Share

Bab 2

Author: Soda
Tiga hari kemudian, udara di ruang makan Vila Viandra yang luas terasa pengap hingga hampir membuat sesak napas.

Erianna duduk di ujung meja panjang yang mewah, tempat untuk orang-orang yang tidak diinginkan.

Wajah dan bibirnya pucat pasi, tanda anemia akibat kehilangan banyak darah.

Dia dan Selena baru saja keluar dari rumah sakit pagi ini.

Anggota keluarga lainnya bergegas masuk ke mobil yang sudah menunggu di sana dan pergi, meninggalkan Erianna hanya dengan sepeda sewaan.

Jika Devan tidak merasakan ada yang tidak beres dan kembali menjemputnya, dia mungkin tidak akan ada di sini untuk makan malam.

Namun, ketika mereka sampai di rumah, ibunya justru memarahinya karena tidak membawa hadiah sambutan untuk Selena karena sudah keluar dari rumah sakit.

Padahal dialah yang telah kehilangan banyak darah selama tiga hari.

Hatinya terasa sakit.

Dia ingin menjelaskan, tetapi keluarganya melanjutkan aktifitas mereka, duduk lalu makan. Jelas mengabaikannya.

Ayahnya berada di ujung meja, memotong steik setengah matangnya dengan sendok garpu perak.

Dia membentak, suaranya dingin, "Kenapa wajahmu murung?! Kita akan pergi ke Hamnon selama sebulan! Tempat itu penuh dengan selebriti papan atas! Jangan mencoreng marga Viandra dengan tingkah masammu!"

"Dia hanya iri karena Selena pulih dengan sangat baik dan bisa pergi ke pesta kapal pesiar," kata kakak laki-lakinya, Liam, sambil dengan lembut menuangkan segelas jus segar untuk Selena.

"Selena adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Beberapa orang memang ditakdirkan untuk menjadi sisa-sisa. Apa kamu belum sadar diri?"

Selena yang mengenakan gaun renda putih tampak rapuh dan menyedihkan.

Dia bersandar lemah di bahu Devan, suaranya pelan, "Kak Leo, jangan bicara gitu padanya. Ini salahku karena selalu sakit dan menghambat semua orang. Wajar jika Erianna merasa kesal."

Devan berbalik, mencoba menenangkan demi Erianna, "Sudahlah, Kakakmu hanya kelelahan." Lalu dia menatap Erianna, alisnya sedikit berkerut. "Bagaimana keadaanmu? Masih pusing?"

Di kehidupan sebelumnya, isyarat seperti itu akan sangat berarti baginya.

Namun sekarang, dia hanya dengan tenang mengatupkan bibirnya tanpa berkata apa-apa.

Pada saat itu, Devan menjentikkan jarinya.

"Untuk merayakan kesembuhan Selena, aku telah menyiapkan kejutan. Semoga kamu menyukainya!"

Detik berikutnya, para pelayan masuk membawa nampan berisi hidangan-hidangan mewah dan mahal.

Tiba-tiba, ruang makan dipenuhi aroma makanan laut yang kuat.

Lobster, kepiting raja, tiram, landak laut.

Semua hidangan laut kelas atas.

Erianna menatap tumpukan piring di depannya. Perutnya bergejolak hebat, tenggorokannya tercekat.

Dia alergi parah terhadap makanan laut. Jenis alergi yang dapat memicu pembengkakan tenggorokan, sesak napas dan syok.

Alerginya bukan rahasia di keluarga ini. Dia hampir meninggal sekali karena tidak sengaja memakannya hingga pengurus rumah tangga harus membawanya ke rumah sakit.

Tetapi semua anggota keluarganya bertindak seolah-olah mereka tidak menyadari dan sibuk mengurus Selena.

Ayah dan ibunya terus menumpuk makanan laut di piring Selena, jenis yang disukainya. Kakaknya dengan teliti mengupas lobster untuk Selena.

Kemudian, sepotong udang kupas tiba-tiba muncul di piring Erianna.

Erianna melirik Devan di sampingnya. Pria itu tersenyum, mengangguk memberi isyarat agar dia makan.

Dia tetap diam.

Di kehidupan sebelumnya, kehangatan palsu inilah yang mencegahnya untuk melepaskan diri.

Tetapi jika Devan benar-benar mencintainya, bagaimana mungkin pria itu tidak tahu tentang alergi makanan lautnya?

"Ada apa?" tanya ibunya dengan tidak sabar, menggoyangkan anggur merah di gelasnya.

"Ini makanan laut kelas atas yang diterbangkan Devan dari Bosvon untuk merayakan kesembuhan Selena. Kamu nggak tahu berapa harganya, 'kan? Jadi, jangan nggak tahu berterima kasih."

Erianna mendongak, menatap mata Devan, mencari secercah rasa bersalah.

"Aku alergi makanan laut," katanya dengan tenang.

Devan dengan santai mengupas udang, mencelupkannya ke dalam saus, dan memberikannya kepada Selena, tanpa menoleh.

