Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 2. Tukang Ngintip

Share

2. Tukang Ngintip

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-09-30 10:14:29

Teriakan Nyonya Celia bagai sambaran petir di siang bolong. Binar membeku, jantungnya berdentum kencang hampir keluar dari dada. Apalagi saat tiba-tiba pintu terbuka. Insting untuk bertahan hidup langsung bekerja.

Binar membiarkan bola kristal Ardan tergeletak di lantai dan bersembunyi di balik tirai tebal yang menggantung tak jauh dari sana. Tubuhnya sedikit gemetar, mencoba sebisa mungkin tak terlihat menonjol, dengan menahan semua tubuhnya menempel ke dinding.

Dari balik tirai, dia bisa mendengar segalanya dengan jelas.

"Kau pikir dengan memblokir kartu-kartuku, aku akan menurutimu?!" teriak Celia, suaranya melengking dan penuh amarah. "Aku bukan budakmu, Bhaga!"

Suara barang pecah membuat Binar menggigit tangannya, menahan keterkejutan yang hampir terdengar.

"Yang kubutuhkan darimu bukan uang, Celia. Tapi kehadiranmu untuk anak kita!" suara Bhaga terdengar rendah namun penuh tekanan. "Ardan hampir tidak mengenal ibunya. Kau selalu keluar, berpesta, berbelanja, seolah tidak punya tanggung jawab di sini!"

"Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Untuk tinggal di rumah megah yang terasa seperti kuburan ini bersamamu?  Atau mengurus anak itu?” Celia mendongak dan mendengus. “Kau pikir, pernikahan karena perjodohan bisnis ini memberiku kewajiban untuk jadi ibu rumah tangga yang baik? Kau salah besar!"

Bhaga menggeram. "Ya kamu benar. Aku lupa kalau kau menikahiku hanya untuk uang dan nama keluarga. Tapi bahkan untuk urusan itu pun kau tidak becus. Acara kemarin kau batal hadir lagi, membuat malu keluarga di depan klien penting!"

"Urus saja sendiri urusan bisnismu itu! Aku punya duniaku sendiri!” Celia mencebik kasar. “Sekarang buka blokir kartu kreditku!"

"Tidak. Sampai kau bisa menunjukkan sedikit saja tanggung jawab sebagai ibu, bahkan untuk sekadar makan malam bersama Ardan.” Bhaga menghela napas. “Sebelum itu terjadi, jangan harap!"

Terdengar langkah hak tinggi yang dientakkan dengan marah. "Baik! Kalau begitu carilah ibu untuk anak itu di luar sana! Aku pergi!"

Langkah kaki itu menjauh, disusul dengan bunyi pintu depan yang dibanting dengan keras. Getarannya terasa sampai ke tempat Binar bersembunyi. Dalam sekejap, semua menjadi hening.

Beberapa saat kemudian, Binar mendengar helaan napas panjang dan lelah dari dalam ruang kerja. Lalu, langkah kaki Bhaga mendekati pintu. Binar menahan napas, berharap dia berbelok ke arah lain.

Tapi tidak. Pintu ruang kerja terbuka. Bhaga berbalik untuk menutupnya, dan dari balik tirai, mata Binar bertemu langsung dengan pandangannya yang tajam dan lelah. Dia ketahuan.

Wajah Binar mendadak pucat pasi, dia memejamkan mata erat. Mengumpat dalam hati, ‘Sial, kenapa harus tertangkap dalam keadaan tak menyenangkan terus!’

Bhaga menyipitkan matanya, wajahnya yang semula tampak lesu berubah menjadi keras. “Kamu lagi?” desisnya penuh kecurigaan.

Binar keluar dari persembunyiannya dengan gemetar dan kaku, bibirnya menampilkan cengiran lebar untuk menutupi wajahnya yang pucat pasi.

“Ma-Maaf, Tuan. Saya... saya hanya ingin mengambil mainan Tuan muda Ardan yang menggelinding ke sini,” jawabnya dengan suara bergetar tak karuan.

Takut. Sungguh dia ketakutan. Ini adalah kali kedua dia ketahuan menyaksikan momen pribadi sang majikan.

Bhaga memindainya dari atas ke bawah, bawah ke atas dengan tatapan dingin. Dia mendengus, “Ini cuma perasaan saya,” katanya perlahan, “atau memang kamu hobi mengintip orang lain?”

Panas membara menyergap wajah Binar. Rasa malu dan takut bercampur jadi satu. “Tidak, Tuan! Tidak, Sungguh. Sumpah, tidak! Itu kebetulan saja, saya—”

“Kak Bin! Helikopternya mau terbang enggak, nih?” teriak Ardan dari ruang makan, memotong pembelaannya.

Dalam hati Binar rasanya penuh kelegaan, tapi dia masih tak berani berkutik.

“Kak Bin!” seru Ardan, terdengar mulai kesal.

Suara polos itu bagai penyelamat. Bhaga menghela napas, mengusap wajahnya yang letih. Dia melirik ke arah suara anaknya, lalu kembali ke Binar.

