Startseite / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 253. Perdebatan Kecil

Teilen

253. Perdebatan Kecil

last update Veröffentlichungsdatum: 22.03.2026 23:27:28

Bhaga keluar dari ruang kerjanya. Dua jam lebih dia di sana sejak setelah makan malam. Tidak. Dia tidak bekerja. Hanya duduk dengan layar komputer yang mati, memikirkan isi surat itu.

Celia selalu penuh dengan akal bulus dan licik. Bahkan di saat dia sudah bersalah dan terpojok, dia masih berani melakukan kejahatan baru tanpa memikirkan risiko jangka panjangya. Dan ini adalah tentang Ardan, dia tak mau kejadian terakhir yang menimpa putra tunggalnya itu terulang lagi. Sudah cukup. Tapi bagaiman
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Di Ranjang Majikanku   258. Ambruk

    Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia

  • Di Ranjang Majikanku   257. Kelelahan

    Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi

  • Di Ranjang Majikanku   256. Terima Kasih, Sayang.

    Malam itu, setelah Ardan tidur, mereka duduk di teras. Bhaga memegang tangan Binar."Aku pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan Ardan."Binar menoleh. "Kamu dengar?""Aku dengar." Bhaga menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak akan bisa jawab sejelas kamu."Binar diam." Aku... aku tidak akan bisa melakukan itu."Binar memegang balik tangannya. "Kamu bisa. Hanya butuh sedikit kesabaran."Bhaga tersenyum getir. "Mungkin."Mereka diam sebentar. Angin malam berhembus, dingin."Aku sering marah pada Celia," kata Bhaga akhirnya. "Bahkan sampai sekarang. Marah karena dia meninggalkan Ardan. Marah karena dia menyakitimu. Marah karena dia... membuat semua ini jadi begitu rumit."Tak ada sahutan."Tapi kamu bilang dia sakit. Bukan jahat." Bhaga menatap langit. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku selalu melihatnya sebagai pilihan.""Kadang sakit juga pilihan."Bhaga menoleh."Tapi bukan pilihan yang dia buat dengan sadar." Binar menatapnya. "Aku tidak membenarkan apa yang Celia

  • Di Ranjang Majikanku   255. Pelakor

    Pelakor.Kata itu masih menggantung di udara, meskipun Ardan sudah tidak lagi memikirkannya. Tapi Binar tahu, untuk anak seusianya, kata-kata seperti itu bisa masuk lebih dalam dari yang kita kira.Malam itu, setelah Ardan tidur, Binar masih duduk di meja makan. Sisa-sisa camilan sore belum dibereskan. Gelas susu Ardan masih di tempatnya, dengan sisa putih di dasar.Bhaga masuk. Duduk di sebelahnya."Mereka bilang pelakor," kata Binar sebelum Bhaga bertanya. "Ardan dengar dari ibu-ibu di sekolah."Bhaga diam. Tapi rahangnya bergerak."Aku sudah jelaskan ke Ardan," lanjut Binar. "Dia paham.""Kamu jelaskan bagaimana?"Binar menatapnya. "Bicara apa adanya saja."Tapi cerita sore itu tidak selesai di meja makan. Dan Bhaga, yang berdiri di balik pintu dapur saat itu, masih mengingat setiap kata.Sore itu, setelah Ardan bertanya, setelah kata pelakor keluar dari mulut anak enam tahun itu, Binar tidak panik.Dia duduk di samping Ardan, satu tangan merangkul bocah itu, tangan satunya di atas