"Ambil saja yang nggak bikin alergi. Ada asparagus juga di piring. Jangan terlalu pilih-pilih, Erianna. Selena baru saja kembali dari ambang kematian, tubuhnya membutuhkan protein. Semua orang memakluminya, jadi kamu seharusnya lebih pengertian. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri."

Ambil yang nggak bikin alergi?

Bahkan sayuran yang terkena air rebusan makanan laut pun bisa berakibat fatal.

Pria itu benar-benar tidak tahu atau dia tidak peduli apakah dia hidup atau mati?

"Dulu, aku akan mengira kamu mencoba membunuhku."

Erianna meletakkan pisau dan garpunya, logamnya berdenting di atas porselen.

Suaranya sangat tenang. "Tapi sekarang aku tahu kamu hanya nggak peduli. Di matamu, aku mungkin bahkan nggak seberharga sehelai rambut Selena pun."

Suasana di meja langsung membeku.

Mata Selena berkaca-kaca, air mata jatuh seperti untaian mutiara yang patah.

Dia menepis tangan Devan dan menangis dramatis. "Ini semua salahku …. Devan, kalau Erianna sangat nggak senang dan sangat membenci kita karena makan malam ini, aku nggak akan pergi ke pernikahanmu deh. Aku nggak mau Erianna membencimu selamanya karena aku."

Taktik mengalah untuk menang ini telah Selena gunakan berkali-kai dan selalu berhasil.

Ekspresi Devan langsung berubah gelap. Dia menggebrak meja dengan keras, menatap Erianna dengan tajam.

"Erianna! Lihat apa yang kamu lakukan pada adikmu! Minta maaf pada Selena sekarang juga! Kamu nggak boleh meninggalkan meja ini!"

Di masa lalunya, Erianna akan panik dan mencoba menjelaskan. Dia akan memohon maaf, bahkan mungkin menelan asparagus beracun hanya untuk menenangkan Devan.

Tapi sekarang?

Dia dengan tenang mengambil serbetnya lalu menyeka mulutnya dan berdiri. Kursi itu bergesekan pada lantai dengan keras.

"Nggak perlu."

Semua orang memperhatikannya, seolah menunggu permintaan maafnya.

Erianna menatap langsung ke mata Devan, mengucapkan setiap kata dengan jelas, "Kamu juga bisa membatalkan pernikahan. Aku nggak peduli."

Devan membeku. Kemarahan di matanya belum pudar, tetapi kebingungan yang belum pernah terlihat sebelumnya muncul.

Seolah-olah, untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa tunangan yang selalu lemah lembut dan patuh padanya adalah orang asing.

Selena jelas tidak menyangka Erianna akan mengatakan itu juga. Dia menggigit bibirnya dan bertanya dengan lemah, "Kakak … kamu nggak serius, 'kan? Ini pertunangan Keluarga Rendra. Bukankah kamu selalu bermimpi menikahi Devan?"

Erianna menatap mereka, seperti menonton sekelompok badut kikuk yang menampilkan drama kasar.

"Ya, sebelumnya aku memang buta. Tapi sekarang, aku nggak tertarik."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 18

    Selena belum mati.Kematian hanya akan menjadi belas kasih untuknya.Di tengah malam tanpa bulan, sebuah pesawat kargo hitam biasa lepas landas dari Nilona.Selena yang dibius dan diperlakukan seperti barang rusak, dilemparkan ke dalam ruang kargo.Dia dikirim ke rumah sakit jiwa di pedalaman Siburia.Sebuah tempat tanpa jendela, tanpa pengunjung, hanya dingin dan kesepian yang tak berujung.Bagi Selena yang pernah hidup dalam kehidupan mewah dan menyesap air mahal, itu adalah neraka yang jauh lebih buruk daripada jurang mana pun.Dia akan menghabiskan sisa hidupnya dalam dingin dan kegilaan yang tak berujung.Tapi itu bukanlah akhir dari perhitungannya.Sehari sebelum pemakaman Devan, Erianna ditemani Jonathan pergi ke Penjara Keamanan Maksimum Negara Bagian Nilona.Itu adalah kunjungan pertamanya dan terakhir ke orang tuanya.Setelah mereka bangkrut, musuh-musuh mereka bergerak untuk menghabisi mereka. Tak lama kemudian, mereka ditangkap atas berbagai tuduhan.Ruang kunjungan memilik

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 17

    Hari-hari tenang tidak pernah bertahan lama.Tepat ketika Erianna dan Jonathan sedang mempersiapkan pernikahan mereka, sebuah panggilan mendesak menghancurkan kedamaian."Bos, kita punya masalah. Selena Viandra melarikan diri dari fasilitas keamanan maksimum."Wajah Jonathan langsung berubah gelap.Tempat itu adalah benteng. Tidak mungkin Selena yang manja dan kekanak-kanakan itu bisa keluar tanpa bantuan dari dalam."Dan ...." Suara bawahannya bergetar di ujung telepon. "Dia menculik Devan Rendra.""Kami perkirakan dia akan segera menghubungi Nyonya."Jonathan mengerutkan kening, menatap mata Erianna.Tak lama kemudian, ponsel Erianna berdering. Itu adalah panggilan video terenkripsi.Video terhubung. Setelah beberapa saat rekaman yang goyah, latar belakang yang redup muncul.Itu adalah gereja yang terbengkalai, dikelilingi oleh puing-puing konstruksi.Devan diikat pada pilar batu dan berlumuran darah.Yang memegang telepon adalah Selena.Dia benar-benar sudah gila.Selena yang duluny

