LOGINDua hari terlewat tanpa ada yang lagi membahas tentang hari itu. Seolah semua sudah baik-baik saja, tapi ada yang berubah.Bhaga menghabiskan waktu lebih lama di meja makan. Dia makan dengan lebih lambat, membuka ponsel di sana, bahkan terkadang sembari membalas beberapa pekerjaan.Pria itu selalu teratur, dia melakukan semua sesuai tempat dan waktunya.Binar sempat melirik dan memperhatikan beberapa kali, tapi dia tak mengubris. Mungkin memang belum ada hal penting di kantor, atau pria itu hanya mau menghabiskan waktu lebih lama bersama Ardan.Namun, saat Ardan sudah berangkat ke sekolah, Bhaga masih di rumah. Hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya.Binar membereskan piring. Dari dapur, dia melihat Bhaga berdiri, mengambil jas, menyampirkannya di lengan, lalu duduk lagi. Dia mengernyit, apa yang dilakukan Bhaga sebenarnya?Jam delapan kurang lima, Bhaga berdiri. Menghampiri Binar, mencium kening dengan cepat dan pergi tanpa kata. Binar hanya diam sambil menatap punggung itu menjau
Binar tidak bisa tidur tenang. Beberapa kali dia terbangun dan berusaha untuk tidur lagi.Pintu kamar terbuka. Binar tidak bergerak. Matanya terbuka, menatap ke arah jendela yang tertutup. Pikirannya ke mana-mana. Memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.Dia tidak menoleh, dan mendengar langkah Bhaga masuk. Pria itu berhenti sebentar. Binar merasakan tatapan di punggungnya. Lalu langkah itu bergerak ke kamar mandi.Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.Menit terlewati, dan sekarang, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka.Langkah Bhaga keluar kembali terdengar, kini suara pintu lemari. Ada benda ringan yang terjatuh, lalu langkah itu menjauh dari ranjang.Binar menahan napas.Langkah itu berhenti. Sofa.Binar mendengar tangan Bhaga menepuk pelan bantal di sofa. Lalu suara tubuh besarnya duduk, berbaring. Binar menahan sejenak, merasakan sesak, tapi dia tetap diam.Dia berbaring menatap gelap, mendengarkan suara detak jam dinding di kamar yang sunyi. Binar menutu
Suasana terasa begitu canggung. Meja makan yang biasa berisi obrolan ringan dan ramai dengan celotehan Ardan, malam ini begitu sepi. Hanya ada denting piring dan sendok, juga helaan napas Ardan yang makan dengan malas.Mata Ardan berulang kali menatap ke arah Bhaga dna Binar, dan mukanya sedikit merengut.“Papa sama Bunda lagi berantem ya? Kok pada diem aja, sih, dari tadi?”Binar tersentak kecil, dia melirik Bhaga sesaat yang tetap datar dan fokus pada makanannya, lalu menoleh pada Ardan. “Enggak kok, Sayang. Papa cuma lagi kecapean aja.”Ardan mengangguk, lalu menatap Bhaga dengan serius. “Tadi aku jatuh, Pah, pas kejar burung merpati.”Bhaga melirik tajam ke arah Binar, mendengkus kecil, dan berdeham pelan. “Burung sudah pasti akan terbang saat merasa terancam, Nak. Otak punya sistem sendiri, saat merasa akan sesuatu yang berbahaya dia akan memerintahkan tubuh untuk berlindung.”Binar tersedak kecil dan tangannya dengan cepat meraih gelas minumnya dan meminumnya rakus.Ardan turun
Tak terasa sudah dua jam mereka bermain di taman. Matahari semakin terik dan keringat sudah membasahi pelipis keduanya.Ardan baru saja berhenti menangis karena terjatuh setelah mengejar burung merpati yang tak bisa dia tangkap. Lututnya merah, beruntung tidak sampai berdarah, hingga dia bisa berhenti menangis lebih cepat.Keduanya memutuskan membeli es krim dari penjual yang sejak tadi tidak berhenti dikerumuni orang-orang. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar, makan es krim sambil beristirahat sejenak. "Bunda.""Hm.""Kalau dinosaurus masih ada, mereka suka es krim tidak?""Tergantung dinosaurusnya.""T-Rex?""Mungkin lebih suka kamu daripada es krimnya."Ardan berkedip cepat, memproses kalimat itu. Lalu pindah duduk lebih dekat ke Binar.Binar menahan tawa sambil terus menikmati es krim.Melihat Ardan sudah kelelahan, Binar akhirnya menelepon sopir untuk menjemput mereka dan sekarang sedang berhenti di supermarket.Ardan mendorong troli kecil dengan wajah serius, mengamati
