LOGINBukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.
Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan. "Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih. Sebenarnya Celia marah mendengarnya. Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini." Mendengar itu, Lidia hanya diam. Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka. Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan. Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan uang muka padanya dengan jumlah yang lebih dari cukup. Menuruni tangga apartemen yang nampak sepi pagi ini, banyak penghuninya yang telah pergi bekerja sepertinya. Langkah Celia keluar dari gedung menuju halte bus yang hanya berjarak beberapa meter. Tujuannya saat ini adalah kantor pinjaman milik si rentenir dan ia akan melunasi seluruh utang keluarganya, berharap orang tuanya tidak berutang lagi nantinya. *** Sampai di depan kantor pinjaman, Celia bisa melihat beberapa orang yang datang dan mengajukan pinjaman mereka. Kebanyakan pasti hanya orang-orang dengan ekonomi kelas bawah dan terjepit biaya hidup tinggi di kota ini. "Cari siapa?" Seorang pria bertubuh besar dan memiliki tindik di telinganya lantas menyambut Celia dengan wajah tidak ramah. "Aku mencari bos kalian. Ada utang yang harus segera kubayar," balas Celia berusaha tenang. Bagaimanapun juga ia sedang masuk ke sarang orang-orang yang membuatnya ketakutan semalam. Salah sedikit saja mereka bisa marah padanya. Kemudian, pria bertindik itu lantas mempersilahkan dirinya dengan ekspresi yang masih sama menuju sebuah ruangan di lantai dua tepat di mana si bos pinjaman ada di sana. Mengetuk pintu, pria bertindak berkata pada orang yang ada di dalam. "Bos, ada yang mencari." "Siapa? Biarkan dia masuk," balas suara pria di dalam. Pintu dibuka, Celia masuk ke sana lalu menemukan sesosok pria bertubuh lebih pendek darinya. Matanya memakai kacamata tebal, celana kodok dipakai olehnya, dan juga wajahnya terlihat lebih muda dari ayahnya. "Oh, Celia!" sambut pria itu dengan menampakkan deretan gigi kuning keemasan miliknya. Jujur, Celia bergidik ngeri melihatnya. Namun ia telah membawa uangnya dan lantas menjelaskan. "Pak Bondy, saya mau membayar utang ayah saya." "Oh ya? Kemarilah, aku sudah siap." Celia keluarkan ponselnya dan bertanya, "Berapa banyak nominalnya? Saya harus segera berangkat kerja setelah ini." Mengira jika Celia menyerahkan diri, pria itu terkejut. "Bukannya dibayar dengan dirimu?" "Tidak. Ayah saya berutang uang, akan saya bayar dengan uang," tegasnya dengan wajah menahan kesal. Bondy pasti mengira jika dirinya akan membayar hal tersebut dengan tubuhnya. Jelas Celia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Mengamati Celia dari atas ke bawah membuat Bondy menghela napasnya lalu mengambil perbukuan untuk menghitung berapa banyak utang milik Julian. "Dari mana kau dapatkan uangnya?" tanyanya tak ramah. Celia masih berdiri, wanita itu enggan untuk duduk. "Kenapa tidak dijawab? Hah ... " Masih diam pada tempatnya. Celia tidak akan menjawab karena hal ini merupakan masalah pribadinya, yang terpenting utang orang tuanya telah lunas. - Keluar dari kantor pinjaman, Celia lega dan melihat sisa saldo rekeningnya. Ethan mengirimkan uang yang cukup besar sehingga ia benar-benar harus menuruti permainan pria itu mulai detik ini. Ketika langkahnya sudah cukup dekat dengan halte bus, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya sehingga Celia lantas menghentikan langkah lalu melihatnya bingung. Seorang pria paruh baya berkacamata lantas turun dari mobil tersebut, pakaiannya sangat rapi khas seorang sekretaris. "Permisi, Nona. Selamat pagi, saya Liam asisten Tuan Ethan." Pria itu memperkenalkan diri dengan sopan kali ini. "Tuan Ethan juga menyuruh saya untuk menjemput dan mengantarkan Anda ke salon." Celia melebarkan matanya dan wanita itu melihat jam tangan miliknya lalu menyadari bahwa ia bisa terlambat berangkat bekerja. "Nyonya Gracia Oldheron ingin bertemu dengan Anda malam nanti. Maka dari itu, saya diperintahkan untuk mengantar Anda bersiap." "Saya harus bekerja, Paman." "Tuan Ethan bilang, Anda tidak perlu bekerja lagi." Sebenarnya Celia tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Sudah jelas bahwa Ethan tak akan membuang waktu. Pria itu sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, mana sempat mengurusi wanita rendahan sepertinya terlalu lama. "Baik." Tidak protes. Setelah Ethan memberikan uang muka, artinya Celia harus menuruti pria itu karena ia tidak memiliki apa pun untuk membalas kecuali dengan harga dirinya. Liam membuka pintu mobil dan mempersilahkan Celia untuk masuk. Tak lama setelahnya pria itu segera menutupnya dan segera mengemudi. Di sepanjang perjalanan, Celia tidak bicara sama sekali. Sudah lama ia tidak naik mobil semewah ini, padahal dulunya bergonta-ganti mobil adalah hobinya. Jika ia menikah dengan Ethan, maka semua hal yang pernah ia miliki dulu bisa kembali lagi, meskipun hidupnya hanya disebut menumpang. *** Sibuk dengan pekerjaannya, Ethan memilah dokumen dan lantas menghela napasnya beberapa kali. Pagi tadi ia menyuruh asistennya untuk menjemput Celia lalu mengantarkannya bersiap di sebuah salon untuk merapikan penampilan. Sudah setengah hari ia biarkan pihak salon memberikan treatment terbaik untuk wanita itu sebelum ia membawa Celia pulang ke kediaman sang nenek. Ponselnya bergetar dan membuat Ethan melihat siapa yang melakukan panggilan. Nama sang nenek tertera di sana sehingga ia langsung menerima teleponnya. "Halo, Nek." "Ethan, kapan kau membawa calon istrimu pulang?" Baru kemarin ia menjanjikan hal itu pada neneknya, namun ternyata Gracia sudah tidak sabar melihatnya. "Aku akan mengajaknya makan malam di kediaman, Nek. Siapkan diri Nenek saja malam ini," jelas Ethan santai, matanya masih memeriksa dokumen di meja kerjanya. "Syukurlah kalau malam ini. Nenek tidak sabar," ujar wanita tua di seberang dengan nada suara yang sumringah. Ethan menghela napasnya dan ekspresinya masih datar seperti sebelumnya, "Ada satu hal yang tidak boleh Nenek tanyakan nanti padanya." "Oh, baiklah. Apa yang tidak boleh ditanyakan?" heran Gracia di seberang. Ethan sedikit menarik napas, pria itu berucap, "Jangan tanyakan tentang ... ""Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni
Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar
"Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari
Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan
Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang
Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme







