Share

Bab 3

Author: Soda
Pernikahan ditunda. Lagi. Karena semua kekacauan itu.

Semua orang sekarang punya banyak waktu luang. Keesokan harinya, mereka pergi liburan.

Ayah, ibu, dan si kakak membawa Selena. Selena malah mengajak Devan untuk ikut. Tidak ada yang memberi tahu Erianna.

Saat dia bangun, barisan panjang mobil hitam sudah menuju Hamnon.

Mereka bahkan membawa setengah dari staf mulai pelayan, juru masak, pengawal untuk memanjakan Selena yang "rapuh". Seolah-olah satu momen sulit saat liburan akan menghancurkannya.

Vila Viandra terasa seperti makam yang luas dan sunyi. Erianna benar-benar sendirian.

Di luar, badai sedang mengamuk, di dalam hati Erianna bergejolak.

Erianna membuka Instagram.

Selena baru saja mengunggah sebuah foto keluarga.

Seluruh keluarga berdesakan dalam bingkai, semuanya tersenyum. Devan merangkul pinggang Selena, tatapan mereka terkunci di bawah matahari terbenam di tepi laut.

Keterangan fotonya tertulis.

[Sungguh beruntung memiliki orang-orang favoritku. Terima kasih Tuhan.]

"Orang-orang favorit?" Hah.

Erianna tertawa dingin. Rumah besar yang kosong itu menggema.

Dia mematikan ponselnya dan mengabaikan unggahan itu.

Dia pun berbalik dan pergi ke studio, mengemasi barang-barangnya.

Cat-cat mahalnya, kuas khusus dan beberapa karya terbaiknya. Lukisan-lukisan itu tersimpan rapi, tanpa tanda tangan, tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

Ini adalah satu-satunya hal yang benar-benar miliknya. Modalnya untuk membangun sesuatu di Santuari.

Hanya sedikit lebih lama. Setelah itu dia akan bebas.

Saat dia menutup kotak terakhir, terdengar suara pecahan kaca dari lantai bawah.

Samar, tetapi dalam keheningan yang mencekam, suara itu memekakkan telinga.

Prang!

Seseorang ada di dalam rumah!

Otot-otot Erianna menegang.

Dia teringat saat ini di kehidupan sebelumnya tentang sebuah perampokan. Pusaka berharga hilang, karya seninya hancur.

Lampunya padam, dia mengirim pesan darurat, mengambil semprotan merica dan pisau serbaguna dari meja lalu berjalan tanpa alas kaki menuju tangga.

Dua bayangan sedang menggeledah ruang tamu, sorotan senter menembus kegelapan.

"Tempat yang bagus. Vasnya terlihat antik."

"Di lantai atas, pasti keluarga Viandra punya brankas. Mereka semua sudah pergi, 'kan? Gampang diambil."

Bukan maling profesional. Hanya pecandu yang ingin mencuri saat pemiliknya pergi.

Tapi orang-orang yang putus asa adalah yang paling berbahaya.

Mereka mendekat. Langkah kaki mereka berat dan kikuk.

Erianna menahan napas, mundur ke ruang aman di ujung lorong.

Dibangun untuk pertarungan antar geng, biasanya hanya untuk tempat penyimpanan.

Dia mengunci pintu baja yang berat itu.

Kemudian, kenop pintu berputar liar, diikuti oleh dentuman keras pada logam.

"Sial, terkunci! Pasti ada sesuatu yang bagus di dalamnya!"

"Tendang pintunya!"

Brak! Brak! Pintu bergetar membuat debu berjatuhan.

Di tengah semua itu, Erianna tidak berteriak. Dia berdiri di dekat pintu, tenang.

Kunci akhirnya jebol. Pria itu menerobos masuk.

Erianna membidik matanya lalu menekan keras semprotan merica.

"Ah! Mataku!" Jeritan melengking menggema di seluruh rumah besar itu.

Dalam kekacauan itu, pria lain menerjang menyerang lengan Erianna.

Darah menyembur. Rasa sakit itu membuat kepalanya pusing.

Dia meraih penyangga lukisan yang berat itu dan mengayunkannya dengan keras, tepat di kepala pria itu.

Bruk! Pria itu terhuyung, lalu tergeletak lemas.

Setengah jam kemudian, polisi tiba. Lampu berkedip-kedip dan para penyusup tertangkap.

Erianna yang terluka dibawa ke rumah sakit. Dia mendapat perban cepat dari paramedis dan pulang.

Ketika keluarganya menerima telepon dari polisi dan bergegas kembali, yang mereka lihat hanyalah kekacauan.

Ibunya menjerit, berlari ke vas bersejarah yang pecah.

