Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 1. Tuanku di Balik Pintu

Share

Di Ranjang Majikanku
Di Ranjang Majikanku
Author: Keke Chris

1. Tuanku di Balik Pintu

Author: Keke Chris
last update Last Updated: 2025-09-30 10:11:57

Baru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.

Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.

Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit. 

Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.

“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.

Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”

Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”

Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”

Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar. 

Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.

Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.

Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!

“T-Tuan…”

Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.

"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.

Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.

Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik. 

Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?

Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.

“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”

Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.

Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.

Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.

Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.

Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.

"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.

“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.

Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.

"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.

Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.

"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.

Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”

Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.

Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.

Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.

“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”

Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”

Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.

Ardan menoleh. “Benar?”

“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”

Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.

Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.

Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.

“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.

Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.

"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.

"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.

Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.

"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.

"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.

Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.

Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.

“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”

Prang!

Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
bundaBee
baru baca semoga bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   145. Manis Dan Perih

    Dengan langkah berat dan hati yang masih sakit hati, Nurma kembali ke dalam kamarnya.Kamar mewah itu kini terasa seperti kotak yang menyimpan berbagai emosinya. Dia mengunci pintu, benar-benar sudah tak punya tenaga untuk berinteraksi lagi dengan orang lain.Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menerawang jauh. Sesekali dia mendesah lelah dan memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri.Dalam diam, tiba-tiba matanya tertuju pada lemari kayu antik di sudut ruang. Dengan langkah lunglai, dia beranjak dan membuka laci paling bawah, mengeluarkan album foto lama yang sudah tak pernah dia buka lagi.Album yang menyimpan terlalu banyak kenangan, sekaligus manis dan perihnya kehidupan yang dia lalui selama mendampingi Djati.Dia membukanya. Halaman pertama adalah foto Djati muda dengan dirinya yang masih terlihat begitu bersinar. Muda dan cantik, tanpa beban dan air mata.Mereka terlihat begitu bahagia karena baru saja memiliki penerus yang diidamkan kedua keluarga yan

  • Di Ranjang Majikanku   144. Menikmati Tubuhmu

    Binar melangkah masuk dengan canggung ke paviliun. Tadi dia sedikit ragu saat sudah sampai di depan pintu. Kenangan akan perginya dia dulu dari sini karena teror dari Celia sempat terbesit sesaat. Bhaga mengikuti langkahnya dalam diam, tapi hatinya membuncah bahagia. Dia dan Ardan tak perlu berjauhan lagi dengan Binar. Langkah Binar berhenti sesaat setelah Bhaga memutar kunci dan memeluknya dari belakang. Perlahan tubuhnya dibalik dan kembali dipeluk oleh Bhaga. “Aku senang banget kamu kembali ke sini,” ujar Bhaga sambil mengecup kening Binar. “Aku enggak,” jawab Binar singkat. Dengan pelan Bhaga mengangkat kepalanya untuk melihat Binar, tanpa melepaskan pelukannya. “Kenapa? Kamu enggak suka ada di dekat keluargaku.” Binar menggelengkan kepala. Bhaga mencelos. “Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan lembut. “Soalnya aku takut dimodusin kamu terus. Bisa remuk badan aku.” Bhaga tertawa keras karena mendengar jawaban itu.“Oh, tentu saja. Itu tak bisa ku tahan,” katanya dengan riang.

  • Di Ranjang Majikanku   143. Ego Terlalu Besar

    Nurma menatap wajah cucunya yang sedang tidur dengan damai, pertahanan terakhir egonya muncul. Baik, pikirnya, sambil mengelus lembut rambut Ardan. Mungkin untuk Ardan, dia baik. Mungkin Bhaga memang mencintainya. Tapi wanita selalu punya topeng. Dia meletakkan Ardan dengan lembut di atas bantal, kemudian menatapnya lama. Tapi itu tidak cukup. Dia mendengus. Nurma berdiri, mendekati jendela, memandang ke arah paviliun di mana Binar mungkin sedang berada. Hatinya mungkin sudah sedikit luluh, mungkin sudah mulai memahami. Tapi untuk mengakui itu? Untuk menunjukkan kelemahan itu di depan Binar? Untuk menyerah dan menyambutnya dengan tangan terbuka? Tidak. Belum. Dia masih seorang Nurma. Perempuan yang membangun segalanya dari nol, yang menjaga martabat keluarga dengan ketat. Binar harus membuktikan lebih dari sekadar kata-kata manis dan pelukan pada seorang anak. Binar harus layak. Dan menurut ukuran Nurma, dia masih sangat, sangat jauh dari pantas. Dia akan diam. Tidak akan lag

