LOGIN“Kalau memang ada sesuatu, kenapa nggak bilang langsung aja?” Bhaga mengangkat Ardan ke pelukannya tanpa kesulitan. Anak itu menggumam pelan dalam tidur, wajahnya langsung bersandar nyaman di bahu Bhaga. “Ada hal yang lebih baik kalau kamu lihat sendiri.” Kalimat itu menggantung begitu saja. Bhaga membawa Ardan ke kamar tanpa menunggu balasan lagi. Binar tetap duduk di sofa. Matanya melirik ke arah meja makan di dekat ruang keluarga. Piring makan malam masih tertutup rapi. Tidak tersentuh sama sekali oleh Bhaga. Sup yang tadi siang dia masak mulai kehilangan uap panasnya dan gelas air putih di sisi meja bahkan masih penuh. Perut Binar mendadak terasa tidak nyaman. Dia bangkit perlahan lalu berjalan mendekati meja makan. Jemarinya membuka tudung saji satu per satu. Semua masih utuh. Berarti Bhaga belum makan. Binar menutup kembali tudung saji dengan perasaan berantakan.Rasa bersalah mulai merambat di dadanya. Tadi siang dia terlalu menikmati waktunya bersama Kiara dan yang l
Ponsel Binar berbunyi tepat saat dia selesai menutup laptop. Sore itu rumah sedang tenang. Ardan masih les. Bhaga belum pulang. Cahaya matahari jatuh lembut dari jendela dapur sementara aroma teh hangat masih tipis menguar di meja makan. Binar mengambil ponselnya tanpa terlalu memperhatikan. Namun alisnya langsung terangkat kecil saat melihat nama pengirim pesan itu. Kiara.Binar ingat perempuan itu. Istri salah satu mitra bisnis Bhaga. Cantik dengan cara yang terlihat effortless, padahal jelas tidak. Rambutnya selalu rapi tanpa tampak terlalu diatur. Pakaiannya mahal, namun tidak pernah terlihat berusaha mencolok. Senyumnya lebar. Cara bicaranya hangat. Matanya terlalu cerdas untuk dianggap sekadar sosialita biasa. Mereka pertama kali benar-benar ngobrol di acara sosial amal bulan lalu. Awalnya cuma sapaan ringan. Lalu berubah jadi obrolan hampir satu jam tentang komunitas perempuan, makanan, sampai pengalaman paling memalukan saat pertama kali masuk lingkungan sosial kelas at
Bhaga mengembuskan napas panjang saat mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Jasnya sedikit kusut. Sementara Binar … Bhaga melirik sekilas lalu tertawa pendek. “Astaga.” Rambut perempuan itu benar-benar berantakan. Lipstiknya nyaris hilang dan ronanya menyebar di seluruh pinggiran bibir, ditambah bahunya masih memerah samar. Binar langsung memukul lengan Bhaga pelan. “Jangan lihat!” “Yang bikin juga aku.” “Bhaga!” Pria itu turun lebih dulu sambil menahan senyum. Malam sudah sangat larut saat mereka masuk ke rumah. Namun lampu ruang tengah ternyata masih menyala. Bhaga mengernyit dan terperangah saat melihat Ardan duduk selonjoran di sofa sambil memegang tablet. Langkah Bhaga langsung berhenti. “Nak, Kamu belum tidur?” Anak itu mengangkat muka santai. “Belum ngantuk, Pah.” Bhaga melirik jam dinding. “Ini udah jam setengah satu malam.” “Tapi aku nunggu papa dan bunda pulang.” Binar yang masih sibuk membenarkan rambut langsung merasa bersalah. “Ardan say—.” “Tidur, Nak!”
“Aneh.” Suara Bhaga rendah di tengah sinar lampu dari luar limousine. Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Cahaya kota bergerak samar di balik kaca gelap, memantul tipis pada plakat penghargaan di pangkuan Binar. Binar menoleh pelan. “Aneh gimana?” Bhaga tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk lutut satu kali sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. “Bukan tidak suka. Bukan juga iri.” Tatapannya lurus ke depan. “Cuma aneh.” “Karena aku yang jadi pusat perhatian?” Bhaga melirik sekilas. Sudut bibirnya bergerak tipis. “Kamu sadar juga.” Binar tertawa kecil pelan. “Aku tadi sampai lupa dan meninggalkan kamu sendirian.” “Aku tidak bilang terganggu.” “Terus?” Bhaga diam beberapa detik. “Hanya belum terbiasa saja.”Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur dan tulus. Binar menatapnya sebentar tanpa bicara. Pria di sampingnya ini terlalu besar untuk mengaku kalah pada banyak hal. Bahkan pada dirinya sendiri. Jadi pengakuan sekecil itu terasa lebih berat
Satu jam kemudian, ballroom berubah lebih tenang.Lampu utama diredupkan perlahan. Percakapan di tiap meja mulai mengecil saat layar besar di panggung menyala menampilkan kategori penghargaan malam itu.Binar yang duduk di meja depan otomatis menegakkan punggungnya. Jemarinya saling terkait di atas pangkuan.“Penerima penghargaan kategori Pemberdayaan Wanita Ekonomi Lokal tahun ini…”Suara presenter menggema lembut memenuhi ruangan.Layar mulai menampilkan nama para nominasi beserta cuplikan program mereka. Foto-foto komunitas binaan Binar muncul bergantian. Workshop kecil. Ibu-ibu yang sedang menganyam. Ruang sederhana dengan meja panjang penuh hasil kerajinan.Binar menatap layar tanpa berkedip. Napasnya terasa pendek. Dadanya menghangat, melihat hal itu saja sudah membuatnya sangat bangga.“…program yang kami pilih berhasil menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.”Bhaga melirik dari samping. Binar terlihat tenang di luar. Namun jemarinya mulai di
“Bu Binar, tolong lihat sini dulu! Satu foto lagi!”Flash kamera menyilaukan langsung menyambar begitu pintu ballroom terbuka.Binar yang baru melangkah masuk refleks berhenti. Tangannya berpegang erat pada lengan Bhaga. Menyembunyikan kegugupan.Seorang panitia perempuan menghampiri dengan wajah berbinar. “Akhirnya datang juga. Kami takut Ibu terjebak macet.”“Masih aman tadi,” jawab Binar sambil tersenyum kecil.“Boleh langsung ke area tamu undangan ya, Bu. Nanti setelah sesi pembicara kedua, Ibu langsung naik panggung.”Bhaga yang berdiri di sampingnya mengangkat alis tipis.Sesi pembicara? Sungguh mendengarnya masih janggal. Biasanya orang-orang berhenti karena dirinya. Namun malam ini semua mata bergerak ke perempuan di sebelahnya.“Kak Binar!”Seorang perempuan muda datang setengah berlari sambil membawa ponsel. “Boleh selfie sebentar? Aku follow proyek Kakak dari tahun lalu.”Binar terlihat kaget sesaat sebelum tersenyum hangat. “Boleh.”Bhaga mundur satu langkah saat kamera po