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 16

    Jet pribadi itu mendarat di lapangan terbang pribadi di Tusani, Utali.Ini adalah rumah leluhur Keluarga Tahir.Jika Jonathan adalah ketua mafia yang ditakuti di Nilona maka di sini, dia adalah raja sejati yang tak bermahkota.Iringan mobil itu melintasi kilo-kilo kebun anggur dan kebun zaitun, akhirnya berhenti di depan sebuah kastil abad pertengahan yang megah.Kastil itu berdiri di puncak gunung, menghadap seluruh dataran emas.Ratusan pelayan dan anggota keluarga berbaris untuk menyambut mereka. Skala dan kemegahan upacara itu jauh melampaui apa pun yang pernah disaksikan Erianna di Nilona.Bahkan Erianna yang telah membangun kepercayaan dirinya di Pulau Santuri, merasa pusing sekarang.Dia memandang kastil yang telah melewati badai selama berabad-abad, potret para patriark masa lalu yang tergantung di dinding, rasa rendah diri yang mendalam muncul di dalam dirinya.Dia adalah anak terlantar, dibesarkan untuk menjadi kantung darah.Apa dia benar-benar pantas mendapatkan semua ini?

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 15

    Badai di Pulau Santuri baru saja berlalu, udara dipenuhi aroma garam laut.Erianna duduk di teras kaca di tepi tebing, sedang melukis.Dia mengenakan gaun beludru berwarna merah anggur yang elegan, ujungnya bergelombang lembut tertiup angin laut, seperti mawar merah darah yang mekar di tepi tebing.Tepat saat itu, pintu lift terbuka.Devan keluar.Saat pandangannya tertuju pada Erianna, dia membeku.Dia belum pernah melihat Erianna seperti ini sebelumnya, bukan Erianna yang penurut, tetapi seorang ratu yang memancarkan kekuatan murni.Sebagai perbandingan, Devan tampak sangat berantakan.Dia telah mencari Erianna tanpa henti selama sebulan. Pewaris yang dulunya angkuh dari kalangan sosial Nilona itu kini tidak bercukur, matanya cekung dan merah karena kecemasan."Erianna …."Pria itu menyebut namanya, suaranya serak seolah tenggorokannya dipenuhi kerikil.Dia berjalan dua langkah ke depan tetapi dihentikan dengan oleh seorang pengawal di sampingnya."Tuan, Anda tidak boleh mendekat."N

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 14

    Kejatuhan Keluarga Viandra terus berlanjut.Sejak Devan mengalami krisis emosional malam itu, saham Grup Viandra telah anjlok dua kali dalam tiga hari.Penarikan investasi Keluarga Rendra adalah domino pertama yang memicu reaksi berantai.Bank mulai menarik pinjaman dan para mitra memutuskan hubungan.Pasangan suami istri Viandra tampak menua sepuluh tahun dalam semalam.Mereka mencoba menghubungi Erianna, tapi sia-sia.Dan orang yang paling panik di rumah besar itu adalah Selena.Orang tua dan kakaknya tiba-tiba berbalik melawannya, membuatnya tidak punya pilihan selain lari ke Devan."Kak Devan … kamu nggak menginginkanku lagi?"Selena berdiri tanpa alas kaki di pintu ruang kerja Devan. Dia mengenakan gaun tidur sutra putih, air mata mengalir di wajahnya seperti untaian mutiara yang putus.Dia tampak begitu menyedihkan, seperti yang telah dia lakukan berkali-kali sebelumnya.Tapi kali ini, Devan bahkan tidak mendongak.Dia menatap data intelijen yang padat di layar komputernya. Tanga

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 13

    Pulau Senturi. Pagi-pagi sekali.Erianna berdiri di dekat jendela super besar yang menjulang dari langit-langit, mengamati Jonathan berlatih menembak di landasan pribadi.Pria itu bertelanjang dada. Otot-otot di punggungnya menegang dan mengendur setiap kali menembak, setiap tembakan ditujukan untuk membunuh.Itu adalah kekuatan absolut, sesuatu yang belum pernah dimilikinya.Dia ingat hadiah gila yang diposting Devan di dark web tadi malam.Delapan miliar lebih hanya untuk petunjuk tentang keberadaannya."Apa yang sedang kamu pikirkan?"Jonathan kembali ke ruangan tanpa disadarinya.Dia membawa hawa dingin angin laut pagi dan aroma samar mesiu. Di tangannya, ada dua cangkir kopi panas."Kupikir aku mungkin terlalu mahal."Erianna mengambil kopi, senyum pahit terpatri di wajahnya.Tatapannya bertemu dengan tatapan Jonathan."Delapan miliar. Devan benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan aku kembali. Di rumah Keluarga Viandra, aku bahkan tidak bisa mendapatkan delapan juta untuk uan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status