Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 343. Mau Yang Lain

Share

343. Mau Yang Lain

Author: Keke Chris
last update publish date: 2026-06-16 22:57:47

Tak menyangka kalau putranya akan mengalami pembulian, pikiran Bhaga terus berisik, membuatnya tak tenang. Dia duduk sendirian di taman, berusaha untuk mengurai isi pikirannya, sebelum akhirnya Binar menyusul dan duduk di sebelahnya.

Bhaga hanya melirik sekilas dan tetap diam menatap ke depan.

"Bhaga." Binar menunggu sampai Bhaga menatapnya. Di bawah lampu taman yang kuning redup, mata mereka bertemu. "Kamu enggak bisa mengontrol apa yang dibicarakan orang di rumah mereka masing-masing. Mereka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   344. Tak Ingin Menyesal

    Binar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma tersenyum tipis, berdiri dari kursinya, dan berjalan duluan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Bibirnya tersenyum puas saat mendengar langkah kaki di belakangnya.Iya. Bhaga langsung berdiri menyusul langkah Binar, menutup pintu kaca teras belakang dengan cepat, dan menguncinya.Begitu sampai di kamar, belum sempat lampu utama dimatikan, Bhaga sudah menarik pinggang Binar dari belakang. Tangannya melingkar, menarik tubuh Binar menempel ke dadanya.Binar berbalik dan langsung mengalungkan lengannya ke leher Bhaga, menarik pria itu mendekat. Tidak ada kata-kata, hanya napas yang mulai memburu.Malam yang tadinya berat karena urusan Ardan mendadak berubah haluan. Tidak ada kata-kata manis atau romantis. Gerakan mereka buru-buru, agak kasar, dan berantakan—didorong oleh rasa stres dan lelah yang menumpuk seharian. Bhaga mencium Binar dalam, sementara tangan Binar mulai menarik baju Bhaga hingga beberapa kancingnya terlepas begitu saja,

  • Di Ranjang Majikanku   343. Mau Yang Lain

    Tak menyangka kalau putranya akan mengalami pembulian, pikiran Bhaga terus berisik, membuatnya tak tenang. Dia duduk sendirian di taman, berusaha untuk mengurai isi pikirannya, sebelum akhirnya Binar menyusul dan duduk di sebelahnya.Bhaga hanya melirik sekilas dan tetap diam menatap ke depan."Bhaga." Binar menunggu sampai Bhaga menatapnya. Di bawah lampu taman yang kuning redup, mata mereka bertemu. "Kamu enggak bisa mengontrol apa yang dibicarakan orang di rumah mereka masing-masing. Mereka bisa bicara apa saja. Bahkan gosip sekalipun dan tak peduli kalau anak-anaknya akan mendengar."Bhaga tidak menyela.Tangan Binar mengelus sekilas lengan Bhaga. "Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan Ardan punya cukup bekal buat menghadapi itu." Binar tersenyum kecil. "Bukan melindungi dia dari semua kata-kata jahat. Tapi membuat dia cukup kuat untuk tidak hancur mendengarnya."Bhaga menatapnya lekat-lekat. “Aku akan membuat dia menjadi pribadi yang tak mudah goyah.”Binar mengangguk, "Malam

  • Di Ranjang Majikanku   342. Papa Minta Maaf

    "Pah." Suara Ardan kecil, tapi cukup jelas di ruang makan yang tenangl.Bhaga mengangkat wajahnya. Memperhatikan Ardan yang tidak terlihat seperti biasanya. Anak itu duduk terlalu tegak di kursinya, seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang berat."Ardan mau cerita sesuatu,” cicit ArdanSendok di tangan Bhaga diletakkan pelan. Pria itu agak memiringkan tubuhnya agar bisa menatap putranya lebih lekat."Cerita aja," kata Bhaga.Ardan mulai bicara. "Jadi gini, Pah. Di sekolah, tuh, lagi ada tugas kelompok, Ibu Guru suruh pilih kelompok sendiri, tapi enggak ada yang mau pilih Ardan. Terus Ardan disuruh Bu Guru buat sekelompok ma Bagas, tapi Keanu bilang ke Rafi—" Dia berhenti, mengernyit. "Kalau mama itu gila makanya aku aneh, akhirnya Bagas dan teman lainnya jauhin aku."Kalimat itu keluar dari mulut Ardan seperti fakta, bukan seperti luka. Dia tidak menangis saat mengatakannya dengan jelas. Bhaga mendengarkan seluruh cerita itu tanpa memotong sekali pun.Ardan kembali bercer

