LOGINPara perias langsung bergerak cepat. Begitu Binar mengucapkan kata “iya” kepada Ardan, mereka seperti mendapat sinyal untuk memulai segala sesuatunya.Satu orang membetulkan riasan Binar. Gerakannya cepat, cekatan, dan tidak banyak omong. Kuas bedak bergerak di bawah mata Binar dengan presisi. Satu lagi merapikan gaun Binar, yang sebenarnya sudah rapi tapi tetap saja dirapi-rapikan dengan menarik sedikit di bagian pinggang, meluruskan lipatan di bagian belakang, memastikan tidak ada benang yang mengganggu. Satu orang lagi memegang buket bunga kecil yang Binar sendiri tidak tahu datangnya dari mana. Sebuah mawar putih dan baby breath, dibungkus dengan pita satin tipis berwarna krem.Binar hanya duduk diam dan pasrah dirapikan mereka. Tidak ada gunanya melawan. Mereka sudah terlalu cepat, efisien, dan bersemangat untuk dihentikan. Binar membiarkan tangannya diangkat, diputar, dan diletakkan kembali di pangkuan. Dia membiarkan tatanan rambut yang sudah rapi kembali dirapikan.Begitu sele
Tak lama kemudian, pintu ruang rias diketuk dua kali.Binar yang sudah selesai didandani dan dipakaikan gaun putih yang ternyata ukurannya pas, menoleh ke pintu. Gaun itu menempel pas di pinggang dan bahunya, tidak terlalu longgar dan tidak menekan, seperti sudah disiapkan berbulan-bulan lalu. Padahal Binar tahu, kalau semua itu pasti disiapkan oleh Rudi dalam waktu singkat. Ingatkan dia untuk berterima kasih nanti.Ardan masuk.Anak itu sudah rapi. Kemeja putih kecil berkerah kaku, dengan celana kain hitam lurus, dan rambut yang disisir ke samping menggunakan minyak rambut wangi lavender yang membuat Binar hampir tidak mengenalinya. Anak itu kelihatan beda, seperti versi kecil Bhaga waktu pakai baju formal. Tampan sekali dan Binar tak bisa tidak tersenyum.Dia berdiri di ambang pintu, melihat Binar dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya terbuka sedikit. "Wah, Bunda cantik banget."Ekspresi Ardan benar-benar terlihat begitu tulus, dan menggemaskan. Bagaimana matanya ikut bica
Siapa dan dari mana mereka datang Binar tidak sempat proses. Dia masih dilingkupi kebingungan dan kini tiba-tiba dikerubungi oleh tiga wanita asing yang tersenyum kelewat ramah padanya. Tadi, pintu samping bangunan mendadak terbuka, dan tiga perempuan berseragam gaun serba merah muda dengan renda putih keluar. Mereka bergerak serempak, tak bicara tapi langsung menuju kepada Binar. Tiba-tiba saja ada yang memegang lengan, bahu, dan pergelangan tangannya. Mereka kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, membuat Binar hanya bisa menangkap sebagian katanya. Beberapa kata seperti "bride", "schedule", "quick dress", dan "beautiful" meluncur beruntun tanpa jeda, seperti sedang mengatur pembagian tugas diantara ketiganya. Sebelum Binar sempat menyusun kalimat untuk menolak atau bertanya, mereka semua sudah bergerak ke arah pintu samping bangunan, sedikit menyeret Binar ikut dalam langkah mereka. "Tunggu—" Binar menoleh ke belakang, mencoba menahan bobot tubuhnya agar tidak
Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti di gedung pinggir jalan yang terlihat begitu tenang. Suara deru mesin perlahan mati, menyisakan derit pelan dari sistem pendingin yang baru dimatikan.Di luar, hawa panas gurun yang tertahan seharian seolah terserap oleh dinding-dinding beton di sekitar mereka. Membuat udara terasa pengap dan hangat dalam waktu bersamaan. Berhenti di tempat ini rasanya seperti dilempar ke panggung teater yang salah.“Dimana ini?”Binar berulang kali bertanya sendiri sembari mengerjap memperhatikan sekeliling.Mereka rupanya berada di depan sebuah bangunan.Bukan gedung tinggi berarsitektur romawi tiruan atau menara kaca mengilap seperti yang mereka lewati di jalan utama tadi. Bangunan ini jauh lebih kecil, bercat merah muda pastel yang agak mengelupas di sudut-sudut bingkainya. Meski begitu, bangunanya masih terlihat enak dipandang dan juga kokoh.Di bagian depannya, terdapat kanopi kain berbentuk lengkung dengan renda-renda putih yang tampak agak berdebu, tapi de
"Istana Caesar!" Ardan mengulanginya dengan penuh ketertarikan. Matanya berbinar, terlihat antusias dan keceriaan yang nyata. Tangannya menepuk-nepuk paha Binar, tidak sabar ingin berbagi kegembiraan. "Ada Caesarnya di dalam, Bunda? Raja yang pakai mahkota tinggi itu? Aku mau lihat." Binar terkekeh dan mengelus kepala Ardan. "Tidak ada Caesarnya di dalam sana, Ardan," jawab Binar penuh pengertian. Mereka menoleh bersamaan, menyapu halaman depan hotel yang diisi oleh air mancur menari dan deretan mobil mewah yang mengantre valet. Air mancur itu menyemburkan air setinggi puluhan meter ke udara, diterangi oleh lampu-lampu berwarna yang berganti setiap detik. "Itu cuma nama hotel. Tempat berkumpulnya orang-orang mencari hiburan sesaat." Ardan menyandarkan punggungnya dengan malas, terlihat kecewa. Bibirnya sedikit maju ke depan, berdecak kesal. “Tidak seru,” gumamnya, "Kasian." "Kenapa kasian?" tanya Binar tanpa benar-benar ingin tahu. Dia masih terkesima dengan apa yang dilihatnya
Binar memalingkan wajah, melihat keluar jendela kaca film yang membuat malam di luar tampak makin pekat. Mobil berbelok keluar menuju jalan raya utama, dan begitu mereka melewati tikungan terakhir, dunia di luar jendela berubah seketika.Awalnya dia terlihat bosan, bibirnya terkatup rapat, enggan untuk bertanya atau sekedar mengobrol. Namun kemudian, ekspresinya perlahan berubah.Papan-papan baliho raksasa mulai bermunculan di pinggir jalan, ratusan kaki tingginya, seperti raksasa yang berdiri berbaris menyambut kedatangan mereka. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris dengan huruf-huruf cetak tebal yang menyala terang.Matanya berbinar melihat itu semua. Dia melipat bibirnya karena menahan senyuman, tangannya berpegangan pada pintu mobil, berusaha untuk tetap tenang, karena tak ingin terlihat kampungan.Lampu neon berwarna fuchsia, hijau lemon, dan biru elektrik menerangi permukaan aspal, membuat jalanan terlihat seperti landasan pendaratan pesawat. Di atas mereka, langit malam yang t






