LOGINSemakin malam, obrolan mereka tak lagi ringan. Interaksi mereka terasa semakin intim, dengan tatapan mata yang mulai ada percikan gairah dan sentuhan kecil yang menggoda.Bhaga masih duduk dengan santai, tapi matanya tak bisa lepas dari memindai Binar. Leher yang terekspos, tulang selangka yang mengintip sebagian dan dua bulatan favoritnya yang kini tertutup gaun ketat, membuatnya semakin terpancing gairah. Pikirannya sudah kemana-mana.Binar sengaja memainkan sendok kecilnya, menjilat dengan tatapan nakal ke arah Bhaga, dan menggigit pinggiran bibirnya. Dia juga sengaja menempelkan dadanya ke pinggiran meja dan saat Bhaga melihatnya, dia menjilat bibir bawahnya.“Kenapa liatin aku terus?” tanya Binar dengan suara lembut tapi penuh godaan, matanya berkilat nakal.Bhaga tersenyum miring, suaranya rendah dan berat, “Karena dari tadi aku mambayangkan payudara kamu yang lagi aku lihat ini sedang aku hisap pelan sambil kamu mendesah di bawahku.”Darah Binar berdesir hebat. Tubuhnya langsun
Pakai ini.Dua kata itu tertera di kartu yang tersemat di atas sebuah kotak berwarna merah marun. Binar menemukannya di atas kasur bersama dengan sebuah jaket tebal di samping kotak itu.Binar membuka kotak itu. Sebuah gaun panjang berwarna navy dengan potongan sederhana di depan dan punggung yang terbuka sedikit, ada di dalam sana. Dia mengangkatnya, menempelkan ke tubuhnya yang masih terbalut handuk, dan tersenyum. Tangannya mengelus gaun itu, kainnya begitu halus dan jatuh mengikuti lekuk tubuh.Bhaga pasti mempersiapkan ini semua sebelum berangkat. Lagi, Binar tersenyum bahagia.Dia memakai gaun itu di depan cermin kamar hotel, melihat bagaimana kain itu jatuh di pinggul, dan belahan di belakang memperlihatkan garis tulang belakangnya. Tubuhnya memutar sedikit, melihat dari samping. Cantik, dia terlihat cantik sekali. Dia bahkan tak tahan untuk memuji dirinya sendiri.Binar mengambil sepasang anting mutiara kecil dan memakainya, masih dengan wajah yang cerah.Di luar kamar, Bhaga
Setelah membersihkan diri, Binar tak banyak bicara. Dia kelelahan parah dan badannya belum bisa beradaptasi dengan dinginnya udara di Paris. Maka, malam pertama ini, mereka memutuskan untuk tidak pergi jauh.Petugas hotel merekomendasikan sebuah bistro kecil di sudut jalan, hanya sekitar lima menit bila berjalan kaki. Mereka langsung setuju lalu memilih berjalan santai sambil bergandeng tangan dan mengobrol ringan. Tanpa reservasi, dan interiornya sangat nyaman seperti berada di dalam ruang keluarga.Saat sampai, Bhaga mendorong pintu kayu yang sedikit berat, dan lonceng kecil di atas pintu berbunyi.Bistro itu kecil. Mungkin hanya ada sepuluh meja. Dindingnya bata ekspos, dihiasi hiasan dinding sederhana yang unik dan cermin bundar berbingkai emas yang sudah sedikit pudar. Lampu-lampu yang tak terlalu terang menggantung rendah, menciptakan bayangan hangat di setiap sudut. Lantai kayu berderit pelan setiap kali ada pelayan lewat.Mereka duduk di pojok, menghadap pintu. Bhaga memesan d
