LOGIN“Kalau bisa... yang warnanya persis seperti bibirmu.”
Clara menelan ludah, sementara jantungnya semakin berdetak kacau. Ia tahu, sejak hari pertama lelaki itu kembali ke rumah, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. “Aku akan ambil buketnya nanti malam,” ujar Regan sambil meraih sebatang mawar. Jemarinya memutar batang bunga itu santai, namun pergerakannya sengaja dibuat sensual. Seolah sentuhan kecil itu bisa beralih ke kulit Clara kapan pun ia mau. “Nanti malam?” Clara berusaha menguasai kesadaran. Secepat mungkin ia memutus kontak mata. Bersikap lebih tenang --menyembunyikan degup jantung yang belum stabil. “Jangan datang malam-malam. Toko tutup jam tujuh.” Regan tersenyum tipis—senyum yang memicu alarm di seluruh tubuh Clara. “Aku bukan datang sebagai pelanggan.” Rahang wajah Clara kembali mengeras. Ia tahu tidak akan mudah menghadapi lelaki ini. Tapi, Clara tidak mau kalah lagi. "Kita tidak punya urusan selain hubungan pelanggan dan penjual." Ucap Clara tegas. Tatapannya menyiratkan bahwa ia ingin Regan berhenti mengganggunya. "Clara..." Regan mencondongkan tubuh. "Hubungan kita lebih dalam dari pada itu." Hawa dingin merayap di tengkuk Clara. Tidak. Ia harus menghindar. Ia tahu itu. Tapi ketika ia berbalik untuk membalas ucapan Regan, lelaki itu sudah jauh lebih dekat dari yang ia perkirakan. Clara terlonjak. Langkahnya mundur refleks, hingga punggungnya menabrak meja kerja. Regan berhenti hanya beberapa sentimeter darinya “Regan--” Clara mencoba memperingatkan, tapi suaranya terdengar rapuh—bukan karena malu, tapi karena otaknya tahu pria ini ancaman nyata. “Hm?” Regan menunduk sedikit, cukup dekat hingga Clara bisa merasakan embusan napasnya di bibir. “Ada yang ingin kamu katakan?” Clara menekan dada, mencoba menenangkan detak jantungnya. “Jangan lakukan ini di tempat kerja.” Regan tidak bergerak. Tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjauh. Ia hanya mengangkat jemarinya, menyentuh kelopak mawar yang tergantung—tapi gerakannya terlalu dekat dengan wajah Clara, seolah sengaja menutup ruang gerak. “Apa kamu gugup?" suaranya rendah, hampir seperti bisikan panas yang menggelitik dasar telinga Clara. “Padahal kita pernah lebih dekat dari ini." “Berhenti mengungungkitnya, Re!" Clara memperingati. Matanya menatap tajam namun tetap bergetar Sementara Regan justru menatap bibirnya lagi. Seolah menikmati setiap reaski yang Clara tunjukkan."Kalau kamu melewati batas lagi--"
"Apa yang mau kamu lakukan?" Regan memotong seolah ia tidak sabar dengan ancaman yang akan Clara berikan.
Clara menodongkan gunting tepat di wajah Regan. "Akan kupotong lidahmu supaya kamu tidak banyak bicara lagi."
"Wow." Regan bereaksi dramatis, lalu menangkap pergelangan tangannya lembut, mengambil gunting dengan pergerakan tenang untuk kemudian diletakkan di meja.
"Itu cukup menakutkan sampai aku gemetaran." Ucap Regan berbohong.
Clara menegang ketika Regan tiba-tiba mencium tangannya secara lembut. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhnya bereaksi.
Sial. Sebelum Clara mendapat kesadarannya secara penuh, Regan tersenyum melihat reaksi perempuan itu."Ah, baiklah, aku pergi sekarang." Ucap Regan seolah ia merasa bersalah telah mengganggu Clara.
