah Ghea. Senyum miringnya masih sama—nakal, dominan. “Bayar hutang pakai cara ini, nggak apa-apa kan? Aku janji… kamu bakal suka dan terbiasa.” Wajah Ghea makin merah, matanya bergetar bingung antara marah dan malu. Saat Juna meraih pinggang rok Ghea, perlahan menyingkapnya, jantung Ghea hampir meloncat keluar. Namun— Tuk tuk tuk. Suara langkah tumit mendekat, disusul suara Mama Gina dari luar pintu. Juna langsung refleks menurunkan roknya, menegakkan badan. Ghea buru-buru merapikan blusnya, menarik napas panjang, pipinya masih panas menyala. Mereka berdua sempat saling melirik dengan wajah panik namun pura-pura tenang. Begitu pintu terbuka, Mama Gina masuk sambil tersenyum. “Wah, kalian udah selesai makan? Maaf lama, antrean toilet panjang banget.” “Ah, nggak apa-apa, Ma.” Juna menjawab santai, seakan tidak ada apa-apa. Sementara Ghea menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan sendok di meja, meski dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri. Bodoh! Kenapa tadi bisa nurut sama Juna?! Mama Gina baru saja duduk kembali, tatapannya mendadak berhenti pada wajah Ghea. “Eh, Ghea…” ucapnya sambil menyipitkan mata. “Itu kayaknya lip cream kamu agak berceceran deh.” Refleks Ghea menegang. Ia buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan cermin kecil, lalu memeriksa bibirnya sendiri. Dan benar saja—lip cream-nya memang sedikit berantakan. Wajahnya langsung merona makin parah. “Mungkin gara-gara tadi habis makan berminyak, Tante…” jawabnya terbata, mencoba menutupi rasa malu. Mama Gina terkekeh kecil. Tapi kemudian pandangannya beralih ke arah putranya. “Lho, Juna…” mata Mama melebar sedikit. “Kamu juga pakai lip cream, ya? Kok warnanya mirip?” Deg! Ghea hampir menjatuhkan cerminnya. Sementara Juna sempat terdiam sepersekian detik sebelum tersenyum lebar, cepat sekali mencari alasan. “Oh, ini, Ma…” ucapnya santai. “Tadi Ghea nawarin. Katanya bagus, jadi coba juga. Malah disuruh nawarin ke Papa juga katanya, biar nggak bibir kering.” Mama Gina langsung menepuk dahi, lalu tertawa geli. “Aduh, kalian anak muda ini ada-ada aja. Dulu zaman Mama mana ada cowok pakai lip cream segala. Paling minyak telon biar nggak masuk angin." Ghea nyaris tenggelam karena malu. Ia menunduk dalam, menggenggam sendok erat-erat, sementara Juna duduk santai dengan senyum tipis penuh kemenangan—jelas menikmati kepanikan sepupunya itu. Ghea berdiri dari kursinya sambil meraih tasnya. “Tante, makasih ya makannya. Aku pulang sendiri aja, nggak usah diantar—” Belum sempat ia melangkah, suara Mama Gina langsung memotong, lembut tapi tegas. “Sayang, kamu pulang sama Juna aja ya. Mama nanti dijemput Papa. Tadi Papa ada urusan mendadak, makanya Mama minta Juna temenin Mama makan dulu sama kamu.” Ghea terkesiap, buru-buru mencari alasan. “Tapi, Tante… aku tuh kayaknya mau ke suatu tempat dulu sebelum pulang ke rumah.” Mama Gina tersenyum kecil, menatapnya penuh kasih. “Nggak apa-apa, sayang. Minta ditemenin Masmu aja. Jangan keluar sendirian. Kamu itu perempuan, harus dijaga. Biar Masmu jagain, ya?” Jaga apanya? Dia yang doyan sendiri! batin Ghea, melirik sekilas ke arah Juna dengan tatapan tajam penuh protes. Juna justru santai, bahkan sempat mengangkat alisnya ke arah Ghea, seolah menikmati dilema yang dialami sepupunya itu. Senyumnya miring, jelas sengaja bikin Ghea makin panas. “Ayo, Ghe. Kita jalan sekarang,” ucap Juna, suaranya tenang tapi nadanya menekan. “Sebelum keburu hujan lagi.” Mau tak mau, Ghea menghela napas panjang dan mengangguk kecil. “Iya, Tante. Aku pamit ya,” ucapnya, berusaha menyembunyikan wajah merahnya. “Ati-ati di jalan ya, sayang.” Mama Gina tersenyum sambil melambaikan tangan. Akhirnya, dengan terpaksa Ghea melangkah keluar bersama Juna. Tepat sebelum masuk ke dalam mobil, ia masih sempat menoleh ke arah Mama Gina dan tersenyum