LOGINCelia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.
Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak. Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu. "Bos kalian gila, ya?" Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma. "Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!" Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa? Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbangkan hal tersebut sekali lagi, mungkin dirinya bisa meminjam uang pada pria tersebut. "Sekarang aku belum punya uang, tunggu besok!" tegas Celia, wajahnya masih bersikap waspada. Ia memang melakukannya demi uang, namun tubuhnya bukanlah objek yang bisa disentuh oleh orang lain. Dua rentenir itu saling melirik dan mereka tidak percaya, "Bayar sekarang saja." "Aku akan bayar semuanya sampai lunas, tapi besok." "Yakin besok?" "Iya, besok." "Baiklah. Kami akan datang lagi besok, awas saja jika kalian sekeluarga kabur." "Kami tidak akan kabur," balas Celia sembari mengatur sendiri napasnya untuk mengurangi ketakutan dalam dirinya. Kemudian, dua orang tersebut meninggalkan Celia tanpa paksaan lagi, sementara wanita itu menyentuh dahinya dan merasa begitu cemas. "Ya Tuhan ..." Langkahnya menuruni tangga gedung apartemen ini. Ia berpikir sejenak dan kemudian terpikir akan satu hal. Meraih ponsel di tasnya, Celia mencari nomor Rena dan ia mulai menghubungi rekan kerjanya itu. "Halo, Celia. Ada apa?" Jawaban terdengar dari seberang dan Celia menggigit bibir bawahnya. Ia perlu mempertimbangkan sebuah pinjaman sementara, berharap Rena mau meminjamkan sebagian tabungan padanya. "Rena, maaf menghubungimu malam-malam." "Bukan masalah. Kenapa, Celia?" Orang bilang jika utang bisa merusak pertemanan, namun Celia tetap akan mencoba dan ia tak akan memaksa Rena nantinya. "Aku punya sedikit kendala dan butuh uang," jelasnya pelan. "Apakah kau bisa meminjamkan sedikit uang padaku? Aku janji akan mengembalikannya setelah gajian." Menahan malu sekali lagi. Jika bukan karena orang tuanya dan pinjaman pada rentenir itu, Celia tidak akan mengatakan ini. "Sayang sekali, Celia. Ibuku baru sakit dan aku telah memberikan uangku untuk berobat, maaf." Jawaban yang sudah pasti. Celia paham bahwa di dunia ini bukan hanya dirinya yang kesulitan, ia juga tak boleh bertindak memaksa. "Begitu ya, semoga ibumu cepat sembuh, Rena." "Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa membantumu, Cel." "Tak apa, terima kasih banyak," balasnya sembari tersenyum kecil. Telepon itu tertutup dan Celia bersandar pada dinding dingin yang bersebelahan dengan pintu masuk gedung. Setelah hari di mana ia tidak lagi menjadi tuan putri, semuanya nampak melelahkan baginya. Ia keluarkan kartu nama Ethan dari tasnya dan lantas duduk pada bangku yang ada di depan gedung malam ini. Celia tidak takut sendirian meskipun tengah malam. Dirinya tahu bahwa satu-satunya hal yang menakutkan baginya adalah dikejar rentenir karena utang-utang orang tuanya yang terus berbunga. Celia pegang pelipisnya lagi dan ia menarik napas berat. Selama ini dirinya telah terbiasa dengan kemiskinan keluarganya, tubuhnya yang dulu ideal kini berubah begitu kurus. Matanya cekung dan tak ada sorot kebahagiaan seperti dulu. Uang memiliki efek besar, ia bahkan membuang seluruh rasa malunya demi uang. Apa kali ini ia akan menerima tawaran pria itu demi sebuah imbalan? "Lagi pula, dia tidak pernah menyukaiku." Penolakan Ethan masih terngiang-ngiang di kepalanya. Pria itu pastinya juga tidak akan memandangnya sebagai seorang wanita karena dari perkataannya siang tadi cukup menjelaskan bahwa Ethan membutuhkan partner. Celia beranikan diri mengetikkan nomor itu. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan, perasaannya tak jelas dan yang ada di dalam pikirannya hanyalah cara agar utang pada rentenir segera lunas. "Toh, ini hanya kerja sama. Aku sudah pernah menikah karena bisnis," pikirnya. Bertekad menghubungi pria itu, tak bisa Celia pungkiri jika kini jemarinya sedikit gemetar mengetikkan nomor Ethan. Ia seperti seorang wanita yang memohon tanpa rasa malu. Celia lihat lagi nomor pria itu yang sudah ia ketik, ibu jarinya menekan ikon telepon untuk melakukan panggilan. Ketika ponselnya menempel di telinga, Celia rasakan seseorang di seberang langsung mengangkatnya dan membuat lidahnya kelu. "Halo?" Beberapa detik diam, Celia akhirnya membuka suaranya. "Ini aku, Celia." "Oh, sudah kau pikirkan tentang tawaranku?" Baru siang tadi ia menerima tawaran, namun malamnya Celia langsung menghubungi pria tersebut. Terlihat jelas bahwa ia benar-benar butuh. "Hanya menikah, bukan?" tanyanya memastikan. "Ya, hanya menikah." Suara pria di seberang masih sama dinginnya. Ekspresi pria itu pastinya juga hanya datar dan tanpa minat terhadapnya. "Berapa bayaran yang akan kuterima?" Ketika dirinya menghubungi Ethan untuk membicarakan tawaran, Celia telah mengesampingkan rasa malunya sehingga apa yang ia katakan memang murni tentang ajakan kerja sama. "Berapa pun yang kau minta, akan kuberikan." Nominal bukanlah hal yang sulit bagi pria itu, Celia hanya perlu menyiapkan mentalnya untuk hal ini. "Kau butuh uang? Kita bisa mempercepat pernikahan." Wanita itu terkejut mendengarnya. Bukan hal yang sulit bagi Ethan untuk mendaftarkan pernikahan atau membuat dokumen penting lainnya. Pria itu merupakan sosok pewaris yang digadang-gadang akan mengurus seluruh Oldheron Grup di masa depan, hal seperti akta pernikahan bisa selesai dalam jentikan jari. "Ethan, kau tahu sendiri bahwa aku ... " "Jatuh miskin? Itu bukan masalah." Jawaban di seberang membuat Celia tidak percaya karena pria itu bahkan tidak keberatan dengan posisinya yang sekarang. "Aku hanya butuh pendamping yang tidak merepotkan urusanku." Perkataan Ethan menjelaskan bahwa pria itu tidak ingin memiliki istri yang ikut campur dalam beberapa hal. Artinya selalu ada batas di antara mereka nantinya. "Jadi, bagaimana?" Tak punya pilihan lagi. Celia yakinkan dirinya sendiri dan kemudian ia memberikan jawaban. "Ya. Aku setuju." Suaranya sedikit bergetar, sebagai tanda bahwa ia sangat gugup dan pilihan ini adalah opsi terakhir yang membuatnya harus melakukannya. "Baiklah. Kita perlu bertemu untuk bicara lagi." Celia tidak membalasnya. Wanita itu masih pusing memikirkan apakah pilihannya sudah tepat atau belum. "Aku akan menghubungimu lagi." "Ya." Telepon itu tertutup. Celia menatap layar ponselnya yang gelap dan ia pun sadar benar bahwa dirinya telah menyetujui tawaran Ethan. Sontak matanya melihat ke arah jalanan sepi di depan gedung apartemennya. Lagi-lagi ia menyetujui kerja sama bodoh yang melibatkan statusnya. ***"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni
Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar
"Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari
Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan
Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang
Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme







