Teilen

Bab 18

last update Veröffentlichungsdatum: 15.08.2026 21:59:22

Al bergeming, menikmati senyum manis Reva yang selalu menjadi candu baginya. Ia ingin selamanya wajah teduh Reva, senyum manis, dan pipi yang merona merah adalah pemandangan pertama saat membuka pintu.

"Kamu sudah pulang," sapa Reva lembut. Ia mengernyit heran karena Al hanya berdiri sambil menatapnya dalam waktu yang lama tanpa membalas ucapannya. "Kamu kenapa, Al? Apa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi?"

Namun, sebelum Reva sempat bangkit, Al sudah berjalan cepat menghampirinya. Pria it
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 134

    Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 133

    Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 132

    Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 131

    "Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 130

    "Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 129

    Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status