Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 223. Dijemput Polisi

Share

223. Dijemput Polisi

Author: Keke Chris
last update publish date: 2026-02-24 21:39:33

Di dalam restoran, Daniel duduk terpaku. Para pemegang saham mulai memandangnya dengan curiga. Satu per satu mereka pamit, meninggalkan Daniel sendirian di meja.

Ponselnya berdering. Alya.

"Bagaimana?" tanyanya.

Daniel menghela napas. "Dia datang. Dengan bukti."

"Apa?! Dia tahu?"

"Dia tahu semuanya. Tapi dia tidak melaporkan ke polisi. Dia hanya minta aku mundur."

Alya diam. Lalu, "Apa yang akan kau lakukan?"

Daniel tersenyum tipis. Menyeringai licik. "Aku tidak akan mundur. Aku akan menghancur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   377. Dilabrak

    Pintu ruang tengah terbuka dengan keras, hampir membentur dinding. Nurma masuk dengan langkah menghentak. Sandal rumahnya berdecit di lantai ubin, kemarahan jelas tergambar di wajahnya, dan tangannya mengepal.Begitu sampai di depan Binar, Nurma tak lagi menahan diri. “Jadi begini caramu membalas?”“Mak-maksud mami apa?” "Membatalkan pernikahan ketika acara sudah di depan mata, bukan cara buat menenangkan Ardan!" Nurma menatap Binar dengan mata yang sarat kemarahan dan frustrasi yang tertahan. Dadanya naik turun cepat. "Kamu mempermalukan semua orang. Saya, keluarga, bahkan diri kamu sendiri. Mau ditaruh di mana wajah Bhaga?!" Binar tidak bergerak dari tempatnya. Tangannya mencengkeram ujung bajunya, jari-jarinya memutih karena terlalu keras mengepal, demi menahan diri untuk tidak membalas dengan nada yang sama. "Lebih baik aku malu di depan semua orang, Mi," kata Binar pelan,"daripada harus hidup dengan ingatan kalau aku membangun kebahagiaanku di atas mental Ardan yang hancur."

  • Di Ranjang Majikanku   376. Merajuk

    Rumah Nuri mendadak terasa terlalu luas setelah semua orang pergi. Sisa-sisa keriuhan menguap begitu saja, meninggalkan beberapa barang yang belum selesai dirapikan dan tumpukan sisa dekorasi juga makanan. Lampu-lampu hias berjejer rapi di sisi dinding.Di kamar, Ardan terus bergerak gelisah atau mungkin cuma sedang berusaha mencari posisi nyaman di kasur. Beberapa kali terdengar lenguhan kecil dari pintu yang tak tertutup rapat, membuat Binar ingin masuk, tapi Nuri menggeleng pelan.“Biar dia sendiri dulu,” bisik Nuri.Binar tak membantah, dia hanya terus menghela napas di ambang pintu sambil sesekali mengintip ke dalam, sebelum akhirnya berjalan ke ruang depan.Langkahnya memelan saat melihat Bhaga sedang duduk sendiri di kursi kayu dekat jendela dengan tangan yang mengepal di atas lutut. Punggungnya kaku, tak sepenuhnya bersandar, matanya menerawang jauh seperti memikirkan sesuatu.Binar sengaja tak menyapa, dia memilih langsung duduk di sofa seberangnya sambil melipat tangan ke da

  • Di Ranjang Majikanku   375. Keputusan Besar

    Binar berdiri di depan papan nama itu. Nama mereka, ditulis menggunakan huruf-huruf emas di atas kayu dengan hiasan bunga kecil di sudut-sudutnya. "Cantik," gumamnya sambil tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.Dekorasi di sekelilingnya penuh dengan bunga-bunga yang masih segar. Pita putih masih terikat rapi. Tapi nama mereka di papan itu terasa menyesakkan. Di belakangnya, dia bisa mendengar suara Ardan masih terisak meski tak lagi histeris.Pikiran Binar berjalan ke tempat yang tidak dia duga. Dia melihat kembali semua yang terjadi sejak pagi. Ardan yang hilang. Bhaga yang marah-marah ke semua orang. Yang pertama kali terbesit dalam benak Binar adalah mereka telah melukai Ardan terlalu dalam. Rasa abai itu kini meledak.Dia melukai Ardan.Anak yang memang bukan darah dagingnya, tapi selama ini sudah seperti anak kandung. Anak yang sejak pertama kali bertemu telah mengambil hatinya, bergantung padanya, dan memanggil “Bunda” bahkan tanpa diminta. Kata yang keluar dari mulut kecilnya,