"Ya Tuhan! Vasku! Itu nilainya miliaran! Erianna, apa yang kamu lakukan?! Apa kamu nggak bisa jaga apapun?!"

Liam melihat ke arah penyangga lukisan. Dia dengan santai menendang pada titik yang bernoda darah itu.

"Bawa sial. Tapi kayu rongsokan ini masih kuat. Kita butuh tim pembersih untuk karpetnya."

Tidak ada yang bertanya apakah Erianna terluka. Tidak ada yang peduli dengan darah yang merembes melalui perbannya.

Erianna tertawa getir. Di kehidupan sebelumnya, dia ditinggal sendirian di rumah malam itu dan tanpa staf, dia terluka parah oleh penyusup-penyusup itu. Dia pun dirawat di rumah sakit selama enam bulan dan pincang permanen. Saat itu dia menelepon keluarganya karena merasa putus asa, tapi tidak ada yang menjawab. Dia kemudian mengetahui bahwa mereka semua sedang berada di kapal pesiar bersama Selena untuk merayakan sesuatu.

Namun kali ini, dia tidak mengharapkan apa pun.

Devan masuk terakhir. Matanya tertuju pada Erianna, lalu lukanya. Alisnya berkerut. Namun kata-kata pertamanya membuat Erianna membeku.

"Selena mengunggah foto kemarin, tapi rumah dirampok hari ini? Dan kamu? Kamu hampir nggak terluka?"

Dia mendekat, suaranya rendah dan intens.

"Erianna. Semua ini … sepertinya terlalu aneh. Pasti ini karanganmu demi cari perhatian, 'kan?"

Erianna menatap pria yang telah dicintainya selama sepuluh tahun.

Dia berkata pelan, "Kalau kamu memang berpikir begitu, maka anggap saja itulah yang terjadi."

Devan ingin mengatakan lebih banyak mengingat Erianna bersikap tidak seperti biasanya.

Pada saat itu, Liam keluar dari tangga, membawa koper yang telah dikemas Erianna tadi malam.

"Kamu mau pergi ke mana dengan barang-barang keluarga kita, Erianna?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 18

    Selena belum mati.Kematian hanya akan menjadi belas kasih untuknya.Di tengah malam tanpa bulan, sebuah pesawat kargo hitam biasa lepas landas dari Nilona.Selena yang dibius dan diperlakukan seperti barang rusak, dilemparkan ke dalam ruang kargo.Dia dikirim ke rumah sakit jiwa di pedalaman Siburia.Sebuah tempat tanpa jendela, tanpa pengunjung, hanya dingin dan kesepian yang tak berujung.Bagi Selena yang pernah hidup dalam kehidupan mewah dan menyesap air mahal, itu adalah neraka yang jauh lebih buruk daripada jurang mana pun.Dia akan menghabiskan sisa hidupnya dalam dingin dan kegilaan yang tak berujung.Tapi itu bukanlah akhir dari perhitungannya.Sehari sebelum pemakaman Devan, Erianna ditemani Jonathan pergi ke Penjara Keamanan Maksimum Negara Bagian Nilona.Itu adalah kunjungan pertamanya dan terakhir ke orang tuanya.Setelah mereka bangkrut, musuh-musuh mereka bergerak untuk menghabisi mereka. Tak lama kemudian, mereka ditangkap atas berbagai tuduhan.Ruang kunjungan memilik

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 17

    Hari-hari tenang tidak pernah bertahan lama.Tepat ketika Erianna dan Jonathan sedang mempersiapkan pernikahan mereka, sebuah panggilan mendesak menghancurkan kedamaian."Bos, kita punya masalah. Selena Viandra melarikan diri dari fasilitas keamanan maksimum."Wajah Jonathan langsung berubah gelap.Tempat itu adalah benteng. Tidak mungkin Selena yang manja dan kekanak-kanakan itu bisa keluar tanpa bantuan dari dalam."Dan ...." Suara bawahannya bergetar di ujung telepon. "Dia menculik Devan Rendra.""Kami perkirakan dia akan segera menghubungi Nyonya."Jonathan mengerutkan kening, menatap mata Erianna.Tak lama kemudian, ponsel Erianna berdering. Itu adalah panggilan video terenkripsi.Video terhubung. Setelah beberapa saat rekaman yang goyah, latar belakang yang redup muncul.Itu adalah gereja yang terbengkalai, dikelilingi oleh puing-puing konstruksi.Devan diikat pada pilar batu dan berlumuran darah.Yang memegang telepon adalah Selena.Dia benar-benar sudah gila.Selena yang duluny

