Home / Romansa / Di Balik Wajah Sang Miliuner / Bab 4. Kembali Untuk menempati Janji

Share

Bab 4. Kembali Untuk menempati Janji

Author: Miarosa
last update Huling Na-update: 2025-11-09 11:09:42

Setelah Daniel sadar dari komanya, ia dipindahkan ke ruang VVIP. Ruangan itu sangat luas dengan dinding yang putih bersih dan tercium bau aroma antiseptik samar yang menyelimuti udara. Tirai putih bergoyang pelan, karena angin sore yang masuk melalui jendela besar.

Alejandro duduk di ranjang rumah sakit dan menatap bayangan wajah asingnya di kaca. Setiap kali ia melihat pantulan wajah barunya itu, dada Alejandro terasa sesak dan ia masih belum terbiasa kalau sekarang ia telah menjadi Daniel. Ia masih berusaha beradaptasi dengan identitas barunya itu dan yang membuat ia tidak mengerti kenapa harus berada di tubuh pria yang telah menabrak dan membunuhnya.

Namun sebelum ia sempat pikirannya larut lebih jauh, pintu ruangan terbuka. Suara langkah cepat terdengar bersamaan dengan panggilan tertahan.

"Daniel ...."

Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tegas dan sedikit terburu-buru, namun wajahnya penuh emosi. Di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya menahan tangisnya dan di belakang mereka, seorang gadis muda berlari kecil dan langsung menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar keras.

"Ayah, ibu, dan adiknya Daniel," batin Alejandro.

Alejandro menegakkan tubuhnya dengan spontan dan tidak tahu apa yang harus ia katakan. Potongan-potongan kenangan samar yang bukan miliknya melintas di benaknya menyerupai momen singkat seperti gambar buram. Seorang ayah yang menepuk bahu anaknya, seorang ibu yang memeluknya, dan tawa adik perempuan yang memanggil "Kak Danny!" Semuanya terasa jauh, tapi terlihat nyata.

"Ayah ...." suara itu keluar refleks dari bibirnya dan membuat ayah Daniel langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ya Tuhan! Kamu sudah sadar." Sang ayah cepat-cepat mendekat dan memeluknya sangat erat. "Kami hampir kehilanganmu."

Alejandro terpaku. Pelukan itu sangat nyata, hangat, dan menyakitkan pada waktu yang sama.

Sang ibu mengelus rambutnya dengan sangat lembut sambil menangis.

"Kamu membuat Ibu takut setengah mati, Daniel. Dokter bilang kamu mungkin tidak akan bangun lagi. Ini suatu keajaiban."

Adiknya, Camila, mendekat dengan senyum gemetar. "Kak, akhirnya …."

Alejandro mencoba membalas pelukan mereka, tapi rasa bersalah menyelimutinya.

"Aku bukan Daniel," batinnya lirih.

Namun ia tak sanggup mengatakannya pada mereka dan membuat mereka kembali bersedih. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa jiwa pria yang mereka peluk sekarang bukan anak mereka? Bahwa tubuh ini hanyalah wadah dan roh putra mereka sedang tertidur sangat dalam.

Ia hanya berusaha menenangkan suaranya. "Maaf, aku sudah membuat kalian cemas."

Sang ayah tersenyum penuh haru. "Yang terpenting kamu kembali. Itu sudah cukup bagi kami."

Ketiganya akhirnya duduk di sisi ranjang dan berbicara pelan tentang kabar keluarga, rumah, dan bisnis. Alejandro hanya mendengarkan, pura-pura paham, dan sesekali tersenyum ketika mereka menatapnya dengan penuh kasih sayang.

Namun di dalam hatinya, Alejandro berperang dengan dirinya sendiri. Setiap tawa dan tatapan cinta dari keluarga Delaluca adalah pengingat bahwa tubuh ini bukanlah miliknya. Ia hanya menumpang dan mencuri hidup orang lain demi menepati janji yang belum selesai, yaitu untuk menjaga Valeria.

