LOGINBelle sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Padahal, ia sudah terbaring di atas ranjang kamar hotel, sementara malam semakin larut. Mattias bahkan tidur di sampingnya sambil memeluk tubuh Belle dari belakang.Namun, bukan pelukan pria itu yang membuat Belle terus terjaga. Pikiran Belle justru tertuju pada ucapan Mattias ketika mereka masih berada di restoran.Pria itu mengatakan bahwa dirinya hanya akan tidur dengan gadis yang sejak dulu dicintainya.Belle mengerutkan kening. Sejak dulu? Siapa gadis yang dimaksud Mattias?Tanpa sadar, pikirannya kembali mengingat semua kejadian antara dirinya dan Mattias. Beberapa kali pria itu dan Belle menghabiskan aktivitas panas yang sulit untuk Belle lupakan.Tidak mungkin ucapan Mattias tadi ditujukan kepada dirinya. Belle masih merasa mereka belum lama saling mengenal. Bagaimana mungkin Mattias mengatakan bahwa dirinya sudah mencintainya sejak dulu?"Apa kamu sudah tidur?" tanya Belle pelan.Mattias yang terus memeluknya dari belakang membuka
"Perusahaan yang besar itu?" tanya Bibi Mila. "Untuk apa dia ada di sini?" Lanjutnya sambil terus menatap Mattias.Laura mengingat lagi apa yang Natt katakan, jika Belle bekerja di perusahaan Burner. Kemudian Laura mengalihkan tatapannya pada sang sepupu. "Jangan bilang, kamu ada main dengan pemilik perusahaan Burner, itu tidak mungkin!" ucapnya tidak percaya jika Belle menjual diri dari pada Mattias.Laura tahu benar, jika pemilik perusahaan Burner, kabarnya tidak pernah tersentuh wanita, meskipun ratusan wanita coba mendekatinya dengan cara apapun itu. Pria itu terlalu setia dengan istrinya.Kaluna tidak menimpali ucapan Laura, ia mengalihkan tatapannya pada Mattias yang berjalan mendekat. Matiias yang sudah berdiri di samping Belle, menatap tajam pada bibi Mila dan juga Laura. "Sekali lagi kalian mengusik Belle, kalian tidak akan hidup tenang!" ancam Matiias.Lalu Mattias meraih tangan Belle. "Kita pergi dari sini." ajaknya.Belle mengikuti Matiias keluar dari rumah tanpa mengatak
Belle menatap pada Mattias setelah pria itu memintanya berlutut, untuk membuktikan jika Belle tidak akan mengingkari janjinya. "Kenapa diam sayang?" tanya Mattias. "Apa kamu ingin mengingkari janjimu?"Belle tidak menjawab, ia mulai menekuk kakinya untuk berlutut di hadapan Matiias.Namun, belum juga kedua lutut Belle menyentuh lantai. Matiias kini menarik tangannya, kemudian memeluk pinggang Belle. Membuat gadis itu terkejut, dan mengangkat wajahnya menatap Mattias."Jangan pernah berlutut pada siapapun, termasuk padaku, sayang. Kamu tidak pantas melakukan itu, kamu sangat berharga." ucap Mattias sambil mengelus pipi Belle.Belle benar-benar tidak mengerti dengan pria yang masih memeluk pinggangnya. Dalam sesaat Matiias seperti orang yang berbeda-beda, marah, kesal, emosi, penuh ancaman dan kini penuh perhatian. Belle semakin tidak mengerti dengan Matiias."Besok aku akan membawamu menemui nenek kamu, malam ini aku ingin tidur di rumah ini bersama kamu, sayang." ucap lembut Mattias,
Mattias tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya. Puntung rokok yang masih terselip di antara jarinya ia lempar begitu saja ke lantai, kemudian diinjak hingga bara merahnya benar-benar padam.Suara gesekan sepatu Mattias dengan lantai terdengar pelan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Belle semakin sesak.Tatapan pria itu kini tertuju sepenuhnya kepada Belle. Namun, kali ini Belle tidak memundurkan langkah.Ia sudah terlalu sering membiarkan dirinya ditakut-takuti. Terlalu sering membiarkan Mattias menentukan apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi, bahkan dengan siapa ia boleh berbicara.Tidak, Belle tidak boleh terus seperti ini, ia harus berani menghadapi pria yang telah memberikan Belle kemewahan.Mattias justru tersenyum semakin lebar. "Ya, aku mengancammu, sayang," Matiias menimpali ucapan Belle.Nada suara pria itu sama sekali tidak terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Mattias tampak begitu yakin bahwa apa pun yang
Belle memundurkan langkah ketika Mattias berjalan mendekatinya sambil tersenyum.Senyum yang justru membuat Belle semakin kesal.Beberapa saat lalu, ia sempat merasa lega karena akhirnya rencananya berhasil. Belle berhasil melarikan diri dari rumah itu setelah mengelabui Bibi Yuyu dan Pak Hani ketika berada di taman kota.Belle bahkan sudah membayangkan dirinya pergi ke luar kota. Menjauh dari Mattias, dan dari semua kendali pria itu.Namun, harapan tersebut benar-benar pupus ketika kini Mattias berdiri di hadapannya.Entah bagaimana pria itu bisa lebih dulu sampai di rumah, dan tahu jika Belle akan pulang.Belle ingin berlari, namun belum sempat ia melangkah, satu tangannya sudah lebih dahulu ditahan Mattias.Dengan satu tarikan kuat, tubuh Belle langsung membentur dada bidang pria itu."Kamu sangat bodoh sayang." ucap Mattias saat sudah memeluk tubuh Belle dari belakang. "Harusnya aku tahu, kamu seperti anjing yang penurut karena ingin kabur dariku, tapi bodohnya aku percaya begitu
Bibi Yuyu masih duduk santai di atas tikar, dan berbincang dengan pak Hani. Sesekali wanita itu melirik ke arah toilet."Kenapa Mbak Belle lama sekali, ya Han?" tanya Bibi Yuyu pada Pak Hani.Pak Hani melihat jam tangannya, dan menjawab. "Mungkin sedang antre."Bibi Yuyu mengangguk. "Mungkin saja." Kemudian keduanya kembali berbincang. Sampai akhirnya keduanya menghentikan perbincangan mereka, saat ada seorang perempuan melewati tempat mereka berada. Perempuan itu pergi ke toilet jauh setelah Belle pergi. Tapi perempuan itu sudah lebih dulu kembali di banding Belle.Membuat Bibi Yuyu bertanya pada perempuan itu. "Mbak, di toilet masih antri?""Tidak Bu, toilet sejak tadi sepi."Bibi Yuyu dan juga pak Hani menautkan kening mendengar jawaban perempuan itu. Keduanya kini memilih beranjak dari tempatnya. "Terima kasih Mbak."Setelah perempuan itu pergi, Bibi Yuyu dan juga pak Hani kini saling pandang."Han, jangan-jangan Mbak Belle kabur." ujar Bibi Yuyu, lalu berlari menuju toilet.Di