kaku. Begitu pintu mobil tertutup rapat, senyumnya langsung lenyap berganti dengan dengusan kesal. Ghea duduk bersedekap di kursi penumpang, wajahnya masam. Mulutnya tak berhenti mengomel sejak mobil melaju meninggalkan restoran. “Dasar cowok ngeselin… seenaknya banget… aku nyesel mau ikut tadi. Harusnya aku maksa pulang sendiri aja, nggak perlu naik mobil kamu!” Juna hanya melirik sebentar, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Ngomel mulu, suara kamu kayak radio rusak.” “Radio rusak?!” Ghea langsung menoleh cepat, matanya melotot. “Kamu bener-bener keterlaluan! Aku—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Juna tiba-tiba mencondongkan tubuh, mendekat begitu cepat. Bibirnya mendarat menutup mulut Ghea dengan paksa. “Mmmphh!” Ghea terperangah, matanya membesar. Tangannya refleks mendorong dada Juna, tubuhnya memberontak. Tapi Juna tak bergeming. Tekanan bibirnya justru semakin dalam, membuat Ghea kehabisan kata-kata. Suara omelan yang tadinya deras langsung terputus. Hanya ada napas yang tercekat, bercampur dengan degup jantungnya yang kacau. Beberapa detik berlalu, Ghea masih mencoba melawan. Tapi semakin ia mendorong, semakin dekat jarak Juna. Akhirnya, tubuhnya hanya bisa kaku di tempat, wajahnya panas terbakar. Juna perlahan melepaskan ciuman itu, tapi tetap dekat, sangat dekat, hingga napas hangatnya menggelitik kulit pipi Ghea. “Diamnya cantik juga ternyata,” bisik Juna rendah, suaranya berat dan menusuk. Ghea tertegun, dadanya naik turun cepat. Bibirnya bergetar, tapi kata-kata tak kunjung keluar. Ia sendiri benci mengakuinya, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang bergetar aneh… seolah-olah ia tak benar-benar ingin menjauh. Dengan cepat ia menoleh ke arah jendela, menutupi wajah yang kini merona merah. “Gila kamu, Mas! Kamu lakuin itu lagi!” katanya terbata, suaranya bergetar di antara malu dan marah. Juna hanya terkekeh pelan, lalu kembali fokus menyetir. “Cuma itu yang berhasil bikin kamu diem, kan?” ujarnya ringan sembari mengusap bibirnya lembut.Juna segera memindahkan mobilnya ke area parkir yang lebih tersembunyi. Ia mematikan mesin, lalu menatap Ghea yang masih membenahi roknya dengan wajah memerah.“Kita masuk sekarang,” ucap Juna, nadanya bertekad.Juna dan Ghea turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk restoran mewah itu. Begitu masuk, Juna langsung mendekati salah satu pelayan.“Saya mau pesan ruangan VIP,” kata Juna singkat.Pelayan itu mengantar mereka ke sebuah ruangan privat yang terletak di sudut paling belakang. Ruangan itu didesain eksklusif.“Mas, ini ruangannya terlalu besar dan kita cuma berdua,” ucap Ghea sembari melirik isi ruang makan yang dipesan oleh Juna. Di sana terdapat meja makan besar, beberapa kursi, dan sebuah sofa panjang yang tampak nyaman di sudut.“Biar gak ada yang ganggu,” bisik Juna, senyum jahil muncul di bibirnya. Ia tidak mengajak Ghea duduk di meja makan, melainkan langsung menuju sofa panjang di sudut ruangan. Juna menarik
Sore itu, udara terasa hangat dan padat. Ghea baru saja selesai kuliah dan berdiri di depan gerbang, menunggu jemputan Juna. Meskipun lelah, hatinya dipenuhi antisipasi. Setelah malam yang penuh gejolak, ia sangat ingin bertemu Juna.Saat sebuah mobil hitam elegan berbelok, jantung Ghea langsung berdetak kencang. Itu mobil Juna. Ia tersenyum, senyum pertama yang benar-benar lepas sejak semalam, dan segera berlari menuju mobil Juna.Tiba-tiba, sebelum Ghea sampai, seorang wanita ikut turun dari kursi penumpang depan. Wanita itu cantik, mengenakan blazer yang rapi, dengan rambut yang tertata sempurna.Langkah Ghea terhenti mendadak. Senyumnya pudar.Kak Celina? gumam Ghea dalam hati, rasa terkejut dan cemburu langsung menyengat.“Eh, Ghea! Sini cepetan! Lumayan panas nih,” panggil Celina pada Ghea sembari melambaikan tangannya, suaranya riang.Ghea awalnya tampak ragu melangkah, kakinya terasa berat. Perasaannya yang tadi berbunga-bunga kini terasa seperti jatuh menghantam tanah.Meliha