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 16

    Jet pribadi itu mendarat di lapangan terbang pribadi di Tusani, Utali.Ini adalah rumah leluhur Keluarga Tahir.Jika Jonathan adalah ketua mafia yang ditakuti di Nilona maka di sini, dia adalah raja sejati yang tak bermahkota.Iringan mobil itu melintasi kilo-kilo kebun anggur dan kebun zaitun, akhirnya berhenti di depan sebuah kastil abad pertengahan yang megah.Kastil itu berdiri di puncak gunung, menghadap seluruh dataran emas.Ratusan pelayan dan anggota keluarga berbaris untuk menyambut mereka. Skala dan kemegahan upacara itu jauh melampaui apa pun yang pernah disaksikan Erianna di Nilona.Bahkan Erianna yang telah membangun kepercayaan dirinya di Pulau Santuri, merasa pusing sekarang.Dia memandang kastil yang telah melewati badai selama berabad-abad, potret para patriark masa lalu yang tergantung di dinding, rasa rendah diri yang mendalam muncul di dalam dirinya.Dia adalah anak terlantar, dibesarkan untuk menjadi kantung darah.Apa dia benar-benar pantas mendapatkan semua ini?

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 15

    Badai di Pulau Santuri baru saja berlalu, udara dipenuhi aroma garam laut.Erianna duduk di teras kaca di tepi tebing, sedang melukis.Dia mengenakan gaun beludru berwarna merah anggur yang elegan, ujungnya bergelombang lembut tertiup angin laut, seperti mawar merah darah yang mekar di tepi tebing.Tepat saat itu, pintu lift terbuka.Devan keluar.Saat pandangannya tertuju pada Erianna, dia membeku.Dia belum pernah melihat Erianna seperti ini sebelumnya, bukan Erianna yang penurut, tetapi seorang ratu yang memancarkan kekuatan murni.Sebagai perbandingan, Devan tampak sangat berantakan.Dia telah mencari Erianna tanpa henti selama sebulan. Pewaris yang dulunya angkuh dari kalangan sosial Nilona itu kini tidak bercukur, matanya cekung dan merah karena kecemasan."Erianna …."Pria itu menyebut namanya, suaranya serak seolah tenggorokannya dipenuhi kerikil.Dia berjalan dua langkah ke depan tetapi dihentikan dengan oleh seorang pengawal di sampingnya."Tuan, Anda tidak boleh mendekat."N

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 14

    Kejatuhan Keluarga Viandra terus berlanjut.Sejak Devan mengalami krisis emosional malam itu, saham Grup Viandra telah anjlok dua kali dalam tiga hari.Penarikan investasi Keluarga Rendra adalah domino pertama yang memicu reaksi berantai.Bank mulai menarik pinjaman dan para mitra memutuskan hubungan.Pasangan suami istri Viandra tampak menua sepuluh tahun dalam semalam.Mereka mencoba menghubungi Erianna, tapi sia-sia.Dan orang yang paling panik di rumah besar itu adalah Selena.Orang tua dan kakaknya tiba-tiba berbalik melawannya, membuatnya tidak punya pilihan selain lari ke Devan."Kak Devan … kamu nggak menginginkanku lagi?"Selena berdiri tanpa alas kaki di pintu ruang kerja Devan. Dia mengenakan gaun tidur sutra putih, air mata mengalir di wajahnya seperti untaian mutiara yang putus.Dia tampak begitu menyedihkan, seperti yang telah dia lakukan berkali-kali sebelumnya.Tapi kali ini, Devan bahkan tidak mendongak.Dia menatap data intelijen yang padat di layar komputernya. Tanga

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 13

    Pulau Senturi. Pagi-pagi sekali.Erianna berdiri di dekat jendela super besar yang menjulang dari langit-langit, mengamati Jonathan berlatih menembak di landasan pribadi.Pria itu bertelanjang dada. Otot-otot di punggungnya menegang dan mengendur setiap kali menembak, setiap tembakan ditujukan untuk membunuh.Itu adalah kekuatan absolut, sesuatu yang belum pernah dimilikinya.Dia ingat hadiah gila yang diposting Devan di dark web tadi malam.Delapan miliar lebih hanya untuk petunjuk tentang keberadaannya."Apa yang sedang kamu pikirkan?"Jonathan kembali ke ruangan tanpa disadarinya.Dia membawa hawa dingin angin laut pagi dan aroma samar mesiu. Di tangannya, ada dua cangkir kopi panas."Kupikir aku mungkin terlalu mahal."Erianna mengambil kopi, senyum pahit terpatri di wajahnya.Tatapannya bertemu dengan tatapan Jonathan."Delapan miliar. Devan benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan aku kembali. Di rumah Keluarga Viandra, aku bahkan tidak bisa mendapatkan delapan juta untuk uan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status