Início / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 158. Aku Cuma Mau Kamu

Compartilhar

158. Aku Cuma Mau Kamu

Autor: Keke Chris
last update Última atualização: 2026-01-14 21:53:33

Minggu bergulir dengan drama yang melelahkan dan terus berulang. Rumah yang dulu terasa tenang, kini berubah menjadi penuh kecemasan, dengan Celia sebagai pusat perhatian yang tak kunjung stabil.

Bhaga terpaksa membatalkan semua agenda kantor. Rapat-rapat penting dialihkan menjadi konferensi video yang seringkali terpotong oleh teriakan atau rengekan dari luar pintu ruang kerjanya, memaksa Bhaga minta maaf dan menutup mikrofon sesaat.

Dokter dan psikiater terbaik sudah didatangkan, masing-masing dengan metode dan resep baru. Tapi tatapan Celia tetap sama. Kosong, penuh ketakutan, dan hanya menemukan ketenangan jika berdekatan dengan diri Bhaga.

Obat-obatan seolah hanya menjadi cairan vitamin, yang tak mampu menyentuh kesakitan yang sedang menyelimuti pikirannya.

“Dia mengalami gangguan kecemasan akut dan depresi berat yang diperparah oleh hormon kehamilan,” kata psikiater kepada Bhaga di ruang kerja, sementara dari ruang keluarga terdengar Celia memanggil-manggil nama Bhaga dengan sua
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Di Ranjang Majikanku   159. Selalu Nikmat Di Semua Posisi

    Matahari sudah mulai meninggi, tapi Bhaga sejak bangun tadi masih belum juga berpindah tempat. Dia masih berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya dan sesekali memejamkan matanya.Dia terlihat lelah sekali.Binar baru saja kembali ke kamar setelah dari dapur dan mengernyit saat melihat Bhaga yang terus berguling ke sana kemari sambil memejamkan mata. Tangannya menutup pintu dengan pelan dan mendekat ke ranjang.“Kamu kenapa?” tanyanya sambil menyentuh lengan Bhaga.Bhaga berhenti sejenak, menatap Binar dengan mata sayu. “Aku lelah sekali, sampai rasanya begitu lelah dan tak punya tenaga.”“Sakit?”Kepala Bhaga menggeleng. “Enggak. Cuma lagi malas aja.”Binar mengangguk dan kembali berjalan menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan diri setelah selesai memasak untuk sarapan mereka.Menit berlalu, Binar keluar dari kamar mandi sudah mengenakan gaun rumahan polos yang terlihat pas di tubuhnya, membuat tonjolan-tonjolan di tubuhnya terlihat menggoda.Dia duduk di depan meja rias, mele

  • Di Ranjang Majikanku   158. Aku Cuma Mau Kamu

    Minggu bergulir dengan drama yang melelahkan dan terus berulang. Rumah yang dulu terasa tenang, kini berubah menjadi penuh kecemasan, dengan Celia sebagai pusat perhatian yang tak kunjung stabil.Bhaga terpaksa membatalkan semua agenda kantor. Rapat-rapat penting dialihkan menjadi konferensi video yang seringkali terpotong oleh teriakan atau rengekan dari luar pintu ruang kerjanya, memaksa Bhaga minta maaf dan menutup mikrofon sesaat.Dokter dan psikiater terbaik sudah didatangkan, masing-masing dengan metode dan resep baru. Tapi tatapan Celia tetap sama. Kosong, penuh ketakutan, dan hanya menemukan ketenangan jika berdekatan dengan diri Bhaga.Obat-obatan seolah hanya menjadi cairan vitamin, yang tak mampu menyentuh kesakitan yang sedang menyelimuti pikirannya.“Dia mengalami gangguan kecemasan akut dan depresi berat yang diperparah oleh hormon kehamilan,” kata psikiater kepada Bhaga di ruang kerja, sementara dari ruang keluarga terdengar Celia memanggil-manggil nama Bhaga dengan sua