“Pergi. Temani dia. Dan jangan sampai ada mainan yang menggelinding ke area ini lagi.” Perintah Bhaga. Suaranya datar namun terdengar mengandung ancaman.

Binar mengangguk cepat, mengambil bola kristal Ardan yang masih tergeletak, berbalik dan berlari kecil menuju taman samping, meninggalkan Bhaga yang masih berdiri di depan pintu ruang kerja dengan pandangan yang tidak bisa dia tebak.

**

Di taman belakang rumah yang luas, Binar duduk di bangku sementara Ardan dengan ceria menerbangkan helikopter mainan, membuat efek suara dengan mulutnya. Tapi pikiran Binar tidak ada di situ.

Pikirannya melayang kepada Bhaga. Pria dingin dan berwibawa itu. Kini dia mulai mengerti. Di balik kekayaan dan ketampanan, dia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, memiliki istri yang hanya menginginkan harta, dan harus membesarkan anak seorang diri.

Itu menjelaskan kenapa dia begitu tertutup, dan kenapa kemarin malam dia terlihat begitu kesepian dan frustasi hingga melepaskan kebutuhannya seorang diri.

Hal itu juga yang menjelaskan mata Ardan yang selalu sedih. Bocah itu hidup dengan orang tua yang secara emosional tidak hadir untuknya.

Tanpa sengaja, matanya terangkat menatap jendela kaca besar di lantai dua. Ruang kerja Bhaga. Dan di sana, berdiri seorang lelaki dengan siluet yang mulai sangat familier baginya.

Bhaga.

Pria itu sedang berdiri di balik jendela, tangan menyilang di dada, menatap ke arah taman. Menatap Binar dan Ardan. Bukan. Bukan mereka. Tetapi menatapnya.

Binar segera menunduk, rasa takut yang baru saja mereda langsung kembali hadir. ‘Apakah dia mengawasiku? Apakah karena dua kesalahan yang telah kuperbuat? Apakah dia sedang mempertimbangkan untuk memecatku?’

Berulang kali Binar menarik napas dan membuangnya perlahan menenangkan diri. Begitu tenang, dia mencoba fokus pada Ardan. Memaksakan tawa untuk permainan bocah itu, tapi rasa cemas menggerogotinya.

Tanpa diperintah, setiap beberapa detik, matanya selalu saja tertarik untuk melirik ke jendela itu. Dan sosok itu masih ada di sana. Seperti seorang pemburu yang mengawasi buruannya.

Binar merinding.

Tidak lama kemudian, salah seorang pelayan lain datang menghampiri. Wajahnya sedikit gugup.

“Binar, Tuan Bhaga memanggilmu. Ke ruang kerja lantai atas. Sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Heri Caniago
sangat menghibur ya
goodnovel comment avatar
Irmawati
lanjut ceritanya
goodnovel comment avatar
Sitisuryani Suryun
bagus cerita nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   404. Keluarga Kecil

    “ I hereby declare the two of you to be husband and wife. What God has put together, only death can separate. May happiness always be with you both.”“Thank you.”Binar masih mencoba mengatur napasnya. Dia terisak karena masih tak percaya kalau hari ini datang juga. Hari yang tak pernah berani dia bayangkan, meski di dalam hatinya penuh harap, tapi tak pernah sekalipun dia keluhkan kepada Bhaga.Selama ini, Binar merasa kalau apa yang dia dapatkan dan jalani sudah lebih dari cukup. Mendapatkan banyak kasih sayang dari Bhaga, kepercayaan juga pendidikan dari Djati, anak yang begitu lembut, juga perhatian dari Nurma meski dengan cara yang sedikit berbeda. Ditambah, ibu kandungnya yang sudah kembali membuat dirinya tak lagi punya keinginan untuk meminta lebih.Hal ini hanya bisa dia mimpikan, terlebih setelah dia membatalkan pernikahan mereka sebelumnya dan kembalinya Celia ke rumah Bhaga. Tapi rupanya, semesta masih berpihak padanya dan kini hidupnya benar-benar sempurna.“Aku mencintai

  • Di Ranjang Majikanku   403. I Do

    Pendeta mulai bicara.Pria paruh baya itu menggunakan bahasa inggris yang pelan dan jelas. Pengalamannya terlihat sudah terbiasa menikahkan orang dari berbagai negara, terbukti dari caranya menyampaikan kalimat pembuka dengan intonasi yang mudah dipahami siapa saja.Tangannya dengan jari-jari yang sudah keriput memegang buku tebal, suaranya tegas dan stabil. Auranya berubah menjadi bijak dan itu membuat semua yang hadir langsung terfokus padanya. Lampu-lampu di atas altar menyala hangat, menciptakan pendar lingkaran cahaya di sekitar mereka bertiga. Binar berusaha menangkap semua ucapan yang sesekali tak dia mengerti. Tapi dia paham kalau pendeta itu memberikan pembuka untuk pernikahannya. Setengahnya lagi kelewat begitu saja karena Bhaga terus-terusan merhatiin dia, mencuri pandang diam-diam sambil tersenyum, membuat Binar tidak bisa fokus ke dua hal sekaligus.Lihat saja sekarang, Bhaga tidak pernah melepas pandangan darinya, seperti sedang menghafal setiap detail wajahnya di bawa