Cuaca begitu cerah di akhir pekan ini. Angin berhembus sejuk dan langit terlihat indah dengan matahari yang mengintip malu.Binar dan Ardan sedang menonton kartun di ruang keluarga sambil menunggu Bhaga bersiap.Sejak jam enam pagi tadi, Ardan sudah membangunkan Binar. Dia muncul di samping tempat tidur dan menempelkan tangan kecilnya di pipi Binar lalu mengelusnya pelan.“Bunda. Bangun, yuk.”Tubuh Binar bergerak kecil, matanya mengerjap, dan dia masih setengah sadar saat Ardan mengecup pipinya beberapa kali.“Bunda. Ayo, bangun.” Tangannya menarik pelan selimut Binar dan mengoyangkan bahunya. “Bun…”Suara rengekan Ardan membuat Binar sadar. Dia mengeliat pelan dan membuka mata. Wajah Ardan yang menekuk, dengan alis berkerut, dan bibir mengerucut, menjadi pemandangan pertama begitu Binar benar-benar membuka mata. Dia tersenyum dan tangannya terangkat mengelus pipi Ardan.“Kenapa, Sayang?”Wajah Ardan perlahan berubah. “Kita pergi, yuk, Bun.”"Ke mana?" Suara Binar masih serak."Ke ma
“Aku menginginkanmu, Sayang.”Tubuh Bhaga yang sudah mengukung Binar kini berbalik, tangan yang tadinya mendarat di pinggang Binar, sekarang mengulur ke arah panel lift dan menekan tombol merah.Mata Binar terbelalak,dia bahkan berpegang pada lengan Bhaga saat lift berhenti mendadak.“Bhaga!” pekiknya. Dia mendongak. “Apa yang—”“Sejak kamu masuk ruanganku tadi,” kata Bhaga. Matanya kembali menyusuri wajah cantik di depannya, “aku tidak bisa fokus, pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu.”Binar berkedip. “Dan itu salahku?”“Tentu saja, karena kau mengusik ketenanganku.”Bibir Binar terbuka dengan ekspresi tak percaya. Dia kehilangan kata, tapi kembali tersadar saat lehenya sudah dikecupi oleh Bhaga dan pinggangnya ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel.“Bhaga, ini lift.”“Aku tahu.”“Ada CCTV.” Binar mendongak. Di sudut langit-langit, lensa kamera keamanan berkedip merah kecil. “Bagaimana kalau ada yang —”Tapi tangan Bhaga tak berhenti menjelajahi tubuh BInar. Dia bahkan tak sung
Rudi duduk di hadapan tiga monitor komputer bersama dengan orang kepercayaannya. Dengan penuh ketelitian dia memindai setiap gerakan yang terlihat di rekaman CCTV yang baru saja diperbaiki.“Ini, Pak. Tangan Nona Selene terlihat sedang menaburkan sesuatu ke dalam mesin kopi Pak Bhaga,” ujar orang k
Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika getaran ponsel Bhaga memecah keheningan. Dia mengerang, meraih ponsel dari meja samping tempat tidur.Di sebelahnya, Binar masih tertidur pulas, rambutnya tergerai di atas bantal. "Rudi. Pagi-pagi sekali," suara Bhaga serak, berusaha tidak membangunkan
Bhaga benar-benar membuktikan ucapannya. Dia sedang tersenyum lebar saat menggandeng Binar memasuki kamar hotel terbagus di daerah itu. “Lumayanlah. Setidaknya kita tidak akan bosan saat mengurung diri di sini,” ucap Bhaga sambil tersenyum menggoda, membuat Binar menelan ludah. Bagaimana tidak, h
Dengan langkah berat dan hati yang masih sakit hati, Nurma kembali ke dalam kamarnya.Kamar mewah itu kini terasa seperti kotak yang menyimpan berbagai emosinya. Dia mengunci pintu, benar-benar sudah tak punya tenaga untuk berinteraksi lagi dengan orang lain.Dia berjalan menuju sofa dan duduk di s