  • Di Ranjang Majikanku   157. Jangan Ganggu Mereka

    Suasana kamar di paviliun terasa begitu hangat, terutama karena Binar dan Bhaga sedang sama-sama terbuai dalam dunia sendiri.Sejak semalam, pelukan mereka tak lepas dan pagi ini keintiman itu semakin lekat dengan cumbuan-cumbuan yang saling menggoda.Ciuman juga kecupan terus berlabuh di wajah dan tubuh keduanya, saling membalas dengan intensitas yang sama. Tangan keduanya sibuk menjelajahi tubuh satu sama lain.Cumbuan dan ciuman itu kadang sangat lembut tapi kadang begitu dalam dan memburu. Keduanya seolah ingin melupakan sejenak apa yang terjadi dan hanya akan sibuk dengan dunia milik mereka berdua.Binar membiarkan Bhaga melakukan apa yang pria itu mau dan Binar hanya mengimbangi dengan sesekali mengoda dengan gerakan yang sensual.Bhaga mendekap erat, nafasnya mulai memburu, menikmati setiap respons Binar. "Aku sayang kamu," bisiknya di antara ciuman, tangannya meraba lembut punggung Binar.Binar mendesah pelan, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada momen ini. Ini adalah pengingat

  • Di Ranjang Majikanku   156. Percayalah Padaku

    Binar berdiri di ambang pembatas pintu ruang keluarga, dia mematung. Di depan sana ada pemandangan yang bagi Binar terasa seperti mimpi buruk.Bhaga dengan sangat hati-hati sedang membenarkan bantal di kursi makan untuk Celia yang duduk dengan tubuh lemas dan tatapan kosong. Wajah Bhaga terlihat penuh perhatian dan Celia hanya mengangguk dengan tangan yang mengelus pelan perutnya yang membesar.Ada obrolan singkat yang tak tertangkap telinga Binar, tetapi bahasa tubuh Bhaga terlihat jelas kalau dia melindungi istrinya itu. Binar menghembuskan napas pelan, berusaha melonggarkan dadanya yang kian sesak.Rasa sakit itu terasa begitu dalam, menusuk tepat di tengah dadanya."Semoga setelah ini kau sadar di mana posisimu."Suara berbisik itu menyapa di telinga Binar. Dia tak perlu menoleh untuk tahu suara siapa itu.Nurma sudah berdiri di sampingnya, dengan senyum miring yang penuh kemenangan dan ejekan."Lihatlah dengan jelas," lanjut Nurma, suaranya rendah namun setiap kata terasa seperti

  • Di Ranjang Majikanku   155. Celia Kembali

    Kebahagiaan yang menyelimuti Binar sepanjang hari tadi seakan menguap. Malam ini, semua itu digantikan oleh kecemasan yang menggeliat di dalam dadanya.Malam semakin larut, sudah hampir tengah malam, tetapi Bhaga belum juga pulang. Tidak ada telepon, tidak ada pesan. Hanya rasa penasaran yang berubah menjadi kekawatiran pada benak Binar.Binar duduk di tepi tempat tidur paviliun, matanya tak lepas dari layar ponsel yang gelap. Dia mencoba menelepon, sekali, dua kali, tapi keduanya langsung masuk ke voice mail.Gelisahnya bertambah. Pikiran-pikiran buruk mulai merayap. Apakah terjadi sesuatu? Kecelakaan? Atau… adakah hal lain?Dia terus menunggu, mencoba mengisi waktu dengan membereskan kamar yang sudah rapi, hingga akhirnya kelelahan dan kegelisahan mengalahkannya.Dia tertidur dalam keadaan duduk bersandar di kepala ranjang, masih mengenakan pakaian yang dia kenakan siang tadi, dengan lampu kamar yang masih menyala.***Fajar menyingsing. Dan Binar tergagap karena kaget dan kekawatir

  • Di Ranjang Majikanku   154. Aku Di Sini Bersamamu

    Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yang dalam dan hangat mengalir di dadanya.Belum lagi, tadi pagi dia terbangun dengan sarapan yang sudah disiapkan dan dibawakan ke kamar oleh pria itu. Di atas nampan kayu sederhana di atas nakas, terhampar sarapan lengkap. Sepiring bubur ayam hangat yang harum, jus jeruk segar, seporsi buah potong, dan secangkir teh lemon kesukaannya Dia tak pernah berani membayangkan akan mendapatkan perlakuan seperti apa yang dia dapatkan dari Bhaga. Dia terlalu tahu diri dengan asalnya. Namun, Bhaga menempatkan di tempat yang tinggi. Membuatnya terbuai keadaan. Tangannya terulur dan mengambil kertas kecil yang terselip di pinggiran nampan. "Makan yang baik. Aku sayang kamu. Bhaga." Binar membacanya sam

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status