Masuk"Mantan tunangan?" gumam Lucia di dalam hati. Ingatan lama tiba-tiba memenuhi kepalanya. Potongan berita lama dan sampul majalah fashion. Nama Margarita Sanz dan Daniel DeLaLuca tersenyum di bawah judul besar tentang pertunangan elite dunia mode dan bisnis. "Pantas saja," gumam Lucia tanpa sadar. Valeria menoleh cepat. "Pantas saja apa?" Lucia mendekatkan tubuhnya dan merendahkan suara. "Val, aku baru ingat. Dulu beberapa tahun lalu, nama Margarita Sanz sering muncul di majalah bersama Daniel DeLaLuca. Mereka pernah mengumumkan pertunangan." Valeria membeku. "Apa?" "Iya. Aku tidak ingat detailnya, tapi berita itu cukup besar waktu itu. Dunia fashion dan bisnis heboh," lanjut Lucia dan matanya masih terpaku ke arah Margarita dan Daniel yang kini berbincang akrab dengan beberapa tamu penting. Valeria menatap mereka dan dadanya terasa berat. "Kalau begitu kenapa mereka putus?" Lucia menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tidak pernah ada penjelasan resmi dan setelah itu nama mereka s
Beberapa hari kemudian, malam yang dinanti itu akhirnya tiba. Gedung Sanz Management berdiri megah di tengah kota dengan bermandikan cahaya lampu kristal yang memantul di dinding kaca tinggi. Karpet merah terbentang dari pintu masuk, sementara kilatan kamera dan suara tawa telah memenuhi ruangan pesta. Musik lembut mengalun, elegan dan eksklusif tepat seperti citra Margarita Sanz. Valeria melangkah masuk bersama Lucia. Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan bersih dan rambutnya disanggul rapi cukup untuk membuat banyak kepala menoleh. Lucia di sampingnya tampak gugup sekaligus antusias dan sorot matanya bergerak ke segala arah. "Val, ini gila. Ini benar-benar level atas," bisik Lucia. Valeria tersenyum tipis. "Tenanglah! Kita tamu undangan, ingat?" Belum sempat mereka melangkah lebih jauh lagi masuk ke dalam ruangan pesta, tiba-tiba seorang wanita bergaun merah marun dengan aura percaya diri langsung mendekat. "Nona Duarte." Margarita tersenyum lebar, tulus dan hanga
Menjelang malam, butik mulai lengang. Cahaya lampu gantung menyinari kain-kain yang tergantung rapi seolah ikut beristirahat setelah hari yang panjang. Valeria berdiri di depan kasir sedang menghitung ulang laporan penjualan dan sementara Lucia mematikan lampu di beberapa sudut ruangan. "Aku tutup pintu depan, ya," ujar Lucia sambil meraih kunci. Valeria mengangguk. Ia baru saja hendak merapikan ponselnya ke dalam tas ketika layar itu menyala. Satu pesan masuk dari nomor yang belum lama ia simpan. Ia mengernyit ringan, lalu membuka pesan itu. Margarita: Nona Valeria Duarte, aku akan mengadakan acara pembukaan resmi Sanz Management akhir pekan ini.Saya akan senang jika Anda bisa hadir dan Anda boleh membawa satu teman. Valeria membaca ulang pesan itu dua kali. Ia menghela napas pelan dan perasaannya campur aduk antara heran dan waspada. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengangkat ponsel dan menunjukkannya pada Lucia yang baru kembali dari pintu depan. Lucia membaca cepat, lalu ma
Lucia masih memandangi pintu butik beberapa detik setelah wanita itu menghilang di balik kaca etalase. "Margarita Sanz," ulangnya pelan seolah nama itu bisa tiba-tiba memberi jawaban sendiri. Valeria mengangkat bahu ringan. "Mungkin klien lama? Atau sosialita yang sering muncul di majalah?" Lucia menggeleng pelan. "Mungkin saja." Valeria tidak menanggapi. Ia kembali merapikan gaun-gaun di rak dan berusaha menyingkirkan perasaan tidak nyaman yang entah sejak kapan muncul. *** Di sisi lain kota di lantai atas sebuah gedung kaca modern yang dipenuhi cahaya sore. Logo besar sebuah agensi model ternama terpampang di dinding, Sanz Management. Margarita melangkah masuk ke ruang kerjanya sendiri. Ruangan luas dengan jendela-jendela tinggi, meja marmer putih, dan foto-foto kampanye fashion internasional terpajang rapi sebagian besar menampilkan dirinya di masa lalu. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu berdiri di depan jendela, memandangi kota dari ketinggian. "Jadi itu Valeria," batin
Alejandro terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Tatapannya tetap tenang, meski rahangnya sedikit mengeras."Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Valeria."Margarita mengangkat alis seolah menimbang jawaban itu, lalu ia tersenyum kecil, senyum yang terlalu terlatih untuk sekadar sopan."Oh?" katanya ringan. "Kalau tidak salah dia calon istri pria yang bertabrakan denganmu, kan? Aku mengikuti beritanya dan kamu hampir di penjara gara-gara itu."Alejandro mengangguk singkat. "Iya.""Menarik," gumam Margarita, lalu berjalan lebih dekat ke meja. "Media memang selalu membesar-besarkan segalanya."Ia terdiam sejenak, lalu nada suaranya berubah lebih lembut. "Daniel, aku minta maaf."Alejandro menatapnya, kali ini lebih waspada. "Untuk apa?""Aku tidak datang selama kamu di rumah sakit. Aku tahu seharusnya aku ada di sana." Ia menghela napas pelan. "Tapi aku sedang di London. Kontrak iklan, pemotretan, dan jadwal yang gila. Aku baru tahu kondisimu benar-benar membaik setelah semuanya se
Butik kembali hidup seperti biasa. Musik lembut mengalun, mesin jahit berdengung halus di sudut ruangan, dan Valeria memaksa dirinya fokus memeriksa pesanan pelanggan. Ia menyetrika gaun satin sambil menghela napas pelan dan berusaha mengusir sisa pusing dan rasa malu. Lucia sibuk di meja kasir sesekali memotret detail gaun untuk katalog daring butik.Tiba-tiba Lucia terdiam. Jemarinya berhenti menggulir layar ponsel dan wajahnya berubah pucat."Val," suaranya bergetar. "Kamu harus lihat ini. Sekarang!"Valeria menoleh dan jantungnya berdebar tanpa alasan jelas. Lucia mendekat dan menyorongkan ponselnya. Di layar terpampang foto yang terlalu jelas untuk disangkal. Valeria dan Daniel DeLaLuca berciuman di depan sebuah bar dan lampu neon membingkai siluet mereka. Waktu unggah pagi ini. Akun gosip kota. Valeria tertegun dan darahnya terasa surut. "Itu ...." suaranya hilang. Lucia menekan kolom komentar dan deretan reaksi bermunculan.@wowcitytalk: WOW. Daniel DeLaLuca punya kekasih baru







