Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 76. Melepaskan Beban

Share

76. Melepaskan Beban

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2025-11-16 00:25:29

“Kamu kelihatan lelah sekali.”

“Sedikit,” jawab Bhaga mengecupi bahu Binar.

Binar tahu, Bhaga sedang meminta jatahnya, minta dipuaskan—hal yang selalu dilakukannya saat sedang stres, tertekan, dan banyak pikiran.

“Sini … aku pijat,” ajak Binar.

Tanpa banyak bicara, Binar membimbing Bhaga untuk berbaring tengkurap di sofa. Tangannya mulai memijat pundak dan punggung Bhaga yang tegang.

“Hmm… enak…” Desahan lega keluar dari bibir Bhaga.

Sentuhan Binar seperti obat, selalu seperti itu. Wanitanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   264. Bermain Di Taman

    Cuaca begitu cerah di akhir pekan ini. Angin berhembus sejuk dan langit terlihat indah dengan matahari yang mengintip malu.Binar dan Ardan sedang menonton kartun di ruang keluarga sambil menunggu Bhaga bersiap.Sejak jam enam pagi tadi, Ardan sudah membangunkan Binar. Dia muncul di samping tempat tidur dan menempelkan tangan kecilnya di pipi Binar lalu mengelusnya pelan.“Bunda. Bangun, yuk.”Tubuh Binar bergerak kecil, matanya mengerjap, dan dia masih setengah sadar saat Ardan mengecup pipinya beberapa kali.“Bunda. Ayo, bangun.” Tangannya menarik pelan selimut Binar dan mengoyangkan bahunya. “Bun…”Suara rengekan Ardan membuat Binar sadar. Dia mengeliat pelan dan membuka mata. Wajah Ardan yang menekuk, dengan alis berkerut, dan bibir mengerucut, menjadi pemandangan pertama begitu Binar benar-benar membuka mata. Dia tersenyum dan tangannya terangkat mengelus pipi Ardan.“Kenapa, Sayang?”Wajah Ardan perlahan berubah. “Kita pergi, yuk, Bun.”"Ke mana?" Suara Binar masih serak."Ke ma

  • Di Ranjang Majikanku   263. Aku Ingin Kamu, Sayang.

    “Aku menginginkanmu, Sayang.”Tubuh Bhaga yang sudah mengukung Binar kini berbalik, tangan yang tadinya mendarat di pinggang Binar, sekarang mengulur ke arah panel lift dan menekan tombol merah.Mata Binar terbelalak,dia bahkan berpegang pada lengan Bhaga saat lift berhenti mendadak.“Bhaga!” pekiknya. Dia mendongak. “Apa yang—”“Sejak kamu masuk ruanganku tadi,” kata Bhaga. Matanya kembali menyusuri wajah cantik di depannya, “aku tidak bisa fokus, pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu.”Binar berkedip. “Dan itu salahku?”“Tentu saja, karena kau mengusik ketenanganku.”Bibir Binar terbuka dengan ekspresi tak percaya. Dia kehilangan kata, tapi kembali tersadar saat lehenya sudah dikecupi oleh Bhaga dan pinggangnya ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel.“Bhaga, ini lift.”“Aku tahu.”“Ada CCTV.” Binar mendongak. Di sudut langit-langit, lensa kamera keamanan berkedip merah kecil. “Bagaimana kalau ada yang —”Tapi tangan Bhaga tak berhenti menjelajahi tubuh BInar. Dia bahkan tak sung

