LOGINDevita seorang wanita cantik dan baik hati, rela melepas karirnya demi menikah dengan pria tampan bernama Arman. Namum pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Arman yang tampaknya sempurna di mata orang lain, ternyata memiliki sifat egois dan tidak pengertian terhadap kebutuhan dan perasaan Devita. Selain itu Devita juga harus menghadapi ipar-iparnya, Rima dan Nadin yang tidak menyukainya dan selalu mencari cara untuk menyakitinya.
View MoreKrek, terdengar suara pintu ruang tamu di buka. Devita yang tengah sibuk dengan pekerjaan dapur spontan menoleh ke arah suara. Terlihat Arman masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu. Raut wajah Arman terlihat lelah dan lesu.
Devita mematikan kompor lalu berjalan untuk menghampiri suaminya. Seperti biasa Devita tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Arman untuk menyambutnya. Setelahnya mengambil tas slempang berwana hitam dari pundak Arman. "Lelah ya mas? sebentar, aku buatkan minum dulu," ucap Devita langsung berlalu menuju dapur. Sedangkan Arman melangkah ke arah kursi berwana coklat tua yang tersusun rapi di ruang tamu. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi sembari menghembuskan napas panjang. Matanya tertuju pada satu titik di atas meja. Terlihat genangan air di sebelah cangkir plastik berwarna biru muda. "Astaga, apa saja yang di lakukan vita di rumah," gumam Arman. Lagi lagi dia menghembuskan napas panjangnya. Arman berasal dari keluarga broken home. Ayahnya penganut patriarki, di mana seorang laki laki memiliki kekuasaan dan dominasi atas perempuan. Terutama pada wanita yang sudah di nikahi nya. Arman selalu berpikir jika dirinya hanya perlu bekerja kemudian mendapatkan pelayanan yang sempurna dari istrinya, urusan rumah dan anak semuanya tugas istri. Dari awal menikah Arman sama sekali tidak pernah membantu istrinya untuk urusan rumah, bahkan membantu menemani anaknya bermain saja bisa di bilang sangat jarang. "Ini mas minumannya," ucap Devita sembari meletakkan cangkir berisi teh manis hangat ke atas meja. Devita tidak lupa melemparkan senyum ke arah suaminya. Devita melangkahkan kaki berniat untuk melanjutkan pekerjaaan di dapur, namun Arman menghentikan langkahnya. "Tunggu!" "Iya mas, mas Arman butuh apa lagi, biar aku ambilkan." ucap Devita sembari tersenyum. "Kamu di rumah hanya malas malasan kan?" Arman meraih cangkir yang ada di atas meja untuk meminumnya. "Apa mas?" senyum manis Devita seketika sirna saat mendapatkan pertanyaan yang menusuk dari suaminya. "Itu, kenapa berantakan seperti itu. Belum yang di sana, mainan berantakan di mana mana. Sudah macam kaya kapal pecah saja," gerutu Arman. Kini dia meletakkan cangkir ke atas meja kembali. "Kenapa ini tehnya panas sekali?" Arman kembali menggerutu, padahal Devita belum sempat membela diri kenapa rumahnya berantakan. "Maaf mas, minumnya biar aku ganti," Devita berjalan ke arah meja untuk mengambil cangkir. "Tidak usah. Tidak jadi minum, mas mau mandi saja. Cepat kamu bereskan semua yang berantakan itu, mas pusing melihatnya," ucap Arman kemudian berlalu meninggalkan Devita yang masih berdiri di ruang tamu. "Aku istrimu mas bukan pembantu yang bisa kamu suruh suruh seenaknya begitu. Kalau kamu pusing bantuin donk. Pegang anak aja ngak mau, mau enaknya aja kamu," rasanya hati Devita ingin sekali berteriak seperti tadi. Tapi dia masih menahan diri mengingat anaknya yang belum lama tidur. Devita takut akan menimbulkan pertengkaran, lalu anaknya terbangun ujung-ujungnya Devita juga yang akan repot. Devita duduk di sudut kursi ruang tamu. Alih-alih melakukan apa yang di perintahkan oleh Arman, Devita justru duduk santai sambil menikmati teh hangat yang tadi dia buatkan untuk suaminya. Sore itu, dIa bermaksud santai sejenak untuk melepas lelah setelah seharian bergelut dengan pekerjaan rumah yang tidak akan ada habisnya. Namun Devita merasa sakit hati setelah tadi di tuduh Arman hanya berleha-leha di rumah. Untuk itu dia berniat mengabulkan tuduhan Arman