Se connecterArya.Satu nama yang dihindari Binar sejak kejadian malam itu. Dia sungguh tak ingin lagi, bahkan hanya untuk mendengar namanya saja. Tapi seorang kurir tiba-tiba datang dan mengantarkan sebuah amplop dengan kartu nama Arya di depannya.Awalnya Binar ragu untuk membukanya, tapi dia tetap merobek pinggiran amplop dan mengintip sekilas.Di dalam amplop itu hanya satu lembar kertas dengan tulisan tangan. Rapi tapi tidak kaku.Saya mohon kesempatan untuk bertemu selama sepuluh menit. Di tempat ramai. Tidak ada agenda lain. Hanya minta maaf secara langsung. Jika tidak berkenan, saya mengerti sepenuhnya.Binar membaca surat itu sambil menghela napas pelan. Dia ragu.Namun dua hari kemudian, mereka bertemu di kafe kecil di kawasan Kemang.Binar datang sendiri, tapi sudah memberitahu Bhaga sebelumnya. Dia memilih meja di sudut dekat jendela, tempat yang punya banyak ruang terbuka dan jarak yang cukup dari meja-meja lain.Demi menyiapkan mentalnya, dia tiba sepuluh menit lebih awal dan memesan
Setelah beberapa hari lembur karena menyelesaikan projek yang bermasalah, malam ini Bhaga pulang lebih awal. Dia tiba-tiba ingin sekali menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ardan dan menemani Binar sebelum tidur.Saat Bhaga pulang, Ardan sedang membaca buku bergambar di ruang keluarga. Anak itu langsung mengulurkan bukunya ke arah Bhaga, dan menepuk posisi kosong di sebelahnya. Bhaga tersenyum lebar, meletakkan tasnya di sofa single, mendekati ardan, mengecup kepala Ardan, lalu mengambil buku itu dan duduk di sampingnya.Mereka membaca buku bersama, sesekali Ardan berkomentar tentang alur cerita dan tokoh di dalamnya, atau dia bertanya mengenai hal yang tak dimengerti. Obrolan keduanya begitu seru, hingga tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat dan Sari datang, meminta izin pada Bhaga untuk membawa Ardan untuk tidur.Bhaga memeluk Ardan erat, mencium kening putranya dengan sayang dan membiarkannya dibawa pengasuhnya untuk naik ke kamar. Dia sendiri juga berdiri, mengambil tasnya, dan
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat ketika Nurma melangkah keluar dari kamar mandi. Malam itu Nurma tidak langsung tidur, dia berpikir bila menyegarkan diri akan cepat mengantuk dan rupanya dia salah. Tubuhnya justru segar dan kantuknya semakin menghilang.Jadi dia memutuskan untuk keluar kamar, melangkah ke taman belakang dan duduk di terasnya, menikmati angin malam dengan pemandangan lampu taman yang indah. Ada yang menganggu pikirannya dan hal itu sejak tadi tak mau pergi.Dia memikirkan Binar.Bukan karena kasihan. Nurma tidak pernah menaruh rasa kasihan ada pada dirinya. Rasa kasihan hanya menempatkan orang di posisi yang lebih rendah dari yang sebenarnya dan Nurma tidak mau melakukan itu kepada siapapun, apalagi kepada perempuan yang tadi berdiri di ruang kerja suaminya dan tidak menurunkan pandangannya meski air matanya jatuh.Meski Nurma tidak menyukainya, tapi kenyataan Binar mampu bertahan dan membuat keadaan rumah juga kondisi anak dan cucunya jadi jauh lebih terurus