  • Di Ranjang Majikanku   402. Kapel Cinta

    Koridor menuju kapel itu cukup pendek. Mungkin hanya butuh dua puluh langkah dari pintu ruang rias ke pintu utama kapel. Tapi bagi Binar, rasanya seperti berjalan melewati jalanan yang tak terlihat ujungnya.Dari dalam, alunan musik sudah mulai sayup terdengar. Memang bukan lagu yang familiar di telinga, tapi entah kenapa terasa menenangkan, sampai bikin dada merasa agak aneh. Seperti sedang berada di dalam ruangan yang penuh dengan banyak kejutan, terlebih dia berulang kali membayangkan berbagai adegan ini setiap kali menonton film.Gelitik kecil di perutnya membuat Binar berulang kali menggigit bibir dalam agar tak tertawa geli akan khayalannya itu.Dia menoleh, memperhatikan Ardan yang berjalan di sampingnya dengan langkah yang kelewat serius buat anak umur enam tahun. Bahunya tegak, matanya lurus ke depan, dan langkahnya terukur. Kotak cincin masih di tangannya, dan sesekali dia terlihat menggenggam lebih erat, takut jatuh."Ardan pernah datang ke acara nikahan sebelumnya?" tanya

  • Di Ranjang Majikanku   401. Menuju Altar

    Para perias langsung bergerak cepat. Begitu Binar mengucapkan kata “iya” kepada Ardan, mereka seperti mendapat sinyal untuk memulai segala sesuatunya.Satu orang membetulkan riasan Binar. Gerakannya cepat, cekatan, dan tidak banyak omong. Kuas bedak bergerak di bawah mata Binar dengan presisi. Satu lagi merapikan gaun Binar, yang sebenarnya sudah rapi tapi tetap saja dirapi-rapikan dengan menarik sedikit di bagian pinggang, meluruskan lipatan di bagian belakang, memastikan tidak ada benang yang mengganggu. Satu orang lagi memegang buket bunga kecil yang Binar sendiri tidak tahu datangnya dari mana. Sebuah mawar putih dan baby breath, dibungkus dengan pita satin tipis berwarna krem.Binar hanya duduk diam dan pasrah dirapikan mereka. Tidak ada gunanya melawan. Mereka sudah terlalu cepat, efisien, dan bersemangat untuk dihentikan. Binar membiarkan tangannya diangkat, diputar, dan diletakkan kembali di pangkuan. Dia membiarkan tatanan rambut yang sudah rapi kembali dirapikan.Begitu sele

  • Di Ranjang Majikanku   400. Cerita Ardan

    Tak lama kemudian, pintu ruang rias diketuk dua kali.Binar yang sudah selesai didandani dan dipakaikan gaun putih yang ternyata ukurannya pas, menoleh ke pintu. Gaun itu menempel pas di pinggang dan bahunya, tidak terlalu longgar dan tidak menekan, seperti sudah disiapkan berbulan-bulan lalu. Padahal Binar tahu, kalau semua itu pasti disiapkan oleh Rudi dalam waktu singkat. Ingatkan dia untuk berterima kasih nanti.Ardan masuk.Anak itu sudah rapi. Kemeja putih kecil berkerah kaku, dengan celana kain hitam lurus, dan rambut yang disisir ke samping menggunakan minyak rambut wangi lavender yang membuat Binar hampir tidak mengenalinya. Anak itu kelihatan beda, seperti versi kecil Bhaga waktu pakai baju formal. Tampan sekali dan Binar tak bisa tidak tersenyum.Dia berdiri di ambang pintu, melihat Binar dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya terbuka sedikit. "Wah, Bunda cantik banget."Ekspresi Ardan benar-benar terlihat begitu tulus, dan menggemaskan. Bagaimana matanya ikut bica

  • Di Ranjang Majikanku   399. Gaun Putih

    Siapa dan dari mana mereka datang Binar tidak sempat proses. Dia masih dilingkupi kebingungan dan kini tiba-tiba dikerubungi oleh tiga wanita asing yang tersenyum kelewat ramah padanya. Tadi, pintu samping bangunan mendadak terbuka, dan tiga perempuan berseragam gaun serba merah muda dengan renda putih keluar. Mereka bergerak serempak, tak bicara tapi langsung menuju kepada Binar. Tiba-tiba saja ada yang memegang lengan, bahu, dan pergelangan tangannya. Mereka kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, membuat Binar hanya bisa menangkap sebagian katanya. Beberapa kata seperti "bride", "schedule", "quick dress", dan "beautiful" meluncur beruntun tanpa jeda, seperti sedang mengatur pembagian tugas diantara ketiganya. Sebelum Binar sempat menyusun kalimat untuk menolak atau bertanya, mereka semua sudah bergerak ke arah pintu samping bangunan, sedikit menyeret Binar ikut dalam langkah mereka. "Tunggu—" Binar menoleh ke belakang, mencoba menahan bobot tubuhnya agar tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status