Juna keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan diri ke kasur. Malam itu, ia tahu, akan menjadi malam yang sangat panjang. Ia meraih ponselnya, mencari cara untuk mengalihkan bayangan kulit putih, puting yang mengeras, dan celana dalam Ghea yang basah. Di benaknya, hanya ada satu pikiran: ia harus memastikan Ghea benar-benar menjadi miliknya, sesegera mungkin. Juna menjatuhkan diri ke kasur. Malam yang seharusnya diisi tidur nyenyak kini terasa panas dan panjang. Ia memejamkan mata, berusaha mengosongkan pikiran, tetapi yang muncul hanyalah bayangan Ghea. Ia melihat lagi bibir Ghea yang bengkak, leher jenjang dengan tanda kemerahan yang ia ciptakan, dan terutama, dua bola kenyal yang sempat ia hisap. Ia membayangkan pepaya gantung milik Ghea—padat, putih, dengan puting yang mengeras. Ingatan itu mengirim gelombang panas yang menyengat langsung ke pangkal pahunya. Juna gelisah. Ia bangkit dari kasur. Ia tahu tidur tidak akan datang. Ia mulai melakukan push up. Satu set, dua set, tiga
Juna berjalan menuju pintu, menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menenangkan detak jantungnya dan meredakan juniornya yang masih berdenyut kesal. Ghea, dengan tubuh yang masih gemetar karena syok dan gairah, segera duduk di pinggir kasur, meraih sembarang buku untuk pura-pura dibaca. Juna membuka pintu. Di depannya berdiri Mami Ghea, mengenakan daster rumahan dan membawa ponsel. Mami Ghea menatap Juna. Matanya menyipit, mengamati penampilan Juna yang tampak sedikit berantakan. Rambutnya sedikit acak-acakan dan kemeja yang ia pakai terlihat sedikit kusut, seolah baru saja dipakai kembali dengan tergesa-gesa. “Lho, Nak Juna? Kok keringetan begitu? Kamu ngapain? Bukannya tadi kalian di depan TV ya?” tanya Mami Ghea, nada suaranya lembut namun penuh selidik. Matanya bergantian menatap Juna dan Ghea yang memegang buku di atas kasur. Juna segera berusaha menutupi kepanikannya dengan senyum terbaik. “Oh, Tante. Enggak, tadi Juna habis push up sebentar di kamar mand
Juna menghisap puting Ghea dengan rakus, suaranya tercekat dan dalam. Ghea mendesah, memanggil nama Juna, meremas rambut pria itu. Setelah puas dengan satu sisi, Juna beralih ke sisi lainnya, menghisap dan menjilat dengan penuh gairah. Sambil menikmati dua gundukan kenyal Ghea, Juna bergerak untuk melepaskan dress tidur tipis yang dikenakan Ghea. Namun, saat Juna hendak menarik gaun itu dari bahu, Ghea menahan tangannya. Juna berhenti. Ia menatap mata Ghea yang dipenuhi campuran gairah dan ketakutan. Juna melepaskan tangan gadis itu dengan lembut. “Percayakan semuanya sama Mas, Sayang,” ujar Juna, suaranya tegas dan menenangkan. “Mas janji, setelah ini Mas akan tanggung jawab apapun risikonya.” Ghea menelan ludah, menatap mata Juna, dan menemukan ketulusan di sana. Perlahan, Ghea mengangguk. Juna tersenyum, senyum yang menjanjikan segalanya. “Terima kasih, Sayang,” bisik Ju
Saat hasrat memuncak, Juna mulai merayapi tubuh Ghea perlahan dengan tangan kirinya, tetapi ia tidak melepaskan pangkuannya sama sekali. Dengan mata Juna yang gelap karena gairah menatapnya lekat-lekat, tangan Juna mulai bergerak merayap turun, menyusuri paha Ghea. Ghea tersentak. Tangan Juna kini berhenti, meraba kain segitiga tipis yang sudah basah dan becek di dalamnya. Sensasi itu membuat Ghea mengerang, separuh kenikmatan, separuh ketakutan. Saat Juna hendak menarik kain itu, Ghea tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat. “Mas, stop!” Suara Ghea serak dan bergetar, memotong ketegangan hasrat mereka dengan suara yang penuh kepanikan. Juna membeku. Ia menarik tangannya dan menatap Ghea, matanya yang tadi panas kini dipenuhi kebingungan. “Kenapa? Kamu ma