  • Di Ranjang Majikanku   341. Ardan Dimusuhi

    Ketika Ardan pulang sambil merengut dan melakukan hal yang tak seperti biasanya, Binar tahu ada yang tidak beres.Ardan melangkah masuk sambil diam. Meletakkan tas yang biasanya dia lempar dengan pelan dan melepaskan sepatu dengan rapi di dekat pintu. Langkahnya gontai saat masuk ke ruang keluarga, tapi kemudian menengok ke kanan dan kiri, lalu berbalik ke ruang makan saat melihat ada Binar di sana.Binar memperhatikan setiap gerak gerik Ardan dari dapur dan tersenyum saat melihat anak itu menarik kursi meja makan, duduk di sana sambil menelungkup di atas meja, tapi wajahnya menghadap ke Binar.Tangan Binar dengan cekatan dan sedikit cepat langsung meneruskan memotong buah-buahan. Dia ingin segera menemani Ardan. Irisan apel ditata di piring bersama potongan melon dan semangka, lalu Binar membawa piring itu ke meja makan.Dia duduk di sebelah Ardan dan menggeser piring camilan buah ke tengah, hingga berada di antara mereka berdua."Makan dulu, Sayang."Ardan mengambil sepotong melon.

  • Di Ranjang Majikanku   340. Cerita Ardan

    Ardan bangun dengan rencana yang sudah dia susun dari sebelum tidur. Langkah kaki kecilnya terdengar cepat saat menuruni tangga, dan langsung menghilang di ruang keluarga.Maryam yang sudah berada di dapur sejak subuh mendengar langkah itu dari dapur dan mengintip ke depan. Dahinya mengernyit kecil, sedikit heran saat melihat tuan kecilnya tak minta sarapan atau ditemani main, justru langsung bermain sendiri.Dinosaurus kesukaannya sudah berderet rapi di atas karpet dan anak itu sudah asyik dengan dunianya sendiri. Di atas karpet tebal, tempat favoritnya bermain, dengan bantal-bantal yang dia biarkan berserakan seolah terkena amukan dinosaurus.Tangannya sibuk menggerakkan dinosaurus satu pwr satu bergantian dengan bibir yang serius mengolah cerita. Raut wajahnya berubah sesuai dengan adegan yang sedang dia mainkan.Bhaga dan Binar turun satu jam kemudian.Langkah keduanya masih berat, masih dengan piyama dan rambut yang belum disisir, wajah mereka masih sedikit sayu kelelahan. Begitu

  • Di Ranjang Majikanku   339. Aku Milikmu.

    Suara hantaman itu terdengar nyaring di dalam kamar. Kulit Binar langsung terasa panas menyengat, membuat otot-otot tubuhnya menegang spontan. Napasnya tercekat di tenggorokan."Masih dingin?" tanya Bhaga datar.Belum sempat Binar merespons, tamparan kedua mendarat di sisi kiri, jauh lebih keras. Tubuh Binar tersentak ke depan. Jari-jarinya mencengkeram kain sofa semakin kuat. Lengkungan punggungnya menegang kaku, dan rasa sakit itu justru memicu kedutan instan di rahimnya yang kembali mulai basah.Binar melenguh pelan, napasnya memburu.Bhaga merapat, menekan kejantanannya ke bokong Binar. Dia menjambak rambut belakang Binar, menarik kepalanya ke atas hingga posisi tubuh wanita itu terkunci sepenuhnya."Diam," bisik Bhaga. Napas panasnya menerpa tengkuk Binar yang mulai berkeringat.Bhaga memposisikan dirinya di belakang celah Binar. Tanpa ancang-ancang, dia mendorong tubuhnya masuk dengan satu sentakan kuat, langsung menghantam bagian dalam."Ahhh!" Binar memekik, matanya memutar ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status