Home / Romansa / Di Ranjang Sepupu Suamiku / 6. Apa Aku Boleh Menjilatnya Lagi?

Share

6. Apa Aku Boleh Menjilatnya Lagi?

Author: Wideliaama
last update Last Updated: 2025-11-20 23:53:09

Aroma mawar dan eucalyptus memenuhi ruangan ketika Clara menunduk merapikan rangkaian bunga yang baru saja ia mulai.

Tangannya bekerja cekatan, menyisipkan batang demi batang ke dalam vas kristal, membentuk kombinasi warna lembut sesuai yang dipesan pelanggan.

"Jadi benar ya, Bu?" Suara Nella, salah satu pegawai Clara, memecah keheningan.

Clara mendongak sedikit, pada Nella yang bersandar di meja kasir sambil mengunyah permen karet. "Apa?"

"Itu loh... katanya cucu pertama Mananta Group sudah pulang ke Indonesia."

Clara membenarkan posisi bunga lily yang mulai mekar. “Kamu dengar dari siapa?”

“Sarah," jawab Nella cepat. Dagu lancipnya menunjuk ke arah sudut ruangan, tempat Sarah sedang memberi label harga pada pot bunga kecil.

“Dia dengar dari temannya yang jadi salah satu pelayan di rumah keluarga Mananta." Jelas Nella.

Clara mencoba tertawa kecil. “Iya… dia pulang.”

“Oh, jadi benar?!” seru Nella sambil mengangkat alis tinggi, lalu mulai heboh memanggil Sarah.

“Sarah! Cepat kemari! Kata Bu Clara, Regan Oliver benar-benar sudah kembali!"

“Nella.” Clara menghela napas, berusaha menahan ketegangan yang muncul otomatis begitu nama itu disebut.

Tapi Nella hanya tersenyum lebar. Tidak berniat berhenti untuk membahas topik menarik kali ini.

"Benar, kan? Aku juga baru lihat beritanya tadi. Ada artikel yang memberitakan kepulangan Regan Oliver." Sarah ikut bergabung, wajahnya berbinar seperti remaja yang sedang membicarakan selebriti.

“Lihat! Ini foto yang diambil di bandara. Gila! Padahal dia bukan aktor, tapi wajahnya benar-benar tampan!" Serunya, sambil memperlihatkan layar ponsel yang menyala.

"Astaga... Apa sekarang gaya rambutnya sudah diubah lagi?" Nella membuka mulutnya kaget. Seolah foto itu membuatnya terhipnotis.

"Bukankah gaya rambut undercut sangat cocok dengannya?"

"Kamu benar! Dia terlihat seperti grup idol Korea!"

Clara mendesah pelan mendengar percakapan heboh dua karyawannya.

Apa Regan sepopuler itu?

Clara menunduk untuk kembali merangkai, tetapi tawa kecil kedua karyawannya membuat wajahnya memanas tanpa alasan.

Oh, benar, bagaimana bisa ia tidak mengenali Regan malam itu?

Mereka memang sudah lama sekali tidak bertemu. Terakhir, mungkin saat masih SMA? Clara tidak begitu ingat karena mereka memang sama sekali tidak dekat.

Regan Oliver Mananta adalah manusia arogan yang hanya mau bergaul dengan orang-orang yang setara dengannya. Sifatnya benar-benar buruk sampai Clara tidak mau terlibat.

Jauh berbeda dengan Sean yang lebih sopan dan mau bergaul dengan siapapun. Sikapnya manis meski terkadang kaku.

Setelah lulus SMA, Clara tidak pernah lagi melihat Regan di kediaman Mananta. Bahkan saat pernikahan sepupunya pun, lelaki itu tidak hadir untuk sekedar mengucapkan selamat.

Tidak heran Clara tidak langsung mengenalinya. Terlebih... Dalam keadaan seperti itu.

Clara buru-buru menggeleng. Berusaha mengusir ingatan yang baru saja muncul di kepala.

"Bu Clara, apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Sarah cemas.

Sebelum Clara menjawab, bel pintu toko berdenting pelan.

Dan suara yang masuk membuat jantung Clara berdetak lebih cepat.

“Jadi ini toko bunga yang kakek hadiahkan untukmu?"