Ketika mereka akhirnya pamit, ibunya mencium keningnya dengan sangat lembut. "Istirahatlah, Sayang! Kami akan datang besok pagi."

Begitu pintu ruangan tertutup, Alejandro memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang.

"Daniel Delaluca," gumamnya pelan. "Aku akan menjaga keluargamu seperti aku berjanji menjaga Valeria, meskipun kamu penyebab kematianku. Sungguh beruntungnya dirimu memiliki keluarga yang penuh cinta kasih tidak seperti keluargaku."

Ia menatap keluar jendela ke langit sore yang mulai memerah di ufuk barat.

"Valeria, aku kembali untukmu meskipun dalam tubuh orang yang mungkin akan kamu benci," bisiknya lirih.

Di luar sana tanpa ia tahu, Valeria tengah melangkah menuju rumah sakit dengan amarah yang belum padam dan air mata yang belum kering.

Di tangannya tergenggam erat selembar surat pemberitahuan dari rumah sakit San Felipe yang berisi berita bahwa pelaku kecelakaan yang menewaskan Alejandro Ramirez akhirnya sadar dari koma.

Langkahnya sangat cepat, hampir tergesa-gesa, dan tumit sepatunya menekan lantai marmer rumah sakit dengan bunyi yang menggema. Jantungnya berdebar dengan keras antara amarah dan luka yang belum sempat sembuh. Bagaimana bisa dia hidup, sementara itu Alejandro-ku sudah pergi selamanya? pikirnya dengan dada sesak.

Perawat di meja resepsionis menatapnya gugup ketika Valeria datang menghampiri.

Raut wajah Valeria nampak dingin. "Di mana ruangan Daniel Delaluca?"

"Ruang VVIP nomor 12, lantai tiga, tapi ...."

Tanpa menunggu perawat selesai bicara, Valeria sudah melangkah cepat masuk ke dalam lift.

Sementara itu di ruangan VVIP, Alejandro sedang memejamkan mata dan mencoba merasakan denyut kehidupan yang sekarang bukan miliknya, tapi ketenangan sesaatnya itu hancur ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka keras.

Suara itu membuat Alejandro tersentak kaget. Ia menoleh dan pandangannya langsung membeku.

Valeria berdiri di ambang pintu dan wajahnya terlihat pucat, namun matanya menyala oleh amarah.

Alejandro ingin berbicara kepadanya bahwa ia begitu merindukannya dan ingin mengatakan namanya, namun suaranya tertahan di tenggorokan.

"Jadi ini kamu ...."ucap Valeria dingin dan suaranya bergetar oleh emosi yang ditahan mati-matian. "Pria yang sudah membuat Alejandro meninggal."

Alejandro menatapnya begitu lama dan dadanya terasa nyeri mendengar nama itu dari bibir yang begitu dirindukannya.

“Valeria…” ucapnya lirih dan nyaris tanpa suara.

Namun bagi Valeria, nada lembut itu justru seperti penghinaan. Ia melangkah maju dan suaranya meninggi.

“Jangan sebut namaku! Kamu tidak pantas memanggilku seperti itu!”

Perawat yang berjaga di luar hendak masuk, tapi Alejandro mengangkat tangannya, menahan perawat itu.

"Valeria ...."

Tatapan Valeria penuh curiga. "Dari mana kamu tahu aku adalah Valeria? Aku bahkan belum memperkenalkan diri."

Alejandro menahan napas dan terlihat gugup. "A-aku hanya tahu dari berita," katanya cepat dan mencoba mengontrol getaran suaranya. "Media menyebutkan nama korban kecelakaan malam itu dan hendak menikah dengan seorang wanita bernama Valeria Duarte dan ada foto kalian berdua."

Valeria menyipitkan mata seolah menimbang-nimbang setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Sungguh hebat sampai kamu tahu siapa aku?" suaranya mengeras. "Atau kamu memang sengaja ingin mencari tahu siapa perempuan yang hidupnya sudah kamu hancurkan?"