Namun, tentu saja ia tersenyum puas melihat bagaimana cara tubuh Clara merespon setiap sentuhannya.
"Kamu tidak akan bisa menghindariku, Clara." Ucapnya di dalam hati.
Sementara di dalam toko, Clara mencengkeram ujung meja dengan sekuat tenaga. Menemukan bahwa dirinya telah kalah sekali lagi oleh Regan Oliver.
Lelaki itu... Clara menatapnya dari balik kaca toko. Sosok yang berjalan menjauh dengan langkah santai seolah tidak pernah melakukan apapun.
"Dasar gila..." Gumamnya mengumpati Regan.
** Langit sudah gelap ketika Clara menutup tirai toko satu per satu. Nella dan Sarah sudah pulang sejak dua jam lalu.Clara melirik jam dinding bulat di atas meja kerjanya, lalu pandangannya jatuh pada buket bunga merah muda yang tergeletak di sana.
Regan Oliver... Kapan dia akan mengambil pesanannya?
Clara menghela napas panjang. Hari ini terasa jauh lebih panjang dari pada hari-hari sebelumnya. Tepat saat itu pintu toko terbuka dan seseorang masuk.Clara menoleh dan mendapati Regan sedang berjalan masuk dari sana. Mengenakan kemeja hitam dan jaket tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
Di luar memang sedang gerimis. Clara pun mengenakan sweater rajut untuk menghalau udara dingin.
"Maaf telat." Ucap Regan sungguh-sungguh.Clara tidak menjawab. Ia hanya mengambil buket dari atas meja lalu memberikannya. Kali ini ia sudah bertekad untuk meminimalisir interaksi dengan lelaki itu.
Namun, Regan tidak langsung menerima buket pesanannya. Ia menurunkan tudung jaket, memperlihatkan rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin malam. Wajahnya tampak lebih dewasa dalam pencahayaan redup toko bunga. Mata itu menatap Clara dengan intensitas yang sama seperti sore tadi. “Buketmu sudah selesai,” kata Clara memberi tahu, tanpa menurunkan tangannya. “Clara.” Hanya satu panggilan nama, tapi nadanya membuat seluruh tubuh Clara menegang. Regan berdiri sangat dekat. Lagi-lagi. Seolah ruangan itu tidak punya cukup ruang untuk dua orang. Cahaya kuning temaram dari lampu kerja membuat garis rahangnya terlihat lebih tajam, lebih maskulin. Dan dalam jarak itu, Clara bisa mencium aroma tubuhnya—hangat, maskulin, samar ada wangi kayu dan hujan. Clara harus menarik napas perlahan agar tidak goyah. “Regan, ambil bunganya dan—” “Apa kamu punya sesuatu yang hangat?" Suaranya rendah, hampir seperti desahan tertahan. Clara menggenggam buket itu terlalu erat. “Jangan mulai.” ucapnya memperingati. Regan mengangkat alis tipis. “Aku kedinginan. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin minum sesuatu yang hangat.”Ah. Clara hampir saja mempermalukan dirinya sendiri.
Apa yang tadi ia pikirkan? Regan hanya meminta minuman hangat. Bukan hal lain.
“Baiklah, tunggu sebentar,” ucap Clara, suaranya sedikit canggung.
Regan menangkap reaksi itu dan mengulum senyum kecil.
Sementara Clara membuatkan kopi, Regan memandangi punggung mungilnya. Gerak tubuh Clara mengikuti putaran sendok dalam gelas, lembut dan teratur, namun entah bagaimana membuat dadanya terasa panas.
Ia sudah bertemu banyak perempuan dalam hidupnya. Semuanya terasa hambar, mudah ditebak, dan sering kali membosankan. Bahkan ketika hubungan mereka sampai ke atas ranjang, tidak ada satu pun yang berhasil membangkitkan gairahnya sepenuhnya.
Tapi Clara… berbeda.
