LOGINMet Malam ReeFellows.... Terima kasih sudah sampai sini menemani Catelyn dan Ethan. Terima kasih juga buat limpahan GEMS dari kalian! Semoga dengan itu, buku ini bisa menyusul kakaknya, menangin event! Thanks to you all!! Luv you!
“Vincent!” Suara lain terdengar menyela.Gabriel dan Noah masuk tergesa-gesa, segera menahan bahu Vincent.“Cukup,” kata Gabriel tegas. “Jangan buat keributan. Yang terpenting sekarang, Catelyn sudah aman.”Noah mengangguk, menenangkan. “Kita semua sangat terkejut dengan kabar penculikan ini. Tapi jangan lakukan ini.”Catelyn yang semula membeku akhirnya bangkit. “Vince, Gab, Noah. Aku baik-baik saja,” katanya lirih. Tangannya terulur menyentuh lengan Vincent yang tampak bergetar.Vincent menoleh.Tatapan kerasnya runtuh seketika begitu bertemu mata adik perempuannya.Ia melangkah maju dan memeluk Catelyn erat—seolah takut adik perempuannya itu akan menghilang jika dilepas.Noah dan Gabriel ikut memeluk mereka.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh emosi.Setelah suasana mereda, Catelyn bertanya pelan, “Bagaimana kalian bisa ada d
Pagi belum sepenuhnya hadir. Cahaya fajar masih ragu-ragu menyelinap di balik tirai tipis, membiaskan warna pucat di dinding kamar.Catelyn terbaring menatap langit-langit, membiarkan detik-detik berjalan tanpa arah.Ia ingin tidur—sangat ingin—namun setiap kali kelopak matanya terpejam, bayangan malam kembali menghampiri, menyusup seperti bisikan dingin.Ia melirik jam di nakas. 05.57.Hampir enam.Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.Rasa gelisah yang semalaman menggigit kini memang sedikit mereda, namun jantungnya masih berdetak terlalu cepat untuk disebut tenang.Catelyn menarik selimut, berbalik miring menghadap balkon. Tirai bergoyang pelan, menyapa pagi yang belum sepenuhnya terjaga.Saat kelopak matanya kembali tertutup, terdengar ketukan lembut di pintu.Tok. Tok.Catelyn tersentak, segera duduk. “Siapa?” tanyanya, dengan suara serak karena terjaga semalaman.Ke
Dini hari menyelimuti Basalt dengan dingin yang merayap dari pegunungan. Rumah kayu keluarga Adams berdiri sunyi di antara pepohonan pinus, hanya diterangi lampu teras yang berpendar redup. Di dalam, keheningan pecah oleh derit papan lantai.Noah Adams terbangun.Ia mengerjap, mendengar langkah tergesa dari lantai bawah. Ada sesuatu dalam bunyi itu—terlalu cepat, terlalu tegang—yang membuatnya bangkit dari tempat tidur.Dengan langkah hati-hati, Noah membuka pintu kamar dan mengintip ke lorong.Di ruang tamu, Vincent sudah mengenakan jaket tebal.Wajahnya tampak keras, seperti seseorang yang telah membuat keputusan besar tanpa sempat memikirkannya panjang-panjang. Tangannya meraih kunci mobil di atas meja.“Vince?” Noah turun beberapa anak tangga. “Mau ke mana jam segini?”Vincent berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Keluar sebentar.”Nada singkat itu tidak meyakinkan siapa pun.
Lampu-lampu redup gudang itu menyapu kabut debu dan memperjelas satu pemandangan yang tak akan dilupakan oleh siapapun yang melihatnya malam itu. Dua pria berdiri gagah dengan tubuh lawan mereka terkapar tak berdaya di bawah.Ethan berdiri dengan mantel panjangnya yang masih berlumur debu dan darah musuh. Senyum ramahnya lenyap malam ini, digantikan oleh sorot mata membunuh.Di sampingnya, Arion Ellworth, berdiri dingin bagai patung granit.Kemeja hitamnya tak berkerut sedikit pun, tampan, dengan auranya yang nyaris membekukan.Tatapan iris kelabu menukik ke bawah, pada Derrick, pemimpin kelompok bawah tanah St. Louis, kini setengah sadar, darah mengucur dari pelipisnya.Arion menunduk, wajahnya tetap tenang, namun aura membunuhnya menusuk tulang siapa pun yang ada di sekitar.“Kelompok kecil seperti kalian... Berani-beraninya mengusik keluarga adik sepupuku?” Suaranya dalam, datar, namun mengandung ancaman yang menusuk ulu hati.
“Kau… Berani-beraninya―”Dorr! Dorr!!Kata-kata Derrick terhenti. Ekspresi terperanjat menghiasi wajahnya saat kepalanya berputar melihat adegan di depannya saat ini.Suara derap kaki memenuhi ruangan dan suara tembakan menggema bersahutan.Satu persatu anak buah Derrick tumbang dengan tragis oleh sekumpulan orang berseragam hitam-hitam yang memasuki ruangan besar itu.Tangan mereka memegang senjata api dengan daya bidik presisi dan mematikan, gerakan mereka begitu brutal, tanpa ampun, namun tetap terlihat terlatih.Sekejap saja, orang-orang berpakaian hitam itu tak menyisakan satu pun anak buah Derrick bisa tetap berdiri.“K-ka-kamu… Si-siapa—” Suara Derrick tercekat diantara amarah dan rasa dingin yang menyelinap ke jantungnya secara perlahan namun pasti.Ia ingin bangkit berdiri, namun tatapan tajam pria asing yang kini berdiri berhadapan dengannya serasa hendak melumpuhkan sendi-s
{Dear ReeFellows, mohon maaf memang ada kekhilafan dari author yakni dobel isi dalam Bab 197 dan Bab 199. Karena itu author melakukan perbaikan pada Bab 199 dan juga Bab 200. Jika berkenan, ReeFellows bisa membaca ulang dari Bab 199 tersebut. Silakan lanjut….}Kamar itu luas dan sunyi, dengan tirai tebal berwarna gelap yang menutup jendela-jendela tinggi. Lampu meja menyala temaram, memantulkan cahaya ke dinding berlapis kayu tua. Namun kemewahan ruang itu tak mampu menenangkan keresahan yang merambat di diri Catelyn.Ada satu denyut nyeri terasa di dadanya beberapa detik lalu, membuat Catelyn kian gelisah.Ia berdiri di dekat jendela, memeluk dirinya sendiri. Setiap detik terasa panjang, setiap tarikan napas terasa berat.Di luar, langkah para penjaga terdengar sesekali—ritmis, disiplin—mengingatkannya bahwa ia aman. Namun pikirannya menolak menerima kata itu.Aman, pikirnya getir.‘Bagaimana dengan Et