Alejandro menelan ludah dengan susah payah. "Aku hanya ingin tahu siapa orang yang telah kehilangan karena aku."

"Dan kamu pikir dengan tahu namaku, rasa bersalahmu akan hilang?" balas Valeria tajam. "Kamu pikir ucapanmu bisa menggantikan nyawa Alejandro?"

Ucapan Valeria seperti pisau yang menembus jantung Alejandro, tapi ia tak bisa membela diri dan hanya bisa menatapnya dan menahan air mata yang nyaris jatuh.

"Kenapa kamu bisa hidup lagi?" suara Valeria bergetar. "Kenapa bukan dia yang tetap hidup?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 88. Reputasi di Atas Segalanya

    Malam turun perlahan ketika Valeria akhirnya meninggalkan Sanz Management. Ia sudah memastikan setiap gaun diperiksa ulang, bahkan membawa dua potong cadangan kembali ke butiknya untuk berjaga-jaga. Di dalam mobil sebelum menyalakan mesin, ia mengirimkan pesan singkat. Valeria: Aku akan datang malam ini. Balasan datang seketika. Camila: Aku tunggu di lobi. Orang tuaku sudah pulang. Jantung Valeria berdebar lebih cepat.Rumah sakit terlihat lebih sunyi dibanding siang hari. Lampu-lampu putih memantulkan kesan dingin dan steril.Begitu pintu otomatis terbuka, Camila sudah berdiri di dekat kursi tunggu. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada secercah harapan di matanya ketika melihat Valeria. “Kamu benar-benar datang,” katanya pelan. Valeria mengangguk. “Bagaimana keadaannya?” “Masih belum sadar penuh. Dokter bilang kondisinya stabil." Mereka berjalan berdampingan menuju lift. “Ayahmu tidak ada di sini, kan?” tanya Valeria hati-hati hanya untuk memastikan. “Sudah pulang. Kamu tida

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 87. Semuanya Sudah Diatur

    “Apa?” bisiknya. “Aku tidak bodoh, Valeria. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu dia mencintaimu." Valeria bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berjalan gelisah ke arah jendela. "Ini tidak masuk akal." "Kakakku telah berubah sejak kecelakaan itu. Dia tidak seperti Daniel yang dulu. Aku tahu mungkin kamu masih belum memaafkan, karena dia telah membuat calon suamimu meninggal." Di luar, angin malam berhembus pelan. “Aku ingin kamu datang karena mungkin kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya sadar." Valeria memejamkan mata. Ia datang ke rumah sakit tadi hanya untuk memastikan keadaan Daniel bukan untuk terlibat lebih jauh. “Camila," suaranya lebih pelan sekarang. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semua ini.” “Aku juga tidak,” jawab Camila jujur. “Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kamu bukan musuh.” Valeria terdiam. “Datanglah besok!" pinta Camila sekali lagi. “Tolong!" Valeria menutup matanya lebih lama dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa tidak ber

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 86. Permintaan Maaf Camila

    Langit sudah berubah jingga ketika Valeria akhirnya tiba di rumah orang tuanya.Ia jarang pulang sebelum larut malam akhir-akhir ini. Butik, pertemuan klien, dan urusan yang tidak pernah benar-benar selesai semuanya menjadi alasan untuk menunda kepulangannya. Namun malam itu, langkahnya terasa berat bukan karena lelah bekerja, melainkan karena pikirannya yang terus berputar.Begitu ia membuka pintu, aroma masakan hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang makan menyala terang. Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak putih sederhana. Sup hangat mengepul di tengah meja dan ayam panggang favoritnya tersaji dengan kentang dan sayuran. Ibunya keluar dari dapur sambil membawa sepiring roti. “Kamu sudah pulang? Mama pikir kamu akan lembur lagi." Valeria berkedip dan sedikit kaget. “Iya." Ayahnya muncul dari ruang keluarga dan melepas kacamata bacanya. “Akhirnya anak kami ingat jalan pulang sebelum tengah malam.” Nada bercandanya ringan, tetapi sorot matanya penuh perhatian. Valeri