Malam ketika Clara mabuk dan memanggilnya Sean, Regan sama sekali tidak berniat menyadarkannya. Rasa penasarannya terlalu besar—tentang seperti apa respon tubuh Clara ketika disentuh.
Dan ketika itu terjadi, ia tahu satu hal dengan sangat jelas.
Ternyata tubuh mereka sangat cocok.
"Ini." Clara kembali dengan secangkir kopi panas. Meletakkannya di meja tunggu.
Regan tersenyum lebar. "Terima kasih."
"Setelah habis, kamu harus langsung pergi."
"Baiklah."
Hujan di luar semakin deras. Kini jarum jam sudah menunjuk pukul 7.30
Mereka tidak banyak bicara. Clara hanya menatap hujan dari balik jendela sementara Regan menyesapnkopi sambil menatap wajah Clara.
"Kopimu sudah habis." Clara berdiri hendak mengambil cangkir, tapi tiba-tiba Regan menyentuh tangannya.
"Kenapa buru-buru sekali? Di luar masih hujan."
Clara menelan ludah karena sentuhan itu membuatnya gugup.
"Ini sudah malam."
"Ini baru jam delapan, Clara."
"Aku harus menyiapkan makan malam untuk Sean."
Regan berdiri mendekati Clara. Berdiri tepat di hadapannya. "Kamu yakin suamimu sudah pulang?"
Clara mundur beberapa langkah. Menjaga jarak aman.
"Mungkin saja dia masih di luar?" Regan kembali bicara.
Saat ponsel di atas meja bergetar, Clara buru-buru mengambilnya. Berharap bahwa Sean yang menghubunginya.
Sayangnya bukan. Itu sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
Entah kenapa jantung Clara berpacu cepat. Bukan karena Regan yang berdiri tepat di belakangnya sampai ia bisa merasakan embusan napas lelaki itu --tapi karena isi pesan yang ia terima.
Anonim : restoran Casanova Merah.
Anonim : mengirimkan satu foto.
Clara menggenggam ponselnya erat.
Sean Fernandes Mananta, suaminya yang tidak pernah tersenyum selama pernikahan mereka, yang tidak pernah sekali pun menyentuhnya --sedang makan malam romantis dengan seorang perempuan.
Dan wajah dingin itu... Tersenyum begitu lembut pada orang lain.
Regan tersenyum tanpa Clara mengetahuinya. Lalu mendekatkan wajah ke leher Clara.
"Sepertinya malam ini suamimu tidak akan pulang."
Clara memejamkan mata mendengarnya. Ucapan Regan seperti garam yang di tabur di atas luka yang menganga.
"Clara..."
Regan tahu, ini adalah waktu yang tepat untuk memonopoli perempuan ini.
Clara tidak bereaksi. Ia hanya mematung dengan tangan dingin.
"Selama ini pasti kamu sangat kesepian." Ucap Regan lagi, semakin mengikis jarak.
Ia menyentuh lengan Clara yang dingin. Sedangkan napasnya menyentuh kulit leher Clara yang menegang.
"Berhenti, Re." Clara berkata pelan, namun dalam. Tubuhnya mungkin merespon baik setiap sentuhan Regan, tapi hatinya tidak. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.
Regan tersenyum mengejek. "Apa kamu tidak terluka melihat Sean dengan perempuan lain?"
"Tentu saja aku terluka." Clara menatap Regan dengan mata berkabut.
"Kalau begitu... Cobalah balas perbuatannya." Regan menyarankan. "Buat Sean cemburu. Kamu boleh menggunakanku."
Benar-benar konyol.
Untuk apa Clara melakukan hal seperti itu?
Namun justru karena konyol, kata-kata itu terus memantul di dalam kepalanya. Membuat pertanyaan terlalu berbahaya muncul.
Jika ia juga menjalin hubungan terlarang dengan lelaki lain… apakah Sean akan peduli? Apakah Sean akan marah? Atau… apakah Sean bahkan akan melihatnya?