  • Di Ranjang Majikanku   262. Lembur

    Binar baru selesai mengaplikasikan skincarenya. Dia sudah memakai piyama tidur dan bersiap untuk membaca ulang semua materi hari ini, tapi suara denting pesan masuk membuatnya meletakkan kembali bukunya. Tangannya mengambil ponsel di nakas dan dahinya mengernyit.“Ini beneran Bhaga yang kirim pesan begini?” tanyanya pada diri sendiri.Dia membacanya lagi.[Sayang, bisa ke kantor? Aku masih di sini dan mau kamu temeni.]Binar sudah mengetikkan balasan tapi kemudian dia memilih untuk melakukan panggilan saja. “Kamu serius?”Suara Bhaga terdengar begitu yakin. “Tentu. Kemarilah, aku tunggu.” “Memang kamu masih akan lama?” “Tidak tahu. Mungkin sampai jam sebelas.”Binar melirik jam di dinding dan ini masih jam delapan, lalu dia mengangguk. “Oke. Kamu mau dibawakan sesuatu.”“Tidak. Aku cuma mau kamu, Sayang.”**Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat Binar sampai. Dia menyapa para penjaga gedung dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Keadaan kantor sudah sangat sepi, beberapa l

  • Di Ranjang Majikanku   261. Kita Belum Pernah Coba Di sini

    Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah

  • Di Ranjang Majikanku   260. Bungkam Suara Miring

    Suara ketukan di pintu membuat Bhaga menghentikan jemarinya sesaat di atas keyboard, dia belum sempat menjawab, tapi pintu sudah terbuka dan Rudi masuk dengan langkah cepat, lalu meletakkan tablet di meja Bhaga.Tidak bilang apa-apa. Hanya meletakkan dengan pelan dan menyodorkan ke arah Bhaga, lalu mundur selangkah. Tak ada yang terlihat aneh, Rudi dengan tenang menunggu, membuat Bhaga mendongak sebentar untuk memindai Rudi dan mengambil tablet itu dengan sedikit ragu.Bhaga kembali menoleh kepada Rudi, dan dengan acuh melihat halaman yang terbuka di tablet lalu mengernyit. Matanya memicing saat membaca laporan itu satu persatu. Rahangnya mengeras.Rekap monitoring internal. Seolah tak ada yang berbeda, format laporan seperti biasa. Tapi isinya berbeda. Bukan angka penjualan atau kinerja divisi. “Apa ini?!” tanyanya geram.Terlampir deretan nama, divisi, beserta link video juga keterangannya.Bhaga mulai membaca dari atas. Pada baris pertama, ada tangkap layar dari Grup Whatsapp karya

  • Di Ranjang Majikanku   259. Tiga Hari Sakit

    Bhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru

  • Di Ranjang Majikanku   163. Aku Tidak Akan Tinggal Diam

    Udara di ruang ICU itu tiba-tiba berubah pengap. Dinginnya pendingin ruangan seperti tak berpengaruh pada keduanya. Celia masih terus menatap dalam pada Bhaga, sedangkan Bhaga terdiam membeku.Lidah Bhaga terasa kelu, bibirnya tertutup rapat, tidak tahu harus menjawab apa. Dia sadar kalau celia bar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Di Ranjang Majikanku   157. Jangan Ganggu Mereka

    Suasana kamar di paviliun terasa begitu hangat, terutama karena Binar dan Bhaga sedang sama-sama terbuai dalam dunia sendiri.Sejak semalam, pelukan mereka tak lepas dan pagi ini keintiman itu semakin lekat dengan cumbuan-cumbuan yang saling menggoda.Ciuman juga kecupan terus berlabuh di wajah dan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Di Ranjang Majikanku   156. Percayalah Padaku

    Binar berdiri di ambang pembatas pintu ruang keluarga, dia mematung. Di depan sana ada pemandangan yang bagi Binar terasa seperti mimpi buruk.Bhaga dengan sangat hati-hati sedang membenarkan bantal di kursi makan untuk Celia yang duduk dengan tubuh lemas dan tatapan kosong. Wajah Bhaga terlihat pe

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Di Ranjang Majikanku   164. Tunggu Pembalasanku

    Pagi ini, Bhaga benar-benar membawa Arumi ke rumah sakit. Semalam dia sudah meminta izin kepada kedua orang tua Celia dan pagi-pagi sekali tadi, dia sudah bersiap untuk menjemput bayi itu.Tak ada obrolan berarti saat penjemputan. Sepertinya kedua orang tua Celia sudah bisa menerima keadaan putriny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status