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 85. Batas yang Dipaksakan

    Emiliano berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang begitu tenang hingga terasa lebih mengancam daripada teriakan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya datar. Camila langsung berdiri tegak. “Aku yang membawanya.” “Keluar!" ucap Emiliano singkat. Valeria tidak bergerak. “Aku hanya ingin memastikan keadaannya.” “Keadaannya stabil dan ia tidak membutuhkan tekanan tambahan," jawab Emiliano. Daniel mengerang pelan di ranjang. Matanya kembali terpejam dan kesadarannya yang tadi sempat muncul menghilang lagi. “Dia belum sadar sepenuhnya,” kata Valeria dengan suaranya yang tertahan. Emiliano melangkah masuk, lalu dengan sopan menggenggam lengan Valeria. “Silakan! Kita bicara di luar," katanya dingin. Camila ingin memprotes, tetapi tatapan ayahnya menghentikannya. Emiliano menuntun Valeria keluar ruangan. Pintu tertutup pelan di belakang mereka dan begitu berada di lorong yang lebih sepi, Emiliano melepaskan tangannya dari lengan Valeria. Namun jarak di antara mereka tetap tera

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 84. Jauhi Daniel!

    Keesokan paginya, matahari menyelinap lembut melalui jendela kaca besar butik milik Valeria. Gaun-gaun rancangan terbarunya tergantung rapi di rak-rak dan berkilau dalam cahaya pagi. Aroma kopi memenuhi ruangan ketika Lucia masuk sambil membawa dua gelas. “Kamu datang lebih pagi dari biasanya,” kata Lucia, memperhatikan Valeria yang berdiri diam di dekat rak display tanpa benar-benar melihat apa pun. Valeria menghela napas panjang. “Aku tidak bisa tidur.” Lucia menyerahkan kopi padanya. “Karena Daniel?” Valeria menatap sahabatnya itu. “Dia tahu semuanya, Lucia.” Lucia mengernyit. “Semuanya tentang Virginia?” Valeria mengangguk. “Bukan cuma dugaan. Dia memiliki bukti bukti dan semua mengarah ke ayahnya.” Lucia terdiam beberapa detik. “Dan dia tetap berdiri di sisimu?” “Dia bilang dia akan melawan ayahnya sendiri. Dia bahkan menyuruhku pulang dulu semalam. Katanya kita harus bicara lagi hari ini untuk menentukan langkah.” Lucia menyandarkan pinggulnya ke kursi. “Dan kau percaya

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 83. Aku Tidak Akan Melindungimu Lagi

    Alejandro menatapnya tidak percaya. “Jadi kau yang mengancam Rafael.” “Dia orang yang berbahaya,” balas Emiliano cepat. “Dia pembohong dan dia ...." “Cukup!” potong Alejandro keras. “Kalau kau tahu aku bertemu dengannya, itu berarti kau memang sudah lama mengawasi Rafael dan mengawasi semua orang di sekitarnya.” Emiliano terdiam. Keheningan itu lebih jujur daripada pengakuan apa pun dan Alejandro tidak menyangka Emiliano tidak sebaik yang ia kira. Ia telah salah menilainya. Alejandro menarik napas tajam. "Kau tahu Rafael akan bicara dan kau juga tahu dia menyimpan bukti dan mencoba membungkamnya seperti kau membungkam Virginia.” “Aku melindungi keluarga ini!” bentak Emiliano tiba-tiba. “Aku melindungimu, melindungi Camila, melindungi ibumu. Kau pikir dunia akan memaafkan skandal itu? Seorang DeLaLuca menghancurkan hidupnya sendiri karena perempuan simpanan?” “Dia bukan benda!” teriak Alejandro. “Dia manusia. Dia hamil dan kau membunuhnya!” Emiliano menggeleng keras. “Aku tidak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status