Clara mematung untuk beberapa waktu. Di sana, Regan berdiri dengan kemeja putih tergulung di lengan, celana hitam santai, dan senyum yang terlalu percaya diri.

Detik itu, suasana hening dalam beberapa waktu --sebelum akhirnya ribut dalam bisikan panik.

“Oh my god itu dia!”

"Dia benar-benar tampan!"

“Dia lebih tampan dari pada di foto!"

Nella dan Sarah tidak bisa menahan diri. Sementara Clara hanya berdiri mematung dengan gunting yang hampir jatuh dari tangan.

Bahaya. Otak Clara memberi peringatan. Mengingat percakapan terakhir mereka, Clara mendadak cemas dengan kemunculan lelaki itu.

Dia seperti bom waktu yang bisa menghancurkannya kapan saja.

Regan berjalan masuk dengan langkah santai. Sejenak, ia tersenyum pada gadis-gadis muda yang sejak tadi membicarakannya dengan heboh.

Kemudian mengunci tatapannya pada Clara.

“Aku mau pesan bunga,” katanya.

“O—oh, tentu, Kak,” ucap Sarah cepat. “Bisa saya bantu?”

Regan tersenyum, tapi ia tetap menatap Clara. “Aku mau Clara yang buat.”

Nella di belakang kasir hampir tersedak permennya. Meski ia bukan ahli membaca wajah, tapi ia bisa melihat sesuatu yang gila di wajah lelaki itu.

Berusaha bersikap tenang, Clara bertanya profesional. “Apa yang kamu butuhkan, Tuan Regan?”

Regan berjalan mendekat, menyelipkan satu tangan di saku. “Buket bunga yang polos, cantik... dan menarik."

Sarah menutupi mulutnya, sedangkan Nella menatap bergantian keduanya seperti menonton drama favorit.

“Baik. Untuk warnanya?" Tanya Clara lagi, tanpa memperdulikan tatapan Regan yang seolah ingin memangsanya.

Regan tidak langsung menjawab, tapi matanya menatap Clara begitu lama. Sebuah tindakan berani yang akan membuat siapapun yang melihatnya semakin curiga.

“Ini bukan hanya perasaanku saja, kan?" bisik Nella yang langsung ditendang halus oleh Sarah.

Clara menahan diri untuk tidak terbawa emosi. “Mau warna apa?" Ia mengulang pertanyaan dengan sedikit jengkel.

"Merah." Jawab Regan akhirnya.

"Baik--"

"Hmm... Apa warna kesukaanmu?"

Pada akhirnya pertanyaan itu membuat Clara mendongak. Ia menatap Regan dengan sorot mata yang seolah berbicara, 'Kenapa kamu menanyakan sesuatu yang tidak penting?'

"Putih?" Regan mengabaikan tatapan tajam Clara.

Pintu toko kembali terbuka. Kedatangan beberapa pelanggan baru mengalihkan perhatian Nella dan Sarah.

"Selama datang..." Ucap keduanya menyambut.

Clara pikir Regan akan berhenti, tapi lelaki itu tetap di sana, tidak bergeser satu senti pun.

"Atau merah muda?" Ia justru kembali pada pertanyaan konyol itu.

Clara menghela napas berat. Menjawab sambil memilih beberapa bunga. "Hitam."

"Hmm itu mengingatkanku pada gaun yang kamu pakai malam itu."

"Aw!" Clara mengaduh ketika jemarinya tidak sengaja menyentuh duri mawar. Itu semua karena ucapan Regan yang membuatnya terkejut.

"Biar kulihat."

Clara membelalak ketika Regan menarik tangannya. Gerakan itu terlalu cepat dan spontan.

Sebelum ia sempat menarik diri, bibir Regan sudah menyentuh ujung jarinya --hangat, lembap, dan terlalu berani. Lidahnya menyapu kulit Clara dengan perlahan, seolah menikmati tiap detiknya.

Clara tersentak, tubuhnya mendadak terasa aneh. Lantas buru-buru menarik tangannya kembali.

“Apa yang kamu lakukan?!” serunya, suara bergetar antara marah dan malu.

Regan hanya tersenyum tipis, tatapannya tajam seperti sedang membaca reaksi tubuh Clara dengan akurat.

“Darahmu terasa manis,” gumamnya rendah, nyaris seperti bisikan yang menelusup masuk ke telinga Clara. “Apa aku boleh menjilatnya lagi?”