Sudah tiga hari berlalu. Tak ada sedikit pun kabar atau respons dari pihak Djati. Seolah tak ada yang terjadi.Binar sendiri tidak mengharapkan kabar itu. Dia kembali ke rutinitasnya. Menghabiskan waktu bersama Ardan, hampir di sepanjang hari, kecuali saat anak itu ke sekolah.Sesekali memasak meski ada juru masak terbaik di rumah itu. Dia juga melanjutkan proyek yang sempat dia tunda berminggu-minggu karena terlalu banyak hal lain yang menyita perhatian.Bhaga tidak memaksanya bercerita atau bertanya, dia hanya mendengarkan apa yang ingin Binar katakan, dan untuknya itu sudah lebih dari cukup. Terlebih Binar sudah terlihat jauh lebih baik dengan suasana hati yang baik.Dia hanya tahu versi singkatnya. Bahwa ada pertemuan yang tidak berjalan baik dan Binar memilih keluar juga menolak tawaran yang diberikan untuk bisa mendapatkan tanda tangan investor itu. Selain itu, ada konfrontasi dengan Djati yang membuatnya menangis dan kecewa.Bhaga mendengarkan tanpa banyak komentar. Lalu dia men
Ketika Binar sampai rumah, Bhaga masih belum pulang. “Tadi katanya sudah mau pulang?” tanya Binar pada diri sendiri.Dia duduk di sofa ruang keluarga, membuka tas dan mengeluarkan ponselnya. Ternyata ada beberapa pesan singkat dari Bhaga.[Aku mendadak ada meeting, mungkin sampai agak malam.][Ardan ke rumah mami sama Maryam.][Kamu baik-baik saja.]Binar menatap pesan itu. Dia mendesah berat sekaligus lega. Setidaknya dia bisa menyendiri untuk beberapa saat. Jarinya gegas bergerak untuk membalas pesan itu.[Baik. Sampai ketemu di rumah.]Dia lalu berdiri, membawa tasnya dan naik ke kamar dengan langkah yang lunglai. Sesampainya di dalam kamar, dia meletakkan tasnya asal dan langsung duduk dengan kaku di tepi kasur. Tidak mengganti baju dulu, bahkan sepatunya masih terpasang.Beberapa menit terlewati dan dia hanya duduk. Tak melakukan apapun, diam terpaku dengan pandangan kosong ke depan.Tetapi, wajahnya kemudian mengerut. Dia menelan ludah dengan susah payah dan rasa sesak itu kemba
Nurma masuk ke kamar itu tanpa mengetuk.Djati tersentak kecil, tapi dia tidak menoleh. Matanya masih di layar, tak ingin kehilangan momen walau hanya sedetik.Langkah Nurma sedikit ragu saat mendekat, tapi dia tetap melangkah dan berdiri di belakang Djati. Matanya memicing saat melihat gambar di layar itu dan mengernyit begitu menyadari jarak keduanya kini sangat dekat."Dia belum pergi?" tanya Nurma pelan."Belum. Sepertinya dia bersikeras mendapatkan tanda tangan itu." Terlihat menarik, Nurma langsung berpindah. Dia gegas duduk di sebelah Djati dan menatap layar dengan ekspresi seseru ketika menonton telenovela."Kalau dia melakukan apa yang diminta pria itu," kata Nurma. "Apa yang akan kamu lakukan dengan rekaman ini?"Djati menyeringai miring.."Kamu berikan ke Bhaga," lanjut Nurma sendiri dengan nada yang tak percaya."Bhaga berhak tahu siapa perempuan yang ada di hidupnya."Nurma menatap layar. "Dan kalau Bhaga tetap tidak melepaskan wanita itu meski melihat rekaman ini?""Itu
Nurma memijit pelipisnya, berusaha meredakan sakit kepala yang dirasakan sejak hari ulang tahun cucunya. Sudah sekian hari berlalu sejak itu."Rasanya seperti angin lalu saja mereka bertemu, Nyonya besar." keluh Sari pada Nurma yang sedang mengawasi mereka membereskan dapur."Setelah pesta ulang ta
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Binar berdiri di ambang pembatas pintu ruang keluarga, dia mematung. Di depan sana ada pemandangan yang bagi Binar terasa seperti mimpi buruk.Bhaga dengan sangat hati-hati sedang membenarkan bantal di kursi makan untuk Celia yang duduk dengan tubuh lemas dan tatapan kosong. Wajah Bhaga terlihat pe
Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA







