Masuk"Pukul terus... hancurkan tulangku, Yang Mulia... wujudkan sifat asli monster di dalam darahmu itu..." Suara tawa Caspian terdengar sumbang, bergetar di sela-sela gigi aslinya yang telah rontok. Pria tua itu terkapar tak berdaya di lantai batu yang dingin, wajahnya hancur tak berbentuk akibat hantaman brutal tangan kosong sang Tiran. *BUGH!* Tanpa sedikit pun keraguan, Kaelan kembali mendaratkan satu pukulan mentah ke wajah Iblis Tua itu. Darah hitam muncrat, memercik ke baju zirah Kaelan. Napas sang Raja Varka memburu, matanya memancarkan kemurkaan absolut seorang predator yang sedang menyiksa mangsanya. "Kau pikir ocehanmu bisa menunda kematianmu, Caspian?" geram Kaelan dingin, mencengkeram leher jubah pria itu dan mengangkatnya hingga kaki Caspian menggantung di udara. Caspian terbatuk hebat. Darah mengalir deras dari pelipisnya. Namun, alih-alih memohon ampun, mata keriput pria itu justru menyala liar, dipenuhi dendam kesumat yang telah berkarat selama ratusan tahun. "Kau t
"Kristal nyawa?" Suara Kaelan bergema pelan di dalam ruang bawah tanah yang luluh lantak itu. Alih-alih melepaskan cengkeramannya, sang Raja justru mempererat cengkeramannya pada kerah jubah Caspian, menarik wajah pria tua yang hancur itu mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. ‘Aku tidak tau lagi harus mengancam nya sebagai apa. Tapi kau yang sudah gila karena wanita mu tidak akan bisa berpikir dengan baik Kaelan,’ Pria itu tersenyum wajah mereka saling menantang dalam suasana yang semakin menegang satu sama lain seolah tidak akan ada akhir dari pertempuran hari ini. Mata safir Kaelan yang kini memancarkan insting binatang buas menatap lurus ke dalam mata Caspian yang diliputi kepanikan. "Kau pikir... ancaman murahan seperti itu bisa menghentikan insting seorang Varka murni, Caspian?" bisik Kaelan tajam. Tangan Kaelan yang lain bergerak sangat cepat, mengunci lengan Caspian yang memegang kristal hitam tersebut. Dengan satu sentakan brutal... *KRAK!* "AAARRRGGHH!"
"Tarik kembali memorimu yang menjijikkan ini, Roselina! Hentikan sihir gila ini!" Jeritan histeris Tabib Caspian membelah keheningan ruang bawah tanah. Pria tua itu berguling di lantai batu, mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin merobek tengkoraknya. Darah segar menetes dari hidung, telinga, dan sela-sela matanya akibat tak sanggup menahan beban dari lima puluh lima memori kematian memilukan milik Roselina. "Kau yang memintanya masuk ke dalam jiwaku, Tabib," bisik Roselina dengan napas tersengal, namun senyum sinis tak lepas dari bibir pucatnya. "Telan semuanya sampai kau hancur." Tepat di detik itu, sisa-sisa kristal Jantung Samudera di lantai meredup sepenuhnya, berubah menjadi debu kelabu. Tanda *Criss Blossom* di punggung Roselina berhenti memancarkan cahaya, menandakan ikatan pusaka itu telah putus secara mutlak. *PRAAANG!* Suara retakan terdengar bukan dari lantai, melainkan dari dalam dada Kaelan. Sang Tiran Lautan membelalakkan matanya. Jalur racun hitam yang sela
"Apa... apa yang sebenarnya kau lakukan pada kekuatan ini, Gadis Jalang?!" Suara tawa kemenangan Tabib Caspian mendadak berubah menjadi jeritan panik yang tertahan. Pria tua berjubah hitam itu tersentak mundur, namun telapak tangannya seolah menempel paksa di atas tanda *Criss Blossom* pada punggung Roselina. Di lantai batu yang dingin, Kaelan mengangkat kepalanya dengan susah payah. Napasnya masih memburu, namun mata safirnya membelalak tajam melihat apa yang terjadi di depan altar. Kabut hitam beracun yang semula diserap Caspian dengan rakus kini berubah wujud. Energi itu tidak lagi mengalir lancar ke dalam tongkatnya, melainkan berbalik menyerang. Cahaya pekat kemerahan merambat naik ke lengan keriput Caspian bagai sulur berduri yang hidup, membakar kulitnya dari dalam. "L-lepaskan! Lepaskan tanganku!" raung Caspian dengan urat leher menonjol, meronta hebat mencoba menarik tubuhnya menjauh. Namun, tarikan energi itu terlalu absolut. Tongkat sihir kayu hitam di tangan Caspian