Clara mundur selangkah, wajahnya memerah. “Apa kamu vampir?” desisnya. Ia marah namun lututnya nyaris goyah.

Tawa Regan pecah pelan. Tawa yang rendah namun entah kenapa membuat tubuh Clara merinding. Ia memiringkan kepala, memerhatikan Clara seperti seseorang yang sedang menikmati pemandangan paling menarik di ruangan itu.

Tatapannya lalu turun ke bibir Clara. Bibir yang sejak tadi menegang, sedikit terbuka karena kejutannya.

Ia bergerak lebih dekat—cukup dekat hingga Clara bisa merasakan embusan napasnya di wajah.

“Aku mau buket bunga merah muda,” ujarnya pelan, sengaja memberikan jeda panjang seolah ingin Clara menangkap maksud tersembunyi di balik kata-katanya.

Matanya kembali turun ke bibir Clara.

“Kalau bisa…” suaranya semakin rendah, nyaris seperti bisikan nakal yang hanya ditujukan untuknya,

“yang warnanya persis seperti bibirmu.”

Saat itu, Clara merasa jantungnya berdetak terlalu cepat. Sementara Regan tidak berhenti menatap bibirnya.

Seolah ia sebenarnya menginginkan lebih dari sekadar buket bunga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   74. Keyakinan

    Clara baru menyadari bahwa hampir semua barang yang mereka beli di mall itu dipilih berdasarkan selera Regan. Mulai dari tas tangan mewah berhiaskan berlian, jam tangan pasangan yang simpel nan elegan, sepatu-sepatu, bahkan deretan pakaian dengan potongan saksi dan bahan tipis yang membuatnya merinding hanya dengan membayangkannya dipakai.Clara memperhatikan semua barang yang berserakan di atas meja dan sofa kamar. Sebenarnya, Clara juga memiliki beberapa dress mini di dalam lemari. Dulu ia membeli semua itu untuk menggoda Sean meski tidak pernah berhasil, tapi ia tidak mengingatnya dan hanya berasumsi 'mungkin dirinya yang dulu memang memiliki selera seperti itu'. Tapi tiba-tiba, sepotong ingatan menyusup ke benaknya. Clara teringat dirinya pernah mengenakan dress mini hitam dan berdiri di hadapan seorang pria. Pria itu begitu dingin, menolak setiap sentuhan yang ia berikan. Wajahnya tidak mampu Clara ingat, namun rasa sakit yang menyesak di dadanya tetap terekam begitu jelas.Regan

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   73. Jatuh Dan Kalah

    Beberapa potong ingatan Clara memang sudah kembali meski hanya berupa kilasan-kilasan singkat, dan sedikit demi sedikit Clara juga mulai menyadari jika hubungannya dengan Regan memang tidak diawali dengan cara yang baik. Ada satu momen dari ingatannya yang membuat Clara merasa cemas. Yaitu saat ia menandatangani dokumen pernikahan dengan kebencian yang ia sendiri pun belum mengingat alasannya. Yang jelas, Clara sudah tahu bahwa Regan berbohong soal pernikahan mereka yang dilandasi cinta, tapi Clara juga tidak meragukan kasih sayang Regan yang selama ini tulus padanya. Meski ingatannya perlahan pulih, Clara memilih untuk merahasiakannya karena ia takut Regan akan bersikap obsesif lagi. Sebenarnya Clara juga hanya mengikuti naluri hatinya yang saat ini merasa sedang jatuh cinta pada suaminya yang masih terasa misterius itu. Regan terlihat serius membahas spesifikasi handphone dengan seorang pramuniaga yang menjajarkan beberapa model berbeda, sedangkan Clara hanya mengiyakan saja setia

