Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 154. Aku Di Sini Bersamamu

Share

154. Aku Di Sini Bersamamu

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2026-01-10 21:51:14

Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.

Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yang dalam dan hangat mengalir di dadanya.

Belum lagi, tadi pagi dia terbangun dengan sarapan yang sudah disiapkan dan dibawakan ke kamar oleh pria itu. Di atas nampan kayu sederhana di atas nakas, terha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
amalia dewi
ini kenapa celia ga di taro di rmh ortunya saja biar ada yg ngurus kan sdh proses cerai
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   319. Ucapan Terima Kasih

    Satu jam kemudian, ballroom berubah lebih tenang.Lampu utama diredupkan perlahan. Percakapan di tiap meja mulai mengecil saat layar besar di panggung menyala menampilkan kategori penghargaan malam itu.Binar yang duduk di meja depan otomatis menegakkan punggungnya. Jemarinya saling terkait di atas pangkuan.“Penerima penghargaan kategori Pemberdayaan Wanita Ekonomi Lokal tahun ini…”Suara presenter menggema lembut memenuhi ruangan.Layar mulai menampilkan nama para nominasi beserta cuplikan program mereka. Foto-foto komunitas binaan Binar muncul bergantian. Workshop kecil. Ibu-ibu yang sedang menganyam. Ruang sederhana dengan meja panjang penuh hasil kerajinan.Binar menatap layar tanpa berkedip. Napasnya terasa pendek. Dadanya menghangat, melihat hal itu saja sudah membuatnya sangat bangga.“…program yang kami pilih berhasil menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.”Bhaga melirik dari samping. Binar terlihat tenang di luar. Namun jemarinya mulai di

  • Di Ranjang Majikanku   318. Kapan Nikah?

    “Bu Binar, tolong lihat sini dulu! Satu foto lagi!”Flash kamera menyilaukan langsung menyambar begitu pintu ballroom terbuka.Binar yang baru melangkah masuk refleks berhenti. Tangannya berpegang erat pada lengan Bhaga. Menyembunyikan kegugupan.Seorang panitia perempuan menghampiri dengan wajah berbinar. “Akhirnya datang juga. Kami takut Ibu terjebak macet.”“Masih aman tadi,” jawab Binar sambil tersenyum kecil.“Boleh langsung ke area tamu undangan ya, Bu. Nanti setelah sesi pembicara kedua, Ibu langsung naik panggung.”Bhaga yang berdiri di sampingnya mengangkat alis tipis.Sesi pembicara? Sungguh mendengarnya masih janggal. Biasanya orang-orang berhenti karena dirinya. Namun malam ini semua mata bergerak ke perempuan di sebelahnya.“Kak Binar!”Seorang perempuan muda datang setengah berlari sambil membawa ponsel. “Boleh selfie sebentar? Aku follow proyek Kakak dari tahun lalu.”Binar terlihat kaget sesaat sebelum tersenyum hangat. “Boleh.”Bhaga mundur satu langkah saat kamera po

  • Di Ranjang Majikanku   317. Undangan Gala Dinner

    “Kenapa namaku yang ditulis duluan?” Tangannya langsung berkeringat begitu membuka undangan yang dia terima baru saja.Binar membaca ulang kartu undangan di tangan untuk sekian kalinya. Iya, dia membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa tulisan dengan tinta emas itu tetap tidak berubah. Atas namanya!Ibu Binar dan pendamping. Bukan yang biasa dia baca saat menerima undangan, kepada yang tertuju dengan nama Bhaga di sana atau nama perusahaan.Bukan embel-embel nama besar yang selama ini tertulis. Itu adalah rangkaian huruf namanya sendiri.Binar menelan ludah pelan. Bibirnya tersenyum tak percaya. Pipinya terasa hangat karena bersemangatUndangan itu datang siang tadi lewat panitia acara, dikirim langsung ke rumah dalam amplop tebal berlogo Yayasan Perempuan Berdaya. Gala dinner tahunan mereka terkenal eksklusif. Acara yang dihadiri pejabat pemerintah, investor sosial, pemilik yayasan besar, sampai pengusaha yang punya pengaruh di program pemberdayaan nasional khususnya wanita.