Zepriyn berharap jika benar-benar ada kehidupan selanjutnya dia tetap akan memilih mengabdi kepada Kaelan, walaupun dia tahu. Ocean berakhir hari ini. "Tarik Pangeran Valerion menjauh dari garis depan, Ishaq! Biar aku yang menahan anjing-anjing cacat ini!" Raungan Jenderal Zepriyn menggelegar, menenggelamkan suara benturan logam dan rintihan kematian di lorong bawah tanah yang kini sempit dan sesak oleh mayat. Komandan Ishaq mengutuk pelan. Dengan napas terengah-engah dan darah segar yang mengalir dari luka sayat memanjang di pelipisnya, ia menarik kerah zirah Pangeran Valerion yang tak sadarkan diri, menyeretnya menjauh dari jangkauan pedang ksatria bertopeng *The Scary*. Di ambang puing-puing pintu baja yang telah dihancurkan Caspian, Zepriyn berdiri sendirian. Sang Jenderal Raksasa itu tampak seperti dinding daging yang menolak runtuh. Baju zirahnya telah penyok, retak, dan dipenuhi cairan merah pekat—entah itu darah musuhnya atau darahnya sendiri. Di tangannya, sebuah pedang
Selama 500 tahun, Caspian seorang pria yang menyimpan sebuah sihir penyembuhan kuno yang tidak bisa di ungkapkan kepada publik. Dia bisa saja meratakan tanah ini, tapi dia memilih mengabdi pada pengkhianat. Dia adalah iblis yang menciptakan banyak boneka selama 500 tahun ini, dan salah satu boneka nya sekarang adalah raja Ocean!!! Raja yang paling di takuti seluruh benua saat ini, merangkak di bawah kaki nya!! "Pemandangan yang sungguh menyayat hati. Seorang Tiran Lautan, merangkak di bawah kakiku seperti anjing yang kehabisan napas." Suara tawa Caspian menggema, bergesekan dengan dinding batu ruang bawah tanah bagai pisau berkarat. Iblis tua itu menendang pedang Kaelan yang tergeletak di lantai hingga terlempar jauh ke sudut ruangan. Di atas lantai yang dingin dan bersimbah darah, Kaelan mengerang tertahan. Setiap inci ototnya menjerit. Ketiadaan sihir es di nadinya benar-benar melumpuhkan tubuh besarnya. Selama berabad-abad, sihir absolut itulah yang menopang tulang dan denyut
"Tuliskan ini dengan jelas, Zeno! Katakan pada Pangeran Julian, jika dia berpikir bisa menipuku dengan merekayasa perampokan dan memutuskan kesepakatan secara sepihak, aku tidak akan segan membakar seluruh jalur perdagangannya di perbatasan Faksi Barat!" Suara Jenderal Vaelia menggema tajam di dal
"Bagaimana bisa kau menyuruh pasukanmu menyamar menjadi bandit dan merampok persediaan yang baru saja aku kirimkan?!" Suara Jenderal Vaelia melengking tinggi, membacakan isi surat yang sudah setengah hancur di tangannya. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meledak-ledak. "Pangeran
"Jangan lakukan itu, Yang Mulia!" Mata Roselina membelalak lebar. Ancaman Kaelan kali ini benar-benar mengenai titik lemahnya. "Ishaq adalah satu-satunya ksatria yang benar-benar bisa saya percaya di istana ini. Menggantinya sama saja dengan menaruh pisau di leher saya," protes Roselina cepat. "B
"Dari mana kau tahu?!" Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Lady Calyspho membekap mulut Jenderal Ziiten dengan kedua tangannya. Matanya melirik panik ke ujung lorong kiri dan kanan, memastikan tidak ada pengawal istana yang mendengar mulut ember pria ini. "Jangan macam-macam, Jenderal!" des







