Mag-log inDevita seorang wanita cantik dan baik hati, rela melepas karirnya demi menikah dengan pria tampan bernama Arman. Namum pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Arman yang tampaknya sempurna di mata orang lain, ternyata memiliki sifat egois dan tidak pengertian terhadap kebutuhan dan perasaan Devita. Selain itu Devita juga harus menghadapi ipar-iparnya, Rima dan Nadin yang tidak menyukainya dan selalu mencari cara untuk menyakitinya.
view moreArman membuka pintu kamar, ia mencari istrinya namun tidak menemukan keberadaannya di kamar tersebut. "Jadi apa yang dikatakan Susi barusan benar," gumam Arman," tubuhnya terasa lemah hingga tidak mampu berdiri tegap. Dia berjalan tertatih kemudian duduk ditepi kasur. Matanya menyapu seluruh ruangan dan mendapati jendela kamar yang jarang terbuka kini dibuka lebar. Dia baru menyadari jika istrinya Sampai nekad melewati jendela yang sempit demi bisa kabur. Arman semakin merasa tidak lagi ada harapan bagi rumah tangganya untuk bertahan."Tidak, istriku tidak mungkin meninggalkanku. aku masih sangat mencintainya. Dia pasti juga begitu, Aku yakin itu. Yah, dia pasti sedang mengujiku. Aku harus berusaha, berjuang memenuhi keinginannya. aku tidak boleh menyerah," gumam Arman mencoba menghibur dirinya sendiri. Tubuhnya yang tadi terasa lemah tiba-tiba saja kembali bertenaga. Ia merasa kembali bersemangat untuk mencari nafkah demi membuat Devita kembali. Arman belum juga menyadari jika bukan
"Tidak jangan begitu. Ini sisa uangnya," Arman merogoh saku celananya. menggenggam beberapa lembar uang 10 Ribuan dan 20 ribuan lalu menyodorkannya ke arah Devita. "Ambil ini, tolong jangan pergi. Mas akan berangkat keliling jualan lagi. Mas janji tidak akan pulang jika dagangannya belum habis." "Tidak usah. Uangnya buat kamu saja," Devita melangkah menghampiri Zidan dengan membawa tas besar ditangannya. "Zidan. Ayo sayang kita jalan-jalan," ucap Devita sembari tersenyum. Zidan yang dari tadi asik bermain sontak menoleh ke arah Devita. Dengan senyum mengembang Zidan berlari ke arah Devita. "Ayah ikut?" tanya Zidan dengan polosnya. "Tidak, ayah sibuk. Kita pergi berdua saja yah. Nanti kita naik bus," Devita berusaha tersenyum. Menahan rasa sedihnya. Sementara Arman terlihat mematung. Seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Istri yang menurutnya penurut sekarang mulai mengambil sikap sendiri. "Oh ya mas. Seperti katamu kemaren, lebih baik kamu bagikan daganga
Nadin berbalik badan. Kini Devita dan Nadin saling bertatapan. Tatapan mata Nadin tajam seperti tidak trima dengan perkataan Devita barusan. Tapi dia tidak bisa mengelak karena memang itu kenyataannya. Sementara Devita menatap Nadin sembari tersenyum, merasa puas karena ucapannya membuat Nadin tidak bisa berkutik. Nadin mendengus kesal. Dia melenggang pergi begitu saja dari hadapan Devita. "Hutangnya aku catat ya mbak?" teriak Devita sembari menatap kepergian kaka iparnya itu. Nadin sendiri terlihat mempercepat langkah kakinya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Devita lagi. Devita tersenyum getir melihat tingkah laku Nadin. Devita juga sudah menyadari uang 10 ribu tersebut pastinya akan sulit dia dapatkan dari kakak iparnya. "Dasar tidak punya malu," umpat Devita. Devita meraih tangan putranya lalu kembali melangkahkan kaki untuk pulang. Devita sudah sampai di depan rumahnya. Mata Devita membelalak saat melihat motor milik Arman terparkir di depan rumahnya. Devita sampai
"Janganlah sus, pagi-pagi kok diutang nggak boleh katanya bisa matiin dagangan." ucap Devita mencari alasan. Padahal Devita sendiri tidak percaya dengan namanya mitos. Dia hanya malas jika berurusan uang dengan tetangganya itu. Susi meskipun orang kaya, tapi dia terkenal susah membayar hutang. Selalu ada aja alasan untuk tidak segera membayarnya. "Halah itu cuma mitos. Jangan percaya begituan nggak baik. Tapi gimana ya? aku bener-bener nggak ada uang kecil," ucap Susi memasang wajah bingungnya. "Yasudah bayar pake 100ribu aja, nanti kembaliannya aku balikin pas sudah balik keliling," ucap Devita. "Nggak ah. Uangnya mau aku pake buat belanja ke pasar makanya aku nggak sempet masak." "Yaudah kalau gitu kamu beli sayur matang di pasar aja, jangan ngutang ke aku. Nanti ujung-ujungnya kamu nggak bayar lagi karena uangnya habis buat belanja ke pasar." Devita berniat memasukkan kembali buntalan-buntalan sayur pilihan Susi ke dalam baskom. Namun dengan cepat Susi meraih semua plastik s
Krek, terdengar suara pintu ruang tamu di buka. Devita yang tengah sibuk dengan pekerjaan dapur spontan menoleh ke arah suara. Terlihat Arman masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu. Raut wajah Arman terlihat lelah dan lesu. Devita mematikan kompor lalu berjalan untuk menghampiri suaminya. S
Devita sedang berbaring di sebelah putranya saat Arman masuk ke dalam kamar. Senyum mengembang terlihat jelas dari wajah Arman. Kebisingan hujan yang sedari tadi menemani cekcok kecil keluarga mereka kini sudah benar benar mereda. "Ini ponselnya," ucap Arman mengulurkan ponsel ke arah Devita. D
"Nggak! Urusan nafkah itu kewajiban suami. Lagian mau kerja di mana kamu?" raut wajah Arman terlihat menegang. "Di tempat kerja aku dulu. Kebetulan ada lowongan, dan temen aku...," Devita belum sempat menyelesaikan ucapannya saat Arman menyela. "Ah bilang saja kamu ingin ketemu mantan kekasihm
Sementara Arman masih berdiri di tempat. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja Dia dengar dari ucapan istrinya tadi. Seketika kakinya terasa lemas hingga tidak lagi mampu menopang tubuh tinggi, kekarnya. Dia tidak menyangka jika kata cerai akan semudah itu keluar dari mulut Devita. Ar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.