Se connecter“Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan
Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata
Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan
Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m
Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu
Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”