  • Di Ranjang Majikanku   374. Hati Ke Hati

    "Ardan."Suara Binar lembut, hampir berbisik, tapi Ardan tidak mendengarnya. Anak itu masih duduk di kursi makan, dengan biskuit yang tergeletak di atas meja, air minum di gelasnya tidak berkurang. Matanya kosong ke suatu titik di dinding."Waktu Ardan hilang tadi," lanjut Ardan, suaranya makin tidak stabil. "Ardan lihat kok, Bun." Dia mengangkat muka, dan air matanya yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. "Papa marah-marah ke semua orang." Tangisnya mulai terdengar di antara kata-kata. "Papa sebenarnya tidak cari Ardan. Papa marah.""Ardan—""Mama Celia benar." Kalimat itu keluar di antara isak yang tidak bisa lagi ditahan. Suaranya naik, seperti sudah terlalu lama dipendam dan akhirnya meledak. "Papa akan selalu pilih Bunda Binar. Ardan tidak penting."Binar mengulurkan tangannya, mau memeluk, refleks yang datang sebelum berpikir. Tangannya terbuka, siap menarik Ardan ke dalam pelukan. Tapi ….Ardan menangkis, anak itu justru memundurkan badannya sedikit. "Nggak mau."Tangannya Bi

  • Di Ranjang Majikanku   373. Isi Hati Ardan

    Gudang penyimpanan padi itu jarang sekali disambangi orang setelah musim panen usai. Dinding kayunya lembap, atap sengnya menyimpan hawa panas yang bercampur dengan bau gabah, karung beras, dan terpal biru yang sudah bertahun-tahun dipakai menutup tumpukan padi.Bu Marni mendorong pintunya sambil mengomel pelan. Sejak tadi dia mencari kain lap yang tak pernah lepas dari badannya, tapi seharian ini tak ditemukan dimana-mana hingga dia ingat kalau meninggalkan di gudang saat membersihkan terakhir kali.Namun, baru dua langkah masuk, dia mengernyit. Kakinya berhenti dan matanya memicing memastikan.Di sela-sela karung beras, ada tubuh kecil yang meringkuk memeluk kedua lututnya. Tas bergambar dinosaurus tergeletak begitu saja tak jauh dari kakinya.Bajunya kini penuh bercak tanah. Kaus kakinya sudah turun sebelah. Betis mungilnya dipenuhi bentol merah bekas gigitan nyamuk."Ya Allah ..." Bu Marni spontan menutup mulut saat mengenali bocah itu. "Ardan?"Anak itu mengangkat wajah perlahan.

  • Di Ranjang Majikanku   372. Ardan Kabur

    "Kalau nanti Papa sama Bunda Binar punya bayi, Ardan sama siapa?"Pertanyaan polos itu membuat dua ibu yang sedang menyiapkan bunga melati saling berpandangan."Ya tetap sama Papa dan Bunda," jawab salah seorang tetangga sambil tersenyum."Nanti kalau sudah punya adik, Ardan harus jadi kakak yang baik.""Iya, harus mengalah sama adik."Ardan yang sejak tadi berdiri sambil memeluk dinosaurus kesayangannya hanya mengangguk pelan. Wajah cerianya perlahan berubah muram. Dia melangkah menjauh tanpa disadari siapa pun.Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Harus mengalah ... punya adik ... jadi kakak.Sesampainya di kamar, Ardan menutup pintu perlahan. Dia duduk di tepi ranjang sambil menerawang jauh, mengingat kembali kebersamaan mereka selama ini.Jari kecilnya meremas kaki dinosaurus, sambil membayangkan bila dirinya sudah punya adik. “Papa dan Bunda nanti sibuk sama adik,” gumamnya.Bibir mungilnya bergetar. "Aku akan sendirian."Detik berikutnya, dia meloncat turun dari ranj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status