Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 32. Kau Tidak Boleh Pergi

Share

32. Kau Tidak Boleh Pergi

Author: Keke Chris
last update Last Updated: 2025-10-12 12:30:50

TK Ardan hari ini mengadakan acara rekreasi keluarga. Awalnya Binar enggan sekali ikut, dia terus menyibukkan diri, berharap tak ada yang memanggil dirinya untuk bersiap. Tapi harapannya tak terjadi. Maryam memerintahkan untuk ikut dan mengurus semua keperluan Ardan.

Sepanjang jalan, Binar tak bersuara. Hanya memperhatikan jalan dari kursi di samping sopir, sambil sesekali mencuri pandang ke keluarga kecil di kursi belakang dari sudut matanya.

"Papa lihat! Ada kuda poni!" seru Ardan sambil menggoyangkan lengan Bhaga.

"Jangan berisik," celetuk Celia dengan nada ketus, sambil memeriksa riasan wajahnya di kaca kecil.

Ardan mengangguk meski bibirnya cemberut, dia tak lagi banyak bicara.

Binar menatap mereka dari kaca spion. Inilah yang seharusnya, batinnya. Keluarga yang utuh dan Ardan terlihat begitu bahagia. Tapi kenapa dadanya sesak? Kenapa ada rasa pedih melihat Bhaga tersenyum pada Celia?

Dia mencoba mengatur napas dan menghelanya perlahan. Tak boleh sedih, tak boleh menangis, r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sutini tin
binar pergi aja dari rumah itu , semoga kamu dapat pekerjaan yg baik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   149. Keputusan Tegas

    Setelah bisa menenangkan Binar dan kini wanita itu sudah tertidur lelap, Bhaga keluar dari paviliun dan berjalan menuju rumah utama. Hatinya panas, tersayat, saat mendengarkan rintihan dan isak tangis Binar.Dia harus bicara dengan maminya.Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, suara ribut terdengar dari depan kamar bawah yang sementara sedang ditempati oleh Djati. Orang tuanya sudah lama pisah ranjang, tapi Bhaga tak mau ikut campur dalam hal itu. Dia menghargai privasi orang tuanya.“Jangan terus membela perempuan itu, Papi. Dia hanya bermulut manis,” hardik Nurma,”atau Papi juga terpikat sama bujuk rayunya dan dibutakan seperti Bhaga?”Djati sudah akan mejawab, tapi melihat Bhaga mendekat, dia hanya menghela napas berat.“Mami yang terlalu dibutakan oleh ego mami sendiri hingga enggak bisa melihat kebaikan orang lain,” ucap Bhaga.“Kebaikan macam apa? Orang baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain.”Bhaga mengepalkan tangannya, berusaha agar tak kelepasan pada maminya.

  • Di Ranjang Majikanku   148. Sentuhan Bagai Sengatan

    "Tapi… tapi kalian tertawa…" bantah Nurma, suaranya sudah tidak seyakin tadi.“Lalu kenapa? Ya, kami tertawa,” Djati mendesah sambil menggelengkan kepala seolah tuduhan Nurma tak masuk akal. “Karena bercerita tentang Ardan, tentang masa kecil Bhaga yang nakal! Dia membuatku lupa sejenak bahwa aku ini sedang sakit!”Nurma terdiam, tapi tatapannya masih tajam. Dan ada sedikit luka di ekspresinya.“Kau ini suamiku… tapi lebih senang bersama perempuan ini!” serunya, sebelum pergi dengan kesal dan menghentakkan kaki.Djati hanya bisa menghela napas, sedangkan Binar terdiam dengan rambut berantakan dan mata berkaca-kaca.**Binar duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada kaki sofa, sambil memeluk lututnya. Dia menangis terisak.Rambutnya masih berantakan dengan beberapa helai menempel di pipinya yang basah, tapi dia tak peduli.Pintu depan terbuka dengan cepat. Bhaga yang baru saja tiba setelah mendapatkan telepon dari Djati, tiba-tiba berdiri kaku di ambang pintu. Matanya terbelalak saat

