แชร์

154. Aku Di Sini Bersamamu

ผู้เขียน: Keke Chris
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-10 21:51:14

Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.

Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yang dalam dan hangat mengalir di dadanya.

Belum lagi, tadi pagi dia terbangun dengan sarapan yang sudah disiapkan dan dibawakan ke kamar oleh pria itu. Di atas nampan kayu sederhana di atas nakas, terha
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
amalia dewi
ini kenapa celia ga di taro di rmh ortunya saja biar ada yg ngurus kan sdh proses cerai
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Di Ranjang Majikanku   337. Sekarang Giliranmu

    Binar terperangah, tak percaya akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Bhaga. Bagaimana seorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berkuasa, justru merasa sangat tak berharga. Padahal semua orang mengelukan dia.“Bhaga, apa maksudmu?’Bhaga yang sempat terdiam karena pikirannya sendiri, sedikit tersentak dan melirik Binar. “Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku.”“Tapi ini semua bukan salahmu.”“Aku tahu ini bukan salahku, tapi aku tetap gagal. Tak ada seorang pun yang bisa kupercaya.”Binar melongo, membelalak tak percaya. “Termasuk aku?”Pria itu berdeham kecil. “Bukan itu maksudku.”Mata Binar memperhatikan Bhaga yang sejak tadi terlihat tak tenang. Tak ingin memperpanjang masalah yang lain, dia kembali membahas Ardan.“Oke. Aku tak akan bahas itu sekarang, karena aku sangat mengkuatirkan Ardan.”“Dia akan baik-baik saja. Tenanglah. Jangan berlebihan.”"Tapi apa kamu mau Ardan tumbuh jadi orang yang enggak tahu cara minta tolong? Yang enggak bisa percaya pada o

  • Di Ranjang Majikanku   336. Kekuatiran Binar

    Melihat tak ada perubahan pada perilaku Bhaga, maka Binar memutuskan untuk mengajaknya bicara lagi. Dia kuatir bila dibiarkan akan semakin jauh. Hari itu, seharian hujan turun tidak begitu deras, tapi juga tidak kunjung berhenti. Rintiknya membuat jendela-jendela rumah sedikit berkabut dan suara di luar menjadi teredam. Membuat semua orang enggan keluar dan menghabiskan waktu di dalam rumah.Bila biasanya Bhaga dan Ardan akan sangat menunggu dan menyukai momen ini, tapi tidak dengan hari ini.Ardan sudah tidur sejak tadi, setelah Binar bacakan dua buku cerita karena yang pertama belum cukup untuk membuatnya mengantuk. Malam ini anak itu tak banyak meminta, tapi terus memeluk Binar hingga akhirnya tertidur. Binar mencium kening Ardan, merapikan selimutnya, dan keluar dari kamar setelah memastikan semua telah pada tempatnya. Sedangkan Bhaga, tak usah ditanya. Sudah pasti ada di ruang kerja, entah mengerjakan sesuatu atau mengurung diri, karena pria itu betah sekali menghabiskan waktu

  • Di Ranjang Majikanku   335. Trauma Dan Ardan

    Pagi itu di meja makan, Binar duduk dengan posisi yang tidak nyaman. Berulang kali dia merubah posisi duduknya dengan sangat perlahan sambil meringis dalam hati.Dia berusaha duduk tegak seperti biasa, tapi punggungnya bahkan tidak bisa menyentuh sandaran kursi dengan bahu yang rileks. Tangannya di atas meja, tapi setiap kali dia bergerak, ada saja bagian tubuhnya yang terasa perih.Binar tidak bisa protes, karena toh dia juga menikmatinya. Ada kepuasan di sana, di sela-sela rasa sakit yang membuatnya merasa malu jika harus mengakuinya. Tapi malam tadi berbeda. Bhaga semalam bukan seperti Bhaga yang biasanya.Biasanya, Bhaga sangat pengertian. Dia membaca bahasa tubuh Binar, tahu kapan harus melambat, mengencang, atau berhenti. Semalam tidak. Justru sangat kasar. Tangannya di mana-mana dengan cara yang meninggalkan bekas karena terlalu kuat, dalam, dan penuh emosi. Ada kemarahan di setiap sentuhan. Kekecewaan di setiap gerakan.Binar membiarkannya. Tidak melawan atau memintanya berhen