  • Di Ranjang Majikanku   254. Isi Surat Celia

    Tak seperti biasanya, pagi ini Ardan berangkat sekolah dengan riang. Dia sibuk berceloteh tentang banyak hal kepada Maryam sambil sesekali melompat kecil ketika berjalan ke arah mobil."Bi, Ardan bawa gambar semalam ke sekolah. Bu Guru pasti suka."Maryam hanya tersenyum, menanggapi dengan jawaban singkat, menggandeng tangan kecil itu menuju halaman depan.Setelah mobil yang mengantar Ardan keluar gerbang, Maryam menyusul keluar dengan mobil lain untuk berbelanja, dan pelayan di rumah sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Rumah utama hanya berisi Bhaga dan Binar, dengan amplop putih yang semalaman mengganggu pikiran mereka berdua.Bhaga duduk di meja makan.Amplop itu sudah di depannya sejak tadi, diletakkan agak ke tengah meja. Tangan kanannya terus memegang cangkir kopi hitam, tapi tak juga meminumnya.Binar duduk di sebelahnya. Menyesap teh hangat dalam diam.Tidak ada yang berbicara dulu. Lalu Bhaga mengambil amplop itu.Dia membukanya dengan rapi. Tidak disobek. Lalu dik

  • Di Ranjang Majikanku   253. Perdebatan Kecil

    Bhaga keluar dari ruang kerjanya. Dua jam lebih dia di sana sejak setelah makan malam. Tidak. Dia tidak bekerja. Hanya duduk dengan layar komputer yang mati, memikirkan isi surat itu.Celia selalu penuh dengan akal bulus dan licik. Bahkan di saat dia sudah bersalah dan terpojok, dia masih berani melakukan kejahatan baru tanpa memikirkan risiko jangka panjangya. Dan ini adalah tentang Ardan, dia tak mau kejadian terakhir yang menimpa putra tunggalnya itu terulang lagi. Sudah cukup. Tapi bagaimana pun, Celia tetap ibu dari anaknya.Dia harus segera memutuskan.Rumah sudah sunyi, ketika dia melangkah menyusuri tiap ruang.Ardan sudah tidur sejam lalu. Binar sendiri yang menidurkannya malam ini, sambil membacakan cerita sampai bocah itu terlelap di tengah buku. Para pelayan sudah istirahat setengah jam yang lalu. Lampu-lampu rumah utama sudah dimatikan sebagian, hanya menyisakan lampu sudut di ruang keluarga yang temaram, membuat bayangan-bayangan lembut di dinding.Binar duduk di sofa.S

  • Di Ranjang Majikanku   15. Kamar Yang Panas

    Matahari masih ada di langit tertinggi, tapi kedua orang di kamar utama tak peduli. Mereka berbagi rasa panas, lewat gairah dan nafsu. Celia sudah merebah di kasur, dengan lingerie tipis, badannya menggeliat di bawah tubuh besar Kevin yang mengukungnya.Bunyi decapan dari cumbuan mereka memenuhi l

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
  • Di Ranjang Majikanku   12. Terlalu Ikut Campur

    Ardan sibuk menyusun balok-balok kayu di ruang tengah siang itu, Binar duduk di sampingnya dengan sabar. Suasana begitu tenang."Paket untuk Tuan Ardan!" seru salah satu pembantu sambil membawa sebuah kotak besar berbungkus kertas kado yang berwarna-warni.Mendengar itu, Ardan langsung melompat keg

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
  • Di Ranjang Majikanku   14. Pengkhianatan sang Nyonya

    Waktu sudah menunjukkan tengah malam, ketika suara mobil terdengar dan pintu yang dibuka dengan agak kasar memecah kesunyian. Binar, yang terjaga karena pikiran yang kalut, mendengar langkah kaki dengan hak tinggi yang tidak stabil masuk melewati ruang tamu.Celia pulang dan pasti mabuk lagi. Karen

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
  • Di Ranjang Majikanku   11. Pria Lain

    Desas-desus itu memenuhi dapur. Suara berbisik para pembantu lain terdengar jelas, mata mereka melirik tajam ke arah Binar yang berusaha pura-pura sibuk menyiapkan bubur untuk Ardan."Dia keluar dari ruang kerja Tuan kemarin malam, aku lihat sendiri," desis salah satu dari mereka. "Rambutnya acak-a

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status