  • Di Ranjang Majikanku   316. Akhirnya Berhasil

    “Kalau Ibu mau cepat, saya tidak bisa janji.” Suara di seberang telepon terdengar sedikit meremehkan.Binar berusaha sabar dan menegakkan punggung di kursi meja kerjanya. Laptop terbuka di depannya, beserta kertas-kertas kerja juga catatan kecil yang masih berantakan.“Jadi paling cepat butuh berapa lama, Pak?”“Paling cepat seminggu untuk pengiriman pertama.”“Oke. Itu masih bisa saya terima”Pria di seberang telepon terdengar ragu. “Tapi jarak kami jauh dari Jakarta, Bu. Ongkos kirimnya bagaimana?”“Tidak masalah selama kualitas barangnya sesuai.”Binar menekan pulpen ke meja, mencatat angka yang disebutkan.“Jujur saja, Bu,” lanjut pria itu, “kami biasanya tidak ambil order mendadak begini.”“Saya juga biasanya tidak pindah vendor mendadak begini. Namun, rekomendasi Bu Ratri terhadap usaha Anda benar-benar saya pertimbangkan.”Hening sebentar.Binar memejamkan mata sesaat, menahan lelah yang mulai menarik tengkuknya.“Saya cuma butuh kesempatan buat buktiin kalau kerja sama ini bis

  • Di Ranjang Majikanku   315. Lepaskan Lelahmu Padaku

    Beberapa hari sejak vendor lamanya mundur, Binar mulai merasa waktu berjalan lebih cepat daripada tumpukan pekerjaannya.Pagi hari dipakai mengurus Ardan. Siang menemui kelompok binaannya. Sore menghubungi calon vendor satu per satu. Sedangkan malam, dia akan duduk berjam-jam di depan laptop sambil membandingkan harga, kualitas bahan, dan ongkos pengiriman yang semuanya disusun agar begitu Vendor didapatkan dia mencapai kesepakatan kerja sama.Ada vendor yang murah tapi kualitasnya buruk. Ada yang kualitasnya bagus tapi minimum order terlalu besar. Ada yang menjanjikan bisa kirim cepat, tapi setelah di cek ulasannya ternyata sering bermasalah. Namun yang dia dapatkan lagi-lagi vendor dengan penolakan tegas untuk usaha kecil Binar.Malam itu jam menunjukkan hampir setengah sebelas ketika dia masih duduk di meja kerja dengan rambut berantakan dan mata lelah menatap layar laptop.Ardan sudah tidur sejak dua jam lalu. Rumah sudah sepi. Namun, daftar vendor di laptopnya belum juga berkuran

  • Di Ranjang Majikanku   314. Aku Akan Mengurusnya Sendiri

    “Maaf, Bu Binar. Kami tidak bisa melanjutkan kerja sama kita.” Suara pria di seberang telepon terdengar rendah. Berbeda dari biasanya.Binar langsung menegakkan duduknya. “Maksud Bapak?”Suasana jadi hening sejenak. “Ada kendala internal.” Akhirnya kalimat itu yang Binar dengar.“Tiga minggu lalu semuanya aman. Apakah saya membuat kesalahan?” Binar coba bernegosiasi.“Saya tahu semua baik-baik saja selama ini. Kerja sama kita juga menguntungkan buat saya.”“Lalu kenapa sekarang mendadak berubah?”Hening sesaat. Embusan napas panjang yang terdengar seperti menahan beban. Binar bisa merasakan pria itu canggung dan merasa tak nyaman melanjutkan pembicaraan ini.“Kami perlu evaluasi ulang kerja sama kita, Bu.” suaranya kini terdengar tegas.Jari Binar mengencang di ponselnya. “Ini soal harga? Kita bisa bicarakan baik-baik bila kendalanya adalah harga.”“Bukan, Bu Binar.”“Produksi?”“Bukan juga.”“Lalu apa?”Pria itu menarik napas berat.“Maaf, Bu. Terima kasih atas kerja sama yang sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status