  • Di Ranjang Majikanku   334. Panas Dan Kasar

    Binar mengangguk pelan. Raut wajahnya belum menampakkan kelegaan, tapi setidaknya beban itu sedikit terangkat. Dia tersenyum kecil. "Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Kau melakukannya hanya agar percakapan ini lekas selesai, kan.”Bhaga membuang muka. Diam diam membenarkan.Suara kekehan kecil keluar dari bibir Binar. Dia mengangguk dan menghela napas."Tidak apa-apa." Binar berdiri. "Tapi mulailah dari tidak melampiaskan pada kami."Bhaga menatapnya berdiri, berjalan ke ke arah tangga ."Binar.""Hm,” Binar menjawab tanpa menoleh."Aku akan tidur di kamar." Jeda singkat. "Bersiaplah.”Binar menoleh. Tatapan mereka bertemu. "Aku tunggu di kamar," kata Binar. Bhaga mengangguk.Binar kembali berjalan. Langkah kakinya pelan menyusuri koridor menuju kamar utama. Begitu masuk, dia sempat berbaring beberapa saat, kemudian bangkit lagi untuk dandan di depan cermin.Dia memakai liptint, menyisir rambut, dan menyemprotkan parfum di lingerienya. Setelah itu, dia kembali ke kasur, berbaring mi

  • Di Ranjang Majikanku   333. Aku Minta Maaf

    Binar berulang kali menarik napas pelan, mencoba menenangkan tumpukan emosi karena diabaikan Bhaga beberapa waktu belakangan. Dadanya naik, turun. Wajahnya sedikit memerah karena menahan kesal.Pria itu sudah pulang sejak kemarin, tapi tak ada penjelasan atau pelukan minta maaf. Bhaga ada di rumah, tapi suaranya tak terdengar sedikit pun, bahkan pada Ardan.Kini, Binar tak tahan lagi. Dia menerobos masuk ke ruang kerja Bhaga. Melihat bagaimana pria itu tersentak kaget, tapi kembali sibuk dengan dokumen di tangannya.Binar berdecak keras. Dia melangkah sambil mengentakkan kaki, berusaha menganggu konsentrasi Bhaga yang diyakininya sudah buyar sejak tadi.Begitu jarak mereka tak jauh lagi, Binar bukannya mendekat, tapi dia kembali memilih duduk di sofa panjang agar bisa tetap melihat Bhaga dengan jelas."Bhaga.""Hm.""Aku tidak punya sesuatu yang tersembunyi." Suara Binar tenang, tidak bergetar. "Tidak punya utang yang perlu dilunasi dengan cara apa pun, atau alasan untuk menyakiti kam

  • Di Ranjang Majikanku   332. Pelampiasan Rindu

    Malam itu Binar menunggu Bhaga di ruang kerja.Duduk di sofa pojok dengan lampu kecil yang menyala. Matanya terus tertuju ke pintu, sesekali ke jam dinding. Jarum bergerak lambat, seperti sengaja memperlambat waktu. Dia mulai jenuh, tapi bersikeras tetap menunggu.Akhirnya Bhaga masuk jam sepuluh lewat. Setelan kerja masih melekat, tapi dasi sudah longgar. Rambut sedikit berantakan, menandakan hari yang panjang. Dia melihat Binar di sana. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi ada sesuatu yang bersiaga di balik matanya. Bahunya yang biasa turun setelah pulang kantor, kali ini tetap tegang."Kenapa di sini?""Mau bicara."Bhaga menutup pintu. Dia tidak duduk di sofa dekat Binar, tapi memilih kursi kerjanya. Melihat Binar dengan tajam dari balik meja, di seberang Binar. Menciptakan jarak yang disengaja. Binar melihat itu, tapi dia tidak berkomentar."Belakangan ini," mulai Binar, "kamu semakin menjauh."Bhaga tidak langsung menjawab. Jarinya mengetuk pelan di atas meja, menggenggam pena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status