tadi. Setelah meminum habis teh buatannya, Devita beranjak dari duduknya. Dia masuk ke dalam kamar setelah meletakkan cangkir ke wastafel. Sedangkan cangkir warna biru muda bekas anaknya minum, beserta tumpahan air minum yang ada di meja ruang tamu ia biarkan begitu saja. Devita mengambil ponsel kemudian rebahan di samping anaknya yang masih tertidur pulas. "Astaga Vitaaaaaaa," teriakan Arman menggema di dalam rumah. Matanya menyapu ke seluruh ruangan yang masih terlihat berantakan. "Apa sih mas," jawab Vita masih dengan suara yang terdengar tenang dan juga pelan. Tangannya menepuk-nepuk lembut dada Zidan yang sempat membuka mata karena kaget mendengar suara teriakan ayahnya. Arman berjalan penuh Amarah ke arah Devita. Tiba tiba dia meraih lengan Devita, menyeretnya dengan kasar ke ruang tengah. "Kenapa masih berantakan? Cepat bersihkan! Malah enak enakan rebahan," ucap Arman dengan mata melotot. Sementara tangan Arman masih mencengkeram tangan Devita dengan erat. "Ahhhh. sakit mas," ucap Devita meringis kesakitan sembari mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya. "Aku lelah pulang kerja. Lihat rumah seperti kapal pecah, lihat kamu berantakan. Yaampun kepalaku yang pusing karena mikirin.........," Arman tiba tiba berhenti bicara lalu melepaskan genggaman tangannya, dia menatap wajah Devita lekat. "Mikirin apa mas? kamu cuma bisa mikirin diri sendiri. Apa kamu pernah mikirin aku sama anakmu. Dia ingin bermain sama kamu tapi kamu sibuk pegang ponsel saat di rumah. Aku juga capek ngurusin anak sama rumah tapi kamu nggak pernah kan mikirin itu? kamu cuma bisa marah-marah saat pulang kerja lihat rumah berantakan" akhirnya Devita lepas kendali. Dia mengutarakan semua yang mengganjal hatinya selama ini dengan bersuara keras. Plakkkkkkkkk "Berani sekali kamu berteriak pada suamimu," tangan Arman melayang di pipi Devita. Sembari memegang pipi bekas tamparan suaminya, Devita menatap dengan tatapan tidak percaya. Air matanya seketika memaksa keluar. DIa seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan Arman padanya. Baru kali ini dia diperlakukan kasar oleh Arman hanya karena menuntut hak agar lebih di perhatikan. Tidak hanya pipinya yang terasa perih namun hati Devita jauh lebih terasa perih. Padahal Devita sudah berusaha keras menjadi seorang istri dan ibu yang baik dengan melepaskan karirnya. "Mas, aku mau pisah. Mari kita bercerai," ucap Devita setelah sejenak terdiam. Devita langsung berlari ke kamar, menutup pintu lalu menguncinya. Devita duduk memeluk kedua lututnya, punggungnya bersandar ke pintu. DIa menangis tersedu-sedu merasakan sakit di hatinya . Sesekali melihat ke arah Zidan yang masih tertidur lelap. Devita tidak ingin jika anaknya melihat dirinya yang sedang rapuh.Arman membuka pintu kamar, ia mencari istrinya namun tidak menemukan keberadaannya di kamar tersebut. "Jadi apa yang dikatakan Susi barusan benar," gumam Arman," tubuhnya terasa lemah hingga tidak mampu berdiri tegap. Dia berjalan tertatih kemudian duduk ditepi kasur. Matanya menyapu seluruh ruangan dan mendapati jendela kamar yang jarang terbuka kini dibuka lebar. Dia baru menyadari jika istrinya Sampai nekad melewati jendela yang sempit demi bisa kabur. Arman semakin merasa tidak lagi ada harapan bagi rumah tangganya untuk bertahan."Tidak, istriku tidak mungkin meninggalkanku. aku masih sangat mencintainya. Dia pasti juga begitu, Aku yakin itu. Yah, dia pasti sedang mengujiku. Aku harus berusaha, berjuang memenuhi keinginannya. aku tidak boleh menyerah," gumam Arman mencoba menghibur dirinya sendiri. Tubuhnya yang tadi terasa lemah tiba-tiba saja kembali bertenaga. Ia merasa kembali bersemangat untuk mencari nafkah demi membuat Devita kembali. Arman belum juga menyadari jika bukan