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   72. Kemewahan

    Untuk mempertahankan kebahagiaan di wajah istrinya, Regan sudah menyiapkan hadiah berupa beberapa unit mobil yang akan dikirim hari ini oleh pihak dealer. Mereka sedang sarapan ketika kepala pelayan mengabari bahwa mobil-mobil itu baru saja tiba. “Maaf mengganggu waktu sarapan, Tuan Besar,” ucapnya pelan. “Pihak dealer baru saja mengabarkan bahwa beberapa unit mobil telah tiba dan kini terparkir di garasi utama.”Tuan Jusuf mengangkat alisnya, menoleh sekilas ke arah Regan sebelum bertanya, “Mobil?”“Itu milikku, Kakek.” Jawab Regan menyeringai kecil. Regan merasa tidak perlu izin kakeknya untuk membeli apa pun selama ia menggunakan uang pribadi. Lalu ia menoleh pada Clara. “Ayo, Bee. Aku ingin kamu melihatnya langsung.”Regan sudah berdiri lebih dulu, menggenggam tangan Clara sebelum wanita itu sempat bertanya. Ia juga tidak menerima penolakan walaupun Clara sepertinya akan protes. “Regan, tunggu—” Clara sempat bersuara, namun kalimatnya terputus. “Kali ini, jangan protes dulu." R

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   71. Hadiah

    Regan membiarkan tubuhnya diguyur air dingin dari shower ketika matahari belum sepenuhnya terbit. Selain karena kebiasaan, ia membutuhkan sensasi menusuk itu untuk menjernihkan pikirannya, atau setidaknya meredam kekacauan yang sejak semalam tidak juga reda.Ia tahu seharusnya ia merasa lega setelah mendengar tanggapan Clara kemarin. Namun ketenangan Clara justru meninggalkan rasa ganjil di dadanya. Ia sudah bersiap menghadapi amarah, penolakan, bahkan kebencian, tetapi yang ia dapatkan justru sikap santai yang tidak bisa ia baca. Regan bertanya-tanya apakah ketenangan itu bukan tanda penerimaan, melainkan jeda sebelum sesuatu yang jauh lebih menentukan.Ia terlalu sibuk dengan isi kepalanya sampai tidak menyadari kehadiran Clara yang membuatnya sedikit terkejut ketika wanita itu memeluknya dari belakang. "Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kedatanganku?"Regan mematikan keran dan langsung berbalik menatap wajah Clara yang sudah ikut basah karena memeluk punggungnya

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   70. Sumpah

    Regan menampar wajahnya sekali lagi begitu keras sampai suaranya terdengar perih meninggalkan bekas yang terpampang nyata. Regan mengutuk dirinya sendiri karena telah menyakiti Clara seperti seorang bajingan padahal ia sudah berjanji untuk tidak melakukannya. "Aku sudah menyakitimu lagi," sesal Regan. Pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Clara yang memerah bekas cengkeramannya, juga jejak giginya yang masih terlihat di beberapa bagian tubuh wanita itu."Demi Tuhan aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya..." Regan menunduk malu karena ia bahkan tidak bisa menjelaskan kekalutan yang ada di dalam dirinya pada perempuan yang paling ia cintai. Regan Oliver Mananta bukan hanya mewarisi kekayaan dari dua garis keluarga, tetapi juga sisi gelap keluarga Oliver—obsesi yang berlebihan terhadap apa pun yang ingin dimiliki. Seperti Maria yang mengejar kekuasaan hingga rela mengorbankan putranya sendiri, Regan sadar bahwa cinta yang ia rasakan pada Clara telah melampaui batas kewajaran. Ia

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   69. Lepas Kendali

    Pintu utama rumah Mananta terbuka perlahan, disusul aroma kayu tua dan wangi mawar dari taman samping yang selalu dirawat dengan telaten. Rumah besar itu akan selalu menyambut kedatangan mereka sebab di sana lah Regan dan Clara telah tumbuh meski dengan status yang berbeda. "Dimana Kakek?" Regan bertanya pada Rose yang menyambut di depan pintu. "Tuan Besar ada di ruang tengah, Tuan Muda." Regan membawa Clara masuk, tangannya tetap menggenggam jemari wanitanya dengan erat. Langkah mereka menyusuri lorong panjang berlantai marmer yang berkilau, dindingnya masih dipenuhi foto-foto lama keluarga Mananta. Di ruang tengah, Tuan Jusuf berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman. Tubuhnya masih tegap, bahunya lebar. Rambutnya memang telah memutih sebagian, namun sorot matanya tajam dan penuh wibawa. Saat mendengar langkah mereka, Tuan Jusuf berbalik.“Kalian akhirnya pulang,” ucapnya tenang, namun ada nada sindiran tipis yang jelas ditujukan pada cucunya. Sorot mata Tuan Jusuf ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status