Binar baru saja menuang teh ketika Bhaga duduk di seberangnya dengan sebuah amplop di tangan.Bhaga tidak bicara. Dia hanya melirik Binar dan tersenyum kecil, lalu meletakkan amplop itu di meja dan berdeham kecil sambil memberikan kode ke amplopnya.Dengan sangat pelan, seolah berhati-hati, Binar mengambil amplop itu sambil mengernyit. Dia membukanya dan terperangah. “Bhaga, ini—““Iya.” Bhaga tersenyum lebar. "Kita pergi."Kali ini Binar tak lagi berhati-hati, tangannya gegas menarik keluar dan matanya berkaca-kaca.Dua lembar tiket pesawat kelas bisnis. Binar membolak-balikkan berulang kali, masih tak percaya. “Paris. Charles de Gaulle. Keberangkatan Jumat malam.” Dia membacanya dengan suara yang sedikit bergetar.Namun kemudian, kepalanya mendongak cepat. "Ardan?" tanya Binar."Sama Maryam dan Sari. Mami juga akan datang. Ardan juga sudah setuju, katanya Papi dan Bunda liburan dulu biar tidak capek."Air mata menitik, Binar membaca tiket itu lagi, melihat tanggal keberangkatan juga
Ketika Binar keluar dari lobi stasiun televisi tersebut, mobil Bhaga sudah menunggu di pelataran lobi. Dia sudah melihatnya dari kejauhan. Bhaga sengaja membawa mobil yang tidak mencolok, tapi dia segera mengenalinya.Mesin mobil menyala dan bayangan Bhaga terlihat di depan setir. Pria itu tidak menoleh, dan Binar melangkah lebih cepat, membuka pintu penumpang, dan gegas memasukinya.Udara dingin dan aroma parfum pria bercampur pendingin udara dalam mobil langsung menyapanya, Binar hanya tersenyum dan Bhaga mengelus rambutnya. Mereka tak bicara, Bhaga segera melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu segera. Jalanan sore Jakarta padat seperti biasa. Pengendara yang tak mau mengalah, klakson yang bergantian berbunyi dan beberapa polisi berdiri di pinggir jalan.Binar memandangi keluar jendela, hanya diam dan menikmati jalanan yang serumit pikirannya."Kamu sudah makan?" tanya Bhaga akhirnya."Belum.""Mau mampir?"Binar menoleh sebentar ke arah Bhaga. Pria itu tidak menatapnya. M
Setelah lebih tenang, Binar refleks menegakkan punggungnya. Merapikan letak tangannya dan memasang wajah yang terlihat begitu tenang. Dia tersenyum.Host itu tersenyum ke kamera. Senyum yang saat ini sangat Binar benci.“Kalau tidak diklarifikasi, hal itu akan terus menggantung dan berpengaruh ke nama baik seseorang.” Host itu mencondongkan badnnya sedikit. “Istilah itu belakangan menempel pada diri dan hubungan kamu. Jadi silakan dijelaskan yang sebenarnya.”Psikolog di kursi paling kiri mengangguk-angguk, tapi tidak bersuara.Host itu menatap Binar. "Dari sudut pandangmu, apakah ada elemen itu dalam hubunganmu dengan Bhaga?"Binar untuk merasakan semua mata tertuju padanya dan dia tidak menghindar."Saya rasa hal itu hanya dibuat oleh orang-orang yang memvalidasi hubungan kami tanpa mengetahui kebenarannya." Suara Binar pelan, begitu stabil.Host itu sedikit terkejut.Binar yang sudah terlatih bisa melihat perubahan ekspresi itu tapi dia tetap tenang dan tersenyum kecil."Istilah it
"Kondisinya belum memungkinkan bila kita tinggal di rumah itu. Mau ya bersabar sedikit lagi?" Bhaga kini lebih seperti memohon. Wajahnya sendu.Bhaga semakin mendekat. Tubuhnya kini telah melekat di tubuh Binar. “Aku akan selalu menjagamu, Sayang,” katanya lagi, masih mencoba meyakinkan.Binar ber
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Suasana kamar di paviliun terasa begitu hangat, terutama karena Binar dan Bhaga sedang sama-sama terbuai dalam dunia sendiri.Sejak semalam, pelukan mereka tak lepas dan pagi ini keintiman itu semakin lekat dengan cumbuan-cumbuan yang saling menggoda.Ciuman juga kecupan terus berlabuh di wajah dan
Binar berdiri di ambang pembatas pintu ruang keluarga, dia mematung. Di depan sana ada pemandangan yang bagi Binar terasa seperti mimpi buruk.Bhaga dengan sangat hati-hati sedang membenarkan bantal di kursi makan untuk Celia yang duduk dengan tubuh lemas dan tatapan kosong. Wajah Bhaga terlihat pe







