Beranda / Rumah Tangga / Di Balik Senyum Palsu / bab 12 SUDAH TERLAMBAT MAS

Share

bab 12 SUDAH TERLAMBAT MAS

Penulis: Kasihrindu
last update Tanggal publikasi: 2026-03-16 22:27:06

"Tidak jangan begitu. Ini sisa uangnya," Arman merogoh saku celananya. menggenggam beberapa lembar uang 10 Ribuan dan 20 ribuan lalu menyodorkannya ke arah Devita.

"Ambil ini, tolong jangan pergi. Mas akan berangkat keliling jualan lagi. Mas janji tidak akan pulang jika dagangannya belum habis."

"Tidak usah. Uangnya buat kamu saja," Devita melangkah menghampiri Zidan dengan membawa tas besar ditangannya.

"Zidan. Ayo sayang kita jalan-jalan," ucap Devita sembari tersenyum. Zidan yang dari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Balik Senyum Palsu   13 MEMILIH JALAN TERAKHIR

    Arman membuka pintu kamar, ia mencari istrinya namun tidak menemukan keberadaannya di kamar tersebut. "Jadi apa yang dikatakan Susi barusan benar," gumam Arman," tubuhnya terasa lemah hingga tidak mampu berdiri tegap. Dia berjalan tertatih kemudian duduk ditepi kasur. Matanya menyapu seluruh ruangan dan mendapati jendela kamar yang jarang terbuka kini dibuka lebar. Dia baru menyadari jika istrinya Sampai nekad melewati jendela yang sempit demi bisa kabur. Arman semakin merasa tidak lagi ada harapan bagi rumah tangganya untuk bertahan."Tidak, istriku tidak mungkin meninggalkanku. aku masih sangat mencintainya. Dia pasti juga begitu, Aku yakin itu. Yah, dia pasti sedang mengujiku. Aku harus berusaha, berjuang memenuhi keinginannya. aku tidak boleh menyerah," gumam Arman mencoba menghibur dirinya sendiri. Tubuhnya yang tadi terasa lemah tiba-tiba saja kembali bertenaga. Ia merasa kembali bersemangat untuk mencari nafkah demi membuat Devita kembali. Arman belum juga menyadari jika bukan

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 12 SUDAH TERLAMBAT MAS

    "Tidak jangan begitu. Ini sisa uangnya," Arman merogoh saku celananya. menggenggam beberapa lembar uang 10 Ribuan dan 20 ribuan lalu menyodorkannya ke arah Devita. "Ambil ini, tolong jangan pergi. Mas akan berangkat keliling jualan lagi. Mas janji tidak akan pulang jika dagangannya belum habis." "Tidak usah. Uangnya buat kamu saja," Devita melangkah menghampiri Zidan dengan membawa tas besar ditangannya. "Zidan. Ayo sayang kita jalan-jalan," ucap Devita sembari tersenyum. Zidan yang dari tadi asik bermain sontak menoleh ke arah Devita. Dengan senyum mengembang Zidan berlari ke arah Devita. "Ayah ikut?" tanya Zidan dengan polosnya. "Tidak, ayah sibuk. Kita pergi berdua saja yah. Nanti kita naik bus," Devita berusaha tersenyum. Menahan rasa sedihnya. Sementara Arman terlihat mematung. Seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Istri yang menurutnya penurut sekarang mulai mengambil sikap sendiri. "Oh ya mas. Seperti katamu kemaren, lebih baik kamu bagikan daganga

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 11 TEKAD YANG BULAT

    Nadin berbalik badan. Kini Devita dan Nadin saling bertatapan. Tatapan mata Nadin tajam seperti tidak trima dengan perkataan Devita barusan. Tapi dia tidak bisa mengelak karena memang itu kenyataannya. Sementara Devita menatap Nadin sembari tersenyum, merasa puas karena ucapannya membuat Nadin tidak bisa berkutik. Nadin mendengus kesal. Dia melenggang pergi begitu saja dari hadapan Devita. "Hutangnya aku catat ya mbak?" teriak Devita sembari menatap kepergian kaka iparnya itu. Nadin sendiri terlihat mempercepat langkah kakinya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Devita lagi. Devita tersenyum getir melihat tingkah laku Nadin. Devita juga sudah menyadari uang 10 ribu tersebut pastinya akan sulit dia dapatkan dari kakak iparnya. "Dasar tidak punya malu," umpat Devita. Devita meraih tangan putranya lalu kembali melangkahkan kaki untuk pulang. Devita sudah sampai di depan rumahnya. Mata Devita membelalak saat melihat motor milik Arman terparkir di depan rumahnya. Devita sampai

