Share

Bab 8

Penulis: Cupcake
Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.

Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.

Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar dan hampir tidak pernah melangkah keluar pintu.

Makanan yang diantarkan pelayan hanya dimakannya sedikit. Betapa pun cerahnya sinar matahari di luar jendela, Marissa tidak pernah melangkah keluar dari kamarnya.

Dia tidak boleh lagi memberikan kesempatan bagi Shalia untuk menjebaknya.

Untungnya, Arka menepati janjinya. Selama tiga hari ini, dia terus menemani Shalia dan bahkan, tidak pulang ke rumah sama sekali.

Melalui berita-berita gosip, Marissa sering melihat mereka berdua muncul bersama.

Shalia memeluk lengan Arka dengan senyum yang cerah dan mempesona. Saat Arka menunduk untuk menatapnya, tatapan matanya begitu lembut, seolah-olah bisa mencairkan segalanya.

Sehari sebelum pernikahan, Marissa duduk di meja kerja. Dia menuliskan satu demi satu semua kesukaan dan pantangan Arka dengan saksama.

[Benci ketumbar dan nggak makan pedas. Cuma minum kopi hitam tanpa gula. Kemeja harus disetrika dengan sangat rapi dan tanpa cela. Waktu tidur, nggak boleh ada cahaya sedikit pun ….]

Setelah selesai menulis, Marissa melipat kertas itu dan memanggil Rahmi, salah satu pelayan di sana.

"Ini untukmu," kata Marissa dengan lembut. "Berikan padaku setelah pernikahan selesai."

Rahmi terlihat bingung. "Bu, ini …."

"Cuma buat jaga-jaga kalau aku lupa." Marissa tersenyum tipis. "Kamu tahu sendiri, ingatanku belakangan ini lagi kurang baik."

Meski merasa aneh, Rahmi tetap menerima kertas itu dengan patuh. "Bu Marina tenang aja. Aku pasti akan menyimpannya dengan baik."

Setelah Rahmi pergi, Marissa menarik sebuah koper yang sudah dia siapkan sejak lama dari dalam lemari.

Marissa mengedarkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke kamar yang sudah ditempatinya selama tiga tahun itu. Untuk sesaat, tatapannya tertuju pada foto pernikahan yang tergantung di dinding.

Di foto itu, Arka tampak gagah dengan setelan jas yang rapi dan begitu tampan seperti pangeran. Sementara, Marissa sendiri mengenakan gaun pengantin yang sangat mahal, sambil tersenyum lembut dan memesona.

Marissa menurunkan bingkai foto itu perlahan, meletakkannya dalam posisi terbalik di atas meja, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

…

Di ruang tunggu bandara, Bu Elvira sudah lama menunggunya.

Bu Elvira menyodorkan sebuah kartu ATM dan selembar tiket pesawat kepada Marissa. "Enam puluh miliar, nggak kurang sepeser pun. Mulai sekarang, kamu nggak lagi punya hubungan apa pun dengan Keluarga Pranaya."

Marissa menerima kartu itu dengan ujung jari yang sedikit gemetar.

Dia menengadah untuk menatap ibunya, tetapi mendapati wanita itu bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun.

"Terima kasih," kata Marissa lirih.

Bu Elvira lalu berkata dengan nada dingin, "Tiga tahun ini, kamu sudah bekerja dengan baik. Nggak membiarkan kerja sama antara kedua keluarga mengalami masalah sedikit pun."

Bu Elvira lalu terdiam sejenak. "Pergilah. Jalani kehidupan yang kamu mau."

Marissa mengangguk, lalu berbalik berjalan menuju gerbang pemeriksaan keamanan.

Di tikungan, Marissa menoleh untuk terakhir kalinya. Bu Elvira sudah pergi. Punggungnya tampak begitu teguh, seakan dia tidak pernah memiliki anak perempuan seperti dirinya.

Akan tetapi, Marissa tidak merasa sedih. Dia menggenggam erat tiket pesawat di tangannya, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

Kali ini, akhirnya dia bisa hidup untuk dirinya sendiri.

Marissa melangkah menuju gerbang keberangkatan tanpa menoleh lagi. Punggungnya terlihat teguh.

...

Sementara itu, di saat yang bersamaan, di vila Keluarga Kivandra ….

Seorang wanita yang wajahnya 90 persen mirip dengan Marissa, mengenakan gaun pengantin dan menunggu dengan tenang untuk pernikahan besok.

Marina telah kembali!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 4

    Wajah Arka langsung berubah. Dia segera merangsek maju, menggendong Shalia yang pingsan dan berlari menuju rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.Marissa berdiri mematung di tempatnya. Jari-jarinya sedikit mengepal. Namun, pada akhirnya, dia tetap mengikuti mereka.Di bawah temaram lampu lorong ruma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status