Clara menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata, namun gerakan itu langsung dihentikan oleh sentuhan Regan. Jemarinya mengusap lembut bibir Clara, seolah tindakan itu adalah hal paling alami di dunia.
“Kau bisa melukai dirimu,” bisiknya.
Tatapan Clara pecah. Air mata yang ia tahan jatuh tepat ketika Regan menunduk dan mengecup kelopak matanya.
Clara memejamkan mata, putus asa antara menolak dan tenggelam.
Dan pada detik itu, Regan tersenyum tipis… senyum kemenangan yang ia sembunyikan di dekat wajah Clara.
Malam ini, bukan hanya Sean yang tidak pulang ke rumah.
Tapi juga Clara—yang semakin jauh dari tempat seharusnya.
Clara baru menyadari bahwa hampir semua barang yang mereka beli di mall itu dipilih berdasarkan selera Regan. Mulai dari tas tangan mewah berhiaskan berlian, jam tangan pasangan yang simpel nan elegan, sepatu-sepatu, bahkan deretan pakaian dengan potongan saksi dan bahan tipis yang membuatnya merinding hanya dengan membayangkannya dipakai.Clara memperhatikan semua barang yang berserakan di atas meja dan sofa kamar. Sebenarnya, Clara juga memiliki beberapa dress mini di dalam lemari. Dulu ia membeli semua itu untuk menggoda Sean meski tidak pernah berhasil, tapi ia tidak mengingatnya dan hanya berasumsi 'mungkin dirinya yang dulu memang memiliki selera seperti itu'. Tapi tiba-tiba, sepotong ingatan menyusup ke benaknya. Clara teringat dirinya pernah mengenakan dress mini hitam dan berdiri di hadapan seorang pria. Pria itu begitu dingin, menolak setiap sentuhan yang ia berikan. Wajahnya tidak mampu Clara ingat, namun rasa sakit yang menyesak di dadanya tetap terekam begitu jelas.Regan
Beberapa potong ingatan Clara memang sudah kembali meski hanya berupa kilasan-kilasan singkat, dan sedikit demi sedikit Clara juga mulai menyadari jika hubungannya dengan Regan memang tidak diawali dengan cara yang baik. Ada satu momen dari ingatannya yang membuat Clara merasa cemas. Yaitu saat ia menandatangani dokumen pernikahan dengan kebencian yang ia sendiri pun belum mengingat alasannya. Yang jelas, Clara sudah tahu bahwa Regan berbohong soal pernikahan mereka yang dilandasi cinta, tapi Clara juga tidak meragukan kasih sayang Regan yang selama ini tulus padanya. Meski ingatannya perlahan pulih, Clara memilih untuk merahasiakannya karena ia takut Regan akan bersikap obsesif lagi. Sebenarnya Clara juga hanya mengikuti naluri hatinya yang saat ini merasa sedang jatuh cinta pada suaminya yang masih terasa misterius itu. Regan terlihat serius membahas spesifikasi handphone dengan seorang pramuniaga yang menjajarkan beberapa model berbeda, sedangkan Clara hanya mengiyakan saja setia
Untuk mempertahankan kebahagiaan di wajah istrinya, Regan sudah menyiapkan hadiah berupa beberapa unit mobil yang akan dikirim hari ini oleh pihak dealer. Mereka sedang sarapan ketika kepala pelayan mengabari bahwa mobil-mobil itu baru saja tiba. “Maaf mengganggu waktu sarapan, Tuan Besar,” ucapnya pelan. “Pihak dealer baru saja mengabarkan bahwa beberapa unit mobil telah tiba dan kini terparkir di garasi utama.”Tuan Jusuf mengangkat alisnya, menoleh sekilas ke arah Regan sebelum bertanya, “Mobil?”“Itu milikku, Kakek.” Jawab Regan menyeringai kecil. Regan merasa tidak perlu izin kakeknya untuk membeli apa pun selama ia menggunakan uang pribadi. Lalu ia menoleh pada Clara. “Ayo, Bee. Aku ingin kamu melihatnya langsung.”Regan sudah berdiri lebih dulu, menggenggam tangan Clara sebelum wanita itu sempat bertanya. Ia juga tidak menerima penolakan walaupun Clara sepertinya akan protes. “Regan, tunggu—” Clara sempat bersuara, namun kalimatnya terputus. “Kali ini, jangan protes dulu." R