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 10 LICIK ATAU PINTAR

    "Janganlah sus, pagi-pagi kok diutang nggak boleh katanya bisa matiin dagangan." ucap Devita mencari alasan. Padahal Devita sendiri tidak percaya dengan namanya mitos. Dia hanya malas jika berurusan uang dengan tetangganya itu. Susi meskipun orang kaya, tapi dia terkenal susah membayar hutang. Selalu ada aja alasan untuk tidak segera membayarnya. "Halah itu cuma mitos. Jangan percaya begituan nggak baik. Tapi gimana ya? aku bener-bener nggak ada uang kecil," ucap Susi memasang wajah bingungnya. "Yasudah bayar pake 100ribu aja, nanti kembaliannya aku balikin pas sudah balik keliling," ucap Devita. "Nggak ah. Uangnya mau aku pake buat belanja ke pasar makanya aku nggak sempet masak." "Yaudah kalau gitu kamu beli sayur matang di pasar aja, jangan ngutang ke aku. Nanti ujung-ujungnya kamu nggak bayar lagi karena uangnya habis buat belanja ke pasar." Devita berniat memasukkan kembali buntalan-buntalan sayur pilihan Susi ke dalam baskom. Namun dengan cepat Susi meraih semua plastik s

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 9 TIDAK TAHU MALU

    "Dasar pelit ya pelit ajalah. Pakai harus beli segala, padahal cuma minta satu. Sisa banyak harusnya di bagi ke tetangga biar berkah," terlihat Nadin(kakak ipar Devita) membagikan story wa miliknya. "Apa ini?" gumam Devita bertanya tanya dalam hati setelah melihat story wa milik Nadin. "Seharusnya aku tidak membacanya," Devita merasa menyesal, pikirannya jadi tidak tenang setelah membacanya. Dia ingin mengomentarinya tapi malas untuk ribut. Jika didiamkan Devita sendiri merasa tidak nyaman. "Mas, lihat deh! kakak ipar mu menyindirku lewat status wa," Devita mengerakkan lengannya, membangunkan Arman untuk menyampaikan keluh kesahnya. "Yaudah, abaikan saja," gumam Arman. Matanya masih tertutup rapat, hanya mulutnya yang berbicara itupun terdengar seperti orang yang sedang berkumur. "Ah kamu mah selalu mengabaikan segala hal," Devita melempar pelan ponselnya ke kasur bagian atas kepalanya. Devita menggeser tubuhnya hingga posisinya membelakangi Arman. "Trus mas harus apa?"

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 8 PANTANG MENYERAH

    "Kamu sadar apa yang kamu ucapkan barusan mas?" Devita meletakkan kedua tangannya ke pinggang dengan mata melotot. "Lalu bagaimana kamu mengembalikan modal yang kamu pinjam dari mertuamu dalam waktu sebulan. Coba sekarang jelaskan mas." "hehehhe aku cuma bercanda sayang. Hidup perlu bercanda jangan dibawa serius terus nanti setres," elak Arman sedikit menyunggingkan senyum setelah terkekeh. Padahal awalnya dia benar-benar ingin berhenti karena merasa tidak berbakat untuk berdagang. Tapi melihat reaksi istrinya tadi dia jadi mengurungkan niatnya dengan mengelak bahwa perkataannya tadi hanyalah bercandaan semata. "Ta da, kamu kena prank sayank," ucap Arman langsung berdiri lalu memeluk istrinya. Demi meyakinkan istrinya, Arman mencoba bersikap senatural mungkin. "Nggak lucu mas. Kamu hobi banget bikin aku kesal. Puas kamu, selalu bikin aku marah-marah. Nanti aku cepet tua kalau tiap hari kesal begini. Lihat sudah ada keriput di sini," gumam Devita masih di dalam pelukan suaminy

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 6 TERPAKSA PAKAI KEKERASAN

    "Kamu gila mas? astaga yaampun, duh Gusti Agung kulo nyuwun pangapunten(duh Gusti Agung saya minta maaf)," Devita spontan nyeletuk karena saking kagetnya. Kakinya tiba-tiba terasa lemas hingga tubuhnya hampir terhuyung jatuh kelantai, kalau saja saat itu Arman tidak sigap menangkap lengan Devita.

  • Di Balik Senyum Palsu   bab 7 SEPERTI DUGAANKU

    Devita terpaksa meninggalkan urusannya dengan Arman karena ada yang bertamu. Dia berjalan ke arah pintu sembari merapikan penampilannya yang agak berantakan. Sementara Arman terpaksa diam menunggu sembari berharap-harap cemas. "Astaga, sepertinya hari ini istriku salah makan," gumam Arman. Matanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status