  • Di Ranjang Majikanku   142. Kalau Kak Bin Sedih

    Binar tahu dirinya sedang diancam. Ancaman itu begitu nyata dan dia tahu, Djati lebih dari mampu untuk mewujudkannya. Namun, setelah beberapa menit dalam ketegangan, sebuah senyuman lembut justru merekah di bibir Binar. Senyuman penuh kelegaan. Djati sedikit terkejut melihat reaksi itu. “Terima kasih, Pak Djati,” ucap Binar dengan tenang. “Untuk apa?” tanya Djat, heran. “Terima kasih,” ulang Binar, kali ini dengan mata yang berbinar. “Karena tidak menyuruh saya pergi.” ** Nurma membanting pintu kamarnya, mengunci diri di dalam ruangan yang tiba-tiba terasa pengap. Tak dibela oleh suaminya, dipermalukan di depan perempuan yang selama ini dianggap hina. Harga dirinya serasa direndahkan. Dia duduk di salah satu sofa dengan tangan gemetar menahan marah. Napasnya terengah karena ego yang tertampar. Ketukan di pintu membuyarkan gerutuan dalam hatinya. “Mami. Boleh aku masuk?” “Pergi!” hardik Nurma. “Mami tidak ingin bertemu siapa pun. Terutama kau yang sudah dibutakan oleh per

  • Di Ranjang Majikanku   141. Menusuk Tajam

    Djati yang sedang beristirahat akhirnya terusik oleh suara keributan yang terdengar dari luar kamarnya. Perlahan dia bergerak bangun dan melangkah tertatih berpegangan pada apa pun yang bisa diraihnya. Tadinya dia tak mau ikut campur, tapi suara Bhaga yang meninggi dan pekikan Nurma membuatnya tak tenang. Pasti ada Binar di luar, pikirnya. Dia berdiri di balik pintu, menyaksikan pemandangan yang membuatnya menghela napas lelah. Binar berdiri kaku dengan kepala tertunduk, sementara istrinya menuding wajah Binar dengan kemarahan yang meletup-letup. Sedangkan di taman samping rumah, Bhaga sedang menggendong Ardan yang masih menangis tersedu-sedu. Perlahan, dengan langkah tertatih, Djati mendekati mereka dan langsung duduk di dekat Nurma. “Mami... Binar....” Meski terdengar lemah, terdengar ketegasan di sana. Nurma terkejut, lalu wajahnya berubah semakin masam. “Lihat! Suamiku jadi terbangun karena kau!” hardiknya pada Binar. “Pergi! Pergi sekarang juga!” Binar baru mengangkat ke

  • Di Ranjang Majikanku   140. Mencintai Dengan Tulus

    Djati sudah diperbolehkan pulang hari ini. Nurma yang menemaninya pulang dan karena harus istirahat total, makanya kamar Djati dipindahkan untuk sementara di lantai satu. Wajahnya masih terlihat pucat meski sudah lebih segar, tapi semua orang menjauhinya dari segala macam pekerjaan. Sedangkan Bhaga, sengaja menjemput Binar. Dia ingin merekatkan hubungan Binar dengan kedua orang tuanya. Awalnya Binar terus menolak, tapi rayuan Bhaga berhasil meyakinkannya. Di sinilah mereka, di depan pintu rumah utama. “Tenanglah,” ujar Bhaga saat menggenggam tangan Binar dan menyadari tangan itu begitu dingin dan berkeringat. “Papi sudah tahu semuanya, dan Ardan pasti akan senang sekali.” Binar hanya mengangguk dengan wajah pias. Namun, sebelum mereka sampai ke ruang keluarga, Nurma muncul dari balik pintu. Wajah yang tadinya terlihat kelelahan, kini mengeras dan terlihat masam saat memandang Binar. “Kau yang bawa dia kemari?” tanya Nurma. “Ya, Mami. Binar mau menjenguk Papi dan bertemu Arda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status