Regan membiarkan tubuhnya diguyur air dingin dari shower ketika matahari belum sepenuhnya terbit. Selain karena kebiasaan, ia membutuhkan sensasi menusuk itu untuk menjernihkan pikirannya, atau setidaknya meredam kekacauan yang sejak semalam tidak juga reda.Ia tahu seharusnya ia merasa lega setelah mendengar tanggapan Clara kemarin. Namun ketenangan Clara justru meninggalkan rasa ganjil di dadanya. Ia sudah bersiap menghadapi amarah, penolakan, bahkan kebencian, tetapi yang ia dapatkan justru sikap santai yang tidak bisa ia baca. Regan bertanya-tanya apakah ketenangan itu bukan tanda penerimaan, melainkan jeda sebelum sesuatu yang jauh lebih menentukan.Ia terlalu sibuk dengan isi kepalanya sampai tidak menyadari kehadiran Clara yang membuatnya sedikit terkejut ketika wanita itu memeluknya dari belakang. "Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kedatanganku?"Regan mematikan keran dan langsung berbalik menatap wajah Clara yang sudah ikut basah karena memeluk punggungnya
Regan menampar wajahnya sekali lagi begitu keras sampai suaranya terdengar perih meninggalkan bekas yang terpampang nyata. Regan mengutuk dirinya sendiri karena telah menyakiti Clara seperti seorang bajingan padahal ia sudah berjanji untuk tidak melakukannya. "Aku sudah menyakitimu lagi," sesal Regan. Pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Clara yang memerah bekas cengkeramannya, juga jejak giginya yang masih terlihat di beberapa bagian tubuh wanita itu."Demi Tuhan aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya..." Regan menunduk malu karena ia bahkan tidak bisa menjelaskan kekalutan yang ada di dalam dirinya pada perempuan yang paling ia cintai. Regan Oliver Mananta bukan hanya mewarisi kekayaan dari dua garis keluarga, tetapi juga sisi gelap keluarga Oliver—obsesi yang berlebihan terhadap apa pun yang ingin dimiliki. Seperti Maria yang mengejar kekuasaan hingga rela mengorbankan putranya sendiri, Regan sadar bahwa cinta yang ia rasakan pada Clara telah melampaui batas kewajaran. Ia
Pintu utama rumah Mananta terbuka perlahan, disusul aroma kayu tua dan wangi mawar dari taman samping yang selalu dirawat dengan telaten. Rumah besar itu akan selalu menyambut kedatangan mereka sebab di sana lah Regan dan Clara telah tumbuh meski dengan status yang berbeda. "Dimana Kakek?" Regan bertanya pada Rose yang menyambut di depan pintu. "Tuan Besar ada di ruang tengah, Tuan Muda." Regan membawa Clara masuk, tangannya tetap menggenggam jemari wanitanya dengan erat. Langkah mereka menyusuri lorong panjang berlantai marmer yang berkilau, dindingnya masih dipenuhi foto-foto lama keluarga Mananta. Di ruang tengah, Tuan Jusuf berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman. Tubuhnya masih tegap, bahunya lebar. Rambutnya memang telah memutih sebagian, namun sorot matanya tajam dan penuh wibawa. Saat mendengar langkah mereka, Tuan Jusuf berbalik.“Kalian akhirnya pulang,” ucapnya tenang, namun ada nada sindiran tipis yang jelas ditujukan pada cucunya. Sorot mata Tuan Jusuf ta