"Tidak jangan begitu. Ini sisa uangnya," Arman merogoh saku celananya. menggenggam beberapa lembar uang 10 Ribuan dan 20 ribuan lalu menyodorkannya ke arah Devita. "Ambil ini, tolong jangan pergi. Mas akan berangkat keliling jualan lagi. Mas janji tidak akan pulang jika dagangannya belum habis." "Tidak usah. Uangnya buat kamu saja," Devita melangkah menghampiri Zidan dengan membawa tas besar ditangannya. "Zidan. Ayo sayang kita jalan-jalan," ucap Devita sembari tersenyum. Zidan yang dari tadi asik bermain sontak menoleh ke arah Devita. Dengan senyum mengembang Zidan berlari ke arah Devita. "Ayah ikut?" tanya Zidan dengan polosnya. "Tidak, ayah sibuk. Kita pergi berdua saja yah. Nanti kita naik bus," Devita berusaha tersenyum. Menahan rasa sedihnya. Sementara Arman terlihat mematung. Seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Istri yang menurutnya penurut sekarang mulai mengambil sikap sendiri. "Oh ya mas. Seperti katamu kemaren, lebih baik kamu bagikan daganga
Nadin berbalik badan. Kini Devita dan Nadin saling bertatapan. Tatapan mata Nadin tajam seperti tidak trima dengan perkataan Devita barusan. Tapi dia tidak bisa mengelak karena memang itu kenyataannya. Sementara Devita menatap Nadin sembari tersenyum, merasa puas karena ucapannya membuat Nadin tidak bisa berkutik. Nadin mendengus kesal. Dia melenggang pergi begitu saja dari hadapan Devita. "Hutangnya aku catat ya mbak?" teriak Devita sembari menatap kepergian kaka iparnya itu. Nadin sendiri terlihat mempercepat langkah kakinya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Devita lagi. Devita tersenyum getir melihat tingkah laku Nadin. Devita juga sudah menyadari uang 10 ribu tersebut pastinya akan sulit dia dapatkan dari kakak iparnya. "Dasar tidak punya malu," umpat Devita. Devita meraih tangan putranya lalu kembali melangkahkan kaki untuk pulang. Devita sudah sampai di depan rumahnya. Mata Devita membelalak saat melihat motor milik Arman terparkir di depan rumahnya. Devita sampai
"Janganlah sus, pagi-pagi kok diutang nggak boleh katanya bisa matiin dagangan." ucap Devita mencari alasan. Padahal Devita sendiri tidak percaya dengan namanya mitos. Dia hanya malas jika berurusan uang dengan tetangganya itu. Susi meskipun orang kaya, tapi dia terkenal susah membayar hutang. Selalu ada aja alasan untuk tidak segera membayarnya. "Halah itu cuma mitos. Jangan percaya begituan nggak baik. Tapi gimana ya? aku bener-bener nggak ada uang kecil," ucap Susi memasang wajah bingungnya. "Yasudah bayar pake 100ribu aja, nanti kembaliannya aku balikin pas sudah balik keliling," ucap Devita. "Nggak ah. Uangnya mau aku pake buat belanja ke pasar makanya aku nggak sempet masak." "Yaudah kalau gitu kamu beli sayur matang di pasar aja, jangan ngutang ke aku. Nanti ujung-ujungnya kamu nggak bayar lagi karena uangnya habis buat belanja ke pasar." Devita berniat memasukkan kembali buntalan-buntalan sayur pilihan Susi ke dalam baskom. Namun dengan cepat Susi meraih semua plastik s
"Dasar pelit ya pelit ajalah. Pakai harus beli segala, padahal cuma minta satu. Sisa banyak harusnya di bagi ke tetangga biar berkah," terlihat Nadin(kakak ipar Devita) membagikan story wa miliknya. "Apa ini?" gumam Devita bertanya tanya dalam hati setelah melihat story wa milik Nadin. "Seharusn
"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan barusan mas?" Devita meletakkan kedua tangannya ke pinggang dengan mata melotot. "Lalu bagaimana kamu mengembalikan modal yang kamu pinjam dari mertuamu dalam waktu sebulan. Coba sekarang jelaskan mas." "hehehhe aku cuma bercanda sayang. Hidup perlu bercanda jan
Devita terpaksa meninggalkan urusannya dengan Arman karena ada yang bertamu. Dia berjalan ke arah pintu sembari merapikan penampilannya yang agak berantakan. Sementara Arman terpaksa diam menunggu sembari berharap-harap cemas. "Astaga, sepertinya hari ini istriku salah makan," gumam Arman. Matanya
"Kamu gila mas? astaga yaampun, duh Gusti Agung kulo nyuwun pangapunten(duh Gusti Agung saya minta maaf)," Devita spontan nyeletuk karena saking kagetnya. Kakinya tiba-tiba terasa lemas hingga tubuhnya hampir terhuyung jatuh kelantai, kalau saja saat itu Arman tidak sigap menangkap lengan Devita.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.