  • Di Ranjang Majikanku   147. Permainan Wanita Licik

    Tiga hari berlalu sejak Binar pulang dari rumah sakit. Atas perintah Bhaga, dua orang pelayan ditugaskan membantu Binar di paviliun untuk sementara waktu dan Nurma hanya bisa menahan kekesalannya.Jika Bhaga sudah turun tangan, dia tak ingin mengganggu gugat hal itu karena hanya akan membuat dirinya bertengkar lagi dengan Bhaga dan dia tak mau itu.Lagi pula, ucapan Binar di rumah sakit masih terus bergema di telinganya dan itu membuatnya tak bisa berhenti memikirkan itu.Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat."Tidak," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak boleh luluh dengan begitu mudah. Itu semua hanya taktiknya. Permainan wanita licik yang tahu cara mengambil hati."Dari jendela kamarnya yang menghadap ke taman samping rumah, dia melihat Djati sedang duduk di bangku taman, ditemani Binar yang membawakan selimut untuk kakinya.Mereka sedang berbincang. Awalnya Nurma hanya mengamati dengan tatapan sinis, namun seiring menit berjalan, ekspresi di wajah Djati mulai berubah. Dia ters

  • Di Ranjang Majikanku   146. Pintar Berkata Manis

    Embun pagi masih menempel pada dedaunan di taman saat suara ketukan terdengar di pintu paviliun. Binar sempat terkejut saat pagi-pagi sekali sudah ada yang datang.Dia menoleh, Bhaga masih tertidur lelap dengan tangan yang melingkar di perutnya.Dengan sangat hati-hati, dia memindahkan tangan Bhaga dan mengambil baju tidurnya dari lantai, mengenakannya dengan cepat, dan merapikan rambut sambil berjalan ke pintu depan.Ketika pintu terbuka, Binar tak bisa menghilangkan kernyitan di keningnya. Bagaimana tidak, ini masih pagi buta tapi ada seorang pelayan yang datang hanya untuk mengantar air minum untuknya.Paviliun bahkan memiliki fasilitas yang lebih lengkap dari rumahnya.“Maaf, Nona. Tapi ini dari Nyonya besar dan saya diperintah untuk menunggu Nona meminumnya.”Binar sempat menoleh ke rumah utama yang tentu yang terlihat hanya bangunannya saja. “Tapi di sini juga ada banyak air minum.”“Saya hanya menjalankan perintah, Nona. Tolong jangan dipersulit,” ucap pelayan itu dengan lirih

  • Di Ranjang Majikanku   145. Manis Dan Perih

    Dengan langkah berat dan hati yang masih sakit hati, Nurma kembali ke dalam kamarnya.Kamar mewah itu kini terasa seperti kotak yang menyimpan berbagai emosinya. Dia mengunci pintu, benar-benar sudah tak punya tenaga untuk berinteraksi lagi dengan orang lain.Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menerawang jauh. Sesekali dia mendesah lelah dan memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri.Dalam diam, tiba-tiba matanya tertuju pada lemari kayu antik di sudut ruang. Dengan langkah lunglai, dia beranjak dan membuka laci paling bawah, mengeluarkan album foto lama yang sudah tak pernah dia buka lagi.Album yang menyimpan terlalu banyak kenangan, sekaligus manis dan perihnya kehidupan yang dia lalui selama mendampingi Djati.Dia membukanya. Halaman pertama adalah foto Djati muda dengan dirinya yang masih terlihat begitu bersinar. Muda dan cantik, tanpa beban dan air mata.Mereka terlihat begitu bahagia karena baru saja memiliki penerus yang diidamkan kedua keluarga yan

  • Di Ranjang Majikanku   144. Menikmati Tubuhmu

    Binar melangkah masuk dengan canggung ke paviliun. Tadi dia sedikit ragu saat sudah sampai di depan pintu. Kenangan akan perginya dia dulu dari sini karena teror dari Celia sempat terbesit sesaat. Bhaga mengikuti langkahnya dalam diam, tapi hatinya membuncah bahagia. Dia dan Ardan tak perlu berjauhan lagi dengan Binar. Langkah Binar berhenti sesaat setelah Bhaga memutar kunci dan memeluknya dari belakang. Perlahan tubuhnya dibalik dan kembali dipeluk oleh Bhaga. “Aku senang banget kamu kembali ke sini,” ujar Bhaga sambil mengecup kening Binar. “Aku enggak,” jawab Binar singkat. Dengan pelan Bhaga mengangkat kepalanya untuk melihat Binar, tanpa melepaskan pelukannya. “Kenapa? Kamu enggak suka ada di dekat keluargaku.” Binar menggelengkan kepala. Bhaga mencelos. “Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan lembut. “Soalnya aku takut dimodusin kamu terus. Bisa remuk badan aku.” Bhaga tertawa keras karena mendengar jawaban itu.“Oh, tentu saja. Itu tak bisa ku tahan,” katanya dengan riang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status